
"Apa ini benar , aku gak percaya kaku Bu Elisa itu ternyata bukan wanita baik-baik?"
"Iya, coba deh lihat ,kabar nya begini ,!" beberapa orang tengah bergosip di pojok ruangan.
"Dia ternyata hanya wanita penghibur !" sambung seorang karyawan wanita mencela.
"Pantas saja dia terlihat sangat dekat dengan pak Edward, ternyata ada mainnya " jelas karyawati lainnya.
Tap...tap...Tap...langkah kaki Elisa mantap keluar dari lip menuju kedamaian orang\-orang yang bergosip.
"Heh, itu dia panjang umur !" celetup seorang wanita sinis menatap Elisa tak seperti biasanya.
Senyum Elisa yang tadi nya terpancar indah tiba tiba saja berubah cemberut dan aneh ,menandakan sangat bingung dengan keadaan, semua tatapan mata tajam dan sinis menerpa dirinya , jelas terdengar bahwa orang-orang itu berbisik tentang nya.
"Elisa !" teriak seorang wanita terdengar dari ujung ruangan.
Delta ,tatapan Lisa dan yang lain pula turut menuju ke arah delta yang sedikit melambai-lambai kan tangannya.
Elisa segera melangkah mendekati delta yang masih melambai .
"Kemari lah !" ujar delta sedikit pelan dengan mulutnya yang di buka lebar perlahan.
"Ada apa delta ?" tanya Elisa bingung .
"Kau lihat ini !" jawab delta seraya menyodorkan ponsel dengan gambar dan berita mengenai dirinya dan pak Edward , Elisa baru sadar bahwa itu semua yang di lihat orang kantor sehingga ia jadi perbincangan.
Mata Lisa kemudian melirik delta yang juga menatapnya aneh saat itu. " apa kau percaya soal ini ?" tanya Lisa tiba-tiba langsung pada delta.
"a..apa ? " Delta sedikit ragu dan bingung harus bicara apa ,sedang dia memang sedikit tidak percaya dengan kabar yang beredar ,namun..
"Delta,,,!" nada bicara Elisa sedikit di tekan ,membuat delta tidak nyaman.
"Jika itu benar ,apa kamu akan menjauh dan membenciku Del ?" tambah Lisa melanjutkan kata, membuat delta canggung tak tahu harus bicara apa.
"Elisa , ikut aku !" tiba-tiba seorang pria datang memecah keheningan .Edward.
"Baik !, ujar Elisa tanpa basa-basi mengikuti Edward pergi dari sana, sementara delta tak bergeming sedikitpun , mewanti-wanti jawaban tentang Elisa yang ada dalam pikirannya, sedang karyawan lain jelas terdengar masih berbincang membicarakan Elisa.
_
_
_
__ADS_1
_
_
_
Edward melangkah menuju keluar kantor mendekati parkiran , "maaf pak ,sebenarnya kita mau kemana ?" tanya Lisa tak ingin penasaran.
"Aku ingin pulang !" jawab Edward sedikit lesu tak seperti tadi saat ia mengajak Lisa pergi.
"Apa Bapak baik-baik saja ?" tanya Lisa sedikit khawatir melihat Edward yang tampak tak sehat.
"naik lah !" jelas Edward tak menggubris malah membuka pintu mobil agar Elisa segera masuk, dengan terpaksa Elisa pun menurut dan masuk k dalam mobil ,begitu juga dengan Edward.
Brooommmmm...........
Mereka pergi meninggalkan kantor siang itu .
tatapan Lisa masih tertuju pada Edward yang fokus menyetir.
Sesekali ia tampak melihat ponselnya untuk menghilangkan ke canggungan.
"Jangan suka melihat berita !" tutur Edward seketika membuat Elisa meliriknya.
Heh,jadi dia sudah tahu soal berita itu. " apa kau tahu sumber informasi nya ?" ketus Lisa langsung pada inti nya.
"Bagaimana tak lihat ,jika orang sekantor susah membicarakan nya , aku sampai malu berjalan jika di tatap seperti itu !" keluh Lisa aneh ,entah perasaan itu layak di sandang nya saat ini ,mengetahui dia memang benar wanita yang seperti di bicarakan ,bahkan dua tak menyangkalnya.
"hufff. hahaha...ha..." tawa Lisa tiba-tiba saja pecah mengingat itu semua ,membuat Edward kaget dan menatapnya dalam.
"Apa yang kau tertawakan ?" tanya Edward bingung dengan sikap Lisa yang berubah seketika.
"Maaf ,..hhaha, aku hanya merasa lucu ,sebenarnya apa yang terjadi padaku ,kenapa juga aku harus cemas dan takut serta malu prihal berita itu ,heh bukan kah itu semua adalah benar ...
"Dan lagi ,aku , aku juga kan bukan wanita karir ,kenapa aku merasa takut karir ku akan terancam karena itu ..haha..itu gila !" Elisa tak henti-hentinya mentertawakan dirinya sendiri, sementara Edward masih menatapnya dan...
...ckitttttttzzzzz.......seketika edward menginjak rem mendadak ,membuat Elisa sedikit kaget dan nyaris kepalanya terantuk.
"Apa yang kau lakukan ?" sedikit teriak Elisa menatap edward yang jelas sengaja mengerem mobilnya mendadak, sementara melihat ke depan jalanan kosong dan sepi ,menandakan tak menabrak apapun.
"Heh, kau sudah puas tertawanya ?" tanya edward seketika membuat Elisa tambah bingung.
Aneh, apa dia marah jika aku tertawa ,itu semua benar kan . "Apa maksud bapak ?" tanya Lisa mengalihkan pembicaraan seraya menjangkau pintu ingin keluar mobil namun Edward menarik tangannya kuat.
__ADS_1
Cup...
cup...
Edward mencium paksa Lisa yang kaget, kemudian tersadar dan ingin segera melepaskan ciumanannya ,namun Edward menahan kuat tubuhnya dengan pelukan erat.
pria ini apa maksudnya? batin Lisa memaksa mencoba melepaskan ciuman kasar edward.
"Lepas !" ujar Lisa ketika bebas dari ciuman Edward yang di lepasnya.
"Kau ini apa-apa an sih ? " wajah Lisa tampak kesal dengan perlakuan edward yang kembali kasar padanya .
"jangan keluar !" cegah Edward kembali menarik tangan Lisa yang berusaha ingin keluar mobil .
Elisa segera menoleh pada Edward yang nada bicaranya pilu ,"Kau ini kenapa? apa semuanya baik-baik saja ?" ketus Lisa kesal namun sedikit panik melihat wajah dingin Edward berubah memprihatinkan.
Edward saat itu menang terlihat sangat kurang baik ,sakit kepalanya mulai terasa dan kambuh ,namun ia berusaha menutupinya agar tak terlihat lemah di mata Lisa.
"Jadi benar kata Jordi ,kau tidak sehat !" ujar Lisa memegang kepala Edward yang terasa memang sedikit panas.
"Apa kau masih sanggup menyetir ?" tanya Lisa seraya melirik sekitar yang sangat sepi.
"Di sini tidak ada toko ataupun apa gitu ?" tambah Lisa seolah bergumam sendiri ,sementara Edward masih memperhatikannya.
"Aku masih bisa menyetir " jawab Edward seketika menyalakan mobil nya dan melaju kembali .
"Apa kau yakin !" tatapan Lisa sangat khawatir membuat senyum terbesit di wajah Edward yang semangat kembali.
Vila_
"selamat datang Tuan ,non Lisa !" sapa Rena yang menyambut kedatangan mereka.
Elisa sedikit tersenyum dan segera masuk menuju dapur sedang Edward segera naik ke kamar untuk beristrirahat .
",Non apa ?" tanya Dewi di dapur kaget melihat Lisa yang menyalakan kompor untuk memanaskan air.
"Mau buat air kompresan bi " jawab Lisa mantap.
"Buat apa di buat non, itu air hangat ada di termos panas, juga kenapa tidak pakai air dingin non, memang nya apa yang mau di kompres ?" tanya Dewi heran.
"Tuan Bi ,seperti nya dia kurang sehat " jawab Lisa masih menatap air yang ia masak di kompor .
"Tuan sakit ?"
Lisa tampak mengangguk sementara Dewi mulai khawatir " apa di sini tidak ada daun (........pegagan..........) untuk meredakan demam bi.? " tanya Lisa menanyakan sejenis tanaman herbal yang biasa di gunakan orang tua dulu untuk mengompres orang yang terkena demam dengan suhu tinggi ,agar panasnya turun, daun tersebut memiliki sensasi dingin bila di masak dalam air yang mendidih akan menimbulkan warna yang tadinya hijau kemudian menjadi merah kehitaman.
__ADS_1
"Ada non, bibi kebetulan menanamnya di belakang , bibi ambil dulu yah ?"...
syukur lah bila ada , huggg..hari akan terasa panjang jika Edward sakit dalam keadaan seperti ini ! ,