Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Pilihan _


__ADS_3

Pandangan Mata yang saling terpaut serta kesaksian dari sejumlah orang yang bersitegang dengan pola pikir dan gerak semu di antara orang-orang Edward dalam ruangan itu.


Di atas hanya ada Markus dan dua anak buahnya sementara Edward masih menggenggam senjata api di tangannya dengan peluh nya yang bercucuran , di antara kiri dan kanannya jelas mereka masih bertenaga .


"Tuan .." Ucap Wisnu sedikit melangkah mendekati Edward yang diam tak bergeming menunggu jawaban Markus di atas.


"Katakan Markus , apa yang kau inginkan ?" teriak Edward sangat keras ,ia sudah sangat geram melihat prilaku pria tua itu.


"Tenang , aku sebenarnya tak ingin banyak kemauan hanya saja ,kau tahu bukan aku melakukan ini karena apa ?" Markus melangkah menuruni anak tangga dengan santai sembari memutar-mutar pistol di jari telunjuknya ringan di tambah senyum sumringahnya yang terlihat sangat licik.


"Aku sangat mengagumi dirimu nak "tambah Markus lagi di tangga terakhir.


"Cuihhh" Membuang ludah sembarang Edward sangat tak perduli bahkan jijik mendengar Markus menyebut dirinya nak.


"Heh , kau tentu lihat betapa gelisah nya wanita cacat itu bukan ?" tambah Markus lagi sengaja memancing amarah Edward sembari menunjuk ke arah Elisa yang masih duduk di kursi roda di atas tangga dengan dipegangi oleh seorang anak buah nya.


Markus meyakini meski ia kalah jumlah Edward tak akan berani berbuat macam-macam terhadapnya karena ia telah berhasil memegang kunci kelemahan Edward.


"Brengsek , jangan sampai kau melukai dia ,kalau tidak..


"Kalau tidak apa ha? , kau pikir aku takut dengan ancaman anak tengil sepertimu , sementara orang tua yang sangat angkuh dan sombong saja bisa terkapar tak berdaya oleh ku " Markus semakin mendekat dengan tawanya yang menyelimuti ruangan itu.


"Orang tua kau bilang , jadi kau ...kau yang menembak ayahku ?" jelas itu adalah hal pertama yang Edward ingat , jelas rasa curiganya selama ini benar terhadap Markus.


"Benar ...Benar sekali"


srakkkkk... serentak todongan senjata dari para pengawal Edward mengelilingi Markus dengan cepat, mereka semua jelas sangat Murka mengetahui penembakan Tuan besarnya itu ternyata di lakukan oleh Markus .


"Ow...ow.... Tunggu dulu, kalian benar para pengikut setia ya ?" dengan mengangkat tangan santai Markus bukannya takut malah mencemooh tindakan mereka , sedang ia tambah di suguhkan oleh tatapan Edward yang semakin tajam padanya.


Melihat Hal itu Markus sedikit merasa terancam kemudian ia melirik anak buahnya yang berada di atas , mengetahui hal itu ,pria bertopeng yang memegang Elisa sedikit menarik pelatuknya dan mendekatkan senjata itu sedikit keras pada bagian samping kepala Elisa sontak Elisa sedikit terpejam merasa takut menghadapi situasi itu ,begitu juga dengan Delta yang sedikit gusar dalam ikatannya ia ingin berteriak namun tak berani mengingat tangannya pula di pegang keras oleh seorang lagi pria .


Rena dan Dewi yang turut menyaksikan hal itu kini hanya bisa ikut pasrah pula mengingat mereka di ikat berdua dengan tangan dan kaki yang di ikat bersama , hal itu tak bisa memungkinkan mereka untuk bergerak , terlebih mereka kini hanya duduk bersandar di sudut dinding depan pintu kamar.


"Tembak saja Edward , jika kalian berani menembak , wanita mu di atas pula bisa merasakan bagaimana rasanya peluru , ha ha " lagi-lagi Markus tertawa akan kepuasannya.


"Kau salah Markus , kau salah "

__ADS_1


"Apa?" Markus tampak terkejut mendengar ucapan Edward yang kini mulai bergerak mengitari nya .


"Kau datang kemari dengan beberapa anak buah mu hanya menggunakan dua buah mobil saat kau mengetahui bahwa di vila ini jelas hanya ada beberapa orang saja " Edward sedikit menjauh dari Markus menuju anak tangga yang kini berada tepat di depannya sembari menatap ke arah Elisa yang berada di atas.


Mengetahui hal itu anak buah Markus sedikit memegang pundak Lisa keras tampak mengancam agar Edward tak berbuat nekat.


Elisa yang tadinya mulai merasa takut mendadak bersemangat kembali dan tak merasa takut lagi ketika di tatapnya pula Edward di bawah tangga.


"Apa maksudmu , kau ingin melihat dia mati ha?" Markus mengangkat senjatanya menodong ke arah Edward sementara di sekelilingnya para pengawal Edward termasuk Wisnu masih menodong kan pistol ke arah Markus dengan sangat tepat.


"Tidak ku pungkiri kita pernah menjadi keluarga besar , dan kau justru tahu betapa besarnya keluarga Aleksander Manopo " tambah Edward kini bersandar di tiang tangga santai melirik Markus yang kini mulai gelisah mendengar ucapan Edward.


"Hanya ini orang mu Tuan Markus ?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Edward yang kembali menatap Markus dingin.


"Kau .....


Dengan tanpa pertimbangan lagi Markus lebih dulu menarik pelatuknya menembak ke arah Edward , dengan seketika pula para pengawal menembak ke arahnya secara bertubi di susul pula tembakan yang di lontarkan dari sudut lain yang mengarah ke arah ke dua pria bertopeng di atas tangga .


Tembakan serentak dengan secepat kilat terjadi , hal itu membuat teriakan Delta keluar dan keras di atas , sementara Elisa menutup matanya kasar.


Ia hanya tidak siap menerima tembakan jarak dekat di samping kepalanya , dan bagaimana rasa sakitnya peluru akan bersarang tepat mengenai kepalanya.


"Tapi...


Di bukanya kedua mata nya dengan kedua tangan yang memegang kepala , ia tidak merasakan adanya darah yang bercucuran ataupun rasa sakit sama sekali , kemudian ia menoleh ke belakang ternyata pria yang tadi menodongkan senjata padanya sudah terkapar dengan luka tembak yang bersarang di dadanya begitu pula dengan seorang pria lagi yang menyandera Delta turut terkapar tepat di sebelah kaki delta yang gemetaran menyaksikan kejadian itu.


" Tuan...tuan...anda tertembak " Ujar Wisnu yang berlari menghampiri Edward yang sedikit tumbang di samping tangga memegang bagian dada kirinya , benar sekali tenyata Edward tertembak peluru Markus yang di bidikkan padanya tadi.


"Edward......." Teriak Elisa baru saja mengetahui Edward tertembak , dengan tanpa ragu dan berpikir panjang Elisa secara spontan bangkit dari kursi rodanya dan bisa berdiri bahkan berlari menuruni anak tangga untuk menghampiri Edward yang mulai lemah akibat luka tembak yang ia dapatkan tadi.


"Edward ... kaaa...mu kamu tertembak " Dengan cepat Elisa meraih Edward di dalam pangkuannya dan sedikit menekan luka tembak Edward yang sudah mengeluarkan darah.


"Tidak apa Elisa , ini hanya lu...ukaaa kecil "jawab Edward meraih tangan Elisa dengan sangat hangat.


"Edward,, ini bukan luka kecil , darah ..darahmu..." seketika air mata Elisa mengalir jatuh dan tumpah melihat darah Edward semakin banyak , begitu pula dengan darah yang kini keluar dari mulut Edward..


"Hey ...jangan menangis , aku tidak apa-apa Elisa , kamu tidak sadar bahwa kamu sudah bisa berlari memelukku seperti ini uhug...uhug..."

__ADS_1


"Edward.... pak Wisnu ayo cepat bawa Edward ke rumah sakit !" teriak Elisa keras memerintahkan Wisnu untuk segera membawa tuannya ke rumah sakit.


Dengan segera Wisnu dan para pengawal membawa Edward ke mobil dan membawanya ke rumah sakit dengan Elisa yang masih merangkul tubuh Edward sangat erat.


Sementara Tubuh Markus terkapar bersimbah darah dengan luka tembak dari beberapa peluru yang di tujukan oleh beberapa pengawal , Wisnu tewas dengan sangat naas namun ekspresi wajahnya masih menyatakan kepuasan yang mendalam karena terakhir hembusan nafasnya ia berhasil melihat Edward jatuh dengan tembakan darinya.


Beberapa pengawal yang lain membereskan perkara yang ada sementara di atas lantai atas terlihat Delta yang kini melemas terduduk tak kuat , tubuhnya bergetar hebat sangat ketakutan menyaksikan pertumpahan darah benar-benar terjadi di depan matanya , ia yang tadinya hanya pegawai ceria biasa hanya menghabiskan waktu dengan canda kebosanan kota kini menyaksikan pengalaman mengerikan itu jelas itu kali pertama dan bisa membuat jantungnya hampir berhenti berdetak.


"Delta...Delta....hey kamu tidak apa-apa?" seorang pria berlari menaiki anak tangga datang menghampirinya dengan sangat khawatir sembari memegang senjata di tangannya.


Delta yang kaku ketakutan menatap kedatangan pria itu dengan tatapan lemah dan takut.


"Delta , apa kamu baik-baik saja ?" pria itu berjongkok dan memegang pundak Delta yang masih menatapnya , di lihatnya tatapan Delta saat itu seperti kosong kemudian pria itu mengguncang tubuhnya sembari berkata.


"Delta..kamu sudah aman sekarang , aku akan melindungi mu , ini aku Jordi "Mendengar ucapan itu Delta sedikit bergeming.


"Jordi" ucap nya lirih kemudian ia jatuh terkulai tak sadarkan diri dalam pelukan Jordi , hal itu seketika membuat Jordi kaget dan berusaha menyadarkannya .


"Dia pingsan " ujar Jordi segera membawa Delta di atas pangkuannya.


"Pak apa perlu bantuan ?" tanya seorang pengawal yang naik memeriksa keadaan di atas.


"Bantu buka ikatan kedua pelayan itu !"jawab Jordi tak lupa memerintahkan pengawal untuk menolong Rena dan Dewi yang juga menjadi korban sandera .


Sementara itu Jordi segera membawa Delta ke dalam mobil nya dan turut melarikan nya ke rumah sakit menyusul Edward yang sudah lebih dulu di bawa ke rumah sakit.


Bersambung.....


Hay... author menyapa lagi nih. terus simakin ceritanya yah dengan like dan vote serta Krisan dari para readers semua😀😀


Author Butuh banget dukungan dari teman sekalian untuk tetap setia tanpa bosan dan jenuh menuggu up dari cerita ini ..


Buat kalian semua author ucapkan banyak terimakasih ......



Jordi Albenta

__ADS_1


__ADS_2