Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Rumah sakit_


__ADS_3

Zelin dan Duma beserta segera mendatangi sebuah ruangan dimana Aleksander di rawat ,sementara penjagaan ketat di berlakukan di dalam maupun luar rumah sakit yang di pimpin oleh Wisnu begitu juga beberapa orang suruhan Dimas turut membantu.


Elisa yang gelisah dan khawatir akan keadaan Edward menemuinya di sebuah ruangan khusus yang di sediakan Jordan sebagai temannya.


Ruangan itu merupakan tempat istirahat Jordan di kala tiba waktu istirahatnya , sehingga tak terlalu formal untuk memasukinya mengingat Elisa juga sudah menjadi bagian keluarga Edward yang sesungguhnya.


Dengan di temani Jordan Elisa memasuki ruangan itu , di lihatnya Edward yang terbaring layaknya orang tidur normal dalam posisi yang berbaring menyamping.


"Apa dia baik-baik saja?" ucap Elisa seolah bertanya pada pria yang kini berdiri di sampingnya.


"Dia sangat baik " jawab Jordan singkat dengan senyum menyeringai.


Elisa memutar rodanya menghampiri Edward dengan perlahan ,di tatapnya wajah pria yang kini adalah suaminya itu dengan sedikit iba mengingat hal yang tadi terjadi di hadapannya.


"Kau temani dia dulu , aku ingin melihat keadaan om Alek " ucap Jordan segera mungkin ingin pergi .


"Baik , terimakasih " jawab Lisa sedikit tersenyum pada pria yang kini tampak menatapnya.


Tak Menjawab Jordan hanya sedikit mengangguk sebelum meninggalkan mereka berdua.


Edward apa kamu baik-baik saja, selama ini kamu selalu melindungi ku ,dan kini kamu tertimpa masalah yang benar menoreh luka pada dirimu, apa kamu akan baik-baik saja.


Tak terasa air mata berlinang dari pelupuk mata bening Lisa yang saat ini kian menderas merasakan kesakitan serta kepiluan hati yang turut ia rasakan.


Masih dengan gaun pengantin yang ia kenakan dengan sedikit di lipat di bagian bawah agar tak menghambat laju roda , Elisa tampak menangis tersedu-sedu di hadapan Edward yang masih berbaring.


"Elisaaa....." suara parau dan berat dari mulut Edward terdengar saat ia mulai tersadar.


"Edward , kamu sudah sadar..apa kamu baik-baik saja?" Elisa dengan segera menghapus air matanya sedikit senang melihat Edward terjaga.


"Sadar...Memangnya aku kenapa?" Edward kemudian berusaha bangkit namun tak bisa lantaran Kepala nya yang terasa sakit dan pusing.


"Bodoh , kamu itu mabuk !" ketus Lisa sedikit tersenyum meski ia masih bersedih mengingat segala yang terjadi.


"Heh, jadi aku tidak aneh lagi , tapi malah bodoh " ucap pria itu kembali berbaring santai dan lengannya meraih wajah Lisa yang basah oleh air mata.


"Ayah sudah melewati masa kritisnya dan sudah di pindahkan ke ruang rawat " jawab Lisa memberitahukan keadaan Alek agar Edward merasa sedikit tenang ,dengan meraih tangan Edward pula dengan lembut ketika mengusap wajahnya.

__ADS_1


"Aku yakin dia akan baik-baik saja " ucap Edward dengan senyum leganya.


"Apa kamu ingin minum ?" tanya Lisa masih khawatir pada Edward karena pengaruh alkohol itu masih ada.


Edward mengangguk ,ia memang sedikit haus dan merasa gerah , Elisa meraih segelas air minum yang sudah di siapkan di atas meja dan kemudian memberikan nya pada Edward.


Tanpa berpikir panjang pria itu meminumnya agar rasa haus dan gerah itu sedikit berkurang.


"Sebaik nya kamu mandi ,pengaruh alkohol itu akan hilang seluruhnya setelah mandi " saran Elisa jelas paham tentang minuman beralkohol.


"Nanti aku akan mandi " jawab Edward kemudian berbaring santai menghadap langit-langit merasakan sakit kepala nya yang sedikit berkurang.


"Maaf , aku masih belum bisa membantu mu dengan keadaan ku yang seperti ini " Elisa sedikit merasa tidak berguna karena keadaan kakinya yang sekarang.


"Hey. ,jangan bicara seperti itu ,itu tidak benar dengan adanya dirimu di sini ,itu sangat membantu diriku " jawab Edward kemudian berusaha bangkit kembali.


"Eh , kamu mau apa ?" Elisa berusaha menahan tubuh Edward agar tetap berbaring.


"Apa Jordi masih di sini ?" Edward duduk dengan sedikit menegang kepala nya tanpa menjawab ucapan Lisa.


"Dia ada di luar , apa mau ku panggilkan ?"


"Tidak perlu , kamu tetap di sini aku akan menemuinya !" Edward dengan tak sabar ingin berdiri namun Elisa menahannya.


"Biar aku saja , dengan keadaan seperti itu mana bisa kau berdiri normal , aku akan memanggilnya !" Elisa tampak sedikit menahan dengan nada bicaranya , kemudian ia memutar kursi rodanya keluar tanpa di cegah oleh Edward , karena Edward tahu situasi Elisa saat itu tak bisa ia tentang.


Ruang tunggu rumah sakit.


Jordi duduk di sudut kiri kursi di ruang tunggu itu ,sementara Ada seorang pria lagi duduk di hadapan nya dengan kursi tunggu yang berhadapan.


pria itu adalah Dimas yang masih berada di sana ,saat ini tengah sibuk memainkan ponselnya , Elisa sedikit ragu untuk menghampiri Jordi yang sudah di lihatnya.


Kenapa aku masih canggung , ayo Elisa lupakan lah ,toh dia juga sepertinya tidak masalah ,dan dia sudah membantu kami sejauh ini.


Dengan pendirian teguh Elisa kembali melakukan rodanya menghampiri Jordi.


"Bu Elisa ..." ucap Jordi langsung berdiri mengetahui kedatangan Elisa dan aedikit membungkuk menghormatinya.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu seperti itu Jordi, aku malah merasa tidak nyaman dengan semua ini " ucap Elisa mengusap tangannya sendiri merasa canggung.


"Itu sudah menjadi keseharusan, maaf apa ada sesuatu yang Ibu butuhkan ?" tanya Jordi tanya Jordi penasaran tak menggubris ketidaknyamanan Elisa.


"Edward ingin bertemu dengan mu !"jawab Lisa sedikit serius sekarang.


"Oh , jadi pak Edward sudar sadar , baik saya akan segera menemuinya , apa Ibu mau saya antar !" balik tanya Jordi mengulurkan bantuan.


"Tidak perlu , aku ingin melihat Ayah , kamu temui saja Edward di ruangan nya " jawab Lisa tersenyum menolak tawaran Jordi.


"Baik Bu , saya permisi " ucap Jordi kemudian meninggalkan Elisa.


Ketika ingin memutar rodanya kembali Elisa tak sadar jika gerak gerik nya tadi masih menjadi pusat perhatian seorang pria yang masih duduk di sana dengan menatapnya.


"Dimas , ,kamu masih di sini ?" dengan canggung Elisa menyapanya walau dengan terpaksa.


Dimas tampak tersenyum seolah mengatakan ia meski tanpa menjawab namun tatapannya tak berpaling .


Melihat hal itu Elisa makin canggung dan tak tahu harus berbuat apa , mengatakan sesuatu yang tak tahu harus mengatakan apa atau meninggalkannya begitu saja tanpa basa basi, seharusnya aku terima saja tawaran Jordi tadi.


"Bodoh " gerutu nya kecil berbisik sendiri.


"Aku turut berduka atas semua ini , semoga Tuan Alek bisa segera sembuh dan Edward bisa tabah " ucap Dimas kemudian memecahkan kecanggungan di hati Elisa.


"Terimakasih , terimakasih untuk semuanya " jawab Lisa tersenyum mendapat pencerahan untuk meninggalkan Dinas di sana.


"Kalau begitu aku permisi dulu , ingin melihat ayah dan Ibu " dengan segera ia memutar kursi rodanya bermaksud meninggalkan Dimas.


tap....tap....Tap.....


"Biar aku antar " tiba-tiba Dimas meraih kendali kursi rodanya dan segera mendorong Elisa.


"Dimas , ini tidak perlu ..." jawab Lisa merasa tidak enak.


"Tenang lah , tidak baik menerima bantuan orang lain , bukankah aku adalah teman mu " jawab Dimas kini tersenyum sangat lembut .


Hal itu bisa di rasakan oleh Elisa meski tanpa melihat nya , dengan tenang Elisa berusaha menerima bantuan Dimas kali ini.

__ADS_1


Teman........


__ADS_2