Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Merasa peduli


__ADS_3

Edward tampak terbaring lemah di atas tempat tidur, bibir tipis nya yang sedikit kemerahan terlihat pucat seperti membeku, wajah putih tampannya terlihat kaku dan pilu.


Tampak Rena mengganti kompresan pada kening tuannya, sementara Wisnu berdiri di sebelah tempat tidur sembari mengecek daftar obat yang harus di berikan pada Edward.


"Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit saja Bi!" ujar Lisa yang baru memasuki kamar.


"Oh non Lisa akhirnya datang, kata Dokter Jordan tidak perlu ,tuan hanya demam dan sedikit dehidrasi." jelas Rena berdiri menatap Elisa.


tatapan Lisa tertuju pada keadaan Edward yang sedikit bernafas keras serta cepat akibat suhu tubuhnya yang masih panas.


"Dia sudah di kasih obat !" tanya Lisa pada kedua orang di sana .


"Sudah , hanya saja dalam keadaan seperti ini ,bagaimana cara memberinya jika Tuan saja belum bangun !" sambung Wisnu yang menjawab pertanyaan Lisa.


" Oh, " Elisa tampak mendekat dan duduk di samping Edward, tangannya berusaha menjangkau kening Edward untuk mengecek suhu tubuhnya " Kenapa tidak di suntikkan saja obatnya!" tambah Lisa memberhentikan tangannya.


"sudah ,tapi jika semua obat di suntikkan itu tidak lah mungkin nona!" tambah Wisnu lagi.


"Non, bibi masih ada kerjaan ,apa bisa non saja yang merawat tuan !" pinta Rena sedikit memelas, "Baiklah " singkat Lisa masih memperhatikan serius pria yang terbaring itu.


"Terima kasih Non, kalau begitu Bibi tinggal dulu"tambah Rena meletakkan kompresan di atas meja sembari berlalu.


"Saya juga permisi Nona Lisa ," sambung Wisnu berpamitan ," eh tunggu pak, kenapa keluarganya tidak di hubungi !" ujar Lisa sedikit penasaran.


"Sebaiknya Non Lisa merawat tuan saja hingga sembuh , tentang keluarga kami tidak bisa memberitahu" jelas Wisnu " oh yah, obat ini "menunjuk pada botol kecil di atas meja."adalah penambah cairan untuk mengatasi dehidrasi ya, kalau bisa nanti non Lisa meminumkannya !" tambah Wisnu lagi panjang lebar, Elisa hanya diam memperhatikan setiap ucapan Wisnu."kalau begitu saya permisi !" tambah Wisnu lagi berlalu pergi.


Bagaimana bisa pria angkuh seperti mu sakit begini, ku pikir Tuhan telah menghukummu,umpat Lisa sedikit kesal kembali teringat atas apa yang di lakukan oleh Edward pada dirinya.


Elisa berdiri menuju jendela dan membuka tirai jendela itu ,terasa sedikit udara dingin yang menerpa , karena hari itu sudah malam , tidak ku sadari hari gelap tiba, Elisa tampak bersandar di jendela itu menatap jauh dalam keremangan kota yang tak begitu terang .di sana jelas tak terdengar hingar bingar kebisingan karena tebalnya akan tembok besar tinggi yang jelas mengelilingi vila besar itu. Aku berasa berada di istana kerajaan , keluh Lisa bukan merasa senang melainkan kesunyian.


"Air..... aku mau air ", terdengar suara Edward pelan memecahkan lamunan Lisa , segera Elisa menghampiri pria itu, " Air , Rena aku butuh air !", ujar Edward pelan dengan kedua matanya yang terpejam tampak bibir beku itu bergetar.

__ADS_1


Elisa segera mengambil segelas air yang sudah tersedia di atas meja sebelah tempat tidur, kemudian Elisa segera duduk dan seraya membenarkan posisi banyak Edward agar sedikit tinggi dan memudahkan Edward untuk meneguk airnya.


"Minum lah !" menyodorkan segelas air pada Edward yang kemudian berusaha meneguk sedikit air itu ,bahkan tanpa membuka matanya sedikitpun.


"Kenapa badannya panas dan berkeringat seperti ini !" ungkap Lisa sedikit mengusap keringat di kening Edward."Obat nya " sesaat Elisa teringat pesan Wisnu , dan segera mengambil botol kecil di atas meja.


"Tuan harus minum ini!" tambah Lisa langsung membuka obat itu dan di minumkannya pada Edward ,tapi Edward tak meneguknya bahkan tak merespon sama sekali, obatnya hanya menetes keluar mulutnya sia -sia.


"Tuan sadarlah , kau harus minum obatnya ! keluh Lisa menggoyangkan sedikit tubuh Edward yang tak bergerak."Obat nya masih ada " mengguncang pelan botol obat di tangannya, bagaimana cara meminumkannya , pikir Lisa bingung di dalam hati, sementara keadaan Edward tidak baik.


"Haruskah !" Elisa mengangkat tinggi botolnya kemudian sedikit meminumnya sendiri Lalu.



Tidak ada cara lain ,Oh mom benarkah tindakan ku meskipun memang selalu salah pikirnya mantap membenarkan tindakannya.


Elisa meminumkan obat itu lewat mulutnya, dan berhasil sepertinya Edward sudah meminum obatnya !ujar Lisa seraya mengelap bibirnya "Obat ini sangat pahit", sedikit obat yang terasa karena sedikit terteguk oleh Lisa.


"Kau berhutang padaku tuan !"ungkap Lisa membenarkan selimut pada tubuh Edward , kemudian Elisa berdiri dan segera menutup jendela yang terbuka , sesaat Elisa menoleh Edward kembali , lalu ia melangkah menuju keluar kamar meninggalkan Edward yang di rasanya akan baik - baik saja.


pagi hari .


"Non Lisa sedang apa ?" tanya Dewi yang kaget melihat Lisa sangat pagi berada di dapur.


"Aku mau masak sup ayam Bu " tambah Lisa memasukkqn beberapa potongan wortel ke dalam panci.


"Duh, biar bibi saja non, sebaiknya non Lisa di kamar saja menunggu Tuan !" pinta Dewi seraya berusaha merebut pekerjaan Lisa , "Bibi , biar aku saja oke ,lagian ini juga aku mau masak sup untuk Tuan kok !" tambah Lisa memberi alasan agar Dewi membicarakannya.


"Benarkah ? oh baguslah kalau non Lisa sangat peduli pada tuan, ya sudah bibi kerjakan yang lain yah !" sambung Dewi membawa cucian kotor di keranjang besar di sudut dapur.


"Tambah kentang kali yah " Elisa segera mencuci kentang yang sudah ia iris kemudian di masukkan nya kembali pada panci sup buatannya ,seraya memegang ponselnya yang berisikan tutorial membuat sup yang enak di internet,maklum karena dia sudah lama sekali tidak memasak jadi rada lupa, pikirnya geli sendiri"Oke tinggal tunggu sebentar, agar kaldunya terasa , maka akan siap deh,,?', tambahnya lagi bergumam sendiri.

__ADS_1



"Apa kau membuatkan sup itu untukku?" Edward tiba-tiba saja datang dan memeluk Elisa dari belakang.


"Tu tuan, apa yang kamu lakukan di sini ?" tanya Lisa sedikit kaget dan ragu.


"Terimakasih " pelan Edward berkata sembari mempererat rangkulannya .


"Terimakasih untuk apa?" Elisa sedikit bingung "Apa anda sudah sembuh ?" tanya Lisa sembari berusaha membalikkan tubuhnya.



"Aku ingin kau kembali seperti biasanya !" pinta Edward berusaha membelai lembut tubuh Lisa yang kini berada di hadapannya.


"Apa yang kau lakukan , bukankah kau jijik padaku !" seketika Elisa berusaha menghindar ,



"Itu berlaku jika kau berusaha pergi dariku!" tambah Edward membawa Lisa dalam pelukannya menuju tangga ke kamar atas.


"Turunkan aku ! Tuan tidak ingat aku sedang masak !", ujar Lisa masih aneh di perlakukan seperti itu.


"Diam lah !" pinta Edward menatapnya dengan senyum licik.


"Bukankah Anda sakit, bagaimana bisa sembuh secepat ini!" tambah Lisa lagi menatap Edward sinis,


"heh, kau berharap aku sakit kah?" ketus Edward memantapkan langkahnya menaiki anak tangga dan mempererat rangkulannya pada Lisa.


"Apa kau banyak makan beberapa hari ini?, kau berat .", agaknya Edward tengah menggoda Lisa yang masih menatap dirinya.


Kau tidak ingat kah dengan kejadian kemarin? pria aneh , impoten . kata kasar itu terucap namun tidak keluar ,Elisa menaikan tinggi alis serta bibir nya yang ia kerutkan..

__ADS_1


"Aku akan membayar hutangku !" tambah Edward lagi di atas tangga terakhir.


Bersambung !? sabar menunggu jangan lupa like dan vote yah !!!terimakasih ...


__ADS_2