TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Permintaan Maaf


__ADS_3

"Aku ingin ... "


Dave menghentikan perkataannya kemudian memilih berpikir sejenak.


"Dave, katakan kau ingin apa?" Titah Arvina menangkup wajah Dave.


"Tapi aku harap kau tidak marah kepadaku." Ucap Dave ragu.


"Aku tidak janji Dave. Jika kau meminta ijin ingin menikah lagi, maka lebih baik kita berpisah. Aku tidak akan sanggup diduakan." Sahut Arvina tegas.


"Tidak tidak. Sama sekali bukan. Aku tidak mungkin mengkhianatimu." Ujar Dave yakin.


"Lalu apa? Katakan saja!" Titah Arvina lembut.


Dave menarik nafas panjang dan menghembuskannya lirih.


"Aku ingin kita konsultasi dengan dokter tentang sakitmu secara jelas dan detail. Apakah kita ada kesempatan untuk memiliki anak atau tidak? Tapi itu semua jika kau juga setuju." Ucap Dave dengan berat hati.


Ia takut Arvina akan salah paham kepadanya.


Arvina menatap dalam kedua manik tajam Dave yang kini menjadi lebih teduh.


"Baiklah. Aku ikuti keinginanmu. Aku juga masih sangat berharap bisa melahirkan anakku dari rahimku sendiri." Sahut Arvina tersenyum pada suaminya.


Dave akhirnya bernafas lega dan langsung memeluk istrinya.


"Aku yakin kita bisa melewati setiap badai yang menghadang, jika kita bersama. Kau kekuatan terbesar dalam hidupku." Ucap Dave sambil modus dengan mengecup pelan leher Arvina.


Arvina hanya mengangguk dan membalas pelukan suaminya.


"Jadi sayang, apa kita perlu menabung dulu sebelum konsultasi dengan dokter?" Tanya Dave dengan suara beratnya.


"Jangan macam-macam! Kau masih sakit dan sejak dari rumah sakit tadi kau sama sekali belum istirahat sedikitpun." Tolak Arvina tegas.


Arvina hanya tidak ingin memperparah keadaan suaminya.


"Baiklah baik." Sahut Dave melepas pelukannya.


Dave kemudian berbaring di tempatnya dan juga mengajak Arvina melakukan hal yang sama.


Mereka berbaring berhadapan.


"I love you so deeply, Arvina Anthony Alexon." Ucap Dave tulus.


"I love you too, Mr. Alexon." Balas Arvina tersenyum lembut.


Mereka berdua saling bertatapan cukup lama.

__ADS_1


"Oh ya, apakah boleh mulai sekarang dan seterusnya Daddy ku dan Ken tinggal bersama kita? Dan apakah boleh jika kita mencarikan dokter dan perawat untuk mengobati Daddy ku?" Tanya Dave beruntun.


"Untuk Daddy mu, semua tidak masalah. Aku setuju. Tapi untuk Ken, dia boleh tinggal di sini. Tapi jika dia berulah, aku akan menghukumnya dan aku harap kau tidak akan membelanya jika dia bersalah." Jawab Arvina tegas.


Dave mengernyit bingung.


"Sayang, kenapa aku merasa kau akhir-akhir ini sangat pemarah?" Tanya Dave bingung.


"Aku tidak pemarah Dave. Aku hanya ingin menjadi lebih kuat, tidak selalu mengandalkan air mata dan belas kasihan dari orang lain." Jawab Arvina pelan.


"Tapi aku lebih suka dirimu yang sabar, apalagi jika kau menggantungkan seluruh hidupmu padaku." Ucap Dave mengelus pipi istrinya.


"Khusus untukmu, aku akan menjadi seperti yang kau mau. Sekarang tidurlah. Besok aku akan meminta Hans untuk datang dan memeriksa lukamu." Titah Arvina.


Dave menurut dan menarik istrinya ke dalam pelukannya.


Tak perlu menunggu lama, Dave pun terlelap. Arvina adalah obat untuk segala rasa sakit Dave, bahkan sekaligus obat tidurnya.


Setelah Dave terlelap, perlahan Arvina baru terlelap.


•••••••••••••••


Pagi menjemput.


"Hello everyone.." Drick yang baru datang ke mansion Dave, menyapa semua yang sedang sarapan di ruang makan dengan ceria.


"Kau kenapa?" Tanya Arvina heran.


"Brengsek! Berani sekali menyentuh istriku?" Dave menepis kasar tangan Drick dari kepala Arvina.


"Cih..istrimu kan seperti adikku. Untuk apa kau begitu cemburu?" Tanya Drick membela diri.


Dave hanya menatap tajam padanya.


"Oh, hai kedua uncle dan aunty yang cantik. Dan kau, pria lemah." Sapa Drick kepada kedua orang tua Arvina, Jeymian, dan Ken.


"Drick, kapan kau akan berangkat ke London?" Tanya Arvina penasaran.


"Kapan uncle Darv dan aunty Zev akan pulang?" Drick malah bertanya balik.


"Kami akan pulang nanti malam." Jawab Darvin.


"Kalau begitu, aku juga akan berangkat nanti malam. Uncle Darv dan aunty Zev ikut denganku saja. Aku akan berangkat menggunakan jet pribadi Dave. Boleh Dave?" Tanya Drick meremas pundak Dave.


"Silakan." Jawab Dave singkat.


Drick berjingkrak pelan. Di dalam otak kecilnya sudah tersusun rapi rencana untuk mendapatkan Raina kembali.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku akan menyelesaikan semua tugasku hingga sore ini. Jika ada yang belum bisa aku selesaikan, aku ijin tunda dulu atau kau dan Hansen yang selesaikan." Ujar Drick dan langsung pergi meninggalkan ke-enam orang itu sambil bersiul bahagia.


"Ada apa dengannya? Sepertinya dia bahagia sekali? Apa dia punya kekasih di London?" Gumam Arvina bingung.


"Dia kan memang sedikit aneh. Kau lupa beberapa waktu lalu sebelum kita ke Itali dan dia selalu bermasam wajah?" Jawab Dave kemudian bertanya balik pada Arvina.


"Aku rasa dia butuh dokter kejiwaan." Timpal Arvina membuat kelima orang yang lain tertawa kecil.


Mereka kembali melanjutkan kegiatan sarapan mereka.


"Mommy, Daddy.." Arzena berlari kecil dan langsung memeluk kedua orang tuanya dari belakang.


Hansen dan yang lain merasa ngilu melihat tingkah Arzena yang terlalu bersemangat.


"Hai.." Sapa Darvin dan Zevina serentak mengecup pipi putrinya.


"Hai twins..Hai kakak ipar.." Sapa Arzena kepada Dave dan Arvina.


Keduanya hanya mengangguk.


"Hans, kita langsung saja memeriksakan luka Dave." Ajak Arvina membantu Dave berdiri dan berjalan padahal Dave sudah menolak.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam ruang kerja Dave.


"Zena, Mommy dan Daddy harus keluar sebentar untuk membeli beberapa kado untuk Raina. Kau tunggu Vina di ruang keluarga saja yah." Titah Zevina lembut.


Arzena hanya mengangguk pelan sedikit melirik ke arah Ken yang sedari tadi hanya menunduk.


Zevina dan Darvin pun keluar meninggalkan mansion Dave.


Jeymian memilih kembali ke kamar dengan mendorong kursi rodanya sendiri.


Arzena memilih pergi dari hadapan Ken. Arzena memilih pergi ke taman belakang mansion Dave untuk merasakan hangatnya sinar matahari pagi.


"Ekhem.." Suara deheman Ken membuat Arzena tersentak.


"Untuk apa kau ke sini? Mansion ini luas. Kau bisa ke tempat lain." Hardik Arvina was-was.


Ken nekat mendekati Arzena namun tidak ada niatan buruk lagi.


Ken juga nekat duduk di samping Arzena.


"Zena, aku tahu semua kesalahanku terlalu banyak dan tidak pantas untuk dimaafkan. Tapi tetap, aku ingin meminta maaf untuk semua dosaku kepadamu." Ucap Ken tulus namun ia tidak berani memandang Arzena.


Arzena terdiam dan mencoba mencerna perkataan Ken.


"Aku tahu aku aku tidak layak, aku tidak pantas untuk mendapatkan maaf dan ampun dari kalian. Tapi aku sungguh minta maaf kepadamu atas semuanya. Termasuk lari dari tanggung jawabku sebagai orang yang membuatmu hamil." Pinta Ken lagi.

__ADS_1


"Su sudah. Aku memaafkan mu. Sekarang pergilah!"


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2