
Terburu-buru
Elisa yang di paksa bangun pagi oleh Rena sekarang di suruh memakai gaun yang di anggapnya berlebihan ,Elisa yang berdandan sangat cantik duduk di kursi roda di dorong oleh Rena keluar kamar .
sedikit terperangah Edward menatap Lisa yang sedari tadi menunggu nya keluar.
"Heh, Memangnya kita mau kemana?" cetus Lisa masih kesal si suruh berdandan seperti itu , karena biasanya Elisa hanya menggunakan riasan natural saja.
"Ternyata tidak perlu ke salon , Bi Rena hebat juga " sedikit tepuk tangan Edward terpesona oleh penampilan Elisa.
"Maaf tuan , sebenarnya bibi cuma bantu pakaian nya saja, soal makeup non Lisa sendiri yang merias wajahnya" jelas Rena tampak memuji Lisa.
"Hem, iya Bi , Bagaimana pun , Lisa tetap qkqn terlihat cantik"jawab Edward takjub seraya mengusap kepalanya sendiri.
"Hey, sebenarnya kita ini mau kemana?" tanya Lisa masih penasaran.
"kamu akan tahu sendiri jika sudah sampai" Edward segera mengambil alih kursi roda Lisa dan mendorongnya keluar.
"Tuan ,semuanya sudah siap " tegas Wisnu di depan pintu dengan barisan para pengawal yang berbaris rapi , tidak seperti biasanya para pengawal kini berkumpul lagi menyambut kedatangan tuannya.
Elisa mengangkat wajahnya menatap Edward yang berdiri di belakangnya , dengan tersenyum Edward membalas tatapan Elisa.
Sebenarnya apa yang akan di buatnya kali ini? gerutu Lisa di dalam hati .
"Baik lah , sekarang kita berangkat !" ucap Edward pada semua orang yang sudah hadir di sana, Bi Rena dan Dewi tampak menyusul dari belakang , kali ini Rena dan Dewi tampak mengunakan baju biasa yang tampak elegan ,bukan seperti biasanya yang selalu memakai pakaian seragam.
"siap " serentak suara pengawal membuyarkan lamunan Elisa yang heran melihat perubahan penampilan Rena dan Dewi .
"Kita berangkat sayang " jawab pria itu kemudian mengangkat Elisa naik ke dalam mobil, tak mengurangi rasa penasarannya Elisa tampak cemberut karena sedari tadi mereka tidak di beritahu akan kemana.
Di lihatnya Edward yang masih saja tersenyum duduk di sampingnya ,duduk manis dan terlihat tampan dengan balutan kemeja putih serta Jaz mewahnya, jelas pakaian itu hanya di pakai untuk acara resmi , tapi jika di lihat dari penampilan Elisa yang memakai gaun ,seperti ingin pergi ke pesta sangatlah tidak cocok pikirnya jika mereka di sandingkan.
"Aneh" cetusnya dengan bibir bawah yang sedikit di gigit .
"Heh, kamu masih menjuluki aku seperti itu " jawab Edward jelas mendengarkan umpatan Elisa.
Sedikit buang muka Elisa masih tak bisa tersenyum, Dia menyembunyikan apa sih? kenapa semua nya ikut ,Rena dan Dewi juga di ajak , lalu para pengawal? .
"Apa kita akan ke persidangan ? " spontan kata itu tercetus dari bibir Lisa membuat Edward menatapnya aneh.
"Apa?"
"Wajah mu sangat aneh jika berpura-pura tidak mendengar" ledek Lisa dengan kerutan di keningnya.
"Emp , Maksudku kenapa kamu bisa berpikir seperti itu ,sidang...sidang apa?"
"Perceraian mu barangkali, heh ..jika begitu gaun ku ini sangatlah tidak cocok tahu" Elisa kembali membuang wajahnya .
\(Sang supir mengamati\)
"He, "Edward tampak tersenyum miring
"Aku sudah bercerai , tidak perlu menghadiri sidang-sidang lagi , sudah sah bercerai , suratnya ada di kamar atas " jawab Edward sedikit tegas.
__ADS_1
kamar atas, haha dia benar-benar aneh, bercerai dan sah tentang surat , dia tidak pernah memberitahuku, dan aduh ,di jaman modern seperti ini nikah dan cerai memang sangatlah mudah ,seenaknya saja.
Mata Elisa tampak membulat dengan bibirnya yang berkomat-kamit , di rasanya semua perkataan Edward tidak masuk akal.
"kenapa kamu bisa berasumsi seperti itu ?" tambah Edward lagi saat Elisa tak menjawab.
"Tuan, kamu semalam mimpi apa? kok bisa bertanya seperti itu , jelas-jelas kamu tidak bilang kita ini mau kemana? lalu dengan mereka semua ,kenapa harus ikut ?"
"he, kamu cantik jika marah begitu " jawab Edward memberhentikan perkataan Elisa.
Dia kenapa jadi begitu, sejak kapan seorang Edward berubah jadi pria yang suka berkata.....ah ..ini keterlaluan.
Mendadak Lisa menggeser posisi duduknya mengarah ke jendela mobil yang tengah melaju itu ,di pegang sedikit dadanya yang kini mulai kembali berdetak hebat.
"Elisa...apa yang terjadi ? apa kau sakit?" tanya Edward meraih pundak Lisa yang sedikit terkejut.
"Kamu kenapa?" tanya Edward lagi membalik tubuh Lisa menghadap padanya...
Sreng......... brukkkkk........
Tiba-tiba supir menginjak rem mendadak membuat Elisa terbentur sedikit keras ke arah tubuh Edward, namun Edward menahannya kuat agar tubuh Lisa tak merasakan sakit.
"Apa kau sudah gila .." spontan teriakan Edward nyaring pada supirnya karena di anggap tidak berhati-hati.
" Maa maaf tuan. , di depan sepertinya ada kecelakaan mobil " jawab supir gugup dan takut akan kemurkaan Edward.
"Kamu jangan marah begitu , kan tidak terjadi apa-apa pada kita !" sedikit mengelus dada Edward Elisa tampak cemas melihat raut wajah kemarahan Edward kembali seperti dulu.
"Maaf, aku sangat terkejut, aku hanya takut kamu terluka ,jika mobil mendadak berhenti seperti itu "jawab Edward langsung memeluk Elisa .
"Tidak perlu. , biar aku turun melihatnya, kamu. tunggu di dalam mobil saja " Edward kemudian bergegas turun dari mobil di ikuti para pengawal yang juga turun dari mobil di barisan belakang.
jalanan kota X tampak macet karena ada kecelakaan tersebut , polisi juga sudah banyak yang datang serta beberapa orang yang tak penting turut berkerumun.
_
_
_
" aheyy... kalian tidak lihat ..Tuan ini yang menyerempet mobilku lebih dulu , kenapa bisa aku yang di salahkan ha?" teriak seorang wanita di tengah-tengah kerumunan itu.
"Nona jangan asal bicara yah , jelas-jelas kamu mengendarai mobil ugal-ugalan heh menyalahkan orang seenaknya" jawab seorang pria ngotot di hadapannya.
"Eh, ugal-ugalan kamu bilang, hey pak polisi ,jangan diam saja dong " ucap wanita itu kesal.
"Maaf , pak apa bisa menyelesaikan masalah ini segera, tuan kami ingin lewat , karena terburu buru" jawab pak Wisnu yang sudah lebih dulu berada di sana karena mobilnya paling depan.
"Enak saja ,hey pak tua,Urusan tuanmu siapa yang peduli ? kamu tidak lihat apa yang terjadi di sini?" jawab pria yang terlibat kecelakaan itu kesal melihat Wisnu yang tiba-tiba nimbrung.
"selamat siang pak , apa ada masalah di sini?" sambung Edward tiba-tiba menyelinap ke dalam di kerumunan menghadap ke polisi.
"Siang tuan , Maaf perjalanan anda terganggu , nona dan tuan ini mengalami kecelakaan , tapi mereka malah membuat keributan, kami sedang menangani nya" jawab polisi itu sangat menghargai kesopanan Edward yang jelas tampak seperti seorang di penting.
"Edward" ucap seorang wanita yang terlibat kecelakaan itu jelas adalah Juwi.
heh, kenapa dunia ini sempit sekali, Edward sedikit terkejut namun ia berusaha sedikit tenang.
__ADS_1
"Maaf , apa Tuan mengenal nona ini ?" tanya polisi itu yakin Edward mengenal nona yang di anggapnya sangat emosional tadi.
"em, tuan ,,tolong aku !" tiba-tiba Juwi berlari ke arah Edward dan menggandeng tangannya sontak hal itu membuat semua orang heboh.
"Heh, apa dia pacar mu? baguslah , sepertinya dia orang kaya , dia bisa mengganti semua kerugian ku akibat ulah pacar mu yang sok itu" pria yang tadi bersitegang dengan Juwi tampak mencemooh.
"Hey...aku tidak sok , jelas-jelas kamu yang salah , kenapa aku yang harus ganti rugi" Juwi jelas tak terima di tuduh seperti itu.
"Wanita si**#ln" pria itu mencoba mendekat dengan mengangkat tangannya berusaha ingin mendekati Juwi. namun Edward dengan sigap meraih tangan pria itu dan menghempaskan nya hingga dia tersungkur.
"Dasar kau yah ....
"Berhenti !!!" polisi segera mengamankan pria tadi karena tampak bermaksud menyerang kembali, sementara pengawal Edward berbaris di belakangnya.
"Tuan aku takut" rengek Juwi masih tidak melepaskan tangan Edward.
"Maaf pak , jika saya boleh sarankan. mengingat reaksi tuan tadi. mungkin dia yang salah " ucap Edward pada polisi.
"Hey , apa maksudmu? jangan mentang-mentang wanita sial itu merayu dirimu , hingga kau membelanya yah ?" pria itu geram namun tak berdaya Lantara tangannya di pegang oleh dua orang polisi.
"Bukankah di sekitar area sini ada cctv, sangatlah mudah untuk mengetahuinya!" tambah Edward lagi penuh hati-hati dalam sikapnya.
"Baiklah tuan , terimakasih, dan nona saya masih membutuhkan keterangan anda di kantor" ucap polisi itu memberi hormat.
"Dengan senang hati" ucap Juwi tampak senang Edward membantunya.
Pria yang kesal itu di bawa ke kantor ,sementara laju perjalanan kembali normal .
"Maaf, apa nona tidak ingin melepaskan tanganku ?" ujar Edward sebenarnya sangat risih sedari tadi Juwi tak melepaskan tangannya.
"Oh , Hem, maaf tuan saya lupa , mengenai soal tadi saya mengucapkan banyak terimakasih pada anda " jawab Juwi sedikit membungkuk kan tubuh nya tanda berterimakasih.
"Tidak masalah , jika sudah selesai , aku mau permisi dulu " ucap Edward segera mungkin ingin pergi dari situ karena ia sudah lama meninggalkan Elisa di mobil.
"Eh ...." Juwi yang tadi masih bengong sedikit tidak sadar bahwa Edward segera berlalu meninggalkannya.
tap...tap....tap....
_
_
_
_
_
sesampainya Edward di mobil segera membuka pintu mobil nya.
"Kamu kenapa lama sekali ?" tanya Lisa sedikit gerah berada di dalam mobil walaupun gerah itu berasal hanya karena kelamaan menunggu, dia kesal bahkan apa yang terjadi di depan tidak mengetahuinya , semua tidak terlihat Lantaran padatnya kendaraan.
"Maaf , ada skandal dikit di depan ...
tap....tap....tap....
"Tunggu tuan , , ada yang ingin saya sampaikan ?" Juwi yang tadi rupanya mengejar Edward hingga ke mobilnya segera menarik bahu Edward saat Edward ingin masuk ke dalam mobil......
__ADS_1
tap.........