Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Dua sisi _masalah dan kehangatan


__ADS_3

"Dor. ....dor....dor...." Beberapa kali suara tembakan terdengar nyaring di sebuah gedung yang hampir mirip sebuah penjara , tempat itu adalah tempat dimana Belinda di kurung oleh Edward.


Kaki tangan Markus segera mengeluarkan Belinda dari tempat itu tanpa baku hantam karena pengawal Edward sudah mendapat perintah untuk membiarkan orang menjemputnya, meski ada sedikit kegaduhan dari beberapa orang suruhan Markus yang menembak kan pistol ke udara , mereka sedikit menggertak.


"Mereka pikir kita takut!" ucap seorang pengawal Edward.


"Sudah diam saja, kalian ingat apa yang dikatakan tuan bukan!" jawab kepala pengawal .


"Siap" jawab para pengawal lain serentak membuka jalan .


"Nona, kami datang menjemput anda " ucap seorang pria yang tak asing di mata Belinda, Dia adalah Joni orang kepercayaan Markus.


Belinda tampak sedikit senang ,karena sudah hampir sebulan dia di kurung Edward di dalam gedung pengap itu, sungguh ngeri batinnya membayangkan penjara yang di ciptakan Edward, namun hal itu tidak membuatnya jera , Belinda masih saja wanita yang licik dan pendendam.


"Bawa aku ke tempat papa " ucap wanita itu dengan raut wajah masam nya segera naik kedalam mobil yang sudah menunggunya nya.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


Kediaman Markus di kota X.


Markus bersama istrinya Nyonya Asyura Menyambut kedatangan Belinda yang tampak menyedihkan itu , segera Asyura memeluk haru anaknya, Mereka segera datang dari luar negri karena mendengar hubungan Belinda dan Edward buruk.


"Apa kau baik-baik saja sayang?" tanya Asyura seraya memeluk anaknya rindu.


"Mama, keadaan ku sangat berantakan , aku membencinya " sedikit menangis kesal Belinda marah dalam rangkulan ibunya.


"Sebaiknya nya kau ikut bersama kami ke luar negri saja ,di sana kau bisa memulai kehidupan baru" jawab Asyura mengusap lembut kepala anak semata wayangnya itu.


.


"Tidak bisa, bagaimana bisa mereka berbuat seperti itu terhadap anak kita" sambung Markus geram dengan kedua tangan nya mengepal .


"Lalu kau mau apa? semua ini sudah terjadi, Belinda juga salah " jawab Asyura membantah perkataan suaminya.


"Ma apa kau menyalahkan ku?" Belinda segera menepis rangkulan ibunya.


"Bukan begitu nak, dalam hal ini kau sudah melibatkan nyawa orang lain, dari segi manapun kau tidak bisa di bela, mama hanya takut kau masuk penjara" Asyura tampak mendekati Belinda yang menjauh darinya.


.


"Aku sudah di penjara Ma, sudah....


pria itu mengurungku hanya demi membela pe#c### ....itu , aku tidak terima,


"Pa, tolong bantu aku , ...hikhh... hikkk....


Tangis Belinda pecah bertumpu pada kaki Markus yang kian geram , kemurkaan nya membeludak tak tertahankan lagi, baginya ini adalah satu penghinaan untuk dirinya.


"Edward, kau akan menyesal !" umpat Markus segera melangkah keluar rumahnya dengan kemurkaan , entah apa yang akan ia lakukan nanti. sementara Belinda berusaha bangkit dengan raut wajahnya yang tampak mengerikan, wanita itu benar-benar di buta kan akan kebenciannya.

__ADS_1


ia sangat berharap Ayahnya membalaskan rasa sakit hatinya yang sampai saat ini tak bisa di padamkan, terkutuk lah Elisa , itu saja yang ada di dalam pikirannya.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


Sementara di sisi lain Edward segera pulang ke villanya sesudah pekerjaan nya selesai, Elisa yang mendengar klakson mobil Edward segera keluar kamar dengan kursi roda nya ingin memastikan kedatangan pria yang memang di tunggu nya.


"aku pulang" ucap Edward seraya memasuki ruang utama.


Rena yang lebih dulu menyambut kedatangannya segera mengambil alih tas kantor bawaan Edward.


"Elisa mana?" tanya Edward serius pada Rena.


"kamu sudah pulang" belum sempat Rena menjawab Elisa sudah muncul menghampiri Edward, dengan sedikit tak tega Edward segera mendekati wanita nya itu dengan raut wajah haru.


"gak apa-apa kok, kamu ganti baju dulu gih, aku mau tanya sesuatu sama kamu" jawab Lisa meyakinkan diri, ia sangat penasaran prihal kedatangan orang tua Belinda ke kantor Edward.


usai makan malam Elisa segera kembali ke kamarnya, Edward yang masih sibuk di lantai atas masih fokus pada laptopnya .


sementara Elisa benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi di kantor, ia tidak sempat menanyakan hal itu pada saat makan malam apa lagi Edward terlihat fokus pada pekerjaan.


Elisa yang duduk tegang di atas tempat tidur dengan kakinya yang berjuntai memaksakan dirinya untuk bergerak " hmp ,kaki ku kenapa harus lumpuh begini sih , aku jadi tidak bisa menyusul nya di atas " sedikit mengeluh Elisa mengelus kakinya yang terasa kaku.


cklek ..


"kamu belum tidur?" tiba-tiba Edward datang dan langsung masuk ke dalam kamar.


"Eh.. kamu.." sebenarnya Elisa sangat terkejut dengan kedatangan pria yang baru saja di pikirkannya.


"Apa kakimu sakit?" tanya Edward mendekat dan langsung duduk di sebelah Elisa seraya bermaksud meraih kaki wanitanya namun Elisa tampak bergeser dan menjauh.


"emp, itu kakiku baik-baik saja , emp , apa pekerjaan kamu sudah selesai?" mengalihkan pembicaraan Elisa tampaknya ingin mengganti topik soal pertanyaan nya yang sedari tadi ingin di tanyakan ,tapi dia tidak berani.


"Sepertinya kamu kurang nyaman aku kemari , ya sudah kamu istirahat saja ! aku akan tidur di kamar atas !" sedikit canggung Edward bangkit dari duduknya.


"tu.. tunggu..!" tangan Lisa meraih sedikit lengan baju Edward yang ingin meninggalkannya dengan raut wajah polos.


"aku tidak bermaksud begitu, hanya saja ada sesuatu yang menggangu pikiranku .." ucap Lisa ragu masih memegang lengan baju Edward.


"Katakan! hal apa yang menggangu pikiranmu itu ?" Edward segera meraih tangannya dan duduk kembali di sebelah Elisa sehingga mereka sekarang bertatapan.


"Katakan sayang!" nada lembut Edward seakan terasa menusuk kalbu membuat rona wajah seakan tampak , Elisa yang sedikit tersipu memberanikan tekadnya untuk mengatakan sesuatu.


"Kapan kamu akan menikahi ku ?"


deg...........


ah , kenapa malah mengatakan hal semacam itu? sedikit menunduk Elisa tampak malu sekali, namun tangan Edward meraih wajahnya yang malu itu.

__ADS_1


"Kamu bilang apa tadi? aku tidak mendengarnya ?" jawab Edward sedikit meledek namun penuh harap.


"Ihh .bukan begitu , sebenarnya apa yang terjadi di kantormu tadi , Delta bilang ayahnya Belinda membuat keributan di ruang meeting , bukannya mereka tinggal di luar negri "


"Kenapa datang kemari? apa membuat perhitungan , lalu Belinda ? dan dia ...dia ayah mertuamu "


"Sudah selesai ?"


"apa?" sedikit mengangkat wajah Elisa tertegun dengan perkataan Edward sudah selesai itu , ya ampun ,apakah aku sudah banyak bicara ?, Elisa saat sungguh tak bisa mengontrol rasa penasaran nya yang entah kenapa kian tak menentu.


"Hemp, iya dia memang datang ke kantor, hanya untuk menjemput anaknya saja ,tidak lebih kok, jadi kamu jangan khawatir !" dengan tersenyum Edward menjawab seraya mengusap kepala Elisa .


"Apa benar begitu ?"


"Elisa , aku dan Belinda sudah resmi bercerai , kamu jangan khawatir kan soal itu "


"Aku tidak mengkhawatirkan soal itu ,aku hanya takut ada sesuatu yang buruk terjadi padamu " jawab Lisa penuh hati-hati dan masih tertunduk .


buk....


Edward tiba-tiba saja turun ke lantai dan berlutut sembari memegang tangan Lisa dengan lembut , hal itu sangat mengagetkan wanita di hadapannya.


" aa aapa yang kamu lakukan ?" tanya Lisa tak menyangka Edward akan berbuat seperti itu.


"Maukah kamu menikah denganku ?" suara itu terdengar jelas dan nyata, dengan wajah tampannya wanita mana yang akan menolak , meskipun dulu mereka punya masa kelam pertemuan yang tak menyenangkan , toh sekarang Elisa sangat bahagia.


"yang aku tanya tadi ,kapan kamu mau nikahin aku ?"


plakkkk .............\(sedikit bercanda\)tamparan keras di wajah Edward dari author.


"Elisa, ......


"Hehe, iya aku mau nikah sama kamu , tapi nikahnya kapan ?" jawab Lisa seraya menggoyangkan lengan Edward menggodanya ,di rasanya aneh jika pria sedingin Edward terus bersikap romantis seperti itu.


"Bagaimana jika sekarang!" jawab Edward segera bangkit dan menjatuhkan tubuh Lisa di atas tempat tidur .


"Hey tuan ,kamu lupa yah kaki ku sakit !" sedikit teriak Elisa tampak kesal dengan perlakuan Edward yang mendadak seperti itu.


"Maaf , maaf , sini biar aku tiup "


"Memangnya luka apa pakai di tiup segala "


"aku mencintai Lisa " cup.....


Pelukan hangat di lontarkan Edward pada tubuh Lisa yang kini berbaring membelakanginya .


"Kamu kalau tidur terus membelakangi ku , coba lihat kemari dong !" nada bicara Edward tampak manja.


"Gak mau , ..." ketus Lisa masih bersekukuh pada posisinya , Elisa hanya tidak bisa menatap mata pria yang seakan bisa menghipnotis nya itu.


"Emp, kamu tidak tahu apa yang terjadi pada Teman cerewet mu itu"


"Eh , apa yang terjadi pada Delta ?" Mendadak Elisa penasaran dan membalikan tubuhnya menghadap ke arah Edward.



"Dengan begini kan enak , sini biarku peluk" Edward tanpa sungkan mendekat dan langsung memeluk Lisa ke dalam dekapan dada bidangnya yang hangat itu .


"Inikah caramu, heh ,kamu sangat curang " jawab Lisa dalam pelukan hangat Edward .


"Aku ada sesuatu untuk mu besok !" tambah Edward tersenyum dan mencium kepala Lisa yang jelas terasa.


"Apa itu ?" wajah Lisa mendongak ke atas dimana dagu lembut Edward tersentuh hidungnya.


"Tetaplah mengarah pada dadaku , kamu membuat aku tidak tahan " jawab pria itu sedikit by Mendorong kepala Lisa tetap berada di posisi awal.


Dia tidak merasa apa? jika dia sangat menarik terlihat penasaran seperti itu ? sedikit meneguk ludahnya Edward merasa bergairah.


"Aku hanya penasaran , " jawab Lisa sangat patuh.


"Tidur lah...besok juga kamu akan tahu "

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2