
Adnan bersama Edward Memasuki ruang pertemuan dimana semua staf dan petinggi perusahaan bertemu.
"Karena semuanya sudah datang, saya mau mengucapkan banyak terimakasih pada kalian semua, berkat kerjasama dan semangat kerja Kalian semua perusahaan kita bisa maju dalam rating tertinggi di kota x" pidato Direktur utama, Aleksander Manopo.
"Edward dimana sekretarismu itu ?" tanya Alek menatap Edward yang duduk di samping kanan kursinya.
"Dia lagi Izin tidak masuk !" singkat Edward tidak begitu menanggapi.
"Karya dia sangat bagus, bagaimana jika kau mengundangnya di pesta perayaan perusahaan kita besok malam!"
Edward tak segera menjawab ,tatapannya tertuju pada seorang wanita yang duduk di depannya juga menatapnya serius, Belinda .
"Ayah, tentu Dia akan datang bukankah dia juga salah satu pegawai perusahaan kita!" ujar Belinda melirik Aleksander yang tersenyum melihatnya .
"Oke, kalian semua saya undang ke pesta besok malam, !" tambah Aleksander menyakinkan.
"Baik Pak direktur, terimakasih." jelas semua yang hadir di pertemuan itu menyatakan kebersediaannya.
Semua bubar dalam ruangan itu dengan segera menuju pekerjaannya masing-masing, Edward tampak berjalan santai dengan di ikuti Belinda dari belakang, kemudian tiba-tiba saja langkahnya ia hentikan membuat Belinda sedikit kaget.
"Apa yang kau lakukan ?" tanya Edward keras berbalik menatap Belinda.
"Memangnya apa yang ku lakukan ,heh, lagi pula aku ini kan istrimu ,memangnya salah jika kita berjalan beriringan"
"Sudah lah, sebaiknya kau pergi ke kantormu ,aku masih banyak urusan "
"Apa urusanmu adalah mengurusi wanita itu !" ketus Belinda kembali membuat langkah Edward terhenti.
"Kau mau bicara apa?"kembali berbalik dan menatap Belinda.
"Sebenarnya situasinya tidak tepat yah, tapi berhubung kau tidak ada waktu untukku, aku bicara di sini saja deh !" Belinda berjalan mendekati Edward yang seakan kesal menatapnya.
"Kau pikir aku hanya diam saja saat suamiku jelas-jelas mempunyai simpanan, heh kau salah , jika pun ini aku katakan pada ayahmu apa kau tahu apa yang akan dia lakukan "
"Apa kau mengancamku ?"ketus Edward menatap Belinda yang berada jelas di depannya .
"Tidak, mana berani aku mengancam Tuan Edward Manopo, kau itu pria yang tidak peka yah ?"
"Poin nya saja, kau sudah banyak menyita waktu ku"
"Heh, dia harus datang di pesta, tapi sendirian sementara kau bersamaku, jika tidak kita lihat saja apa yang akan ku lakukan !" nada bicara Belinda di tekan kuat, Edward mengerti maksudnya, "Aku tunggu kedatangan mu suamiku !" Belinda melangkah pergi dengan sedikit menjamah dada bidang Edward yang saat itu merasa terhina. salah jika aku meremehkannya selama ini, terlebih di sangat berpengaruh di mata ayah, mata Edward menyapu seluruh lorong kantor di mana ia berdiri, kemudian melangkah pergi menuju ruangannya di lantai atas.
Taman kantor
"Bagaimana bisa Darma di tangkap?" gertak wanita di ujung taman yang sepi itu menatap pria di hadapannya dengan tertunduk, Belinda dan Adnan.
"Maaf Bu, seperti nya Elisa mempunyai pelindung yang lain, kemarin saya dengar pak Edward menjemput Elisa yang berada di rumah Dimas"
__ADS_1
"Dimas, jadi maksudmu Dimas lah yang menolongnya !"
"Benar Bu, tapi Bu Belinda tenang saja ,semua urusan yang di lakukan Darma tidak ada sangkut pautnya dengan kita, aku sudah mengaturnya dengan halus" senyum licik Adnan menoleh Belinda di depannya.
"Awas saja jika sampai aku terlibat, akan ku hancurkan hidup keluargamu !" ancam Belinda keras pada Adnan.
"Baik Bu, aku akan melakukan yang terbaik"
"Bagus, kau bekerjalah dengan Edward seperti biasa, jangan lupa selidiki lagi lebih jelas hubungan mereka, kabari aku, "
"Bagaimana dengan Dimas Bu ?"
"Untuk pria itu akan ada jalannya sendiri !" Terang Belinda tersenyum sinis menatap ke ujung jalan dimana matanya tertuju pada area parkiran, Edward masuk mobil dan pergi seketika .
Apa dia sudah ingin menemui wanita itu, brengsek, awas saja kau Elisa, mungkin kemarin kau bisa lolos, tapi kali ini tidak akan ! Belinda membulatkan matanya seraya menggepalkan kedua tangannya kuat, sementara Adnan menyadari tatapan kebencian di mata wanita itu.
Sisi lain kota X
"Pak, perusahaan Aleksander Manopo memberi undangan untuk kita!" ujar Haris yang baru datang membawa sebuah undangan tebal yang mewah.
"Apa tidak salah, undangan apa?" Sinis Dimas menerima undangan itu.
"Seperti nya bersangkutan dengan keberhasilan deklarasi waktu itu, mereka banyak mendapat investor serta dukungan dari agen pemasaran"
"Benar , heh mereka hanya menikmati hasil tanpa tau siapa yang berhasil , oke kau siapkan semuanya, tentu kita akan Datang"
"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu!" Haris tampak menunduk memberi salam laku berlalu pergi.
Tok....tok...tok ....
pintu ruangannya terdengar di ketuk.
"Masuk !" ujar Dimas segera duduk di kursinya .
Cklek.....
"Maaf pak , saya sudah mendapat kabar baru mengenai Elisa !" Haris yang kembali dengan membawa sebuah kotak kecil.
"Apa itu ?" tanya Dimas penasaran menatap kotak kecil di tangan Haris seraya berdiri.
__ADS_1
"Ini adalah barang bukti lain yang ada di Gedung deklarasi dimana tempat Elisa terakhir kali terlihat !'
Membuka kotak kecil itu segera setelah Haris memberikannya .
"Sebuah kalung !"
"Benar pak, kalung itu kami dapatkan di dekat ruang keamanan CCtv"
"Jika begitu, kita harus periksa Cctv sebelum kejadian ,apa ada Cctv yang mengarah ke toilet ,jika benar ada ...
"Bapak benar, pemilik kalung itu jelas tersangka sabotase Cctv nya, "
"Heh, kalung ini adalah edisi terbatas yang hanya di keluarkan 5 buah dalam negri ,jadi pemiliknya jelas orang dari kelas atas" tatapan mata Dimas tajam menatap liontin kalung itu dengan jelas.
"Benar pak, saya akan selidiki lagi dengan jelas, kami sudah meminta bantuan dari pihak keamanan di sana !" jelas Haris lagi mantap.
"Bagus, kerjakan tugasmu dengan baik, kalung ini biar aku simpan !" jawab Dimas mantap seraya tersenyum pada liontin di tangannya.
"Baik, saya permisi !" kembali Haris pamit untuk berlalu.
Jalanan Kota X
Tin.....tin.....tin......klakson mobil Edward di tekan berkali\-kali saat jalannya di hadang oleh seorang pria yang tengah berjongkok di jalan.
Sial, apa yang dia lakukan coba di jalan seperti itu " hey...kau mau mati yah ?" teriak Edward keras turun dari mobilnya, untung jalanan itu hanya satu jalur sehingga tidak begitu ramai kendaraan yang lewat.
"Maaf, maaf tuan, tadi saya tersandung jadi...
"Jordi...ternyata kau !" ketus edward mengenal jelas pria di hadapannya.
"Eh, pak Edward, maaf saya menghadang jalan bapak !" Jordi tampak ragu sedikit tersenyum takut.
"Heh, tidak masalah jika itu kau, apa yang kau lakukan disini ?" Edward menatap jelas Jordi yang tampak cengengesan.
"Saya mau pergi ke kontrakan Delta pak, ada file yang harus saya kasih langsung padanya" jelas Jordi tersenyum.
"Baik lah kalau begitu ikut aku, akan ku antar kau ke sana !"
"Beneran pak, wah terimakasih banyak pak !" tambah Jordi semangat mendengar tawaran dari bos nya.
__ADS_1
Dengan segera Jordi masuk ke dalam mobil Edward yang sudah siap pergi.......
Brooommmmmmm....