
Malam Berbintang di hari itu , Menunjukkan pukul 21.30 , Elisa Menyandar di bangku depan Mobil di sebelah Edward yang tengah mengemudi, Tak ada suara sedikitpun dari mereka berdua, tatapan Edward jelas tertuju pada jalanan sementara Elisa sedikit menengadahkan muka nya seraya terpejam.
Sesekali Elisa menarik nafas panjangnya dan menghembuskan nya pelan, Kedua pasang mata Edward jelas sekali melirik dan memperhatikannya.
Sedikit terpikir di hati Elisa saat meninggalkan kediaman Aleksander itu tanpa berpamitan dengan siapapun, apa tidak akan ada orang yang bertanya ataupun bercerita tentangnya, bagaimana dengan ibu nya Edward, Lalu dengan Dimas yang saat itu jelas melihat Elisa pergi mengikuti Edward . " ah..terserahlah !" ketus Lisa keluar pelan dari bibirnya jelas Edward mendengar dan menoleh.
Uppsz, Tatapan mata Lisa pun tertuju pada pria di sampingnya yang jelas memperhatikannya seraya menyetir.
"Kau memikirkan dia kah ?" ujar Edward kembali menoleh ke depan, berusaha fokus pada jalanan yang kini hampir sedikit lampu jalannya, mereka hampir sampai ke vila.
Dimas maksudnya ?" Apa kau beri tahu ibu kita akan pulang !" Elisa mencoba mengalihkan pembicaraan .
Tin...tin....tin.....
Klakson yang Edward tekan beberapa kali saat mereka sudah tiba di depan gerbang.
krett.......ddddd...
Pintu gerbang di buka oleh seorang penjaga, segera mobil hitam mewah itu masuk dan menuju garasi.
"Selamat datang Tuan dan Nona !" sapa seorang wanita yang tak asing.
"Bi Rena sudah pulang !" ujar Lisa sangat senang karena Rena sudah kembali .
" iya ,Belum lama non Lisa pergi tadi ,bibi sampai !" jawab Rena tersenyum bahagia ,jika Elisa tampak merindukannya.
"Bawa dia masuk bi !" sambung Edward menuju halaman.
"Baik tuan, ayo Non kita masuk dulu !' sedikit Rena meraih tangan Lisa mengajaknya masuk,namun Lisa seakan enggan beranjak ketika tatapannya tertuju pada Edward yang malah pergi ke luar halaman.
Dia mau kemana? bibirnya di katup kan penasaran, sementara Rena segera menariknya ke dalam .
"Wah ,non Lisa sudah pulang !" sapa Dewi yang baru keluar dari kamarnya.
"Iya Bi , !" singkat Elisa melepas sepatunya.
"Oh yah Non, ini bibi mau membalikkan uang Non yang waktu itu bibi pinjam !" tambah Dewi mengeluarkan amplop sedikit tebal dari dalam saku bajunya.
"Uang apa Bi ?" Elisa mengangkat kepalanya lupa .
"itu Non, !" Mata Dewi mengedip ke arah Rena yang kini tengah mengambilkan minum untuk Elisa.
Rena, "Oh uang itu, aduh sudah lah bi, tidak usah di kembalikan !" Elisa bangkit menolak amplop dari Dewi " sebaik nya bibi simpan saja uang ini, untuk keperluan bibi yang lain nya , aku ikhlas Bi menolong bibi !" tambah Lisa mengusap bahu Dewi yang malu dan tidak enak hati.
"Tapi Non ..."
"Sudah bibi simpan saja, aku mau ke atas dulu capek !" Elisa segera berlari ke tangga menuju kamar.
"Non Lisa mana ?" tanya Rena baru datang membawakan segelas air. "Itu amplop apa ? " mata Rena tertuju pada amplop di tangan Dewi.
"Non Lisa sudah ke kamar, emp ,ini aku waktu itu pinjam uang nya non Lisa, tapi aku mau kembalikan dia menolaknya !" ujar Dewi sedikit lesu .
"Sudah ,kamu simpan saja , Non Lisa itu memang orang yang baik ." jelas Rena sedikit tersenyum.
"Aku akan mengantar minuman ini dulu padanya !' tambah Rena seger berlalu menuju ke kamar atas ,sedang Dewi masih memikirkan uang yang di tolak Lisa seraya kembali ke kamarnya.
Di sudut lain pembicaraan mereka tadi jelas di dengar Edward yang kini masih berada di ambang pintu.
__ADS_1
Edward sedikit tersenyum juga menuju kamar atas.
"Dia sudah tidur Bi ?" tanya Edward pada Rena yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Eh Tuan, itu Non Lisa sedang mandi !" jawab Rena canggung.
"Malam begini mandi , apa tidak masuk angin !" ketus Edward segera masuk ke dalam kamar.
Rena yang canggung dengan tingkah majikannya segera pergi meninggalkan kamar itu, Janggal bagi mereka yang tinggal di rumah itu jika menilai hubungan Edward dan Lisa, tapi apa boleh buat itu bukan lah urusan mereka , Dalam hati Rena sudah menyukai Elisa walau bagaimanapun setatus nya.
byurrrr. ..byur......surtttr....
Guyuran air jelas terdengar dari dalam kamar mandi ,Edward segera mengganti pakaian nya kemudian duduk di sofa dalam kamar itu, di raih nya ponsel dari atas meja.
Cklek...
Elisa baru saja keluar kamar mandi dengan Handuk putih menutup tubuhnya, kapan dia masuk ? gumamnya dalam hati seraya menuju lemari untuk berganti pakaian.
Di ambilnya gaun malam panjang berwarna hitam, Gaun itu adalah gaun lama miliknya, sudah lama pikirnya tak memakai gaun itu ,teringat saat berada di rumah Kota T.
"Ini sebaiknya kau simpan di lemari Kerja saja !" Ujar Edward mengeluarkan piala dari dalam tas yang di bawakan Wisnu tadi.
Piala, Heh..aku tak menyukainya . Elisa menoleh sebentar kemudian segera berganti pakaian , Edward yang tadinya menoleh kini sedikit berbalik tak ingin melihat Lisa, begitu canggung bagi nya untuk kali ini melihat Lisa yang berganti pakaian di hadapannya, sedang Lisa tak peduli lagi ,toh seluruh tubuh jelas tak ada yang bisa ia sembunyikan lagi.
Sudah berganti pakaian Elisa segera menuju meja di dekat tempat tidur, ia mengambil gelas air minum yang di bawakan Rena tadi kemudian segera meminumnya.
mulai mengantuk , segera Elisa duduk dan kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Bisa kita bicara dulu sebelum kau tidur ?" ucap Edward segera mendekat pada Lisa yang baru ingin menutup mata.
Brukkk...
Tubuh kekar itu seolah di jatuhkan pasrah pada tempat tidur yang empuk itu, Elisa sedikit bergeser saat di dapatinya Edward tengah berusaha berbaring di sampingnya.
"Besok kau harus ikut ke kantor ,banyak berkas yang harus kau Tanda tangani !" ucap Edward menoleh Lisa yang posisinya membelakangi.
Ikut ke kantor, malas banget. bisa tidak jika aku tidak perlu ke kantor kantor lagi.
"Delta sudah menyusun semua berkas nya ,kau tinggal tanda tangani saja ,!" tambah Edward masih menatapnya.
Delta, heh , itu lah alasan yang masih ku pertimbangkan. " Baik lah, besok saja yah kita bahas nya, aku ngantuk ?" jawab Lisa begitu ketus seraya menarik tinggi selimutnya.
"Bisa kah kita ulang semua ini dari awal !" Edward segera merangkul Lisa dari belakang tidurnya, sontak Elisa sedikit terkejut dan risih namun agaknya ia menyembunyikan perasaan itu.
"Apa yang kau lakukan ?" ujar Lisa pelan berharap Edward melepaskan rangkulannya, dagunya ia angkat agar nafasnya tak mengenai tangan Edward, bisa tahu dia jika nafasku sangat tak beraturan, Elisa berusaha menarik nafas dalam ketika detak jantungnya juga bertambah cepat.
"Aku ingin kita mengulang semuanya dari awal !" jelas Edward mempertegas kata seraya mengeratkan rangkulannya.
__ADS_1
Apa yang ingin kau ulang dari awal, heh. kau ingin mengembalikan aku ke klub itu kah, atau ...
"Jadi lah seperti biasa nya !"
Deg.....
Lagi-lagi kata - kata itu terngiang di telinga, Elisa yang saat itu fokus menatap ke arah lampu redup di meja depannya tiba-tiba saja terpejam dan mengeluarkan air mata hangatnya.
Kau ingin aku selalu menjadi seperti biasanya, sementara aku tidak tahu lagi bagaimana diriku yang sebenarnya, entah itu nyata atau ku buat semuanya sama , bagaimana keadaanku yang biasanya ,bagaimana ? aku lupa.....
eheg ..eheg....nggg....
Air mata Lisa mengalir lebih cepat, semua itu di rasakan oleh Edward karena tubuh Lisa bergerak dan bergetar meski tanpa suara ia menangis.
"Elisa, Kau kenapa ?" tanya Edward bingung menghadapkan tubuh Lisa yang membelakanginya.
"Apa ada yang sakit ?" tanya Edward segera memeriksa kening Lisa untuk memastikan suhu tubuhnya, sementara Elisa masih menangis tak perduli, entah apa yang membuatnya terus menangis tanpa henti meski kini ia tengah berada di hadapan edward.
"Badanmu tidak panas, apa ada bagian lain tubuh mu yang sakit , aku akan panggil Bu Rena kemari !" ucap Edward segera bangkit ingin keluar .
"Tunggu !" tangan Lisa mencegah nya dengan tarikan yang kuat,Edward menatap Lisa berat dan sedikit bibir bawahnya iangin menyatakan kesenangan akibat tangan Lisa yang menyentuhnya.
"Aku tidak apa-apa, !" jawab Lisa pelan berusaha menghentikan tangisnya dengan segera mengusap air mata.
Bodoh, apa yang kulakukan? untuk apa aku menangis di hadapan pria brengsek ini ! gumam Lisa segera berbalik kembali membelakangi Edward, sedikit kehampaan Edward saat tangan Lisa melepaskan pegangannya.
"Benar kau tidak apa ?" tanya Edward bingung tapi sedikit senang jika Lisa tidak apa-apa.
Dengan anggukkan kepala Lisa berkata iya, Edward kembali berbaring di sebelahnya ,mengangkat selimut dan menyelimuti Elisa kembali.
Sebenarnya apa yang membuat dia menangis seperti itu ? pikiran Edward jelas bingung dan penasaran ,baru itu ia melihat Elisa menangis begitu lain dari pada tangisan nya pada saat dia memperlakukan Lisa kasar, sedikit tersentak di batinnya mengingat itu semua.
"Maaf jika aku menyakitimu ! " ucapan itu tiba-tiba saja keluar dari bibir edward seraya merangkul Lisa kembali.
Maaf, Benarkah kau meminta maaf ? Lisa yang tadinya berusaha mengontrol diri dari tangisnya kemudian menangis kembali.
"Bisa kah kita berdamai Lisa !" tambah Edward mengecup bahu Lisa yang terbuka.
Kecupan hangat itu membuat Elisa sedikit merasakan sensasi ketenangan, Berdamai ?
Sedikit tidak percaya Elisa berbalik menatap ke arah Edward yang jelas menunggu semua itu, ingin sekali Edward melihat bola mata Lisa yang sudah lama tak ia lihat dari dekat ,
"Boleh aku bertanya sesuatu padamu ?" ucap Lisa jelas menatap Edward yang juga menatap nya serius.
"Apa ?" singkat Edward membelai rambut wanita yang kini berada dalam pelukkannya.
"Kau sekarang Menganggap ku apa ?" tanya Lisa penuh keberanian di dalam hatinya.
Mata Edward sedikit membulat dengan pertanyaan Lisa yang seperti itu , dia bingung harus menjawab seperti apa ,sementara di dalam hatinya saat ini Elisa adalah seorang wanita yang mampu merubah hidupnya, dari yang tadinya malas bekerja kemudian giat bekerja, dari yang tadinya tidak ingin bergaul jadi lebih bisa banyak bicara pada semua orang, karena adanya dirimu aku bisa lebih dekat dengan ibuku ,karena dirimu hidupku lebih berwarna..
"Heh, ku rasa pertanyaanku sangat mudah ,tapi kau tidak bisa menjawabnya !" ketus Lisa kesal ingin berpaling namun Edward segera .....
eeeeeee.........cup.....
__ADS_1
Bibir Lisa terkunci dalam kecupan pria itu.....
Dia, ..dia selalu seperti ini.....