
Pesta pernikahan yang sudah Edward persiapkan tanpa sepengetahuan Elisa itu berlangsung sangat mewah meski tak banyak tamu yang di undang , namun ada sedikit sekandal dari luar yang mendatangkan banyaknya wartawan yang ingin meliput hari bersejarah itu.
Mereka Menyerbu gedung dimana Edward melakukan resepsi pernikahannya tanpa mengkonfirmasi dulu , wajar saja karena Edward adalah nama besar yang sudah di kenal di kota X tersebut terlebih dia adalah anak semata wayang dari Aleksander Manopo yang mempunyai perusahaan perhiasan terbesar di kota tersebut.
Sampai kini belum tahu jelas siapa penyebar berita itu , Jordi dan para pengawal di luar sedikit kewalahan menghadapi beberapa wartawan yang bandel hingga kemudian di luar gedung ada beberapa orang yang berteriak.
"Coba lihat , Itu mobil tuan Aleksander "
Sedikit terhentak kaki Jordi yang tadinya kokoh membantu menghadang para wartawan yang masih nekad menerobos meski mendapat ancaman daripada pengawal , kini wartawan itu berhamburan menuju tiga buah mobil mewah berwarna putih yang baru saja tida memasuki halaman gedung.
"Itu Tuan Direktur pak " ucap ketua pengawal pada Jordi yang jelas tahu dan jujur saja sempat kaget , di pikirannya ada dua kemungkinan dimana Aleksander datang untuk merestui pernikahan tuan Edward ataupun menentang nya .
sedikit tegap kasar Jordi menghela nafas dan bergegas menghampiri mobil yang baru saja datang tersebut.
"Tuan...tuan...apa ini pernikahan tuan muda Edward?" tanya seorang wartawan nakal menyelinap menghampiri Aleksander yang baru saja turun dari mobil sembari menggandeng seorang wanita , Duma istri keduanya.
Mereka berdua mengenakan pakaian resmi dengan warna yang sama .
"Tuan , mengapa acaranya tidak di umumkan dan harus sembunyi-sembunyi " teriak wartawan lagi menimbrung, namun beberapa pengawal sigap dengan menepis beberapa di antara mereka.
"Amankan Tuan besar dan nyonya " teriak kepala pengawal yang mengikuti Jordi.
"Selamat Datang pak Direktur "sapa Jordi membungkuk memberi hormat.
"Aku terlambat kah ?" jawab Alek membuat Jordi sedikit mendongak heran akan perkataan Alek.
"Em..maaf pak , acaranya sudah di mulai dari tadi , pak Edward dan Bu Elisa sudah resmi menikah " ucap Jordi sedikit ragu namun dia harus lebih dulu memberitahu kan hal itu pada Alek wanti-wanti ada kejadian yang terjadi di luar keinginan.
"Hemm" Alek tak berkomentar terlebih Duma yang diam saja seraya menggandeng lengan baju Alek mereka masuk menuju gedung di iringi beberapa pengawal.
"Pak...pak beri komentar sedikit"
"pak siapa calon istri Tuan edward?"
"Minggir...... Pergi kalian....kalian.....!!"
Alek di kawal sedikit ketat sementara Jordi mempersilahkannya masuk menuju ruang Aula dimana tempat acara itu berlangsung.
Dengan santai Alek dan Duma masuk meski tanpa raut wajah yang tersenyum.
_
__ADS_1
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
"Akhirnya kau datang " ucap Zelin melangkah sedikit lebih cepat menghampiri Alek dan Duma.
Edward yang sedikit sibuk berbincang basi dengan Dimas pun sedikit kaget melihat kedatangan ayahnya itu, begitu pula dengan Elisa yang kini berubah haluan menatap dimana orang tengah memandang.
"Ayah" lirih Edward berkata di sela minumnya.
"Kenapa kau datang begitu lama , mereka baru saja meresmikan hubungannya " tambah Zelin sampai di hadapan Alek.
"Maaf kak , tadi kami terkena macet di jalan " jawab Duma manis sedikit tersenyum kemudian ia melepas pegangan tangannya tadi yang seperti permen karet yang menempel.
"Ayo , segera beri restu dan ucapan selamat untuk anakmu , bukankah kau datang untuk itu " tambah Zelin masih fokus pada Alek yang tak segera menjawab , tatapan matanya tertuju pada Edward yang juga memandang ke arahnya.
sementara para tamu yang lain hanya diam tak berani bersuara terlebih menggunjing hal yang ada walaupun mereka sangat ingin , namun tatapan mata mereka tak bisa menipu satu sama lain , tetap saja tatapan itu mencela apa yang terjadi.
Bisa di bilang meski keluarga Edward adalah keluarga kaya dan mempunyai kedudukan tinggi tetap saja keluarga nya bisa di bilang keluarga yang hancur , Ayahnya sendiri memiliki wanita lain dan Edward pula sempat dikatakan seperti itu meski jalan ceritanya berbeda, Hidup mereka bisa bebas lantaran mempunyai kekuasaan dan mau seperti apapun Mereka-mereka yang masih bergantung pada keluarga itu harus setia dan tidak memperburuk keadaan terlebih lagi Edward juga sama sekali tidak merugikan mereka.
Itu pikiran baik di antara yang lain nya dalam hati mereka yang teguh kesetiaannya, namun ada beberapa yang tak puas akan kebaikan malah berkhianat lantaran mereka terus saja merasa kekurangan.
"Baguslah jika berjalan lancar , antar aku padanya " ucap Alek menyodorkan tangan nya pada Zelin yang ada di hadapannya itu ,sementara Duma sedikit melangkah mundur ,entah mengalah malu ataupun berpura ia hanya tersenyum seolah mempersilahkan tangan suaminya meraih tangan wanita lainnya meskipun itu adalah istri pertama Alek.
__ADS_1
Zelin segera menyambut tangan Alek dengan santai , "Ayo Duma, kau juga harus memberi salam pada Anakmu itu " tambah Zelin menoleh kebelakang berlapang dada meraih tangan Duma untuk di gandeng nya pula.
"Terima kasih " jawab Duma tidak menyangka kehadirannya diterima ,itu adalah momen langka di hidup nya ,ia selama ini tak banyak bicara dengan Zelin dari awal kehadirannya karena Zelin langsung memilih pisah rumah tanpa bercerai di banding menerima serumah dengan dirinya , walaupun bertemu Duma malah tak ingin bicara dan berisi keras menjauhkan Zelin dengan Alek.
kini mereka berdampingan melangkah di tengah-tengah tatapan orang yang berkumpul .
"Selamat datang Pak Direktur" sapa beberapa tamu dan karyawan yang hadir.
"Terimakasih , lanjutkan acaranya " jawab Alek kemudian pesta pun kembali membaurkan suara ramai kembali.
Brangkkkkk..........Tiba\-tiba kaca jendela lantai Dua gedung itu pecah di Tumbur sebuah benda kecil yang bergerak cepat seperti di bawa angin.
Tapbzzz........
Sebuah peluru kecil menembus dada bagian tengah Aleksander yang sedang melangkah tersenyum menghampiri anaknya.
Peluru itu tepat mengenai jantung Aleksander dan spontan Alek menepuk bagian dadanya yang terasa sesak dan sakit, kemudian ia pun goyah dan lemah hingga terduduk menahan sesaknya.
"Alek ,. apa yang terjadi ?" panik Zelin dan Duma berusaha memapahnya untuk berdiri.
Melihat hal aneh tersebut Edward segera berlari menghampiri ayahnya itu.
"pak Direktur di tembak " teriak Wisnu pula kaget segera para pengawal berhamburan mencari Asal peluru tersebut dari arah mana.
"Ayah ....." Teriak Edward sedikit sempoyong di tengah kekhawatiran nya bercampur dengan rasa mabuk oleh minuman beralkohol yang diminumnya tadi.
"Delta bawa aku segera kesana " teriak Elisa memberi perintah pada Delta yang sedikit bergetar karena takut.
"Haris , nanti mereka mencari asal penembak itu !" tegas Dimas pada sekretarisnya kemudian ia berlari menuju Alek itu sendiri.
"ayah ...., Bertahanlah " ucap Dimas lagi menahan bagian dada Alek yang kini mulai berdarah hebat dari mulut pria yang gagah itu pula keluar darah yang memilukan dengan raut wajahnya yang merasa kesakitan , tak ada lagi wajah dingin dan garang hanya ada wajah sayu pucat memilukan.
"Alek, bertahanlah ......" teriak Zelin pula dan Duma dengan tangis mereka yang tak bisa di tahan.
"Kalian semua, bantu angkat ayahku ....!!!," teriak Edward keras.
"Ayah bertahanlah !!"
"Cepat ....cepat ...bawa Tuan ke mobil "
__ADS_1
ayah bertahanlah..!!!...
Bersambung.....