Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Mengejutkan


__ADS_3

Dimas tampak kokoh memantapkan pendiriannya ketika Elisa berusaha kuat mendorongnya agar keluar dari kamar.


"sebenarnya apa yang terjadi ?" tanya Zelin langsung berlari meraih Elisa yang tampak sangat sedih.


"Ibu tolong usir dia Bu , ku mohon !" ujar Lisa kini menunduk dengan air matanya yang berurai .


"Dimas , apa yang terjadi ? mengapa Elisa bisa semarah ini padamu ?" tanya Zelin kini menatap Dimas yang ada di hadapannya , Dimas malah terlihat santai dengan beberapa kali menghela nafas panjang , ia tampak tak merasa bersalah sama sekali, entah apa yang ada di pikirannya saat itu.


"Katakan Dimas!"


"Sudah lah Bu , lebih baik suruh dia pergi !"


"Apa yang terjadi ?" tiba-tiba Alek pun datang menghampiri mereka dengan sedikit khawatir .


"Tidak ada yah , Elisa hanya sedikit terkejut , bukankah di sini tadi ada tikus " dalih Zelin langsung mengalihkan topik , ia tak ingin Alek mengetahui keadaan yang sebenarnya.


"Aku mencintai Elisa " kini suara Dimas lagi yang terdengar , bahkan itu lebih jelas, Alek yang terkejut akan penuturan yang lebih mirip pengakuan itu merasa janggal dan menganggap Dimas kurang ajar.


Dengan marah Alek berteriak" Apa ini tujuan mu datang kemari ? jawab ..?" tangan kokohnya langsung menyambar kera baju Dimas dan sedikit mendorongnya ke arah tembok , sontak hal itu membuat Elisa dan Zelin panik .


"Apa yang kamu lakukan ? lepaskan dia !" sambar Zelin berusaha memegang tangan Alek yang mencengkram Dimas.


"Heh, dia berani mengatakan hal itu , apa kau tidak dengar , bukan kah itu tidak pantas " keras Alek berbicara dengan nada tinggi nya.


Dimas tak berdalih dengan suara , ia tampak pasrah namun tatapannya terarah pada Elisa yang berdiri menatapnya benci.


"Aku mencintainya apa itu salah " tukas Dimas sangat gigih dengan ucapannya , dengan begitu pula pukulan keras tertuju pada wajahnya dari gumpalan kuat tangan Alek , Dimas sedikit tersungkur ke tembok di belakangnya.


Zelin seketika berteriak menyaksikan hal itu hingga ia terduduk. "ku mohon hentikan ! apa kalian ingin anakku mendengarkan ini semua , kalian tidak punya hati kah?"


"Ibu..." Elisa langsung berlari memeluk Zelin yang sudah terkulai lemas di lantai.


"Anakku...." Zelin tampak sangat putus asa , mengapa hal ini bisa terjadi , ia tampak merangkak menuju tempat tidur Edward , di dapatinya kedua kaki nya sangat lemas untuk berdiri , melihat hal itu Elisa tak kuasa berusaha memapah Zelin.


Alek yang sudah kepalang emosi melihat keadaan istri dan anaknya , kini kembali ia menoleh pada Dimas yang masih terduduk di lantai tengah menyeka sedikit darah di bagian wajahnya.


Alek pun segera mengangkat Dimas kembali dengan menarik kera bajunya sangat kuat, tatapan mata Alek membulat hingga tampak memerah, kali ini ia tak berpikiran apa-apa lagi selain menghabisi anak ingusan yang ada di hadapannya , begini lah rasa sakit yang Edward miliki , ujarnya dalam hati mengepal sebuah tinju dengan tenaga kuat dan segera ingin ia lontarkan pada wajah Dimas yang kala itu diam saja tanpa bergeming.

__ADS_1


"Ayah.... Edward .. Edward bergerak " teriak Elisa begitu tidak percaya .


"Apa ?" Dengan seketika pukulan tangan yang ingin ia tujukan pada Dimas pun terhenti , Alek melepaskan cengkeramannya kemudian berlari menuju sang putra.


Dan benar , jemari Edward tampak bergerak satu persatu secara perlahan , di susul dengan kedua matanya yang bergerak memaksa ingin terbuka.


"Sayang , kamu sadar ? ini ibu nak " Zelin meraih tangan Edward dan menggenggam nya erat.


"aku akan segera menghubungi Jordan " sambung Alek kemudian segera keluar untuk menelpon dokter Jordan.


"Edward , ini aku Elisa " seolah itu sebuah mimpi , bulir-bulir air mata Lisa kembali tumpah berharap Edward segera membuka matanya dan menyebutkan namanya.


Kedua tangan Edward bergerak dengan sedikit tenaga , ia bahkan sudah bisa merasakan kehangatan yang menggenggam erat kedua tangannya . di paksa nya kuat menerobos kegelapan yang selama ini ia rasakan , semua sel saraf nya seolah memaksa untuk bersatu , memantapkan satu tujuan yang mengalir ke arah kedua panca Indra penglihatan nya.


"Edward...." suara indah itu terdengar sangat jelas di kedua telinga Edward , kemudian bulir air mata mengalir dari pelupuk nya, dan saat itu lah ia membuka kedua matanya dengan paksa.


"Edward kamu sadar "


"Anak ku ..."


pancaran cahaya terang bersumber dari lampu di atas langit-langit membuat Edward tampak tidak siap menerima , ia sedikit kembali memejamkan mata lalu membukanya kembali, melihat hal itu Elisa langsung duduk mendekati sang suami.


"Bagaimana keadaannya ?" suara dan langkah kaki terdengar datang secara bersamaan, dokter Jordan dan suster yang di tugaskan nya datang setelah mendapatkan kabar dari Alek.


Jordan masuk menghampiri tempat tidur Edward dengan sedikit melirik ke arah samping , dimana ada seorang pria yang ia sudah mengetahuinya.


"Heh, apa yang terjadi dengan pria ini ? dia tampak berantakan?"


"Lihat dia nak Jordan , anak ku sudah sadar !" tukas Zelin segera bangkit memberi tempat untuk Jordan memeriksanya.


segera Jordan memeriksa keadaan Edward yang saat itu telah membuka matanya, " Apa kau sudah bisa memantapkan pandanganmu?" tanya Jordan pada Edward yang saat itu seolah masih belum merespon. keadaan Edward benar-benar stabil , dia benar sudah sadarkan diri.


Kemudian terlihat kedua bibir Edward yang sedikit bergerak terbuka , tampaknya ia ingin berbicara , Jordan pun segera melepaskan alat pernapasan yang ada di hidungnya , karena di rasanya Edward sudah tidak memerlukan hal itu lagi ,setelah melihat keadaan dan tanda vitalnya sangat baik.


"A..... aku haa... uuss" Bibir beku itu akhirnya menimbulkan suara meski terdengar pelan dan serak.


"Dia bicara , Edward kamu haus " Elisa langsung sigap mengambil segelas air minum yang ada di atas nakas.

__ADS_1


"Huhhh.... akhirnya kamu bangun juga kawan " Jordan tampak menggenggam tangan Edward yang kini mulai berusaha untuk membalas genggaman itu.


"Apa boleh aku memberikan nya minum ?" Elisa tampak bertanya pada Jordan , dengan segera Jordan mengiyakan hal itu dengan anggukan nya, kemudian membantu Edward untuk sedikit mengangkat kepalanya nya sementara Elisa segera memberi Edward minum , dua tegukan air minum di rasa Edward sudah membasahi tenggorokan nya .


"Apa kau bisa merasakan tubuhmu ?" tanya Jordan lagi pada Edward yang saat itu sudah di sandarkan nya dengan menggunakan tumpukan bantal di belakang kepala.


Mendengat jelas hal itu Edward segera berusaha menggerakkan tubuhnya ,matanya menerawang segala pandangan yang ada di hadapannya nya. " Ibu " ucapnya seketika melihat jelas seorang wanita tengah berdiri di ujung kakinya sembari sesekali menyeka air mata di pipinya.


Dengan penuh haru dan bahagia Zelin pun kembali menangis mendekati anak semata wayangnya sembari berkata " Ibu tahu kamu akan baik-baik saja nak " di peluknya Edward saat itu juga dengan penuh kasih sayang.


"Elisa " tambah Edward lagi dalam pelukan ibu nya menoleh ke sisi kanannya dimana ia dapati sosok wanita yang di cintai dan sangat ia rindukan itu.


Tanpa berkata Elisa pun segera turut memeluk Zelin dan Edward , tentu hal itu adalah hal yang di tunggu-tunggu mereka.


"Cepat seret dia " suara Alek terdengar di ambang pintu dengan beberapa pengawal nya, saat itu tatapan dan ingatan Alek hanya tertuju pada Dimas seorang.


Beberapa pengawal segera masuk ke dalam kamar dan menghampiri Dimas yang sedari tadi hanya berdiri diam seribu bahasa menyaksikan kejadian yang ada , tak ada respon ataupun reaksi dari Dimas untuk menolak ketika pengawal itu memegang tangannya dan berusaha menyeretnya keluar .


"Hentikan ayah !" suara itu keluar dari mulut Edward yang benar-benar tersadar , Zelin dan Elisa pun segera melepaskan pelukannya.


Alek yang seketika itu masuk ke dalam ruangan mendengar suara dan menatap anak nya yang sudah benar-benar bangun dari komanya merasa tidak percaya.


"Ka....kaaau sudah sadar"


Bersambung......


Hay...Hay.... buat teman semuanya , maaf sebelumnya kalau novel ini lama sekali up nya , mungkin untuk selanjutnya novel ini akan up dengan waktu dua Minggu sekali hingga satu bulan sekali, itu semua di karena kan author sangat sibuk akhir-akhir ini .


author mohon maaf jika tulisan dan cerita nya kurang memuaskan , namun author berjanji akan tetap setia dalam menyelesaikan cerita ini hingga akhir.


Terimakasih buat kalian semua yang sudah menyempatkan diri untuk hadir membaca dan meninggalkan jejak berupa like,komen dan vote nya , sekalu lgi saya ucapkan terimakasih.


Di masa Pandemi ini , saya berharap kita semua dalam keadaan sehat dan di lindungi Allah SWT dari segala marabahaya yang ada.


Tetap jaga kesehatan kalian dengan mematuhi prokes yang ada, dan kesetiaan dan dukungan dari para reader semua sangat author harapkan di sini.


sekali lagi terimakasih 🙏🙏🙏😘😘😘

__ADS_1


Bersabar menunggu kelanjutan nya .....


__ADS_2