
"Kau bilang apa?" brakkk...tangan Edward menghantam keras meja di hadapannya.amarah Edward terlihat jelas saat Adnan melaporkan keberadaan Elisa.
"Maaf tuan, Memang benar begitu, Bu Elisa sekarang berada di rumahnya Tuan Dimas.
Jadi dia menghilang hanya karna menemui pria brengsek itu, Kau melupakan kontrakmu Lisa.
"Batalkan meeting hari ini, aku ingin keluar sebentar"
"Tapi pak ?"
Edward segera pergi keluar kantor Menuju Mobilnya, sementara Adnan yang di tinggalkannya Tak begitu peduli hanya saja tampak wajahnya yang berubah sinis seketika.
Broommmmmm....
Melesat dengan kecepatan tinggi, raut wajah Edward tampak geram sekali...Matanya fokus pada jalanan yang ia tuju ,dalam pikirannya saat itu hanya bagaimana cara menemukan Elisa yang sengaja pergi darinya secara terang terangan..
Setengah jam perjalanan Menuju sebuah rumah di jalan kota X, yaitu perumahan Nusa indah, Edward tampak memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang tak begitu besar namun mewah, 789 Nomor rumah itu, tatapan mata Edward menerawang sekeliling dalam keadaan yang sepi, kemudian ia keluar mobil dan masuk begitu saja ke halaman rumah.
"Maaf tuan, anda cari siapa?" Tanya seorang pria berbadan sedikit kekar datang dari arah kiri halaman.
"Dimana gadis itu ?" tanya Edward ketus.
"Maaf maksud anda Gadis yang mana?pria itu bertanya lagi heran.
"Heh, sebaiknya kau suruh keluar saja orang di rumah ini !" gertak Edward kasar, agaknya ia tau saat ini hanya berhadapan dengan seorang penjaga.
"Anda jangan buat obat ya di sini?" sentak penjaga itu tak senang melihat kelakuan Edward yang tak sopan.
"Awas , !" penjaga itu di sengolnya kuat, Edward berjalan menuju pintu rumah.
Tok....tokkk....tokk...
"Kaluar kau Lisa....!" teriak Edward kesal mengetuk pintu itu keras, ia sangat mengetahui rumah itu adalah rumah Dimas.
"Lisa, cepat keluar !" teriak Edward lagi lebih keras.
"Lancang!" gertak penjaga itu tiba-tiba ingin menyerang Edward dari belakang namun Edward sigap menangkis pukulan penjaga itu.
buk...
buk....
Dua kali tinju Edward mengenai wajah dan perut pria itu hingga ia tersungkur jatuh ke teras.
"Kau suruh saja Tuanmu keluar, atau kau akan...
cklek....
"Apa yang anda lakukan di sini Tuan ?" tanya seorang pria yang baru saja membuka pintu, Edward tampak berbalik dan menatap pria itu, Dimas.
"Dimana dia ?" tanya Edward keras menatap Dimas.
"Heh, dia siapa ?" sinis Dimas menatap Edward juga.
__ADS_1
"Tidak perlu basa-basi, suruh Elisa keluar sekarang juga , Elisa keluar kau !" teriak Edward geram sekali.
"Wow, begitu kah cara seorang Bos pada sekretarisnya ?"
"Kau jangan banyak bicara, suruh saja dia keluar !" Edward tampak maju dan memegang kuat kera baju Dimas yang kala itu diam saja tanpa mengelak.
"Kurang ajar, !" Penjaga menarik kuat tubuh Edward, dan berusaha memukulnya..
Buk....buk...
Tendangan Edward begitu kuat menerjang penjaga itu hingga tersungkur kembali tak berdaya.
Buk......
Tinju Dimas tiba-tiba saja menyentuh wajah Edward dari samping.
"Hentikan !!!!" Teriak seorang wanita baru keluar seraya berlari, Elisa. tatapan kedua pria itu serentak tertuju padanya.
"Edward apa yang kamu lakukan disini ?" Tanya Lisa pelan sedikit tak berani menatap mata Edward.
"Kau bilang apa yang aku lakukan?, Sini biar ku tunjukkan apa yang sedang ku lakukan ?" ketus Edward mendekati Lisa dan menarik tangannya seketika .
"Kau ikut denganku Lisa!" gertak Edward menepis tangan Dimas dari tangan Lisa yang kala itu sangat bingung dan kesal .
"Lisa tetaplah di sini !" cegah Dimas menarik Lisa.
'Kurang ajar!'
Bukkk......
pukulan Edward menyentuh bagian perut Dimas sehingga Dimas sedikit ingin terikat namun ia coba menahannya.
"Edward apa yang kau lakukan ?" Elisa sontak meraih Dimas yang hampir terjatuh kala itu.
"Wanita tidak tahu diri !"
Auuuukhh...tangan Lisa di tarik keras Edward saat itu menuju Mobil, namun Dimas masih coba menghentikannya...
Buk.....
Kembali Dimas memukul Edward dari belakang, mereka berdua saling baku hantam.
"Berhenti.....!" teriak Elisa menghentikan mereka, sementara penjaga yang tadi diam saja ikut mencoba meleraikan, Dimas dan Edward susah sedikit babak belur karena saling memukul, tak berhenti di situ Edward masih menariknya paksa kemudian menghempaskan Lisa ke dalam mobil ,Elisa kala itu juga tak bisa menolak terlebih takut melihat wajah datar Edward terlihat sangat bengis kali ini, Elisa sadar betul bahwa Edward sangat lah marah.
Broommmmm......
Gas mobil di tancap nya kuat dengan kecepatan tinggi, Dimas yang kala itu ingin mengejar namun di hentikan oleh penjaga dan adiknya Juwi yang baru saja tiba.
"Elisa....." Teriak Dimas melihat kepergian Elisa paksa oleh Edward.
"Sudah lah kak, biarkan dia pergi !" ujar Juwi memegang keras Dimas agar tak menyusul pergi.
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku membiarkan Elisa pergi dengan pria kasar seperti itu !" gertak Dimas kesal masih menatap ke arah kepergian Elisa.
"Walau bagaimanapun kita tidak bisa mencegahnya kak, Elisa juga kan memang ingin kembali, lagi pula aku lihat mereka mempunyai hubungan, bagaimana bisa kakak mencegahnya "
"Heh, hubungan, aku sama sekali tidak melihatnya " ketus Dimas sangat menyangkal hubungan antara Elisa dan edward.
"Sudah lah, besok kita akan hubungi dia, sebaiknya kita masuk ke dalam, Elisa pasti bisa menjaga dirinya dengan baik !" tambah Juwi lagi seraya menarik tangan kakaknya masuk ke dalam.
Dimas sangat enggan Kala itu, pikirannya hanya tertuju pada Elisa dan bagaimana cara Dimas memperlakukannya. sebenarnya apa hubunganmu dengan dia Elisa??? batin nya bertanya keras malam itu.
Vila edward.
"Sekarang keluar kau !" gertak Edward menarik Lisa paksa turun dari dalam mobil.
"Sakit..lepaskan aku Edward ,lepaskan !" teriak Lisa menolak tarikan tangan Edward, ia sangat tahu jika Edward marah pasti akan memperlakukannya sangat kasar, ia tak ingin semua itu terjadi lagi.
"Kita bicara baik-baik ,jangan seperti ini !" teriak Lisa memberhentikan langkah kaki Edward untuk masuk ke dalam rumah.
"Bicara baik-baik kau bilang, apa kau lupa perjanjian di kontrakmu itu Lisa !" keras Edward berkata menekan nada bicaranya, di dekatkan nya wajah Lisa tetap di hadapannya dengan satu tangan yang mencengkram kuat wajah Lisa kala itu.
"Merah, " cetus Edward melihat sebuah bekas merah di pinggir bibir Lisa kala itu.
"Apa kau puas bercinta dengan kekasih masa lalu mu hah?"
"Apa maksudmu? lepaskan aku !!!" teriak Lisa lagi saat Edward kembali menariknya ke dalam rumah, menaiki tangga dan menuju kamar atas.
Brukkk........
Tubuh Lisa di hempaskan ke lantai kamar itu begitu kuat.
"Bodoh , aku mencari kepergianmu yang menghilang tidak jelas , ternyata kau bersembunyi di rumah pria itu !" Melepaskan jas hitam nya sembarang, lalu melonggarkan dasinya segera, Edward menatap Lisa sangat marah, sementara Lisa mulai menangis akibat sikunya yang sakit terbentur ke lantai.
"Kau melanggar kontrak nya Lisa, kau tahu apa ganjarannya !" Segera melepaskan kuat ikat pinggang nya ,kemudian Edward berjongkok mendekati Lisa yang terduduk di lantai.
"Aku tidak pernah melanggar kontrakmu itu, aku tidak bersembunyi di sana, kau salah !" teriak Lisa kesal tak ingin di tuduh seperti itu...
"Bohong, satu Minggu kau pergi tanpa kabar, bahkan ponselmu pun kau buang, apa maksud mu hah ?"
Kini Edward membangunkan paksa Lisa lalu kembali menghempaskan nya ke atas tempat tidur di kamar itu.
"Bagaimana cara dia memanja dirimu Lisa, sampai kau betah di sana ?" gertak Edward menimpah kuat kedua kaki Lisa dan memegang tangannya di atas kepala .
"Lepaskan aku , ku mohon lepaskan aku !" rintih Lisa tahu benar apa yang akan Edward lakukan padanya.
"Heh, begitu tak Sudi kah kau ke sentuh saat ini !"
sretttgggg.....
Pakaian Lisa di tariknya hingga robek tak tersisa, kini hanya tampak Bagian Bra Lisa yang tak kuat menampung kedua daging besar itu.
"Heh, perubahan yang sangat drastis !" cetus Edward menatap jijik tubuh Lisa yang kala itu terdapat beberapa bekas merah hampir di seluruh badan.
Elisa mencoba melepaskan dirinya, karena malu dan kesal mulai di perlakukan Edward kembali seperti itu.
"Ku mohon jangan seperti ini, !" rintih Lisa lagi mencoba keras melepaskan tangannya namun Edward menekan kuat tubuh lisa dengan badan kekar nya.
emmm.....
Bibir Edward mencium keras bibir Lisa....
cup.....
__ADS_1