TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
???


__ADS_3

"Dave, ceraikan dia!" Titah Rexa pada Dave.


Dave, Arvina, maupun Ken serentak membulatkan matanya.


"Apa maksudmu? Untuk apa aku menceraikan istriku?" Tanya Dave geram.


"Dave, kau tidak tahu. Dia putri dari wanita yang sudah menghancurkan hidup Mommy. Wanita itu penggoda. Dia menggoda Ayah Ken sampai meninggalkan Mommy." Tuduh Rexa menunjuk ke arah Zevina padahal Rexa jelas tahu bahwa Roy yang menggilai Zevina.


Darvin geram dan ingin sekali rasanya menyerang Rexa namun Zevina menahannya.


"Persetan dengan itu semua. Itu bukan urusanku! Harusnya kau bersyukur, aku mau menerima kalian karena istriku! Masa lalumu tidak ada urusan denganku!" Bentak Dave penuh amarah.


"Dave, dia putri dari wanita penggoda itu! Dia juga akan berbuat hal yang serupa kepada pria lain nantinya." Tuduh Rexa meninggikan suaranya.


"Dalam Mimpimu aku akan menurutimu! Ingat baik-baik satu hal! Lebih baik aku kehilangan kedua orang tuaku dan dianggap sebagai anak durhaka daripada aku harus menceraikan wanita yang membawa cahaya dalam hidupku." Ucap Dave menunjuk wajah Rexa.


Dave memilih pergi dari hadapan orang-orang itu.


"Mom, Dad, sebaiknya Mommy dan Daddy istirahat saja. Aku akan meminta Amy untuk menyiapkan kamar untuk kalian." Titah Arvina sopan kepada kedua orang tuanya.


Darvin dan Zevina mengangguk.


"Wanita tidak tahu diuntung!" Geram Arvina saat melewati Rexa.


Arvina memilih menyusul Dave. Ia khawatir Dave akan melakukan hal gila lagi mengingat kondisinya yang masih belum pulih total.


Arvina masuk ke dalam kamarnya dan Dave karena ia memang melihat Dave masuk ke dalam kamar.


"Dave.." Lirih Arvina.


Arvina segera menghampiri Dave yang tengah berbaring di atas ranjang.


Arvina naik ke atas ranjang dan ikut berbaring berhadapan dengan Dave.


Rupanya Dave menitikkan air mata.


"Hei, kenapa menangis?" Tanya Arvina lembut sambil mengusap air mata suaminya.


"Maafkan aku sayang. Aku menyakitimu lagi dengan memaafkan mereka." Ucap Dave penuh penyesalan.


"Ssttt..aku tidak apa-apa. Mommy mu yang sudah dibutakan oleh keegoaan nya." Bujuk Arvina mengelus pipi Dave.


"Mereka harusnya bersyukur karena aku mau menerima dan memaafkan mereka berkat dirimu." Ucap Dave sendu.


"Sudah, aku tidak apa-apa. Dengan kau tetap bertahan dan mempertahankan diriku saja aku sudah sangat bersyukur." Ucap Arvina tersenyum tulus.


"Kau segalanya bagiku." Lirih Dave meraih tangan Arvina ke dalam genggamannya.


Arvina membalas dengan senyuman tulusnya.


"Sekarang kau istirahat saja. Aku akan membuatkan makanan untukmu." Titah Arvina lembut.


Dave hanya mengangguk menurut.


"I love you." Ucap Arvina lalu mengecup pipi Dave.


Setelah itu ia turun dari ranjang dan keluar dari kamar mereka menuju dapur.

__ADS_1


"Ken, dengarkan Mommy! Wanita itu bukan wanita baik-baik. Ibunya saja penggoda, dia pasti akan lebih parah."


Arvina mendengar suara rayuan Rexa kepada Ken.


Di ruang keluarga kini hanya ada Ken, Rexa, dan Jeymian.


"Rexa, sudah! Apa kau masih mencintai Roy hingga detik ini?" Tanya Jeymian dengan meninggikan suaranya.


"Ya..aku memang mencintai Roy hingga detik ini. Aku tidak pernah melupakan dia walaupun hanya sedetik." Ucap Rexa.


Arvina memilih menjadi pendengar dari jauh sedangkan ketiga orang itu belum menyadari kehadiran Arvina.


"Ken, Mommy mohon, bujuk adikmu untuk meninggalkan wanita itu." Pinta Rexa memelas.


Ken menepis kasar tangan Rexa yang sedari tadi memegang tangannya.


"Mustahil aku akan melakukan hal itu. Sudah terlalu banyak hal jahat yang aku lakukan kepada mereka. Lagipula Roy pantas mati! Dia iblis berkedok manusia! Jika dia sungguh manusia, dia tidak akan tega melukai dan menyakiti wanita yang tengah hamil besar seperti Nyonya Zevina saat itu." Ucap Ken geram.


"Ken, kau percaya kata-kata mereka?" Tanya Rexa berusaha menghasut putra sulungnya.


"Aku percaya. Mereka bukan tipe keluarga pembohong. Dan aku bisa sampai hari ini semua karena mereka. Mereka mengasuh dan membiayai hidupku." Ucap Ken kini dengan nada datar.


"Kau jahat Ken. Kau bahkan tidak membela Mommy mu." Bentak Rexa dengan ait mata yang mengalir.


"Terserah. Lagipula aku tidak keberatan sekalipun aku tidak mempunyai orang tua. Karena aku memang tidak diinginkan." Ucap Ken sendu.


"Baik, terserah apa maumu. Jey, aku akan pergi dari mansion ini. Kau ikut atau tidak?" Tanya Rexa menatap Jeymian.


Jeymian diam sejenak dan berpikir kemudian menggeleng.


"Tidak! Aku akan tetap di sini bersama putra dan menantuku. Setidaknya aku bisa menebus kesalahanku disisa waktu ku." Tolak Jeymian tegas.


"Aku tidak mungkin lagi bersamamu setelah tahu kau masih mencintai Roy padahal aku sudah berusaha keras untuk memperbaiki hubungan kita." Gumam Jeymian menitikkan air mata.


Ken hanya diam dan duduk di samping kursi roda Jeymian.


Arvina yang telah selesai menonton drama Rexa pun memutuskan untuk ke dapur.


Ia memutuskan untuk memasak beberapa jenis makanan agar yang lain juga biss makan nantinya.


"Sayang.." Panggil Zevina dari belakang.


"Eh..Mom.." Arvina tersenyum dan menghentikan pekerjaannya sebentar.


"Are you okay?" Tanya Zevina khawatir.


Arvina tersenyum manis.


"I'm okay Mom. Don't worry." Jawab Arvina yakin.


"Kau sangat kuat sayang." Ucap Zevina memeluk putri sulungnya.


"Aku harus kuat untuk Dave, Mom." Sahut Arvina.


Zevina melepaskan pelukannya.


"Mau Mommy bantu?" Tanya Zevina tersenyum.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku sangat merindukan masakan Mommy." Jawab Arvina semangat.


Zevina pun mengambil alih dapur dan mulai memasak.


Arvina menoleh untuk melihat Ken dan Jeymian, ternyata keduanya sedang berbincang kecil.


Arvina dan Zevina sangat bahagia bisa memasak bersama, mereka sesekali bercanda kecil.


Selesai memasak, mereka menata semua masakan mereka di atas meja makan.


"Waw..ini sangat banyak." Ucap Arvina takjub.


"Kau panggil Dave. Biar Mommy yang memanggil Daddy mu dan Ayah mertuamu serta Ken." Titah Zevina.


Arvina mengangguk dan segera naik ke kamarnya untuk memanggil Dave.


"Mommy?" Panggil Arzena yang tiba-tiba muncul.


"Zena.." Zevina segera menghampiri putri bungsunya dan memeluknya.


"Mommy, i miss you. Apa Daddy juga di sini?" Tanya Arzena girang.


Zevina mengangguk.


"Hansen dimana?" Tanya Zevina bingung.


"Hans terpaksa harus kembali ke rumah sakit. Barusan ada menelpon katanya ada korban kecelakaan lalu-lintas." Jawab Arzena memelas.


"Begitu. Ya sudah, ayo masuk." Ajak Zevina.


Arzena yang melihat Ken pun langsung bersembunyi di belakang Zevina.


"Sudah, tidak apa-apa. Semuanya aman." Bujuk Zevina kepada putrinya.


Arzena tetap memilih was-was. Meskipun dirasa aman, tapi tetap saja baginya Ken adalah orang gila yang bisa menyerang kapanpun.


Zevina membawa Arzena serta untuk memanggil Darvin.


Setelah semuanya lengkap, mereka pun makan malam bersama.


Mereka makan malam dengan sesekali mengobrol dan bercanda kecil, dan tentunya Zevina dan Arvina yang mencairkan suasana. Arzena lebih memilih menempel kepada Darvin agar bisa berlindung dari Ken.


Ponsel Arvina tiba-tiba berbunyi.


Arvina segera merogoh nya dari saku celananya.


"Kenapa Hans menelponku?" Ucap Arvina bingung.


Arvina segera mengangkat panggilan itu.


"Ada apa Hans? Kalau rindu pada istrimu, langsung saja hubungi dia!" Tanya Arvina serta menggoda adik iparnya.


" ... "


"Apa? Dimana?" Tanya Arvina dengan raut wajah panik dan cemas.


" ... "

__ADS_1


"Baik, kami ke sana sekarang." Sahut Arvina memutuskan panggilan.


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2