Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Bertemu Dimas


__ADS_3

"Ibu ,aku bilang gak mau pergi ke dokter " rengek Lisa seperti anak kecil pada sang mertuanya itu ketika ternyata Zelin mengajaknya pergi untuk memeriksakan kandungannya.


"Ibu mau lihat perkembangan cucu ibu , ini juga demi kebaikan kamu Elisa " pinta Zelin seraya turun dari mobil karena baru saja tiba di sebuah rumah sakit.


Entah mengapa rasanya Elisa saat itu sedikit terauma setiap kali mengingat tentang rumah sakit , karena beberapa kejadian memilukan dalam hidupnya ada di sana , sampai Enggan turun Elisa seakan tetap kokoh pada pendirian duduknya, ia tak mau beranjak dari bangku mobil itu.


"Non Lisa kenapa belum turun ?" tanya Wisnu sedikit menahan senyum nya melihat raut wajah Lisa yang manja untuk pertama kalinya.


"Gak pak , nanti saja" jawab Lisa singkat menoleh ke luar pintu , Zelin yang saat itu menghampiri ke arahnya tersenyum lebar.


"Periksa kandungan itu enak loh , dulu waktu ibu periksa di umur kandungan mu yang segini , kita sudah bisa melihat sedikit bentuknya pada layar monitor nanti , detak jantungnya pun kita bisa mendengarkannya" tukas Zelin seolah sedang memberitahu namun lebih terdengar seperti membujuk.


Elisa bukan tidak mengerti hal itu , ia dulu pun sering mendengar semua itu dari cerita almarhumah Ibunya , bahwa ibunya ingin melihat Elisa menikah dengan seorang pria baik dan mempunyai banyak anak yang lucu-lucu, sang Ibu lah yang akan selalu setia nantinya untuk menemani Elisa menjaga dan merawat kandungannya hingga lahir.


Namun Elisa menepis semua perkataan ibunya saat itu , karena ia masih remaja dan sekolah, terlalu cepat jika mengatakannya saat ini .


Namun itu hanyalah sebuah memori indah sekaligus kelam baginya , mengingat sang Ibu telah tiada , dan sudah lama sekali ia tak mengunjungi makam sang Ibu.


"Sayang , kamu kenapa?" mendadak Zelin mendekat saat butir-butir air mata membendung di pelupuk mata sang menantu.


"Aku tidak apa-apa Bu " jawab Lisa buru-buru menyeka air mata yang hampir saja tumpah.


"Ayo masuk Bu , aku mau periksa , dan hasil nya nanti kita ceritakan pada Edward ya Bu" jawab Lisa kini mendadak bangkit dan sangat antusias.


"Iya nak , hati-hati" jawab Zelin seolah memapah Lisa turun dari dalam mobil , ia sangat menyayangi Elisa seperti anak kandungnya sendiri.


Sesampainya di ruang pemeriksaan Elisa langsung di suruh berbaring untuk memulai pemeriksaan nya dalam USG.


Benar saja , ia bisa melihat bentuk seperti apa yang ada di dalam perutnya , dokter menerangkan dengan sangat jelas mengenai detailnya.


"Kandungan nyonya sangat baik, janin nya sehat" tukas dokter tersenyum sangat ramah , Elisa yang jelas sangat memperhatikan apa yang di jelaskan maupun di lihatnya sangat merasa bahagia.


"Nyonya Elisa harus banyak makan sayur dan buah , nanti saya tulis resep obat penguat kandungan serta vitamin jangan lupa istirahat yang cukup agar kandungannya sehat " tambah dokter lagi pada penjelasan nya.


"Makasih Dokter" jawab Zelin mendekati Elisa yang kini bangkit dari tidurnya, karena pemeriksaan dokter sudah usai.


"Sama-sama nyonya Zelin , kandungan nyonya Elisa kuat , jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan " tambah dokter itu sembari duduk di kursinya dan langsung menuliskan sebuah resep obat.


Elisa yang usai di periksa kemudian segera bangun dari tidurnya di bantu oleh Zelin untuk berdiri.


"Ibu aku gak apa-apa kok " ucap Lisa sedikit tidak enak karena Zelin terlalu memanjakannya, meskipun di dalam hati sebenarnya ia merasa senang akan perhatian sang mertua .


"Kamu harus hati-hati sayang " jawab Zelin sembari mengelus bagian perut Lisa lembut.


Dokter segera memberi resep obat untuk Elisa , dengan mengucapkan terimakasih Zelin dan Lisa pun segera keluar ruangan untuk menuju tempat penebusan obat.

__ADS_1


"Elisa kamu tunggu di sini dulu ya! biar ibu sendiri yang tebus obatnya " tukas Zelin menyarankan Elisa untuk menunggu di ruang tunggu.


"Baik lah Bu , aku menurut saja " jawab Lisa menikmati perhatian Zelin.


'kamu lihat sayang , nenek mu sayang perhatian dan sayang pada kita , sampai-sampai dia harus bersusah payah menyempatkan diri untuk memeriksakan kandungan ibu kemari ' Elisa meraba perutnya berbicara dalam hati pada sang buah hati.


"Elisa ...." Tiba-tiba seorang pria berdiri tepat di hadapan Elisa dengan posisi tegap menatap nya pasti .


"Dimas.. " ucap Lisa tampak heran , mengapa ada Dimas di sana.


"Apa yang kamu lakukan di sini ? kamu sakit ? ada apa Lisa ?" dengan spontan Dimas mengusap kening dan leher Elisa untuk memeriksa keadaan suhunya.


"Apa yang kamu lakukan , aku baik-baik saja kok" jawab Lisa sedikit malu ,terlebih ada beberapa orang di sana yang memperhatikan mereka.


"Maaf Lisa , aku berlebihan ya ? " menggaruk kepala Dimas tampak canggung dan malu atas apa yang dia lakukan.


"Kamu kaku banget" ceria Lisa sedikit tertawa melihat tingkah Dimas pada saat itu , ini kali pertamanya Dimas melihat kembali senyum manis pada Elisa , sudah lama ia menginginkan pemandangan seperti itu.


"Kaku ya ! maaf deh , terus kamu di sini ada keperluan apa? ini kan rumah sakit biasa , tidak mungkin menantu keluarga Manopo berobat kemari?" sedikit menyindir Dimas tampak menoleh ke arah samping dan belakang , melihat apa ada seseorang yang ia kenal bersama Elisa di sana.


"Memangnya kenapa? ini rumah sakit besar kok , fasilitas nya juga bagus , bebas dong mau berobat dimana saja " jawab Lisa sedikit membantah ucapan Dimas barusan.


"Gitu dong , sekali-kali melawan kalau di ajak bicara " Tambah Dimas kini sedikit tertawa kecil melihat raut wajah Lisa yang agak kesal, Dimas cukup merasa senang jika Elisa kali ini terlihat berani berbicara , karena sebelumnya pun Elisa sangat menjaga jarak di antara mereka.


"Kamu belum jawab pertanyaan ku , kamu sedang apa di sini ?" tanya Dimas lagi kali ini sembari duduk tepat di kursi sebelah Elisa.


"Periksa kandungan" jawab Lisa menoleh ke arah Dimas , sambil menunggu reaksi yang apa yang akan di tampakkan oleh Dimas.


"Oh ya , aku lupa kamu sebentar lagi akan jadi seorang Mama ya ?" jawab Dimas tampak tersenyum bahagia.


'Tidak ada yang salah , sepertinya aku yang berlebihan '


"kenapa melamun?" tampak Dimas melambaikan tangan nya di hadapan Lisa.


"Tidak , ketawa mu jelek " tukas Lisa lalu cepat memalingkan wajahnya.


"Orang cakep gini di bilang jelek , Mama mu buta sayang " jawab Dimas sedikit menyenggol bahu Elisa seolah berbicara pada buah hati yang ada di dalam kandungan Lisa .


"Kamu sendiri seorang Tuan Dimas terhormat pengusaha Berlian terbesar datang ke rumah sakit seperti ini , apa yang mau di lakukan, apa di sini ada penambangan batu berlian ?" tukas Lisa kini balas meledek Dimas yang posisi duduknya kini bersandar pada tiang kursi.


"haha .. bahkan kamu bisa melawan sekarang Lisa , hebat-hebat ..." ucap Dimas sedikit memuji meski terdengar lebih meledek, Elisa yang mendengarnya tak segera menjawab karena di lihatnya sang Ibu mertua sudah kembali dari mengambil obat.


"Ibu , kenapa lama sekali ?" tanya Lisa segera bangkit dari tempat ia duduk , begitu pula dengan Dimas yang ikut-ikutan bangkit berdiri.


"Nyonya Zelin , anda juga berada di sini ?" tukas Dimas sedikit membungkuk menghormati.

__ADS_1


"Nak Dimas , kan sudah Tante bilang jangan berkata seperti itu , panggil Tante saja !" jawab Zelin tampak tidak enak.


"Maaf Tante , sekarang saya tidak akan sungkan lagi " Dengan senang hati Dimas mengikuti semua ucapan Zelin.


" ngomong-ngomong nak Dimas di sini sedang apa? apa ada keluarga yang sakit?" tanya Zelin kini serius pada Dimas.


"Oh , itu tadi sekretaris saya bilang ada salah satu karyawan kami yang masuk rumah sakit ini , jadi saya mau menjenguknya " jawab Dimas sangat sopan.


"Wahh .. hebat sekalu ya nak Dimas ini , beruntung sekali karyawan nak Dimas itu memiliki bos seperti nak Dimas ,sangat peduli pada nasib karyawan nya " tampak Zelin sangat memuji Dimas.


"Tante bisa saja , sudah sepatutnya nya kita perduli terhadap sesama , lagipula tanpa karyawan kita bisa apa ? tidak bisa melakukan pekerjaan itu sendiri , karena mereka lah kita bisa berhasil seperti sekarang " jawab Dimas lagi tanpa mengurangi rasa hormatnya , Zelin terlihat sangat menyukai Dimas yang mempunyai dedikasi yang tinggi serta perduli terhadap sesama.


"Benar itu ,oh ya , bagaimana jika setelah menjenguk karyawan nanti , nak Dimas datang ke rumah kita makan malam lagi bersama !"Kini Zelin mengundang Dimas untuk makan malam bersama.


'Ibu apa-apaan sih ? kok pakai acara ajak Dimas makan malam segala' Elisa tampaknya kurang setuju akan tawaran Zelin pada Dimas , sehingga membuat Elisa sedikit menarik lengan baju sang mertua. Zelin yang mengerti tindakan Elisa tak menggubrisnya malah kembali mengajukan tawaran itu kembali pada Dimas .


"Bagaimana nak Dimas?" tanya Zelin lagi.


"Dengan senang hati Tante, saya pasti akan datang " jawab Dimas terlihat senang menerima undangan dari Zelin.


"Baiklah Tante tunggu kedatangan kamu ya! kalau begitu Tante dsn Elisa pamit pulang dulu "


"Baik Tante , hati-hati di jalan " tukas Dimas memberi salam pada Zelin dan Elisa .


_


_


_


_


_


_


"Ibu kenapa undang Dimas makan malam sih ?" raut wajah Lisa tampak kusut ketika membahas kembali undangan yang di lontarkan Zelin tadi.


"Loh kenapa? gak ada salahnya kita ajak dia makan malam bersama , lagipula dia kan rekan bisnis Edward , dan bukan kah dia juga adalah teman kecil kamu " jawab Zelin merasa tak keberatan.


'iya juga , benar kata ibu tidak ada salahnya mengundang Dimas untuk makan malam , tapi apakah Edward setuju ? aku harap dia tidak masalah '


"Dia orang yang baik nak , Ibu yakin tidak ada salahnya dekat dengannya " tambah Zelin lagi mengusap bahu Lisa yang kini duduk di sebelahnya di dalam mobil.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2