
Kamar Luas hanya ada tempat tidur dan satu lari kecil, Elisa mengikuti Edward masuk ke dalam kamar, Edward tampak mengambil kotak P3K di dalam lemari kecil di sudut kamar."Kemari lah ,aku akan mengobati lukamu!" kata Edward sembari duduk di atas tempat tidur.
"Baik"singkat Lisa menuruti dan duduk di sebelah Edward,
"Apa tidak bisa kau menjaga tubuh mu sedikit saja !" ketus Edward seraya mengoleskan obat luka pada jari Lisa, saat itu Lisa tak begitu merasakan sakit karna luka itu sudah di cuci terlebih dahulu oleh BI Imah.
"Apa maksud tuan?" tanya Lisa menatap pria yang fokus membalut jari kecil Lisa dengan lembut.
"Heh, Haruskah selalu bertanya saat aku berkata, "tersenyum sinis "Kau ini Polos atau Munafik ?" ketus Edward memegang dagu Lisa sehingga Lisa menatapnya serius.
"Bisa jadi keduanya"Lisa melepaskan tangan Edward dari wajahnya."Polos dan munafik bukankah itu hal berbeda, tapi jika tuan menginginkannya saya bisa menjadi keduanya" Melepas kan plester di jarinya sendiri !" Tuan tidak perlu membalut luka kecil ini, "tambah Lisa kian melepas plester di jarinya.
"Kau marah padaku Lisa?" tanya Edward sedikit pelan ,sepertinya ia mulai menyadari perkataannya.
"Tidak!" singkat Lisa.
"Boleh aku bertanya Tuan !" tambah Lisa berdiri tanpa menoleh Edward.
"Apa?" singkat Edward mengetahui gadis di hadapannya tengah serius.
"Sebenarnya tujuanmu mengontrak ku untuk apa?" tanya Lisa sedikit tegas menekan nada bicaranya.
"Jangan menguji kesabaran ku Lisa !" jawab Edward turut berdiri
"Aku hanya ingin tahu, jika anda memberitahu ,aku tidak akan bertanya lagi, dan mengikuti semua permainan mu!" tambah Lisa mantap menoleh pada Edward di belakangnya.
"Kemarilah !" kata Edward mengacungkan jari telunjuknya pada Lisa agar ia mendekat.
"Apa,?" tanya Lisa heran tidak sesuai jawaban yang ia inginkan
"Kemari lah !" Edward menarik paksa tangan Lisa hingga dekat di tubuhnya.
"Apa maumu?" tanya Lisa semakin heran.
"Letakkan tanganmu di di leher ku !" Edward meraih kedua tangan Lisa dan mengalungkannya pada leher edward., Elisa hanya diam sembari menatap aneh pria yang nyaris berada di ujung nafasnya, kemudia Edward memegang panggul Lisa dengan kedua tangannya begitu erat, sementara Lisa sedikit berjinjit saat itu, karena postur tubuh Edward sangat lah tinggi.
"Cium aku !" tambah Edward pelan
"Apa?"
"kau tuli, cium aku !" Edward mengeraskan suaranya.
"kau bercanda ,bukan ini pertanyaanku!"
"Tapi ini kemauanku " Edward tampak serius menatap Elisa begitu sebaliknya, terasa nafas hangat Edward membalas nafas pendek Lisa.
Deg....
Deg..
Deg...
__ADS_1
"Aku merasakannya!" bibir Edward terbuka sedikit
"Apa?"
"Cium aku !" Edward memainkan lidahnya membuat Elisa sedikit geli.
"Aku saja yang menciumku!" tambah Edward seraya mencium bibir Elisa sedikit lama, Elisa seketika merespon kecupan Edward itu seketika.
"Kau mulai pandai !" ujar Edward memberhentikan kecupannya dengan sedikit tersenyum, sementara Elisa tampak tersipu malu untuk pertama kalinya, jantungnya berdebar dan panas.
"aku ingin ini di lakukan setiap mau tidur ,berangkat kerja atau ingin pergi kemanapun !" tambah Edward
"Apa?"
"Kau tidak mendengarkan ?" ketus Edward masih dalam posisinya sementara Elisa sudah sangat risih pada posisi itu, kakinya mulai keram untuk berjinjit.
"Aku dengar , hanya saja ..."
"Hanya saja jika kau tidak melakukannya aku akan menghukummu !" tambah Edward mencium lembut kening Lisa dan melepaskan tangannya..
Akhirnya bebas, Elisa tampak menggoyangkan kedua kakinya akibat keram seraya sedikit menjauh dari Edward, sementara Edward masih memperhatikannya dengan senyum liciknya..
"Aku akan membuat agenda untuk mu !" tambah Edward kembali duduk di tempat tidur.
"Nanti ku suruh Rena memberikannya untukmu, kau harus lakukan apa yang tertulis di agenda itu"
"Mandi lah, aku akan turun ke bawah menemui ibu, setelah mandi kau harus menyusul!" tambah Edward bangkit berdiri.
"Tapi Tuan !" Lisa tidak mendengar jelas apa yang di ucapkan Edward karena fokus pada kakinya uang keram
"Apa Tuan?" sontak Elisa sedikit terkejut.
"Jangan panggil aku Tuan lagi ,terutama di depan ibu !" tambah Edward tak menggubris kekagetan Elisa .
"Tapi ?" Elisa menatap pria itu yang telah hilang di balik pintu.
Surat nikah , Benarkah ini? Dia tidak salah ,benar ingin menikahi ku..Elisa sangat heran dan bingung , bagaimana bisa dia akan mendapat kan posisi seperti itu.
_
_
_
_
_
_
Ruang makan
"Ayo sini nak !" Zelin memanggil Elisa yang baru saja turun dari kamar atas.
"Apa kau nyaman dengan pakaian itu ?", tambah Zelin menanyakan pakaian yang ia siap kan untuk Elisa .
__ADS_1
"Nyaman Nyon..maksud ku Ibu " Elisa melangkah penuh keraguan sembari menoleh pada Edward yang lagi lagi menatap nya aneh
"Kau ini ,kemari lah duduk dekat ibu !" tambah Zelin lagi menyodorkan kursi di sebelahnya, Elisa seketika duduk menghormati permintaan ibu berusia seperempat abad itu.
"Maaf Bu, Elisa tadi tidak jadi memasak untuk ibu !" melihat banyak makanan yang sudah tersedia di atas meja
"Tidak apa nak, lain kali kan bisa !" tambah Zelin mengelus lembut pundak Lisa .
"Kapan kita makan nya Bu, aku sudah lapar!" sambung Edward mengangkat piring ke arah Lisa,
"Apa?" Elisa menatap nya ,kemudian mengerti maksud Edward ia pun langsung bangkit dan menyedihkan nasi pada Edward dan piring ibu, Zelin pun tampak tersenyum melihat keadaan itu.
"Apa ibu ingin sayur ini!" Lisa tampak menawarkan sepiring sayur pada Zelin.
"Boleh !" kata Zelin menyodorkan piringnya,
"Heh, aku yang minta dulu, malah ibu yang mendapatkannya !"ketus Edward mengambil sayurnya sendiri .
"Kau ini, bukan nya sering Elisa melayanimu seperti itu, sedang diriku baru kini, bukan begitu Elisa ?" Zelin menoleh pada Lisa yang masih berdiri
Sementara Elisa menatap Edward yang mulai makan duluan tanpa peduli,
"Ya Bu!" jawab Elisa pelan seraya duduk kembali ,
"Ya sudah ayo makan !" Zelin mempersilahkan Elisa makan.
"Bagaimana dengan perusahaan mu edward?"
tanya Zelin di tengah makannya .
"Lumayan terkontrol Bu,!" jawab Edward pelan sembari mengunyah makanannya.
"Pasti terkontrol dong, kan Elisa sendiri yang terjun jadi sekretarisnya !" senyum Zelin tertuju pada Lisa yang sedikit menahan sesaknya karena tersedak.
Edward menatap Lisa dan memberinya minum, agaknya Edward mulai paham apa yang di rasakan Lisa ,dengan segera Lisa meneguk air itu secara cepat
glekkkk
tenggorokan nya terasa lega, sesekali ia mengelus dadanya... ya ampun, menghadapi ibu Edward ternyata lebih rumit dari mengatasi anaknya, tukas Lisa melirik ke dua orang yang tengah menatapnya.
selesai makan
"Apa kalian tidak ingin menginap di sini?" tanya Zelin di depan pintu saat Edward dan Lisa akan pulang dari rumahnya.
"Lain kali saja Bu, besok Edward pergi ke kantor sangat pagi ,takut tidak terkejar jika berangkat dari sini, berhubung Edward ada janji dengan Adnan malam ini, besok jiga jadwalnya sangat padat"
"Anak yang sibuk, ya sudah pulang lah ,"Zelin tampak sedikit kecewa seraya memeluk Elisa yang sedari tadi hanya diam.
"Hati-hati di jalan nak,!" tambah Zelin dalam pelukannya, membuat Elisa merinding dan bergetar mendengar hal itu, Ibu akankah kau melihat semua ini di atas sana, pandangan mata Lisa tertuju pada langit biru yang mulai menggelap.
"Iya Bu, ' tambah Lisa mencium tangan Zelin dengan haru, karena Zelin sangat lembut padanya membuat ia merasakan kehangatan keluarga kembali, sementara Edward tampak senang melihat kedua wanita di hadapannya saling mengasihi meskipun baru pertama kali bertemu, Zelin sudah menyukai Elisa.
__ADS_1