
Perusahaan As Berlian
"Tuan Edward dari perusahaan Manopo sudah tiba Tuan" ujar Haris pada Dimas yang tengah berdiri di sudut dinding menghadap rak buku besar di dalam ruangannya.
"Aku akan segera turun menemuinya" jawab Dimas pula beranjak keluar di ikuti Haris dari belakang.
Edward yang di dampingi oleh Jordi saat ini sudah menunggu di sebuah ruangan yang sudah di sediakan.
Di dalam ruangan itu tidak tampak layaknya kantor biasa dengan rutinitas atau pigura kantornya melainkan seperti cafe kecil yang di desain begitu mewah dengan meja barnya.
"Maaf ,jika kalian sudah lama menunggu" Dimas memasuki ruangan dengan senyum simpulnya, mengetahui hal itu Edward beserta Jordi langsung berdiri menyambut kedatangan sang tuan rumah.
"Tidak masalah , apa kabar tuan Dimas?" tukas Edward mengulurkan tangan untuk berjabatan.
"Sangat baik, ayo silahkan duduk!" Tambah Dimas menyambut jabat tangan Edward sekaligus mempersilahkannya duduk.
Pertemuan kali ini Edward sendiri yang menghubungi Dimas untuk meminta mereka bertemu , sedikit pribadi sehingga harus dan Jordi duduk terpisah dari mereka yang kini duduk di depan sebuah meja mini bar di perusahaan Dimas.
Dengan segelas wine yang telah di siapkan oleh karyawan di sana Dimas tampaknya mengajak Edward untuk sedikit minum dengan santai.
"Aku tidak minum " Tolak lembut Edward pada Dimas dengan senyum nya tertahan.
Penolakan lembut itu sedikit mengganjal bagi seorang pria namun Dimas berusaha memahaminya , meskipun di hati sedikit aneh tidak mungkin seorang Edward tidak minum.
"Kalau begitu ambilkan air lain saja untuk Tuan Edward !" tukas Dimas pada karyawan nya segera.
"Maaf , aku datang kemari ingin mengucapkan banyak terimakasih atas segala bantuan yang telah di berikan oleh tuan Dimas pada kami" panjang lebar Edward berterus-terang atas maksud tujuannya datang ke sana.
"Ayo lah , tidak perlu lagi begitu formal, bagaimana pun kita sekarang adalah teman sekaligus partner kerja , jadi sedikit lebih santai bicaranya akan terdengar enak" Dimas meraih gelas berisi wine menawarkan kembali pada Edward lalu ia meneguknya.
Tidak bisa di pungkiri hal apa yang sangat mengganjal di antara mereka , cuma satu problem nya yaitu tentang seorang wanita.
"Oke , saya harap pun demikian. semoga kita bisa menjadi partner sekaligus teman yang baik untuk ke depannya" lanjut Edward sembari mengambil segelas air putih yang sudah di sediakan oleh karyawan Dimas tadi, kemudian ia mengikuti gaya Dimas lalu meminumnya.
Melihat hal itu pun Dimas tampak tersenyum miring, lalu menatap Edward sedikit dalam.
"Bagaimana kabar bumil mu itu , apa dia baik ?" tercetus kata itu dari bibir Dimas pada Edward.
__ADS_1
"Dia baik , Elisa sedikit berisi sekarang ,jadi kelihatan tambah cantik " kata itu pula keluar dari bibir Edward tanpa ragu seolah ia tengah menyimpulkan perasaannya ketika melihat sang istri benar-benar berada di hadapannya.
"ehmm... aku melihat nya" sambung Dimas pula seolah membayangkan hal yang sama, lalu kemudian mereka tampak tertawa secara bersamaan saat itu.
Melihat hal itu Haris dan jordi yang sedikit canggung duduk berdua akhirnya ikut tersenyum simpul saling melirik.
"Jadi sekarang kita berteman ?" tukas Jordi sedikit ambigu.
"Mau kita musuhan ?" jawab Haris dengan tawanya, kemudian Jordi pun turut tertawa dengan hal itu.
"Ngomong-ngomong bos mu apa tidak minum ?" tanya Haris yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Edward.
"Kau sangat perhatian pada bos ku "
"Ah tidak juga , aku pikir adegan ini akan berlanjut dengan minum-minuman lalu mabuk dan setelahnya kita akan kewalahan pada bos kita masing-masing.
"Kau terlalu banyak menonton serial drama tv, dimana itu di lakukan oleh para lelaki yang putus asa karena cinta" Jordi menuang sedikit wine pada gelas nya.
"ahaaa... bukankah dari penjelasan mu itu , kau lah yang sudah terlalu banyak menonton serial drama" sambung Haris dengan sangat tertekeh oleh lawan bicaranya kali ini.
"Mungkin juga ,perlu di ingat aku hanya seorang pria biasa dengan umur 27 tahun saat ini" lanjut Jordi meminum minumannya dengan sangat nikmat.
2 jam setelahnya_
"Dunia ini nikmat jika saja para pria bisa mengendalikan rasa cinta mereka masing-masing.....
"Tapi mereka masih saja memperebutkan satu wanita yang sama, bukankah wanita begitu banyak di muka bumi ini......
"Hey.. sudah lah ,kau sudah terlalu banyak bicara!" Haris menutup mulut Jordi yang saat ini kondisinya bisa di bilang tengah mabuk berat, ucapannya ngelantur kesana kemari, sehingga membuat Haris tak tahan lagi.
saat ini Jordi tengah di papan oleh Jordi , karena keadaan tubuhnya yang mulai tak stabil.
"Apakah dia mabuk?" tanya Edward lekas berdiri dari duduknya , melihat keributan yang di buat anak buahnya itu.
"Iya Tuan, seperti nya dia tak tahan minum , namun lihat lah !" Haris menunjuk ke arah meja di mana sudah berapa gelas Jordi minum saat duduk bersama nya tadi.
"eyyy.... kau jangan kurang ajar pada bos ku ya ! menunjuk sembarangan , memangnya kau siapa ha?" tukas Jordi dengan arogan melepas papahan Haris dan hal itu hampir saja membuatnya terjatuh.
__ADS_1
"Tenang ...tenang jagoan , sebaiknya kita pulang sekarang!" Edward mengambil alih Jordi untuk di bawanya pergi.
"Kalau begitu saya permisi dulu , terimakasih sudah menyambut kami dengan baik di sini " tambah Edward menjabat tangan Dimas untuk undur diri.
"Apa bawahan mu itu baik-baik saja " ujar Dimas sedikit tertekeh sebenarnya mengejek.
"Tentu ...kami permisi ya...Dasar Jordi ,kau buat aku malu saja ,kalau tidak bisa minum ya jangan minum !" Edward sedikit kesal namun dengan telaten memapah Jordi hingga ke mobil , dengan banyak tatapan dari beberapa karyawan di perusahaan Dimas, meski dengan keadaan menundukkan kepala mereka menyapa Edward tetap saja perhatian mereka sesungguhnya berada pada Jordi yang saat ini tidak bisa mengontrol mabuknya.
"Pak , kenapa kau baik sekali pada saingan mu itu , seharusnya kau hajat saja dia " ocehan Jordi kembali tercetus saat Edward berusaha memasukkan nya ke dalam mobil.
"Diam lah , kau tidak ingin ku buang di sini kan " dengan telaten Edward mendudukkan Jordi di bangku belakang ,lalu memasangkan dia sabuk pengaman.
"Pak bos ini bagaimana , kalau aku di buang ,lalu siapa yang mau menyetir mobil ini"
"Heh, kau sendiri tidak sadar berada dimana , bagaimana kau mau menyetir mobil , mau mati" tukas Edward segera masuk mobil meraih kemudi.
"Ahaaaa.... mati.pak Edward kejam sekali, sini pak biar aku yang nyetir , aku tidak mau di bilang makan gaji buta nanti" tambah Jordi dengan senyum dan tertawanya layaknya orang gila.
"Hem, bagaimana nasib ku jika aku yang berada di posisi mu sekarang ?" Edward sedikit menoleh Jordi dari pantulan kaca spion mobilnya sambil menggelengkan kepala merasa tak akan percaya.
"Pak Edward kenapa geleng-geleng kepala , bapak kurang sehat ?"
"Ya , seperti nya aku tidak sehat , tidak sehat melihat kau yang gila seperti itu , heh dasar bocah " dengan ketus Edward segera melajukan mobilnya dengan sedikit cepat , membuat Jordi sedikit terkejut namun hal itu membuatnya semakin semangat seolah tengah balapan mobil ujarnya dalam ribuan ocehan ketidaksadaran nya.
Bersambung...........
ðŸ¤ðŸ˜˜ðŸ˜˜salam hangat buat para reader, semoga kita semua dalam lindungan Allah SWT. amin.
Selamat Tahun baru ,semoga semua yang kita harapkan bisa terkabul di tahun ini amin.
Tetap setia nungguin kelanjutannya ya ! tidak lupa author akan selalu semangat buat tamatin cerita ini.
Untuk berikutnya author mau buat keuwuan sang Tuan Edward dalam merawat Nona Elisa yang tengah hamil besar, insyaallah akan cepat terlaksana dan selesai🤲🤲ðŸ¤ðŸ¤
untuk itu dukung selalu author dengan like,Krisan dan vote nya langsung.
Terimakasih......😘😘
__ADS_1
salam sayang buat kalian semua....