
"Dimana istriku?" Tanya Dave yang baru saja sampai di rumah sakit tempat Arvina dirawat.
Hansen sedari tadi menunggu kedatangan Dave di depan rumah sakit.
"Ikuti aku!" Ajak Hansen dan berjalan lebih dulu.
Hansen segera membawa Dave menuju ruang inap tempat Arvina berada.
Baru di depan pintu, Dave sudah bisa melihat istrinya sedang terbaring sendirian tanpa ada yang menemani.
"Masuklah! Tadi aku melihatnya bersama Aston. Entah apa yang dialami Arvina. Aku pamit." Titah Hansen kemudian pamit undur.
Dave segera masuk ke dalam ruang inap Arvina, namun Arvina masih belum menyadari kedatangan suaminya.
Arvina sedang setengah duduk dan melihat keluar jendela.
Tanpa ingin berlama-lama, Dave segera memeluk istrinya membuat Arvina tersentak.
"Aku merindukanmu sayang. Kau kemana saja?" Tanya Dave pilu.
Arvina tidak menjawab juga tidak membalas pelukan Dave.
Dave akhirnya melepaskan pelukannya.
"Ada apa? Kau sakit apa?" Tanya Dave khawatir sambil memeriksa keadaan tubuh Arvina.
Arvina masih tidak menjawab namun air matanya meluncur tanpa diminta.
"Kau kenapa? Hey, jangan menangis! Aku tidak marah. Kau diculik kan?" Tanya Dave berusaha menepis pikiran buruknya.
"Maafkan aku Dave!" Kalimat pertama yang Arvina ucapkan membuat Dave semakin merasa ada yang tidak beres.
"Maaf? Maaf untuk apa sayang?" Tanya Dave lagi sambil menghapus air mata Arvina.
"Maafkan aku." Pinta Arvina lagi.
Dave semakin kebingungan.
"Pergilah! Aku tidak membutuhkanmu!" Usir Arvina dengan suara lemahnya.
"Apa? Apa yang kau katakan sayang? Jangan bercanda!" Dave hendak kembali memeluk Arvina namun Arvina menahan Dave dengan tangannya.
"Pergi Dave! Aku tidak membutuhkanmu! Aku tidak mencintaimu lagi!" Arvina meninggikan nada bicaranya.
"Tidak sayang! Cukup bercandanya! Aku tidak akan marah ataupun menghukummu, aku janji. Aku tahu kau mengalami kesulitan " Dave berusaha berpikir positif dan kembali hendak memeluk Arvina namun Arvina kembali menolak.
"Pergi Dave! Aku bilang pergi! Aku sudah tidak mencintaimu lagi!" Teriak Arvina frustasi.
Dave menggeleng kuat.
__ADS_1
"Kau bohong! Apa yang terjadi sebenarnya? Katakan!" Dave juga berteriak frustasi.
Belum sempat Arvina ingin menjawab, Aston tiba-tiba masuk ke dalam ruang inap Arvina dan langsung menghampiri Arvina.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Aston khawatir langsung memeluk Arvina tanpa peduli dengan keberadaan Dave.
Arvina menggeleng dan dengan sengaja membalas pelukan Aston.
"Jangan tinggalkan aku! Aku takut!" Pinta Arvina bersandiwara.
"Lepaskan istriku bangsat!" Teriak Dave hendak menyerang Aston namun suara Arvina menghentikannya.
"Jangan menyerang kekasihku! Jika kau marah, lampiaskan padaku!" Titah Arvina masih memeluk Aston.
Aston juga tahu Arvina pasti hanya bersandiwara.
"ARGHHHH" Dave menjambak kasar rambutnya.
"Apa yang kau lakukan Arvina? Kau bilang dia kekasihmu? Kau gila?" Tanya Dave dengan bentakan keras membuat Arvina memejamkan matanya.
"Cukup! Jangan membentak wanitaku seperti itu!" Titah Aston mencoba menjadi penengah.
"ARVINA JAWAB AKU!" Dave kembali membentak.
"Iya. Aku sudah bersama Aston. Aku bahkan sudah tidur dengannya dan sekarang aku mengandung anaknya." Ucap Arvina dengan kebohongan yang tidak masuk akal.
Kilat amarah dan luka tergambar jelas dari tatapan mata Dave.
Arvina kini terdiam dan hanya terisak. Suaminya, pria yang sangat ia cintai menghinanya. Tapi bagi Arvina itu jauh lebih baik daripada Dave harus kecewa karena dirinya tidak bisa memberikan Dave keturunan.
Dave langsung keluar dari ruangan itu tanpa berkata apapun lagi.
"Maafkan aku Dave! Maaf!" Gumam Arvina kini melepaskan pelukannya dari Aston dan memeluk tubuhnya sendiri.
"Arvina, kenapa kau bodoh seperti ini? Harusnya kau mengatakan kebenarannya!" Tanya Aston kesal.
Entah kenapa, Aston merasa tidak rela jika Arvina berbohong seperti itu. Apalagi sampai membuat Dave menghinanya seperti itu.
"Aku ingin sendiri!" Jawab Arvina dan membaringkan tubuhnya.
Arvina terus menerus menangis.
"Dokter mengatakan kau masih bisa punya anak Arvina, masih bisa. Lalu kenapa kau harus menyiksa dirimu seperti ini? Kemungkinan kecil bukan berarti tidak ada harapan." Ucap Aston lagi.
Arvina tidak merespon dan hanya menangis.
"Kau terlalu lemah Arvina! Bodoh!" Aston kesal dan memilih duduk di sofa. Ia tidak mungkin meninggalkan Arvina begitu saja.
"Maafkan aku Dave!" Arvina terus mengulangi kalimat itu dengan suara lemahnya.
__ADS_1
••••••••••••
"ARGHHH" Dave mengerang frustasi.
Dalam sekejap sudah banyak barang-barang yang dihancurkan dirinya.
"Aku membencimu Arvina! Aku kira kau cahayaku, tapi nyatanya kau sumber kegelapan dan kehancuran!" Geram Dave menunjuk ke arah pintu sambil meneguk sebotol minuman keras.
"Kau bodoh Dave! Kau mencintai seorang perempuan yang kau pikir adalah yang terbaik selama belasan tahun. Kau menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya dan sekarang yang kau dapatkan apa? Hanya pengkhianatan!"
BRANGG
Dave melempar botol minumannya tadi hingga pecah berantakan.
"BANGSAT!" Teriak Dave lagi.
"Dave, ada apa ini?" Tanya Drick menghampiri Dave.
Drick mendapat kabar dari Amy kalau Dave sedang mengamuk.
"PERGI! PERGI KALIAN SEMUA! DASAR TIDAK BERGUNA! MUNAFIK!" Dave berteriak tanpa sadar.
Ia sudah mulai mabuk.
"Kau ini kenapa? Bukankah tadi kau bilang akan menemui Arvina? Kenapa sekarang malah jadi begini?" Tanya Drick bingung berusaha untuk membantu Dave berdiri namun Dave menolak.
"JANGAN PEDULI PADAKU! JANGAN SEBUT NAMA WANITA MURAHAN ITU! DIA DENGAN TEGA MENGKHIANATI DIRIKU DAN MENGANDUNG BENIH PRIA LAIN!" teriak Dave lagi.
Drick terbelalak mendengar penuturan Dave dan merasa sedikit tidak percaya.
"Bagaimana mungkin? Kau pasti salah bung." Ujar Drick mencoba menenangkan Dave.
"AKU SALAH? DIA YANG MENGATAKANNYA SENDIRI! DIA MENGAKUI SEGALANYA BARUSAN!" Dave selalu berbicara dengan nada tinggi dan berteriak.
"Dave sadarlah! Mana mungkin seorang Arvina melakukan hal rendahan seperti itu. Pasti ada yang tidak beres di sini!" Bujuk Drick sambil memainkan logikanya.
"PERGI! KAU DAN WANITA MURAHAN ITU SAMA SAJA! MEMUAKKAN!" Bentak Dave lagi.
"Baik baik, aku pergi. Tapi aku tidak akan percaya begitu saja ucapanmu. Aku akan mencari tahu semuanya. Aku percaya Arvina tidak seperti itu. Jika terbukti aku yang benar, aku rasa akan terlambat untuk kau menyesaln" Ujar Drick sengaja.
Drick tentu tidak bisa percaya begitu saja dengan semua yang Dave ucapkan. Drick sangat mengenal Arvina walaupun mereka tidak begitu dekat. Dimata Drick, Arvina adalah seorang perempuan yang sangat baik.
"PERGI!" Dave berteriak sekali lagi dan kali ini Drick benar-benar pergi.
Drick tahu jika sahabatnya sedang emosi, tidak ada yang bisa menghentikannya selain Arvina, mungkin.
Drick memilih masuk ke dalam kamar lain untuk beristirahat sejenak sebelum nanti mencari tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya.
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1
######