Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Bisikan Cinta


__ADS_3

Sayang... aku ingin memberitahumu jika saat ini tidak hanya aku yang akan setia menunggu mu , tapi ada satu orang lagi yang akan setia padamu , anak kita... buah hati kita ... aku mohon bangun lah !! . Apa kamu tidak ingin membelai perut buncit ku , tidak ingin memelukku lagi? apa kamu tidak ingin berbisik pula padaku dan buah hatimu? aku harap kamu mendengar semua ocehan ku , aku belum sempat memarahi mu..


" Apa kamu tidak menginginkan hal itu? apa kamu tega membiarkan aku bercermin sendiri saat melihat perubahan tubuhku? .kamu tahu, mungkin aku tidak akan secantik dulu ,tidak akan semenawan waktu itu , dan tubuh langsing ku pasti akan berubah menjadi gemuk , aku tidak sabar melihat ekspresi wajahmu sayang.


Aku tidak sabar melihat raut wajah beku mu menjadi cair dengan barisan gigi ginsulmu yang tampan , aku tidak sabar melihat perlakuan dingin mu yang berubah menjadi teh hangat di pagi hari dalam balutan gaun daster ku nanti"


Aku mohon bangun lah sayang......


Bangun lah dari mimpi buruk mu.....


Elisa mengecup kening suami tercintanya dengan tangan Lisa yang menggenggam erat di sebelahnya , ia berharap ada respon kuat dari kesadaran Edward, air mata hangatnya terus mengalir begitu bahagia, ia tak bisa berkata apa-apa lagi.


Zelin yang juga berada di sana bersama dokter Jordan merasa sedikit kecewa , lantaran hal itu tak menimbulkan reaksi apapun , kondisi Edward masih tetap sama.


"Elisa , sebaiknya kau harus sedikit bersabar " tukas Jordan dengan penuh penyesalan berdiri di belakang Elisa.


Zelin yang tadinya menguatkan diri akhirnya tak kuasa pula , ia segera keluar kamar dengan membendung air matanya.


Sementara Elisa kini tampak memeluk tubuh kaku suaminya itu , ia sangat yakin jika Edward mendengar semua ucapannya.


"Aku akan keluar dulu , bersabarlah !!" sekali lagi ucapan dokter Jordan tampak menguat kan Elisa.


"Dokter.... dokter .. coba lihat air mata Edward mengalir !"


"Apa ?" Dengan sangat terkejut Jordan yang tadinya ingin berlalu meninggalkan Elisa mendadak berbalik dan langsung memeriksa keadaan Edward.


Air mata yang terasa hangat mengalir begitu saja pada pelupuk mata Edward yang saat itu masih terlelap , tak ada satu gerakan apapun pada kakunya.


"Dia menangis , tapi tak ada tanda kesadaran pada tubuhnya " ujar Jordan memeriksa tanda vital nya.


"Elisa , apa Edward sadar ?" Zelin mendadak masuk sembari menyeka air matanya.


"Belum Ibu , tapi lihat lah , Edward mengeluarkan air mata Bu, aku yakin dia akan sadar " jawab Lisa menyeka air mata pada suaminya itu.


"Nak , bangun lah nak ! ini Ibu ... apa kamu tidak mau melihat ibu menimang cucu darimu " Zelin tampak turut berurai air mata.


"Bagaimana dok , apa kemungkinan Edward bisa sadar ?"tanya Lisa dalam tangis nya.


"Belum ada tanda kesadaran lebih lanjut , Maaf Lisa " sedikit ragu Jordan menyampaikan hal itu seraya masih fokus memeriksa layar monitornya.


"Dia belum bisa bangun juga " Zelin tampak memeluk Edward begitu pilu.


"Ibu kita harus bersabar , bukan kah ini tandanya Edward mendengar semua ucapan kita , aku yakin dia akan segera sadar secepat nya " tampak Elisa lebih kuat dari sebelumnya.


"Elisa benar Tante, dia bisa mendengar semuanya ,hanya saja semua organ tubuhnya masih lemah dan belum bisa bekerja, oh yah , Elisa ada yang ingin aku bicarakan kembali padamu "

__ADS_1


"Baik lah , Ibu yang tenang yah , Elisa izin keluar sebentar "


"Iya sayang"


Elisa dan Jordan keluar kamar untuk membicarakan sesuatu tentang keadaan Edward.


"Ada apa dok ?" tanya Lisa masih menyeka sisa butiran air matanya, mereka kini berdiri di sebuah lorong atas di lantai dua rumah besar itu , tepat menghadap sederetan kaca jendela besar yang mengarah keluar taman.


"Sesuai perkataan aku waktu itu , Edward memang bisa mendengar semua ucapan yang kita bicarakan , dan sejauh ini , seperti nya jika kita melakukan suatu hal semacam rangsangan kuat , Edward bisa segera pulih kembali "


"Apa maksud dokter , rangsangan itu seperti suatu kabar yang mengejutkan ?"


"ya , tepat sekali, bukan kah barusan kamu mengatakan hal yang mengejutkan " tiba-tiba Jordan mengarahkan tatapan matanya ke arah tubuh bagian perut Lisa, hal itu membuat Lisa sedikit tertunduk malu.


"Benar, aku hamil dan itu adalah kabar yang membahagiakan buat kami , makanya Edward... di..diaaa menangis " kembali ingatan itu tak bisa di hilangkannya ,Elisa merasa bahagia sekaligus merasa sangat sedih.


"Dia pasti sangat bahagia mendengarnya , selanjutnya kamu harus selalu membuat kabar-kabar yang sedikit mengejutkan untuk nya , itu bisa merangsang sel saraf nya" jelas Jordan sedikit memberikan tepukan bahu pelan pada Lisa , kemudian Jordan segera kembali ke kamar Edward.


"Hal yang mengejutkan seperti apa?" Elisa sedikit bingung , namun tampaknya hal itu adalah salah satu jalan yang harus di coba.


19.00


Keluarga Aleksander Manopo tengah melakukan makan malam bersama , berhubung dokter Jordan ada di sana , Aleksander menyuruh para asisten rumah tangganya untuk menyiapkan hidangan khusus.


"Sepertinya Om Alek kali ini sangat berlebihan " tukas Jordan di meja makan tampak sungkan.


"Tidak masalah , kamu sudah merawat Edward begitu baik, dan tadi saya sudah mendengar kabar bahagia, ini hanya sekedar makan malam bersama" jawab Alek tampak bahagia.


"Edward adalah teman karib saya , jadi itu sudah seharusnya" jawab Jordan kembali dengan sopan.


"Iya , kami ucapkan terimakasih nak Jordan" sambung Zelin sembari menuangkan air putih pada mangkuk Jordan.


"Sama-sama Tante "


"Ayo kita makan , oh ya Elisa , kamu harus makan banyak , biar cucu ayah sehat !!" tampak nya Alek sangat antusias dengan hal itu , Zelin sudah menceritakan semuanya pada Aleksander ,dan tentu itu adalah kabar terbahagia yang ia terima , jika saja keadaan Edward tidak demikian , Aleksander malah akan mengadakan pesta besar untuk menyambut kebahagian dari kabar kehamilan Elisa tersebut.


"Ayah jangan khawatir, aku akan menjaga anugrah ini dengan sangat baik, terimakasih kasih semuanya , sudah mau menerima Elisa di keluarga ini dengan baik"


"Sayang , kamu jangan bicara begitu, kita semua adalah keluarga, selamanya akan begitu " Zelin memegang erat tangan Lisa , ia sangat menyayangi menantu nya itu.


"Maaf tuan , tuan Tamu anda sudah datang " ujar Wisnu datang dari arah belakang Alek.


"Suruh dia masuk !" tukas Alek menyarankan.


"Kamu mengundang siapa ?" tanya Duma yang duduknya bersebelahan dengan Alek.

__ADS_1


"Itu dia orangnya "


Semua mata tertuju pada seorang pria yang baru saja tiba di ruangan itu.


"Dimas" ucap pelan Lisa sangat terkejut akan kedatangan Dimas.


"Oh nak Dimas, ayo nak silahkan duduk !" Zelin tampak berdiri menyambut kedatangan Dimas di sana, begitu pula dengan Aleksander yang tentunya menyambutnya dengan jabatan tangan resmi.


"Terimakasih Tante" Dimas segera duduk di sebelah Jordan yang kebetulan berhadapan dengan Elisa.


"Saya sengaja mengundang Tuan Dimas kemari mewakili anak saya untuk menjalin hubungan baik kerjasama perusahaan kita ,sekaligus sedikit mengucapkan terimakasih karena Tuan Dimas sudah bersedia menolong Elisa "


"Anda berlebihan Tuan, Elisa adalah teman saya , itu tidak masalah bagi saya , benarkan Lisa ??" Tatapan Dimas mengarah pada Lisa yang sedikit canggung kembali.


"Ya , tapi tetap saja kami berterimakasih pada mu Dimas " jawab Lisa sedikit tersenyum.


"Oh ya Tuan , boleh saya minta satu hal pada anda !" perkataan Dimas tertuju pada Alek kali ini.


"Tentu , apa yang ingin anda minta?" tanya Alek agak penasaran.


"Saya berharap , anda bisa memanggil nama saya saja , tidak perlu memakai kata Tuan di depannya , saya merasa sangat tua " sedikit senyum simpul Dimas lontarkan pada Alek , hal itu jelas membuat Alek tertawa keras.


"Kau ini bisa saja , baik lah ,saya tua mengalah , ayo ayo Dimas , kita sebaiknya segera makan !"


Suasana makan malam terasa hangat dengan kehadiran Dimas, tampak pula Jordan yang membuka suara untuk sedikit mengenal sosok Dimas yang sempat menjadi saingan temannya itu.


*Elisa:"B**agaimana sayang, kamu pasti sudah mendengar jika ayah mengundang Dimas ke rumah ini "


Edward:"Awas saja jika kamu berani main mata dengan nya , aku tidak akan diam saja"


Elisa:"Jangankan main mata, menatap nya saja aku tidak berani "(Elisa)


Edward: Heh, tidak berani kamu bilang , bukannya jika tidak berani menatapnya itu berarti kamu menyimpan perasaan untuknya "


Elisa :Aku tidak berani menatapnya karena tatapan aku hanya untuk kamu sayang ....hanya kamu ...🤭🤭🤭🤭😘


Edward: "Aku terhuraa.....😭😭😭😭😭


Jordan : "sudah ku katakan untuk mengejutkannya , bukan menenangkannya !"


Elisa: hhee maaf dok, aku khilaf


Author juga khilaf, 🤭 tapi readers jangan khilaf ya , buat like dan vote serta sedikit Krisan pada laman komentar ..


Jangan lupa bahagia..😘😘🤐*

__ADS_1


__ADS_2