
"Kau suka?" Tanya Dave semangat.
"Bagaimana bisa? Ini?" Ken benar-benar kehabisan kata-kata.
Kejutan yang Dave berikan adalah sebuah mobil yang sama persis dengan mobil Arvina dulu. Namun modelnya sedikit berbeda.
"Sebelum datang ke sini, kau pernah bilang ingin membeli mobil yang sama denganku jika sukses nanti. Dan ini adalah hadiah dari kami untukmu." Ucap Arvina merangkul sahabat serta kakak iparnya itu.
"Tapi ini terlalu berlebihan. Dave sudah memberiku ... "
"Hentikan omong kosongmu! Mau aku kembalikan dirimu ke rumah sakit sekarang?" Titah Dave penuh ancaman.
Ken segera menggeleng.
"Terima kasih." Ucap Ken memeluk erat adiknya.
"Peluk istrimu sana! Dia sudah menunggu di dalam dengan kejutannya." Titah Dave membalas singkat pelukan Ken.
Ken segera berlari masuk ke dalam mansion untuk mencari Elviana.
Dave masuk bersama dengan Arvina.
"Sayang.." Ken langsung memeluk Elviana tanpa banyak bicara.
"Aku merindukanmu." Ucap Ken lembut.
"Aku juga." Balas Elviana tak kalah lembut.
"Sayang, aku punya sesuatu untukmu." Ucap Elviana semangat setelah pelukan mereka terlepas.
"Apa?" Tanya Ken penasaran.
"Ini." Elviana menyerahkan seberkas dokumen untuk Ken.
"Jadi ada seorang temanku yang sangat tertarik dengan hasil desainmu, dan temanku ini ingin menjadikanmu desainer di perusahaan fashionnya. Desainer Utama." Ucap Elviana serius.
"Kau serius? Tapi darimana mereka tahu?" Tanya Ken bingung.
"Kau lupa? setiap ada acara, aku hanya mengenakan hasil desainmu! Dan mereka kagum melihat semua itu." Jawab Elviana sedikit kesal.
Ken mengangguk-angguk sambil membaca isi dokumen itu.
"Itu adalah kontrak dan jika kau tidak keberatan, kau bisa menandatangani kontrak itu. Jika ada yang kurang puas, kau bisa berunding dengan mereka." Ujar Elviana bahagia.
__ADS_1
"Em..aku akan memikirkannya. Sekarang, giliran aku yang akan memberimu kejutan." Sahut Ken tersenyum manis dan menyimpan berkas kontrak itu di atas meja.
"Dave, Vina, kalian sudah menyiapkan semuanya?" Tanya Ken pada kedua insan yang sedang bermesraan itu.
"Sudah! Daddy sudah menunggu di sana!" Jawab Dave tak berhenti mengelus perut istrinya yang masih rata.
"Ayo, ikut aku!" Ken menggenggam tangan Elviana dan menariknya lembut untuk mengikutinya.
"Ayo, kita ikut! Aku jadi merindukan momen kita." Ajak Arvina semangat.
Ken membawa Elviana menuju ke taman belakang mansion Dave.
"Ken, taman ini indah sekali." Puji Elviana kagum pada keindahan taman yang sudah dihias sedemikian rupa itu.
"Em..dan semua ini untukmu." Jawab Ken masih menuntun Elviana hingga ke tengah taman.
"Selamat datang, Ken, El!" Sapa Jeymian yang keluar dari tempat persembunyian.
"Ada apa ini?" Tanya Elviana penasaran.
Ken tidak menjawab dan hanya tersenyum. Ken mengulurkan tangannya meminta sesuatu dari Jeymian dan Jeymian memberinya sebuah kotak kecil berwarna putih.
Ken kemudian berjongkok di hadapan Elviana dengan satu lutut bertumpu di atas tanah dan membuka kotak putih tersebut. Isinya sebuah cincin berlian yang simple namun sangat indah.
"Elviana Aliara, aku tahu aku bukan pria yang kaya raya dan bergelimang harta. Aku bukan seorang selebriti yang terkenal dimana-mana. Aku hanya seorang pria biasa, yang tidak mempunyai siapapun selain Ayah tiri dan adik tiriku. Tapi aku akan berusaha untuk menjadi pria yang hebat dan terus mencintaimu dengan sisi lemahku. Aku akan berjuang dan terus berjuang untuk menjadikan dirimu Ratu di negeri dongeng kita kelak. Maukah kau men..."
"Uwu..benar-benar agresif!" Gumam Jeymian diikuti kekehan Arvina dan Dave.
Ken dan Elviana berciuman cukup lama hingga suara deheman Jeymian menghentikan aksi panas mereka.
"Pakaikan cincinnya Ken!" Titah Jeymian membuat yang lainnya tertawa kecil.
Ken segera memakaikan cincin berlian itu di jari manis Elviana.
"Terima kasih, sayang." Elviana kembali mengecup bibir Ken.
"Sayang, kau wanita. Jangan terlalu agresif!" Titah Ken malu-malu.
"Wanita agresif ini yang mencintaimu dan nekat mengejarmu." Jawab Elviana dibuat galak.
"Baiklah baik. Terima kasih sudah nekat mencintaiku dan mengejarku." Ucap Ken kembali memeluk calon istrinya.
"Well, kapan pernikahan kalian akan diselenggarakan?" Tanya Jeymian antusias.
__ADS_1
"Boleh tidak jika kita tidak menentukan tanggal? Kita siapkan saja semuanya hingga benar-benar matang. Aku tidak ingin terburu-buru hingga terkesan memaksakan hari." Tanya Ken ragu.
"Em..aku setuju dengan Ken. Tanggal itu tidak penting dan semua hari adalah baik. Jadi kita siapkan saja semuanya sampai benar-benar siap." Sahut Elviana semangat.
"Em, baiklah jika itu mau kalian. Daddy ikut saja. Bagaimana Dave, Vina?" Lanjut Jeymian lalu bertanya pada sepasang suami-istri bak lem itu.
"Ah..em..kami ikut saja maunya calon mempelai." Jawab Dave tersenyum.
"Oh ya, Ken, kau sudah menemui orang tua El?" Tanya Jeymian mengingatkan.
"Sudah, Dad. Tadi dari rumah sakit kami langsung ke sana. Dan sudah menyampaikan rencana baik ini juga." Jawab Ken jujur.
"Baguslah. Semoga saja mereka mau datang dsn memberikan doa restu pada kalian." Timpal Jeymian.
Elviana hanya diam meski ingin sekali dia mengomel.
"Ayo, kita ke dalam. Aku dan istri beserta anak kami sudah lapar. Kalian pasti juga lapar." Ajak Dave tanpa basa basi.
"Dasar rakus!" Ketus Ken mengejek adiknya.
"Semoga kau merasakan yang lebih parah nanti!" Ucap Dave mengutuk kakaknya.
Ken dan Elviana hanya terkekeh, begitupun dengan Jeymian.
Mereka berlima menuju ke ruang makan. Setelah duduk mereka segera menyantap makanan yang terhidang di atas meja. Dave dan Arvina selalu berbagi makanan apapun itu.
"Oh yah, Ken. Zena dan Hansen bilang, mereka ingin kau juga ikut menemani Zena melahirkan nanti. Mereka sudah menetapkan tanggal untuk Zena operasi sesar." Ucap Arvina menyampaikan pesan dari adik serta adik iparnya.
"Apa boleh aku juga ikut serta?" Tanya Ken ragu.
"Tentu saja boleh. Kau Ayah biologis mereka, Ken. Dan lagi sepertinya kau belum membelikan sesuatu untuk mereka. Segeralah belikan apapun yang ingin kau belikan untuk mereka. Tapi satu pesan Daddy, perlakuan si kembar dengan adil nanti jika kau dan El sudah mempunyai anak juga." Sahut Jeymian.
"Baiklah. Sayang, apa kau mau menemaniku berbelanja untuk anak-anakku?" Tanya Ken ragu pada Elviana.
"Anak-anak kita, Ken. Mereka darah dagingmu, mereka anak-anakku juga. Dan tentu saja aku mau." Jawab Elviana tulus.
"Terima kasih." Ken tersenyum bahagia.
"Nanti saja jika ingin bermesraan! Selesaikan dulu makannya!" Titah Dave sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"Cih..kau itu pasti hanya beralasan mengidam agar bisa makan banyak." Ejek Ken disambut dengan tawa kecil dari yang lainnya.
Dave hanya memutar malas matanya, enggan berkomentar.
__ADS_1
Mereka pun segera melanjutkan makan siang mereka dengan diselingi obrolan kecil dan canda tawa.
...~ TO BE CONTINUE ~...