
Sederet makanan hangat yang baru masak telah di sajikan di atas meja panjang ruang makan, Edward tampak duduk santai dan menikmati makannya, Rena terlihat menuangkan kembali air putih ke dalam gelas Edward sementara Dewi membukakan buah jeruk untuk tuannya.
"Non Lisa ayo makan dulu, Dari tadi pagi Non belum makan !" sahut Rena yang melihat Elisa baru masuk di ruang makan,sementara Edward tak perduli masih tetap fokus pada makannya.
"Nanti saja Bi, aku sudah kenyang !" singkat Lisa sembari melewati meja makan menuju tangga ke kamar atas, kakinya sedikit diangkat karena merasa nyeri padahal lukanya sedikit tapi kenapa bisa begini? gumamnya kesal dalam hati sembari terus melangkah berjinjit menaiki tangga.
"Rena, nanti tolong pesan makanan ringan di luar!" perintah Edward segera menyudahi makannya.
"Untuk apa tuan?, bukannya tuan tidak pernah makan makanan di luar?" tanya Rena begitu heran mendengar permintaan Tuannya.
"Pesankan saja tidak perlu banyak tanya, kalau kamu tidak mau, suruh Dewi atau Wisnu saja!" ketus Edward sedikit kesal.
"Tentu tidak tuan, mana mungkin saya berani, nanti saya antar ke atas!" tambah Rena menunduk melihat tuannya berlalu.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
"Tangan masih ngilu ,ini lagi kaki Luka ! apes banget sih hidup!" keluh Elisa membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang lembut itu.
Buah apel , Manis banget kenapa tidak ku ambil lagi tadi, Gara-gara pria aneh itu melukis tak jadi pada buah pun lupa...
Elisa tampak menepuk-nepuk kasur begitu kesal kemudian membalikkan tubuhnya pada kasur itu,"Meskipun begitu di sini sangat nyaman dan bebas" tambah Lisa lagi sembari merenggangkan tangannya.
"Apa kau sangat menikmatinya?" Edward tampak membuka lebar pintu kamar yang sedikit tertutup, Elisa bangkit segera mendengar kedatangan pria aneh yang baru saja ia sebutkan tadi.
"Tidak juga, aku bosan disini?" jawab Lisa segera melihat Edward yang menatapnya.
"Hemm.. Apa kaki masih sakit?" Edward mendekati Elisa dan duduk di sebelahnya, sementara Elisa segera bergeser ketika Edward mendekatinya.
"Tidak, ini hanya luka kecil ,Oh ya Tuan, aku ingin kembali ketempat Tante dona sebentar, boleh tidak?jawab Lisa menggenggam tangannya berharap permintaannya di respon baik oleh Edward.
"Kau lupa dengan kontrakmu?" nada bicara Edward berubah seketika mendengar permintaan elisa. Edward bangkit dari duduknya menuju sebuah sofa di dekat jendela.
"Aku tidak lupa, aku hanya ingin berkunjung kesana saja, Aku bosan di sini! hanya sebentar lalu aku akan kembali lagi kesini!" tambah Elisa meneguhkan keinginannya.
"Tidak, kau tetap di sini!" ketus Edward lagi sembari duduk di sofa, Elisa menatap kesal pria yang berada tak jauh darinya.
"Lalu apa kerjaku hanya seperti ini saja?" bagaimana jika kau berada di posisiku ? hidup seperti boneka di dalam lemari, aku menyesal menandatangani kontrak itu. Elisa berdiri mengambil handuk dan menuju kamar mandi lalu menutup keras pintu kamar mandi dari dalam kamar sehingga terdengar suara yang begitu keras, Edward tampak tertegun melihat kemarahan gadis itu.
Menyebalkan ! membuka perban di kakinya dengan segera, kemudian membasuhnya dengan air, di rasanya luka itu tak lagi terasa, raut wajah Elisa begitu kesal.
Tok Tok Tok.....
suara pintu kamar mandi yang di ketuk dari luar.
"Apa kau sedang mandi?" teriak Edward dari luar.
Haruskah bertanya seperti itu saat seorang wanita berada di kamar mandi? tidak sopan.
"Ada apa?" Lisa membuka pintu kamar mandi dengan segera.
"Tidak ada hanya memastikan saja!" tambah Edward sedikit tersenyum melihat wajah Elisa yang begitu kesal.
"Aneh" tuuoppp ....Pintu kamar mandi di tutup seketika sehingga membuat Edward sedikit kaget.
Kemudian Elisa menghidupkan sopware segera ,membuka pakaian dan membasuh tubuhnya yang sangat panas itu, di rasanya kepala yang hampir meledak kepanasan itu kini kian dingin oleh guyuran air yang sangat segar.Apa maksudnya coba memastikan seperti itu? Bodoh bodoh...
17.00
__ADS_1
Hampir dua jam ia mengguyur tubuhnya, hingga kulit putih itu tampak pucat membeku, sementara luka merah di kakinya berubah biru seperti lebam, namun tak ada lagi rasa sakit yang terasa. Elisa tampak menatap sekeliling tak didapatinya Edward di kamar itu, Lalu mata Elisa tertuju pada meja di dekat sofa di lihatnya ada makanan kecil di atas nampan, ia segera menghampirinya.
"Ini baru makanan ?" di ambilnya kentang goreng di dalam cup itu kemudian memakannya, di sana juga ada burger lezat ia segera menggigit burger itu dengan lahap, agaknya dia memang lapar ,karena seharian itu ia hanya makan satu buah apel ,dan makanan yang di siapkan oleh Rena dan Dewi selalu makanan berat , Elisa tampak kurang suka dengan hal itu.
"Ehh, tapi ini punya siapa?" Elisa seketika memberhentikan makannya, kalau punya Edward ,aduhhhh... dia pasti marah.
Tok.... tok.. tok ..
"Non Lisa , apa sudah mandinya" suara Rena terdengar dari luar kamar.
"Iya Bi, sudah, ada apa?" meletakkan sisa burger itu kembali ,kemudian melangkah menuju pintu dan membukanya.
"Non, tadi tuan nyuruh non temui Tuan di ruang kerja!" ujar Rena yang berdiri di depan pintu membawa sebuah koper kecil yang tak asing di mata Elisa.
"Itu bajuku Bi" tunjuk Lisa tersenyum melihat kopernya.
"Iya Non, Pak Wisnu baru saja mengambilnya, Non segeralah ganti baju, lalu temui Tuan segera!" tambah Rena memberikan koper itu dengan di sambut baik oleh Elisa.
"Iya Bi Makasih!" tambah Elisa bahagia karena bisa memakai pakaiannya sendiri.
"Sama-sama, kalau begitu Bibi permisi dulu!" tambah Rena lagi ingin berlalu.
"Tunggu Bi!" Lisa tampak mencegah.
"Ada apa Non?" tanya Rena penasaran.
"Emm, makanan di atas meja itu apa bibi yang meletakkan disana?" tanya Lisa balik heran.
"Tuan Non, tadi dia yang suruh bibi pesan dari luar untuk non Lisa katanya?" tambah Rena lagi tersenyum.
"Untukku?"Lisa sedikit tertegun.
"Iya Non, untuk siapa lagi? Tuankan tidak makan makanan luar, dia hanya pesan untuk Non Lisa, karena non sepertinya tidak suka ya dengan masakan bibi?" panjang lebar Rena menjelaskan dan sedikit mengeluh.
"Aduh, iya makasih bi, tapi bukan tidak suka kok, aku cuma lagi tidak mood saja" jawab Lisa sedikit ragu dan tidak enak hati mendengar perkataan Rena.
"Ya, tidak apa, Cepat lah non, nanti tuan lama menunggu!" tambah Rena kembali mengingatkan.
"Begini kan nyaman!" Elisa tampak sedikit berputar di depan cermin menggunakan gaun mini berwarna hitam dan cantik.
Dengan percaya diri Elisa melangkah keluar kamar menuju ruang kerja yang tak jauh dari kamar itu.
Tok tok tok...
"Boleh aku masuk!" Elisa tampak mengetuk pelan pintu di hadapannya.
"Masuklah!" terdengar sahutan Edward dari dalam ruangan.
Elisa segera membuka pintu yang memang tidak terkunci.
Di ruangan itu terdapat dua lemari tinggi yang banyak tersusun rapi buku-buku di dalamnya.
serta meja panjang yang di tumpukki beberapa baris map tebal di atasnya ,di sana juga ada sofa panjang dan tv, sementara Edward duduk di meja kerjanya di dekat jendela lebar menghadap keluar kota X.
"Ada apa tuan menyuruhku kemari!" tanya Lisa heran melihat pria di hadapannya masih sibuk pada komputer di depannya.
Elisa tampak melangkah menuju jendela di dekat Edward lalu membuka sedikit tirai transparan yang menutupi jendela itu, di lihatnya pemandangan luar kota X yang begitu indah dari sana.
"Apa kau menyukainya?" Edward bangkit dari duduk nya mendekati Elisa yang masih memandang keluar.
"Suka, aku ingin keluar kesana!" spontan kata itu terucap dari mulutnya, ia segera berbalik menoleh Edward takut perkataannya kembali membuat Edward marah ,didapatinya tubuh Edward begitu dekat di hadapannya.
"Apa kau masih kesal padaku?" tanya Edward pelan pada gadis yang berada di hadapannya.
tak segera menjawab Elisa menatap tinggi Edward karna dirinya hanya sebatas dada bidang seorang pria gagah di hadapannya.
Aku hampir lupa jika aku yang sedang kesal, Elisa bagaimana bisa kau selalu mempermalukan dirimu seperti ini dihadapan seorang pria.
"Bagaimana aku bisa kesal padamu Tuan ?, itu tidak mungkin" jawabnya sinis seketika membalikan kembali badannya pada arah jendela."Tuan menyuruhku kemari untuk apa?" tambah Lisa lagi sangat tidak nyaman, karena Edward masih berdiri dekat di belakangnya.
__ADS_1
"kau bosan bukan?" tanya Edward lembut sembari memeluk Elisa dari belakang, sontak Elisa begitu kaget di perlakukan seperti itu.
Oh mom, lagi-lagi aku belum terbiasa menerima perlakuan seperti ini.
"Iya, sangat bosan" jawab Elisa berusaha tak menolak pelukan hangat pria itu.
"Bagaimana jika kau ikut aku ke kantor ?" ujar Edward sembari meniup-niup telinga gadis dalam pelukannya itu, Elisa tampak bergerak risih dan geli akibat perlakuan Edward.
"Ke kantor, untuk apa?" sedikit heran Elisa berusaha melepaskan pelukan Edward dan berbalik menatap Edward kembali.
"Jadi sekretaris ku !" sambung Edward sembari mencoba mengecup bibir gadis di hadapannya, namun Elisa segera tertunduk menghentikannya ..
ha...hakk..ha...hakkkk ...Elisa tiba-tiba saja tertawa sedikit keras, dengan wajahnya yang begitu lucu,membuat Edward menatapnya serius,"sekretaris? apa Tuan tidak salah bicara?"
"Apa ada yang lucu?" sontak Edward mengetuk lembut kepala Elisa yang masih sedikit tertawa geli..
"Auu.. .."Lisa mengelus kepalanya," Sangat lucu ,Masa Tuan menyuruhku jadi sekretaris di kantormu? ini penaikan jabatan kah, simpanan menjadi sekretaris?" Lisa terus saja terkekeh melihat Edward yang kembali duduk pada kursinya.
"Kami membuat perhiasan dan selalu menerbitkannya setiap bulan dalam jenis yang berbeda! bagian desain kami kehabisan ide, begitu pula aku, sementara itu ayah .." Edward tampak menghentikan perkataanya membuat Elisa pula memberhentikan tawanya ketika melihat Edward tampak sedikit serius,ada apa dengan ayahnya? Elisa tampak heran.
"Bukan maksudku mentertawakan mu ?, hanya saja, aku mana bisa jadi sekretaris, punya pengalaman saja tidak, jangankan itu sekolahpun aku tidak tamat" Elisa sedikit mendekati Edward.
"Aku lihat lukisan di rumahmu waktu itu bagus, bagaimana jika kau melukis satu perhiasan untukku!" tambah Edward menatap Elisa.
Lukisan di rumah, dia memperhatikan kah, saat itu??
"Coba kau lihat ini, contoh perhiasan kami!" mununjuk pada layar komputernya ,Edward menarik tangan Lisa seketika dan mendudukkannya di atas pangkuan.
Elisa tak segera menatap pada layar komputer melainkan menatap wajah tampan pria di hadapannya. Oh Mom, jantungku kenapa berdetak sekencang ini, dia tidak mendengarkan? " Apa menurutmu ini bagus?, ini perhiasan yang aku rancang namun masih ada kekurangan, menurutmu bagaimana?" Edward tampak serius pada mouse nya sembari meminta saran pada gadis yang berada di pangkuannya.
"Hey, "seketika lamunan Lisa tergugah ketika Edward memegang panggulnya.
"Emm. itu iya.."segera melihat pada layar komputer, di lihatnya sebuah gambar kalung berlian bermata liontin biru di tengahnya serta simbol emas di tengah liontin itu.
"Gambarnya sangat norak" Elisa tampak merebut mouse dari tangan Edward dan mengklik gambar untuk di perbesar.
"Coba lihat liontin ini, ukurannya sangat besar dan warnanya terlalu biru, Tuan lihat, simbol yang berada di tengah ini," Elisa tampak menoleh pada Edward yang malah menatapnya,tapi ia tak perduli melanjutkan penilaian nya kembali.
"kenapa harus emas dan lagi simbolnya sangat jelek dan kasar, biasanya orang itu suka perhiasan yang simpel dan mewah, dengan warna yang lembut dan ukuran yang sedang, mencolok itu tidak selalu bagus kan?" ujar Lisa panjang lebar dengan pendapatnya.
"Dan lagi .."
"Kau tampak bagus meski selalu mencolok,"ujar Edward tersenyum menatap Elisa sedari tadi tanpa berkedip sontak saja perkataan itu membuat Lisa memberhentikan ucapannya segera.
"Apa maksud Tuan?", jadi dari tadi tuan tidak mendengarkan ku ya?, " Elisa segera bangkit dari duduknya namun Edward menahannya.
"Oke, kau ku terima jadi sekretaris ku !, kau sangat berbakat ."tambah Edward lagi masih memegang panggul Lisa dalam pelukannya
Elisa tampak diam kala itu, karena baru kali ini melihat Edward dengan wajahnya yang selalu tersenyum serta merespon baik ucapannya.
"Oh ya ,bagaimana dengan kakimu?" Edward berusaha mengangkat satu kaki Lisa dengan tangannya.
"Kakiku baik-baik saja, sekarang aku boleh berdirikan tuan, rasa nya pegal duduk di atas pangkuanku?" ujar Lisa menolak Edward memeriksa kakinya, karna perlakuan itu sangat membuatnya geli.
"Boleh saja, dengan satu syarat ?" tambah Edward menatapnya licik.
" syarat apa?" pelan Elisa menjawab karena tau maksud pria yang tiba-tiba saja berubah ekspresinya.
"Seperti nya kau sangat tau apa Mau ku?" tambah Edward lagi tersenyum.
Pria ini, kupikir tadi hilang anehnya, dan tidak menyebalkan, sekarang kambuh lagi deh.
haruskan aku melakukannya, Elisa tampak menatap Edward begitu lirih, ia juga sangat tidak nyaman jika berada terus-terusan di atas pangkuan pria itu.
"eeee... Dengan segera tanpa malu Elisa menyambar bibir tipis pria di hadapannya itu,dengan memejamkan kedua matanya Elisa mengecup Edward dengan lembut Edward pun menarik lebar senyum di bibirnya dan menyambut hangat kecupan gadis di pangkuannya, Elisa tampak bergerak ingin menyudahi kecupannya namun Edward malah mendekap mesra tubuh Lisa dan mengalungkan kedua tangan Elisa ke lehernya, dengan perasaan yang menggebu-gebu di lumatnya habis bibir Lisa yang begitu lembut dan manis itu.sementara Elisa merasakan getaran di dadanya semakin tak beraturan dan sangat panas..
_
_
_
__ADS_1
_
Sampai situ dulu romantisnya ! like like komen dan vote oke oke