
Bulat ceria kedua bola mata seorang wanita yang kini tengah bahagia melihat sang suami berusaha bangkit untuk kepulihan nya .
"Sini ku bantu" Ujar Elisa segera memapah Edward yang berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
"Kamu wangi sekali " jawab Edward tersenyum malah mencium kening Elisa , hal itu sedikit membuat Elisa terkejut, sudah lama rasanya ia tak menerima kasih sayang itu dari Edward.
"Apa kakimu tidak sakit ?" tanya Lisa sedikit mengalihkan pembicaraan ,sambil terus mengikuti langkah Edward yang menuju kursi di dekat jendela.
"Tidak , hanya sedikit keram saja , seperti nya sebentar lagi aku juga akan bisa segera berlari " jawab Edward kemudian duduk di kursi itu.
"Berlari ? apa secepat itu kamu ingin berlari ?"kembali Lisa melontarkan tanya dengan alis nya yang meninggi.
Melihat ekspresi aneh di wajah Lisa ,Edward pun kemudian menarik tangan Lisa sehingga tubuhnya berdiri tepat sekali di hadapannya.
"Apa?" kembali Lisa berkata sembari menatap mata Edward yang seakan ingin menerkam nya.
"Heh, aku hanya ingin memelukmu " ucap Edward yang langsung saja memeluk tubuh di hadapannya ,kemudian ia sedikit menggosok-gosok kepala yang ia beban kan di tengah buah ranum di dada sang istri , sembari melontarkan hembusan nafas hangatnya.
Elisa tak lantas merespon hal itu , meskipun ia ingin , di rasanya sedikit sesak menerima pelukan erat Edward saat ini , mengingat ia berbadan dua kali ini.
"Edward hentikan !" tukas Lisa sedikit keras saat Edward semakin menjamah nya serius,mendengar ucapan itu Edward pun sedikit terperangah dengan mendongakan kepalanya ,menatap Elisa penuh arti tanpa melepas pelukannya.
Mata Elisa sedikit sayu ketika menatap tatapan sang suami yang dingin itu berubah sendu. " Maaf , mak... . maksud ku..."Sedikit gelagapan Elisa merasa bersalah atas nada bicara nya yang sedikit tinggi.
Sementara Edward tak menjawab atas apa yang di ucapkan Elisa padanya , ia kembali fokus atas apa yang ia ingin lakukan tadi.
Apa Edward akan melanjutkannya ?
Elisa semakin tidak mengerti ingin berbuat apa, ketika Edward kembali dengan pelukannya , bahkan Edward kini mulai mengangkat baju Elisa yang saat itu hanya menggunakan dress santai pendeknya , dengan posisi Edward yang duduk sementara Elisa berdiri di hadapannya , membuat Elisa mulai merasa tidak nyaman.
"Edward apa yang kamu laku....." ucapan serta tindakan Elisa yang ingin mencegah nya kemudian terhenti ketika wajah Edward berada pada posisi perut nya yang sudah terbuka.
"Cup...." satu kecupan manis Edward lontarkan pada bagian tubuh Lisa yang kini mulai berubah.
Apakah dia menyadarinya ?
"Apa dede ayah merasa geli di dalam ?" tukas Edward sembari tersenyum dengan kembali mencium perut Elisa dan mengelusnya.
Elisa yang menyaksikan hal itu ,sedikit terenyuh dengan bulir-bulir air matanya yang mulai mengalir , sedikit ia menyeka air mata itu dengan tersenyum, kini tangan Lisa bergerak mengusap-usap kepala Edward yang menempel di perutnya.
"Maafkan aku " Ujar Lisa penuh haru , ia berpikir jauh atas apa yang Edward lakukan.
"Ibu mu jahat de, Ayah mau sayang kamu saja tidak boleh " jawab Edward masih mengelus perut sang istri.
Elisa tersenyum bahagia mendengar penuturan itu , ia baru ingat jika selama ini Edward mengetahui semua apa yang di alaminya , apa yang ia bisikan dalam ceritanya , Edward pasti sudah sudah mendengar semuanya.
"Oh yah , apa kamu belum sarapan , aku akan ambilkan sarapan buat kamu " ujar Lisa ketika Edward akhirnya melepaskan pelukannya itu, namun tak segera melepaskan Lisa Edward malah mencumbu sang istri pada bagian sensitif nya dengan jemari.
"Hey.... Bukan kah ini tidak sopan di lakukan di depan anakmu !"sedikit lantang Lisa menepis tangan nakal Edward, saat itu juga lantas Edward tampak tertawa kecil melihat ekspresi Lisa yang sangat lucu.
__ADS_1
"Kamu lihat sayang , Ibu mu akan menjadi Ibu yang sangat cerewet bukan?" tawa Edward semakin menjadi ketika Elisa sedikit menjauh darinya dengan kesal.
"Hey..apakah kamu akan meninggal kan suamimu ini ?" tukas Edward kembali ketika Elisa benar-benar bermaksud menjauhi nya dengan melangkah menuju pintu keluar.
"Duduk saja di sana ! sebentar lagi aku akan membawakan sarapan untuk mu " ketus Lisa kini membuka pintu dan benar-benar keluar.
Apa-apaan itu? Oh anak ku , maafkan ayah mu yah ? dia sangat tidak sopan pada ibu .
Edward yang melihat kekesalan Elisa malah tertawa kegirangan , sembari sesekali menarik nafas panjangnya seolah lega telah melalui sesuatu dengan sangat bahagia.
Ruang makan.
"Apa keadaan Edward semakin stabil?" Tukas Alek pada Zelin yang tengah sibuk membantu Dewi menyiapkan sarapan mereka.
"Dia sangat baik ,kenapa kau tidak melihatnya kembali , apa karena ...
"Pagi Ibu , ayah" Elisa datang dengan sangat tiba-tiba sehingga Zelin tampak memberhentikan ucapannya mengenai prihal kejadian kesadaran Edward yang di sebabkan Dimas tempo hari.
Setelah Dimas di seret keluar Rumah mereka , tampaknya Aleksander tak ingin menemui Edward lagi untuk melihat keadaan nya , sebenarnya ada apa dengan Alek ? .
"Pagi Lisa, bagaimana keadaan Edward ?" tanya Zelin mengalihkan ucapannya yang sempat terhenti , dengan pandangan mata Alek yang tertuju padanya.
"Dia berusaha keras untuk berjalan Bu, Edward sangat bersemangat untuk segera pulih " jawab Lisa kemudian melihat kursi kosong di sebelah kiri.
"Emm... Tante Duma kemana Bu? sudah beberapa hari ini aku tidak melihat nya , apa dia ada pemotretan di luar ?" Ujar Lisa lagi bertanya sambil mengambil sebuah piring yang hendak ia isi dengan makanan untuk Edward.
"Duma...
"Oh.." tampak aneh ketika Elisa menatap kedua mertuanya yang saling tatap ragu seolah menyembunyikan sesuatu , namun ia tak ingin ikut campur meskipun ia sedikit penasaran , yang terpenting sekarang adalah mengambil sarapan untuk suaminya.
"Ini untuk sarapan tuan Edward non, kenapa tidak panggil bibi saja untuk membawakan nya ke atas " sambung Dewi yang sedikit canggung berada di antara keluarga besar itu.
"Tidak apa Bi, aku bisa kok , bibi seperti gak tahu Elisa saja " jawab Lisa tampak sopan pada Dewi yang sudah lama bersamanya.
"Oh yah Lisa , sebaiknya kamu beri sup ini juga pada Edward ya ! " Zelin menyodorkan satu mangkuk sup ke arah Lisa , spontan Lisa langsung menutup hidungnya karena ia tak ingin mencium aroma daging pada sup itu , ia ingat betul saat pertama kali waktu ia bersama Duma pergi ke sebuah pasar dan ingin membeli daging, aroma segar daging itu tercium namun terasa aneh dan memusingkan kepala buat Elisa yang tengah mabuk karena kehamilan nya.
"Ihhhh" seketika Elisa bergidik ngeri untuk membayangkan nya.
"Kamu tenang saja , ini sup jamur bukan sup daging , Duma sudah memberi tahu ibu bahwa kamu tidak bisa mencium aroma daging dan...
"Dan apa Bu ?" Elisa penasaran ketika Zelin lagi-lagi tampak ragu dalam ucapannya.
"Dan .. itu maksud ibu , kamu tahu kan Edward juga makan nya sangat pemilih , kamu bilang ini jamur yang sehat dan alami ,jadi dia harus memakannya oke !"
"Iya Bu , aku mengerti . Baiklah karena ini bukan sup daging , aku akan segera membawanya ke atas , ibu dan ayah selamat makan !" segera Elisa mengangkat nampan yang sudah ia isi dengan beberapa hidangan yang ada di dalam piringnya untuk di bawakan pada Edward , namun ketika ia melangkahkan kakinya pada tangga pertama untuk naik ke atas , ia di hentikan dengan sebuah ucapan yang terlontar dari bibir sang ayah mertua.
"Naik tangganya hati-hati , seperti nya kamu terlalu bersemangat menuju anak itu " terdengar ketus namun sangat bermakna di hari Elisa , saat itu juga senyum kecil terbesit dalam bibir Lisa sembari kembali melangkah kan kalinya naik ke atas mengikuti anak tangga dengan pesan ayah mertua yang ia terapkan dengan berjalan hati-hati.
"Kakek mu sangat perduli pada ibu dan kamu nak , namun sayang , dia sama seperti ayahmu tidak bisa menyampaikan dengan lembut , anak tidak jauh dari ayahnya , hemmm......" senyum Lisa di akhiri dengan sedikit tertawa kecil mengingat kedua pria aneh itu yang terlahir sangat dingin dan arogan , namun ketika kasih sayang menyatukannya, mereka tidak tahu harus bersikap seperti apa ?.
__ADS_1
"Tapi tetap saja perasaan ayah sangat peka terhadap anaknya , walau mereka tidak ingin mengakuinya "
"Siapa yang tidak mau mengakui siapa ?" tiba-tiba Edward muncul dari balik pintu yang di buka secara mendadak , hal itu benar-benar membuat Elisa terkejut bukan kepalang.
"Ya ampun... kamu mau membuat anakmu jantungan ya ?" dengan sangat kesal kembali Elisa kini menatap Edward dengan tatapan membulat.
"Maaf sayang , maaf ayah tidak bermaksud begitu kok " Edward langsung menunduk mengarahkan wajahnya lagi pada tubuh Elisa.
"Ehh... nanti makanan ini tumpah, tapi.... tunggu dulu , kamu , kamu bisa berjalan ?" Elisa baru sadar jika Edward kini bisa berdiri tegap sempurna di hadapannya.
Dengan bangga Edward pun menampilkan dirinya yang kini sudah sangat pulih di hadapan Elisa yang menatapnya tidak percaya.
"Panggil aku ayah " Ucap Edward tegas dengan menyilang kan kedua tangannya di dada sambil menatap ke arah tubuh bagian perut Elisa . Meskipun itu tidak tampak seperti perut yang saat ini tengah membuncit karena di tutupi oleh pakaian , namun Edward merasa di sana ada seorang anak kecil yang menatapnya sambil tersenyum dengan manja.
"fffffff......" Elisa sangat tidak tahan dengan perubahan sikap Edward yang demikian , sehingga membuatnya tertawa terbahak-bahak sambil masuk ke dalam kamar dengan nampan yang di bawanya tadi.
"Hey,, kenapa kamu tertawa seperti itu, aku kan bicara pada anakku ?" seolah ingin mencari dimana anaknya berada Edward terus mengikuti arah tubuh Lisa yang di tuju nya.
"Kemari anak ku !" Lontaran kata yang terdengar menggelikan di telinga Elisa terus saja terucap dari bibir Edward , sehingga membuatnya tak henti-hentinya tertawa.
"Sini aku ingin memeluk nya " jelas Edward meraih tubuh Lisa yang hampir saja tersungkur di atas tempat tidur.
"Ini makanan nya nanti tumpah " seketika Elisa panik dengan memeluk nampan yang ia lindungi dari gerakan tubuh Edward yang menggoda nya.
"Makanya singkirkan itu !" Edward segera merebut nampan itu dan meletakkan nya di atas meja , sementara Elisa kini terduduk di atas tempat tidur dengan Edward yang mengarah padanya.
"Ayah mau peluk Dede " Ujar Edward dengan senyum liciknya , sementara Elisa tampak masih tertawa melihat hal yang di lakukan suaminya.
"Sudah hentikan !" tukas Lisa ketika Edward berusaha memeluknya dengan nakal.
"Edward hentikan " tambah Lisa lagi ketika Edward membandingkan nya perlahan di atas tempat tidur dengan posisi kepala Edward yang terus mengarah pada perut nya seolah ingin berinteraksi dengan calon buah hati mereka.
"Oke, jika kamu ingin menyentuhnya , kamu harus tenang , bukan begitu caranya " Lisa berkata sembari mengangkat tubuhnya sendiri ke arah atas tempat tidur , kemudian ia menarik bantal tinggi untuk ia bersandar.
Melihat hal itu Edward tampak terdiam dengan memperhatikan nya serius. Elisa kini benar-benar berbaring dengan posisi nya yang sempurna.
"Sekarang kamu boleh menyandarkan kepalamu di sini !" tukas Lisa sambil mengelus-elus perutnya, melihat hal itu Edward langsung memperhatikan apa yang Elisa perintah kan.
"oke , tenang , coba kamu rasa dan dengar apa yang terjadi di dalam " lanjut Lisa seolah mengajar kan Edward bagaimana memperlakukan janin nya dengan baik.
Edward tampak serius menempel kan kepalanya di atas tubuh Lisa , Elisa pun tampak mengelus kepala Edward dengan lembut.
semakin lama Edward merasakan sensasi kehangatan dari belaian tangan Lisa membawa wajahnya naik ke atas dimana itu terdapat lebih sebuah kehangatan.
"Izinkan ayah ....
"Kamu mau apa ?"
__ADS_1
Bersambung.....