TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Dave membutuhkanmu!


__ADS_3

London, Inggris


"Hah..membosankan.." Gumam Arvina.


Ia saat ini sedang berbaring di kamarnya sejak pagi hari.


Tidak ada kegiatan yang bermakn yang ia lakukan, ia juga masih takut untuk keluar rumah walaupun Darvin sudah menyiapkan pengawal pribadi untuknya, bahkan untuk semua anggota keluarganya tanpa terkecuali.


"Dave..arghh..kau membuatku gila. Apa menjemputku perlu waktu sampai selama ini?" Gumam Arvina frustasi.


Ia menggulingkan tubuhnya ke kiri dan kanan.


Ingin melukis pun ia sedang tidak mendapat inspirasi.


"Lihat saja bagaimana nanti aku menghukummu. Sudah memaksaku mencintaimu dan sekarang kau seenaknya mengabaikan diriku begitu saja. Aku pastikan kau akan berlutut meminta maaf padaku." Gerutu Arvina seolah sedang memarahi Dave.


Sesekali ia tersenyum mengingat bagaimana sikap manja dan posesif Dave padanya. Bagaimana Dave begitu manis padanya.


"Arghh...ini benar-benar membuatku gila.." Arvina membenamkan wajahnya pada kasurnya.


Tok tok tok


Pintu kamarnya diketok dari luar.


"Siapa?" Tanya Arvina malas.


"Mommy. sayang." Suara Zevina terdengar.


Arvina turun dari ranjangnya dan berjalan dengan malas dan membukakan pintu untuk Mommynya.


"Ada apa Mom?" Tanya Arvina malas.


"Ayo turun. Ada Hansen dibawah." Ajak Zevina.


Mendengar nama Hansen membuat Arvina semangat sebentar.


"Wait, hanya Hansen?" Tanya Arvina memastikan.


"Hem.." Zevina berdehem lembut.


"Brengsek itu benar-benar." Geram Arvina dan langsung melewati Mommynya dan turun ke bawah.


Saat sudah di bawah ia melihat Arzena tengah-tengah menunduk malu-malu berhadapan dengan Hansen, namun tatapan Hansen tidak seperti biasanya.


Bukan karena sudah tidak mencintai Arzena, tapi saat ini rasa khawatir pada Dave jauh lebih besar.


"Ada apa? Kau ingin mengatakan si brengsek itu akan menikahi wanita lain? Atau kau ditugaskan untuk mengantarkan undangan?" Tanya Arvina malas sekaligus kesal.


"Apa maksudmu? Kau sama sekali tidak percaya dia mencintaimu?" Hansen menjawab pertanyaan Arvina dengan bertanya balik.


"Cinta? Dia bahkan tidak menghubungiku sama sekali dan kau bilang dia mencintaiku?" Tuduh Arvina kesal.


Ia memutuskan untuk berbalik dan kembali ke kamarnya namun ucapan Hansen menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Dave membutuhkanmu! Dia sedang sekarat saat ini. Aku dan Drick tengah berjuang agar ia bisa tetap hidup. Dan aku rasa yang paling dia butuhkan saat ini adalah kehadiranmu." Ucap Hansen serius.


"A apa maksudmu sekarat?" Tanya Arvina cemas dan berbalik menatap Hansen.


"Beberapa hari lalu kami ingin menangkap Ken, namun ternyata kami dijebak dan pada akhirnya dia di serang dan ditembak oleh musuh tepat di dadanya dan benar-benar mengenai jantungnya. Dokter mengatakan kemungkinan untuk Dave tetap hidup sangat kecil, maka dari itu aku ingin kau ikut dengan ku! Kau adalah keajaiban terbesar dalam hidupnya." Ujar Hansen meyakinkan Arvina.


Arvina menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Tanpa diminta, cairan bening keluar begitu saja dari matanya.


"Kau pasti bohong kan? Itu tidak mungkin! Dave ku tidak selemah itu." Gerutu Arvina seolah tidak menerima kenyataan.


"Aku tidak berbohong. Tidak ada gunanya aku menjadikan nyawa seseorang sebagai candaan terlebih itu sahabatku sendiri." Tegas Hansen membuat Arvina semakin terisak.


"Mom.." Arvina memeluk Mommynya yang mendekatinya dari belakang.


Arzena juga bangkit dari duduknya dan ikut memeluk kakaknya.


"Aunty, jika boleh aku ingin membawa Arvina ke Sydney lagi. Dave membutuhkannya." Hansen meminta ijin pada Zevina.


"Ada apa ini?" Tanya Darvin yang baru memasuki rumah.


Sebelumnya Zevina memang sudah menghubunginya untuk pulang sebentar.


"Uncle." Hansen sedikit membungkuk sopan.


"Aku Hansen. Aku sahabat Dave, kekasih Arvina. Aku ingin meminta ijin untuk membawa Arvina ikut bersamaku ke Sydney. Dave sedang sekarat dan membutuhkan kehadirannya." Ucap Hansen tegas tanpa rasa takut atau gugup.


Darvin diam sejenak.


"Aku tidak pernah berbohong tentang perasaanku dan nyawa seseorang!" Ucap Hansen tak kalah tegas.


"Baiklah, aku mengijinkan mu. Tapi pastikan putriku terlindungi dari bahaya apapun itu. Jika sampai putriku tersakiti seujung kuku saja, maka kalian akan lihat sendiri akibatnya!" Titah Darvin mengancam.


"Aku jamin dengan nyawaku!" Ujar Hansen tanpa takut sedikitpun.


"Arvina, bersiaplah! Cukup bawa pasport dan data penting mu saja! Lainnya kita bisa membelinya nanti." Titah Hansen pada Arvina.


Arvina segera melepaskan pelukan Mommynya dan berlari menuju kamarnya untuk mengambil pasport dan beberapa hal penting lainnya.


Hansen dengan berani mendekati Arzena dan memeluknya erat.


"Jangan bersedih! Untuk saat ini aku tidak bisa membawamu serta. Tapi aku janji akan kembali dengan lamaran untukmu. Maaf harus membuatmu menunggu lagi." Ucap Hansen lembut dan mengecup puncak kepala Arzena.


Arzena mengangguk.


"Jaga dirimu dan kakakku baik-baik!" Titah Arzena pelan dan memberanikan diri membalas pelukan Hansen.


Hansen dengan sangat berat hati melepaskan pelukannya dari Arzena setelah Arvina kembali menghampiri mereka.


Darvin segera memeluk Arvina erat.


"Jaga dirimu baik-baik!" Titah Darvin tegas.

__ADS_1


Arvina hanya mengangguk dan memeluk erat Daddynya.


"Aku pergi Dad, Mom, Zena." Pamit Arvina setelah memeluk semuanya.


Hansen mempersilahkan Arvina berjalan lebih dulu dan ia menjaga dari belakang.


Hansen menuntun Arvina masuk kedalam mobil yang sudah menunggu mereka dari tadi, dan mobil tesebut segera melaju menuju bandara dikendarai seorang anak buah Hansen yang memang sedang berada di London.


Tak perlu waktu lama akhirnya mereka pun sampai dibandara.


Hansen segera mengurus segala administrasi mereka.


Selesai mengurus semuanya, Hansen dan Arvina dituntun hingga masuk kedalam salah satu jet pribadi yang sudah Hansen sewa.


Satu jam kemudian jet tersebut lepas landas.


Butuh waktu kurang lebih dua puluh empat jam untuk mereka tiba di Sydney dan Hansen meminta Arvina untuk beristirahat.


••••••••••


Mereka kini sudah sampai di Sydney dan Arvina meminta untuk langsung ke rumah sakit.


Hansen hanya menurut.


Arvina kini berada di dalam ruangan tempat Dave dirawat.


"Hei, kenapa pria kejam sepertimu jadi lemah begini?" Gumam Arvina bertanya pada Dave yang sedang terbaring lemah dengan beberapa alat yang menempel pada tubuhnya dan juga selang oksigen di hidungnya.


Arvina menggenggam erat tangan Dave, ia berusaha untuk tidak menangis tapi tetap saja air matanya tidak bisa diajak bekerja sama.


"Dave, jangan seperti ini! Bukankah kau bilang akan menikahi ku? Apa kau hanya bersandiwara saja agar aku jatuh cinta padamu?" Tanya Arvina lagi.


Terlihat air mata Dave mengalir dari sudut matanya.


Mungkin pendengarannya masih bekerja dengan baik walau ia sedang kritis.


"Dave, aku tekankan padamu! Jika sampai besok malam kau tidak bangun juga, maka jangan salahkan aku jika memilih pria lain dan meninggalkanmu yang lemah seperti ini." Ucap Arvina lagi.


Kali ini tangan Dave yang berada dalam genggamam Arvina menggerakkan jari-jarinya, namun sepertinya Arvina tidak menyadari dan tidak merasakan pergerakan kecil itu.


Hansen dan Drick yang juga berada di dalam ruangan itu melongo tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Sungguh, benar-benar keajaiban, pikir mereka.


"Kau tahu, aku bahkan kemarin diculik dan hampir celaka gara-gara memikirkan mu. Aku diculik saat hendak pergi dari taman tempat kita terakhir kali bersama waktu kecil dulu." Gumam Arvina dan kali ini Dave menggerakkan jarinya lebih kuat dari sebelumnya membuat Arvina bisa merasakan pergerakannya.


"Kau mendengarku sayang?" Tanya Arvina tak yakin.


"Kau tahu yang menculikku itu seorang pria. Matanya rusak satu dan di keningnya terdapat bekas sayatan pisau yang cukup panjang." Ucap Arvina lagi untuk memancing respon Dave.


Bukan hanya Dave yang memberikan respon mengejutkan, kedua pria dibelakang Arvina pun sama kagetnya mendengar siapa pelaku penculikan itu.


Monitor yang memantau detak jantung Dave berbunyi dengan sangat cepat pertanda detak jantungnya sedang meningkat.

__ADS_1


"Dave, kau kenapa?" Tanya Arvina panik sedangkan Hansen langsung memencet tombol darurat untuk memanggil dokter.


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2