
Makan Malam pukul 19.00
Aleksander yang sudah duduk di kursi nya di temani dengan Zelin dan juga Duma tengah siap untuk menikmati makan malam nya.
"Dimana Elisa ?" tanya Alek sedikit menerawang ke arah kedua wanita yang tengah bersamanya.
"Elisa masih di kamar ,aku akan segera memanggil nya " jawab Zelin segera berdiri .
"Tidak perlu kak , biar aku saja yang memanggilnya " cegah Duma turut berdiri ingin memanggil Elisa, Duma yang sedikit canggung pun mengiyakan perkataan Madunya itu.
Namun sayangnya langkah kaki Duma terhenti karena baru saja ingin di panggil Elisa sudah tampak menuruni tangga untuk segera turun ke bawah.
"Itu Elisa ..." ujar Zelin tersenyum menoleh ke arah Elisa yang semakin turun sedikit bersemangat.
"Malam Tante..." sapa Elisa pada Duma yang bermaksud menyusulnya tadi di bawah tangga.
"Malam Lisa , ayo kita makan !" ajak Duma tampak tersenyum ramah padanya.
"Ayo nak , kita makan malam dulu !" ajak Zelin segera bangkit untuk sekedar menarik kursi di sebelahnya menyarankan Elisa untuk duduk , melihat hal itu jelas Elisa sangat terharu dan bahagia dengan keluarga yang dimilikinya sekarang.
"Terimakasih Bu " jawabnya pelan sembari duduk di sebelah Zelin.
"Bisa kita mulai makan nya ?" sambung Alek sedikit tak sabar menyantap makan malam nya yang sedikit mengalami suasana berbeda , dengan adanya Elisa dan Zelin di rumah itu jelas kehidupan keluarganya terasa hangat , meskipun di sana tak di barengi dengan sosok Edward yang tak menempati kursi makannya .
"ayo kita makan sayang , ini sup daging buat mu Lisa ! kamu jangan makan makanan pedas dulu yah !" Zelin tampak menyendok kan beberapa makanan pada piring Elisa , hal itu jelas mengundang perhatian di antara mereka , Elisa pun sedikit canggung akan sikap Zelin padanya .
"Ibu , Makanan ini kan gak pedas , iya kan bi Dewi ?" jawab Lisa sedikit melirik pada Dewi yang kini tengah mengupas beberapa buah di sebelah Duma.
"Lumayan pedas sih non " jawab Dewi tak memungkiri pada gulai ikan yang di masaknya pedas.
"Elisa ini juga kan untuk kebaikan mu dan.....
"Dan apa Bu ?" Elisa sedikit penasaran pada perkataan Zelin yang terhenti.
__ADS_1
"Yah sudah , yang pedas biar ayah saja yang makan " sambung Alek kemudian menarik sebuah piring gulai yang hendak Elisa ambil tadi.
"haha... kamu juga jangan terlalu banyak makan pedas , jaga kesehatan !" segera Duma menarik kembali piring itu dan menyendok sedikit untuk santapan nya.
Hal itu jelas mengundang tawa di antara mereka semua , dengan hal itu Zelin tampak meneguk pelan Saliva nya , ia hampir saja keceplosan mengatakan soal buah hati yang di kandung Elisa, pikirnya ini belum saat nya ia memberitahu kan itu semua pada menantunya itu.
Setelah mereka selesai menyantap makan malam , Alek tampak bersantai di ruang tengah untuk pertama kalinya , ia tengah santai dengan menonton Televisi yang hampir setengah tahun tidak melihatnya lantaran sibuk dengan segala bisnisnya , paska ia tertembak kini perusahaan nya di alihkan pada Deni sebagai manajer kepercayaan nya , sementara Elisa kembali ke kamar.
"Kak tunggu sebentar !" tukas Duma yang sedikit menarik tangan Zelin yang baru saja ingin masuk ke dalam kamarnya .
"Ada apa Duma ? " Jawab Zelin menoleh .
"Apa Elisa hamil ?" sontak pertanyaan itu sedikit menimbulkan reaksi kaget dari Zelin , ia pun sedikit menarik Duma ke pojok ruangan.
"kamu tahu dari mana ?" tanya Zelin balik bertanya dengan suara pelan , ia tak ingin ada orang yang mendengar nya.
"Aku tahu dari sikap Kakak yang akhir-akhir ini begitu berlebihan pada Elisa , dan meskipun aku belum pernah hamil , aku jelas sudah tahu bagaimana kondisi seorang wanita yang tengah berbadan dua "
" iya kamu benar , Elisa sedang hamil sekarang "
"Kak , ini demi kebaikan Elisa sendiri , jika dia tahu bahwa dirinya tengah mengandung dia pasti akan bahagia dan berhati-hati dengan menjaga kondisi tubuhnya, kakak harus memberitahunya !!"
" Aku tahu , tapi aku takut jika Elisa belum siap perihal kondisi Edward yang saat ini sedang koma , aku . ...
"Kak Zelin. , sejak awal aku mendengar tentang Elisa ,aku pikir dia adalah sosok wanita yang kuat dan pantang menyerah ..aku yakin dia bisa menerimanya " Duma terlihat memberi dukungan pada Zelin yang tampaknya sedikit terpukul kembali dengan kondisi anaknya, pikiran Duma sekarang lebih terbuka dia tak ingin menyia-nyiakan hidup nya dengan kebohongan dan kemunafikan saat ini, karena zelin sudah sangat baik padanya.
"Aku pasti akan memberitahukannya , tapi tidak sekarang "
"Sampai kapan kak ?"
"Kalian membicarakan apa ?" tiba-tiba mereka sedikit di kaget kan dengan kehadiran Alek yang baru saja tiba.
"emm...itu ...
__ADS_1
"Yang pastinya kami bicara soal wanita , emm..kamu belum tidur ? ini kan sudah malam ?" Duma segera menimpali pertanyaan Alek , karena di pikirnya Zelin sedikit gugup untuk menjawab.
"Oh , ini aku akan segera ke atas , kalian tidur lah !" jawab Alek sedikit menaikan tinggi kedua alisnya dan melangkahkan kakinya untuk naik ke atas , karena kabarnya juga terletak di lantai dua di sebelah kamar Edward , sementara kedua istrinya mempunyai kamar mereka masing-masing di lantai bawah.
"Aku minta padamu untuk merahasiakan ini dulu , nanti jika saatnya sudah tempat aku akan memberitahukan kebenaran nya " ujar Zelin tampak memohon.
"Baik kak , mungkin kamu punya jalan yang terbaik "
"Terimakasih kasih Duma" Zelin pun segera berlalu ke kamarnya begitu pula dengan Duma , sementara Alek yang sudah berada di atas sempat melirik pada sebuah pintu yaitu dimana pintu itu merupakan sebuah pintu kamar anaknya.
"Edward , kamu tahu tadi aku makan malam bersama Ibu , ayah dan juga Tante Duma , mereka sangat baik padaku ku " jelas suara itu terdengar oleh Alek yang kini melangkah mendekati pintu di mana suara Elisa bersumber.
"Melihat reaksi ibu , aku jadi teringat pada ibuku , dia juga lembut sama seperti Ibu mu sayang , aku jadi kangen pada rumah di kota T , apa kamu mengingat nya ? , Itu tempat pertama kali kita bertemu " Ujar Elisa kini duduk di sebelah Edward sembari menggenggam tangan Edward penuh kasih.
Alek sander yang masih berdiri di sana jelas merasakan pukulan berat pada hatinya , ia tak tahu harus menyikapi hal tersebut dengan perasaan apa ?
Ia jelas merasa bahagia karena anaknya masih hidup meskipun mengalami hal tersebut , di samping itu ia sangat bersyukur bahwa Edward memiliki wanita sehebat itu , Elisa sangat setia dan mencintai Edward .
Namun di sisi lain jelas ia tak masih tak bisa membayangkan bagaimana hubungan nya dulu yang sangat buruk bersama sang anak , banyak waktu yang ia sia-sia kan percuma hanya untuk bertentangan dengan anak satu-satunya nya , kini ia sangat menyesal.
"Kamu tahu sayang , Aku melihat sosok dirimu pada ayah , kalian sama-sama orang yang dingin , tapi sebenarnya kalian adalah sosok pria yang penyayang ,. kamu pasti tidak mengira bahwa si tuan yang keras itu tadi melawak di meja makan " Elisa tampak tertawa dengan gurauan nya yang ia tumpahkan pada Edward yang jelas hanya diam saja dalam tidur nyenyak nya.
Sementara Alek masih setia berada di luar sana yang kini posisinya malah berdiri menyandar dan pada pintu kamar Edward dengan cara membelakanginya , ia sedikit tersenyum dalam tangis nya mendengar percakapan Elisa pada Edward.
"Dengarkan aku sayang ! kamu pasti tidak percaya bukan , aku bahkan berani bertaruh padamu jika Tuan itu pasti akan lebih menyayangi ku dari pada kamu , kamu tahu kenapa ??"
"sebab ... Aku mulai menyayangi nya seperti ayah ku sendiri ........" Elisa kemudian berbaring di sebelah Edward dengan posisi nya yang memeluk suaminya itu , ia terus mengoceh hingga ia terlelap.
bersambung....
**Hay ..Hay....kembali lagi dengan author yang ngejengkelin ini....maaf yah , lanjut ceritanya lama banget , soalnya author lagi banyak kerjaan baru , berhubung ini lagi senggang author lanjut lagi deh....pasti bakal di tamarin kok , jangan khawatir..
sebelum itu Sudi lah kiranya me-like dulu episode ini dan jangan lupa Krisan dari para readers kalian jika ceritanya kurang bagus atau pun sangat luar biasak....hhe
__ADS_1
vote nya juga yah ....dapat pahala**...