
"Maaf tuan saya datang sangat terlambat " seorang pria berjas rapi datang ke ruangan dimana Aleksander di rawat.
"Tidak apa Den , bagaimana ? apa yang aku perintahkan sudah kau jalankan ?" jawab Alek sedikit terbata berbicara pada posisi tidurnya saat ini.
Deni yang merupakan manajer Aleksander segera mendekat ke arah Alek secara perlahan.
"Sudah tuan , Markus memang sudah tewas di tempat , sementara tak ada saksi luar yang mengetahui ini , kami sudah membuat berita mengenai nya bahwa dia yang sudah menyerang kita lebih dulu" ujar Deni sedikit tegas.
"Apa keberadaan Belinda sudah di ketahui ?"
"Maaf tuan , Belinda beserta ibunya tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak "
"Bagaimana bisa mereka menghilang?"
"Benar tuan ,bahkan jika mereka bersembunyi atau pergi kami sudah cek semuanya di kota ini juga jalur penerbangan pun tak ada berkas tentang kepergian mereka semuanya nihil "
"Aku tidak akan membiarkan keturunan Markus lenyap semudah ini , kau harus menemukan mereka bagaimanapun caranya !" tampaknya Alek sangat geram meski ia tak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini.
"Baik tuan , saya akan berusaha menemukan keberadaan nya , jika begitu saya permisi dulu !"
"Pergi lah !" dengan menarik nafas panjang Alek berusaha mengontrol emosinya karena mengingat susahnya ia bernafas saat ini.
"Bagaimana bisa selama ini aku berkeluarga dengan ular seperti mereka" ketus Markus dalam kesendirian nya saat ini di dalam ruang rawat yang megah itu sembari menatap layar monitor dimana terlihat Edward yang terbaring tak berdaya di sana.
Alek menyadari betapa ia menyayangi anak semata wayangnya itu , sebagai ayah ia tak pernah sama sekali bertegur ramah meski mereka tinggal serumah selama ini , jangankan memeluk jagoannya untuk makan bersama pun mereka hampir tidak pernah.
Titian air mata mulai terkaca di kedua mata pria tua yang keras itu , ia kini merasa sangat merindukan dimana seorang Edward menyebut dirinya ayah.
"Nak , sadar lah ! bukan kah dirimu lebih keras dan lebih kuat dari pada aku ini " perlahan air mata yang kini menggenang itu jatuh secara tidak sengaja , Alek benar-benar menangis.
_
_
_
_
_
_
Di sisi lain , Elisa mulai menampakan kesadarannya dengan jemari tangannya yang sedikit bergerak.
"Elisa....
"Elisa. .Bu dia sadar " seru Delta sangat bahagia melihat kesadaran temannya itu .
"Elisa , bangun nak ! ini Ibu " jawab Zelin menggenggam erat tangan Lisa yang bergerak sadar kemudian membuka kedua matanya.
"Edward....... Edward......" ucap lesu dari bibir Lisa dalam peraduan kesadarannya.
"Nak , ini ibu nak ! Edward baik-baik saja , kamu bangun lah " jawab Zelin sedikit bangkit seraya mengusap kepala Elisa agar Elisa segera sadar.
__ADS_1
"Iiiii....iibu.....
"Iya , ini ibu ..
"Bu , dimana ? dimana Edward Bu ?" tanya Lisa tergugah segera dari kesadarannya sambil berusaha bangkit.
"Tenang Lisa .. tenang! Edward baik-baik saja ,"
"Iya Lisa , pak bos baik-baik saja , kamu jangan bangun dulu ya !"
"Ibu , aku ingin bertemu Edward Bu , aku mohon ! ini ...ini kenapa aku di infus segala ?"Elisa tampak sangat bingung sembari memperhatikan tangannya yang di infus dan ia juga masih berusaha ingin bangkit dari tempat tidurnya.
"Nak , kondisi kamu sangat lemah , sebaiknya kamu istirahat dulu "! saran Zelin terus berusaha mencegah Elisa bangun dari tempat tidurnya.
"Aku baik-baik saja Bu , dimana Edward ? aku ingin bertemu dengannya , aku mohon bu ! aku mohon bawa aku menemuinya !" Dengan menangis Elisa berusaha melepas infus yang ada di tangannya.
"Elisa apa yang kamu lakukan, hentikan nak !" sontak Zelin khawatir melihat Elisa nekat melepas infusnya dan ingin bangkit dan segera berlari.
"Aku ingin bertemu Edward !" teriak Lisa berhasil melepas infus dan bangkit dari tempat tidur nya meskipun ia sempat di hadang oleh delta , namun semua itu tak bisa mencegah kepergiannya untuk menemui Edward sang suami.
"Elisa....
"Dokter....dokter....
Zelin sedikit berteriak sembari berusaha mengejar Elisa yang berlari keluar ruangan di susul Delta juga yang berseru akan namanya.
Elisa tampak berlari sekuat tenaga menyusuri lorong rumah sakit mencari sebuah ruangan di mana Edward di rawat .
Ia ingat betul akan keadaan Edward yang dinyatakan koma oleh dokter , namun dengan setengah hati tidak percaya Elisa berharap Edward ada di salah satu ruangan sedang duduk menunggu kedatangannya sambil tersenyum mengarah padanya .
Elisa tampak tak perduli dengan ucapan Zelin yang mengikutinya ia masih saja menyusuri ruangan bahkan bermaksud masuk ke dalam sebuah lip untuk menuju ruangan dimana Edward di rawat.
Sedikit berlari tanpa arah Elisa hampir saja menabrak para perawat yang berpapasan dengannya, terlebih ada beberapa perawat juga yang berusaha menghentikannya karena mengetahui keadaan Elisa namun mereka tak kuasa.
Hingga pada saat tak terkendali Elisa tiba-tiba saja menabrak seseorang yang baru saja keluar dari sebuah ruangan , hingga Elisa sedikit terjatuh ke lantai.
"Elisa......." Teriak Zelin panik berhasil menghampirinya dan langsung saja meraih tubuh Lisa yang sudah terduduk di lantai.
"Elisa , kamu tidak apa-apa nak? bagaimana ? apa ada yang sakit ? perutmu , apa pinggangmu ? atau apa ? apa kamu merasa sakit ? jawab Lisa ?" Dengan sangat cemas Zelin menanyakan semua pertanyaan itu pada Lisa.
"Bu aku baik-baik saja Bu , aku hanya ingin menemui Edward " jawab Lisa pelan menatap mata Zelin yang sangat mencemaskan nya.
Tanpa menjawab lagi Zelin pula turut menatap nya dengan penuh kepiluan bahkan hingga kembali menangis.
"Ibu akan membawamu menemui nya " ujar Zelin langsung memeluk Elisa dengan tangisnya yang pecah.
Tak ingin ada hal buruk terjadi pada menantunya itu terlebih pada janin yang ada di kandungan Elisa yang merupakan cucu nya itu Zelin kemudian segera menuruti kemauan Elisa untuk menemui Edward di dalam ruangannya.
Segera lah mereka masuk ke dalam lip untuk menuju ruangan dimana Edward berada , sesampainya di depan sebuah ruangan yang merupakan ruangan Edward itu , Elisa tampak sedikit memberhentikan langkahnya.
"Ada apa nak ?" tanya Zelin pada Elisa yang kini tampak ragu untuk masuk ke dalam ruangan.
"Tidak apa Bu, ayo kita masuk !' jawab Elisa memantapkan keinginannya untuk menemui Edward .
__ADS_1
"Em , kak . Elisa " sapa Duma yang memang sudah menunggu sedari tadi.
"Elisa , kamu baik-baik saja ?" Zelin memegang teguh pundak Lisa sembari melangkah bersamanya mendekati Edward.
Dentuman detak jantung yang di rasa Elisa terasa kian menguat saat ia menatap keadaan Edward yang pucat terbaring di atas tempat tidur dengan mengenakan segala peralatan medis yang ada pada tubuhnya.
Edward yang dinyatakan koma hanya bisa terbaring dengan perasaan nyawa dan raga yang seolah-olah terombang-ambing di sana.
Tak ada sepatah kata yang terucap dari bibir Lisa kala menatap sedih keadaan suaminya itu , ia hanya bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang semakin kencang berdegup.
"Edwar , ini Elisa nak ! istrimu .. kamu mendengarnya bukan , dia baik-baik saja , maka dari itu kamu juga harus baik-baik saja dan segera sadar nak !" Zelin meraih tangan Elisa dan menyatukannya pada tangan Edward.
"Elisa , bicara lah ! mungkin Edward akan mendengarnya ?" tambah Zelin penuh harap menatap Elisa dengan tatapan kepiluannya itu.
"Kak , sebaiknya kita biarkan mereka berdua dulu !" saran Duma sedikit menyambung.
"Iya , baik lah , em , sayang Ibu tinggal dulu yah !" dengan memeluk Elisa yang masih tak bergeming , Zelin segera berlalu bersama Duma dalam kepedihannya.
sementara Elisa masih saja berdiri menatap wajah Edward dengan tangannya yang tak lepas memegang tangan Edward yang masih terasa hangat .
Tak ada ucapan ataupun gerakan dari tubuh Elisa , ia seakan mematung dalam kesedihan hatinya itu ,di iringi air mata yang mulai kembali membendung Elisa kembali menangis.
Bersambung......
_**Koma
Detak jantung yang bernada rendah seolah berseru dalam hangatnya tubuh yang tak bergerak....
koma....
Daya pikir seolah pergi dari kerja keras yang ingin menyatu ketika raga sudah lelah ...
koma....
Ingat akan kejadian yang menyatakan ketidakmampuannya dalam bersatu untuk ingat dan sadar....
koma....
suatu kondisi dimana raga utuh tak bergerak meskipun ia ingin....
koma....
Merupakan hal sukar dimana seseorang harus sadar dalam ketidakberdayaan nya....
koma.....
Bisa saja di bilang mimpi buruk untuk orang yang ingin hidup ataupun mati....
koma.....
Bisa saja terlelap namun indera pendengarnya bekerja pada sesuatu yang orang ucapkan....
koma.....
__ADS_1
Dan koma....
Hal yang bisa di terima ataupun tidak .. tetap saja itu adalah sebuah kesempatan langka yang terabaikan**....