Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Kaget_


__ADS_3

Juwi yang berlari mengejar kepergian Edward segera menyusulnya, saat Edward ingin memasuki mobil yang ada di tepi jalan Juwi segera menarik tangannya.


"Tunggu ...tuan ! saya ada yang ingin di


bicarakan !"


Edward yang kaget karena lengannya di tarik spontan bergegas keluar mobil kembali dengan pintu mobil yang di buka lebar.


sementara tatapan mata Elisa yang berada di dalam tadi sedikit kaget dan terperangah ,begitu juga Juwi yang tidak menyangka bahwa di dalam mobil ada seorang wanita yang menunggu Edward dan wanita itu adalah Elisa.


"Elisa" ucap Juwi menatap ke arah Elisa yang kini menatap ke arah tangan Juwi yang masih memegang lengan Edward.


Jelas mereka saling kenal " emp, maaf nona Juwi ,ada sesuatu yang bisa aku bantu ?" ucap Edward segera melepaskan tangan Juwi dari lengannya, Edward tak ingin Elisa salah paham.


"A..apa hubungan anda dengan Elisa tuan ?" kata itu tercetus langsung dari bibir Juwi membuat Elisa mengalihkan pandangannya , ia sudah menduganya Juwi akan bertanya seperti itu , dan Edward ,mereka sudah saling kenal kah ??


" Dia calon istriku"


"Apa??"


"Apa nya yang apa?"


"Tidak ada , Maaf sudah merepotkan Anda, sekali lagi terimakasih" nada bicara Juwi Tiba-tiba melemah saking kagetnya mengetahui Elisa adalah calon istri Edward.


"Baik lah, jika tidak ada hal lain ,kami permisi dulu !" Edward segera masuk ke dalam mobil dengan rasa santun nya , sementara Juwi hanya diam saja melihat kepergian mobil Edward yang diiringi para pengawalnya.


"Bagaimana dengan pesta besok , dan kau sudah mempunyai calon istri, dan calon istri itu adalah Elisa, orang yang sudah menelantarkan perasaan kak Dimas"


heh, Juwi sedikit terkekeh membayangkan semua itu , ia merasa tidak percaya dan sangat kecewa, karena Edward adalah seorang pria yang sudah menaruh kesan di hatinya sejak pertama ia bertemu, meskipun ia tahu tadinya Edward sudah mempunyai istri toh mereka sudah bercerai.


Tapi mengapa, kini tiba-tiba Edward mempunyai calon istri dan itu Elisa .


"Mengapaaaaa......." sedikit teriak Juwi tampak kecewa ,Di jalanan itu masih banyak kendaraan yang berlalu lalang , namun tak terasa bagi Juwi , pikirannya sunyi dan terasa sakit...


Tanpa sadar air matanya menetes , gadis muda itu benar-benar terluka.


_


_


_


_


_


_


_


_


Di dalam mobil


"Apa dia baik-baik saja ?" Elisa membuka pembicaraan yang sempat terhenti.


"Dia..maksudmu Juwi ?"


"Iya, Juwi ,apa kalian sudah saling mengenal ?"


"ya, Dia adalah wakil perusahaan As Berlian, mereka mengajukan kontrak kerja sama, di situ aku mengenalnya" jawaban Edward tegas namun tatapan matanya tertuju ke depan, ia tahu Elisa sedikit menaruh curiga.


Kenapa tidak mau melihatku? " Apa kamu menerima kerjasama nya?" tambah Lisa lagi.

__ADS_1


"Iya aku terima, "


"Tadi sepertinya Juwi ingin membicarakan sesuatu, tidak mungkin soal pekerjaan kan?"


"He, kamu berfikir apa sayang?" tiba-tiba Edward menarik tangan Lisa dan memeluk nya erat.


"Kenapa kamu memeluk ku ? cepat lepaskan!" sedikit memberontak Elisa mencoba memukul-mukul Edward.


"Apa kamu cemburu?"


"Cemburu? heh cemburu apanya , aku tidak cemburu sama sekali " Elisa segera melepas pelukan Edward dan bergeser sedikit jauh dari pria yang kini sedikit tertawa melihat wajah jutek Lisa.


"Kamu cemburu"


"Aneh"


"Maaf tuan , kita sudah sampai " ucap supir memberhentikan mobilnya di depan sebuah gedung mewah berwarna biru nan megah.


"Ayo turun ! kita sudah sampai !" Edward segera mengangkat tubuh Lisa dan mendudukkan nya kembali ke atas kursi roda yang di bawa oleh Rena.


Tatapan mata Lisa langsung tertuju pada gedung yang ada di hadapannya, ia belum pernah melihat gedung itu sebelum nya.


"sebenarnya kita mau ngapain sih kemari ?" masih dengan kata penasaran Elisa bertanya sangat kesal.


"selamat datang tuan , semuanya sudah di atur , silahkan masuk!" seorang pria paruh baya datang dengan pakaian rapi mempersilahkan mereka masuk.


Edward segera mendorong kursi roda Lisa menuju ke aula gedung di ikuti Rena dan Dewi beserta Wisnu , sementara para pengawal yang lain berjaga di luar.


Mereka memasuki aula depan yang berdekorasi elegan, tak banyak orang di sana hanya ada beberapa pelayan, gedung itu sedikit mirip dengan hotel ataupun restoran karena banyak meja dan kursi yang tersusun.


"Wah , Akhirnya pak Edward datang !"


"Jordi" cetus Lisa ketika Jordi tiba-tiba ada di sana.


"Iya, selamat siang Bu Elisa" dengan tersenyum ramah Jordi menyambut kedatangan Elisa.


"Sudah pak, semua sudah beres "


"Baguslah , emp pak Wisnu tolong atur posisi yang sudah saya suruh tadi ya!"


"Segera tuan " Wisnu segera bergegas setelah mendengar perintah Edward, sementara Elisa tidak senang .


"Dimana wanita cerewet itu ?" tanya Edward tiba-tiba pada Jordi.


"Apa Delta juga ada di sini?" sambung Elisa sangat peka.



"Aku hadir pak !"seorang wanita tersenyum seraya berlari kecil menghampiri mereka.


"Maaf ,saya sedikit terlambat pak !" jawab Delta tampak terengah-engah.


"Kamu darimana saja ha?" Celetup Jordi sedikit mengetuk kepala Delta.


"Aduh, sakit tahu ...


"Hey yyyyy.......sebenarnya ini ada apa sih ?" teriak Lisa memusatkan perhatian semua .


"Delta, kamu kenapa ada di sini juga ? kita ini mau ngapain disini ha? pakaian kalian semua resmi sedangkan aku ...apa kalian mau mengerjai aku...


"Aapa..pak bos tidak memberitahu?"


"Sttttttt"tatapan Edward tajam memberi kode pada Delta

__ADS_1


"Beritahu apa?" Elisa benar-benar terlihat kesal tatapannya sangat tajam melirik Delta dan Jordi sementara Edward bersikap tenang di belakangnya.


"Tenang lah Elisa , nanti juga kamu tahu " Edward mengusap bahu Lisa yang jelas marah.


"Delta bawa dia segera!" tambah Edward mendorong kursi roda Lisa untuk berpindah tangan ke Delta .


"Siap " Delta segera mendorong Elisa di ikuti Rena dan Dewi yang terlihat cengar-cengir menyaksikan semua itu.


"Aku mau dibawa kemana ?" Elisa masih bernada tinggi sementara Delta terkekeh tak peduli, ia terus mendorong Lisa memasuki sebuah ruangan .


"Jordi ,apa Ibu sudah datang ?" tanya Edward pada Jordi yang masih berdiri di dekatnya.


"Bu Direktur sudah ada di ruang resepsi Tuan "


"Baguslah , Bagaimana Dengan Dia....?"


Nada bicara Edward begitu sendu , baru kali ini Jordi menyaksikan pria angkuh yang kini tampak lembut dan kaku.


"Maksud anda pak Direktur, kami sudah mengatakan padanya begitu juga dengan Ibu nya pak bos, Tapi. ...


"Sudahlah tidak masalah, dengan atau tanpa dia acara ini akan tetap berlangsung,"


"Iya pak , Mari saya antar ke dalam!"


Sedikit menggelar nafas kasar Edward melangkah menuju ruang utama yang berbelok arah dari tempat semula mereka berdiri.


sementara di dalam ruangan lain Elisa di suguhkan sebuah lemari lebar yang dipenuhi gantungan gaun pengantin yang indah , kemudian di sana juga ada satu kaca besar dengan meja yang di penuhi alat rias serta perhiasan yang bertaburan.


"Apa melihat semua ini kamu mengerti?" ucap Juwi berjongkok di samping Elisa yang masih terdiam.


apa maksudnya ini ? apa ini sebuah pernikahan, Elisa tak habis pikir akan semua itu.


"Hey , kenapa diam? kamu ngerti gak ?"


"Jadi apa ini untuk acara pernikahan ?"


"Ya ampun Lisa, kamu itu ,masa gak ngerti-ngerti sih ?" Delta segera berdiri dan melirik pada Rena dan Dewi untuk membantu memilihkan gaun pengantin.


"Sebenarnya pak bos menyuruhku untuk mencari make over handal sih , hehe berhubung aku ada jadi biar aku aja yang dandanin kamu yah !" senyum licik delta yang mengejek itu makin menjadi.


"Dia benar-benar akan menikahi ku kah ?" Elisa masih tidak percaya akan hal itu.


"Elisa , sadar dong , sudah jelas dia akan menikahi mu , dan itu harus .. kalian kan sudah....


"Delta.....


"Hehe.... sudah-sudah ini hari bahagia mu , jadi kamu harus terlihat cantik oke"


"Bagaimana dengan gaun ini non " Rena tampak memperlihatkan sebuah gaun berwarna putih dengan renda yang di penuhi banyak mutiara .


"emp, cari yang lain bi ,itu kurang cocok!" sahut Delta seraya menyisir rambut Elisa yang terikat.


"aku rasa semua pakaian itu tidak ada yang cocok untuk ku " tiba-tiba Elisa merasa sedih mengingat kakinya yang tak bisa berdiri , bagaimana gaun pengantinnya akan terlihat cantik jika demikian.


"Elisa, kamu jangan berpikir seperti itu " Delta tampak peduli seraya merangkul Lisa dari belakang kursinya.


"Sebenarnya gaun tidaklah penting, yang terpenting dia mencintai kamu apa adanya, dan pernikahan kalian berlandaskan akan cinta , jadi bagaimanapun keadaannya kamu akan tetap cantik Dimata dia"


"Darimana kamu belajar kata-kata itu ?"


"Elisa a....


"hehe...iya iya maaf , tapi terimakasih untuk semuanya Delta"

__ADS_1


"Sama-sama.... sekarang kita siap tempur....


"oke......


__ADS_2