
Rumah Dimas
"Apa dia baik-baik saja Wi? tanya Dimas pada adiknya menanyakan keadaan Elisa yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya di kamar itu.
Elisa tertidur dengan infus yang terpasang di tangannya, Dimas memberikan perawatan khusus di rumah ,agar lebih leluasa merawat Elisa yang sudah 3 hari belum sadarkan diri sejak kejadian waktu itu.
"Dokter tadi bilang keadaan Lisa sudah stabil kak, hanya saja dia sangat syok untuk sadarkan diri, yang terpenting adalah kondisinya tidak demam seperti kemarin" terang Juwi sembari mengusap tangan Lisa beberapa kali tampak khawatir.
"Syukurlah, !" pelan Dimas berkata seraya ikut duduk di sebelah Lisa berlawanan arah dengan Juwi adiknya .
"Kak, apa sebaiknya kita kabari saja keluarganya , !" tambah Juwi menyarankan sembari menatap kakaknya.
"Aku sudah menyuruh Haris mengecek semuanya, Ternyata Elisa sudah hidup sebatang kara sejak saat itu !" lesu Dimas berkata seraya memandang Lisa dalam dalam kesedihannya.
"Kak, jangan terlalu larut dalam masa lalu, itu semua bukan salahmu, yang terpenting untuk saat ini kau sudah bertemu Elisa kembali, perbaiki lah mulai saat ini !" tambah Juwi lagi seraya menepuk bahu Dimas yang masih menatap Elisa.
"Aku tinggal dulu !" Juwi bangkit dan berlalu keluar kamar meninggalkan Dimas.
keheningan beberapa saat
"Apa kau marah padaku Lisa ?" ujar Dimas seraya memegang tangan Lisa lembut, tangan itu terasa lembut namun sangat dingin, ditatapnya wajah Lisa yang pucat serta memar di bagian bibirnya, Dimas tampak menatap serius dengan Muka nya berubah kesal.
"Aku akan merusak apa yang telah merusak !" ketus Dimas jelas seraya menggenggam erat tangan Lisa.
Di angkat nya selimut tebal itu kemudian menutup lembut tubuh Lisa agar beristrirahat dengan nyaman, Dimas tampak mematikan lampu terang kamar itu ,kemudiannya di hidupkan nya lampu remang yang ada di atas meja, laku keluar kamar meninggalkan Lisa beristrirahat, ingin rasa nya menjaga Lisa semalaman namun batinnya masih bisa menjaga rasa itu untuk bersikap biasa walaupun ia ingin lebih.
Berjalan menuruni anak tangga menuju ruang tamu, Dimas tampak duduk di sofa dengan sedikit berbaring.
Drrrddddd
Ponsel Dimas tampak bergetar di dalam saku celana, di ambil ya ponsel itu pelan.
__ADS_1
" Ada apa?" Tanyanya Mengangkat panggilan masuk.
"Maaf pak, saya hanya ingin melapor pasal kejadian yang menimpa Nina Elisa!" jawab seorang pria di ujung udara,Haris
"apa kau sudah dapat informasi siapa Dalang nya, dan untuk apa mereka berbuat semua itu ?" tanya Dimas lagi pada Haris.
"Sebelumnya mereka tidak mau mengaku jelas, tapi akhirnya Darma mengatakan, mereka tidak tahu jelas siapa yang menyuruhnya, mereka hanya dapat pesan dari telpon dan surat, itu juga di lakukan oleh orang dalam perusahaan Elisa sendiri, serta sedikit dendam dari Darma, tepatnya mereka bekerja secara tersembunyi.!" jelas Haris.
"Apa kau bisa percaya, paksa mereka bila perlu ancam! aku ingin tahu jelas semuanya, heh ! tidak mungkin berbuat tanpa sebab yang jelas !" tegas Dimas berkata ketus.
"Baik, "
"Jangan lupa selidiki Edward dan perusahaan itu secara detail, aku tidak akan membiarkan semua ini berurusan dengannya! "
"Satu lagi, kejadian kemarin sembunyikan dengan baik, tanpa kabar dan berita, aku tidak ingin Elisa dalam masalah !"
"Baik , aku mengerti !" jawab Haris lagi di ujung udara.
Pagi hari
"Aku dimana? kepala ku !" Elisa tampak bangkit secara tiba-tiba seraya memegang erat kepalanya.
"Apa ini di rumah sakit!" katanya lagi pelan seraya memperhatikan infus di tangannya, namun jelas itu bukan di rumah sakit, ia menerawang sekeliling ruangan itu malah tampak seperti kamar hotel kelas atas.
"Kamu sudah bangun!" suara seorang wanita terdengar cempreng datang dari arah pintu yang sedikit terbuka .
"Kata kau siapa?" tanya Lisa bingung serta heran bertambah jadi.
"Hmp, sebaiknya kamu makan ini dulu yah ,aku akan beritahu kakak jika kamu sudah sadar !" wanita itu tak lain adalah Juwi, meletakkan semangkuk bubur di atas meja dekat tempat tidur, Elisa tampak memandang Juwi heran dengan sedikit memegang kepala mengingat kejadian yang sudah terjadi.
"Kau siapa? ini dimana?" tanya Lisa lagi sedikit tertekan.
__ADS_1
"aku Juwi adiknya kak Dimas, Dimas Erlangga apa kau tidak ingat Elisa?" Juwi tampak menatap Elisa yang sedikit tertunduk seraya memegang kepalanya.
Gadis ini tidak mungkin lupa ingatan kan? Juwi menarik turun keningnya.
"aku panggil Kak Dimas yah !" ujar Juwi cepat berlalu keluar kamar, tanpa melihat ekspresi wajah Lisa .
Dimas, aku ingat dia ...dia yang menolongku kemarin,. aaaaukkkkhhh..kenapa kepalaku sakit sekali, keluh Lisa meremas kuat kepalanya sampai harum infus di tangannya terlepas.
"Apa yang kau lakukan Elisa?" langkah kaki yang di perjelas langsung masuk ke kamar menghampiri Elisa.
"Dimas, kau ...aku ada dimana?" mata Lisa melirik ragu sementara Dimas duduk seketika di sampingnya dengan lembut memegang kedua tangan Lisa.
"Apa kepala mu sakit? infusnya kenapa kau lepas? ujar Dimas pelan mengelus bekas infus Lisa yang sedikit berdarah.
"Maaf !" Elisa tampak melepaskan tangannya dari Dimas dengan sedikit menunduk.
"Elisa, apa kau marah padaku ?" tanya Dimas seketika Elisa menatapnya lirih.
"Kenapa aku harus marah padamu, aku malah mau berterimakasih karena kamu sudah menolongku, tapi bagaimana kau bisa tau aku berada di sana?" jelas Lisa malah balik bertanya, Dimas ingin segera menjawab namun rasa di hati lebih menghawatirkan perasaan Lisa terhadapnya ketimbang masalah ia bisa mengetahui prihal kemarin.
"Elisa, kau tahu aku sangat tidak menyangka jika kita bisa bertemu kembali!" tangan Dimas meraih bahu Lisa segera namun Lisa agaknya sedikit menolak dengan bergeser.
"Aaa aku..aku ingin kembali !" ujar Lisa pelan memalingkan wajahnya. perasaan nya sangat aneh dan canggung, sebenarnya Lisa juga tak menyangka bahwa Dimas akan hadir kembali ke kehidupannya.
"Kau begitu takut kah padaku Lisa?" tanya Dimas menatap Lisa pilu.
Takut...apa yang harus ku takutkan, aku..aku hanya bukan lah Elisa yang dulu..bukan yang dulu, tatapan mata Lisa tiba tiba saja berkaca kaca, di tatapnya Dimas yang masih menatapnya juga.
"Apa yang terjadi pada hidupmu Lisa, aku menyesal !" pelan Dimas berkata seraya memeluk Lisa begitu saja, Elisa tak menolak saat itu, mata nya sedikit berlinang Kala ia mengingat kejadian lalu, dimana Dimas lah yang selalu berada di sampingnya.
"Aku akan perbaiki semuanya Lisa, !" ujar Dimas lagi mengelus Bahu dan kepala Lisa yang kala itu tengah menangis pilu dalam pelukannya. Dimas tampak sangat senang bisa berada dekat dengan sosok wanita yang selama ini ia cari dan rindukan, sementara Lisa tampak sedih dalam kemelut masalalunya serta kejadian yang menimpa hidupnya selama ini, air mata nya terus mengalir hangat menyentuh bahu Dimas yang di jadikannya tumpuan wajahnya, tampak tersedu-sedu gadis itu menangis dan meluapkan segala kesedihan hatinya selama ini...
"Aku akan melindungi mu Elisa!" Dimas menatap Lisa dan mengusap air mata kepiluannya....
heeheng...huuuuu...hehuhuhggghhu
__ADS_1