Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Sisi Lain kota X


__ADS_3

Maaf tuan ,sepertinya nona Juwi mengalami kecelakaan kemarin siang !" ucap Haris yang mendatangi Dimas yang tengah duduk di taman rumahnya.


"Hemmz" tarikan nafas Dimas begitu panjang terlepas seraya merebahkan tubuhnya di kursi yang ia duduki.


"Tuan..." ucap Haris lagi kala Dimas tak menggubrisnya.


"Kau sudah lakukan yang aku perintah !" jawab Dimas lain dari laporan Haris.


"Maaf tuan , tugas kemarin sudah aku lakukan , Mengenai Elisa ....." Haris tampak memberhentikan ucapannya saat Dimas benar-benar ingin mendengarnya.


"Apa yang sudah terjadi ?" tanya Dimas penasaran.


"Begini tuan , Kejadian tempo lalu yang menimpa Nona Lisa sudah di ketahui Edward , mantan sekretaris nya bekerjasama dengan Belinda dalam kejadian itu "


"Lalu ?" singkat Dimas tak ingin lama.


"Edward mengancam Aleksander dengan semua bukti yang ada , dan ingin menceraikan Belinda , dan...


"Cukup , itu bukan urusan ku , yang terpenting Elisa baik-baik saja , kau buat lagi pertemuan terhadap perusahaannya ,kerjasama kita jangan sampai gagal !" terang Dimas seraya berdiri.


"Baik tuan , bagaimana dengan Juwi ?" tanya Haris masih sedikit khawatir ,


"Dia baik-baik saja , jangan berikan dia izin mengemudi lagi , suruh supir untuk mengantarnya " tegas Dimas pergi meninggalkan Haris begitu saja.


Kalau sudah Mengenai cinta pertama, tuan yang keren saja terlihat sangat payah !! ejek Haris sedikit mengangkat tinggi kedua bahunya.


Kantor Edward.


Edward yang baru saja turun dari mobil segera masuk ke dalam gedung perusahaannya , kali ini dia tidak bersama Elisa melainkan Jordi yang sudah siap membawa semua berkas pentingnya.


"Selamat pagi pak !" ucap semua karyawan dan staf desain menundukkan kepala seraya berbaris rapi menyambut Edward , semua telah berkumpul karena mendengar penyampaian perintah dari Jordi yang di suruh Edward.


"Kalian dengar semua , Mulai hari ini ,kita berhenti mengekspos berlebih tentang apa yang terjadi di kantor ini , semua pemasaran sudah ada uang mengatur di bagiannya sendiri "


"Kalian hanya perlu bekerja keras dengan apa yang menjadi tugas kalian , saya tidak ingin mendengar ada yang bergosip ataupun bicara tidak penting di dalam kantor , kalian mengerti !" nada bicara Edward sangat tegas dan mantap , hal itu membuat ketakutan tersendiri bagi karyawan nya yang sedikit membangkang.


"Mengerti pak !" kembali sahutan itu terdengar serentak dan patuh.


"kalian bekerja lah !" tambah Edward lagi mulai melangkah setelah semua bubar ,di ikuti Jordi yang dari belakang.


"Jordi , kau panggil Adnan ke ruangan ku !"


"Baik pak !" jawab Jordi segera mencari Adnan , karena tadi belum kelihatan batang hidungnya.


_


_


_


_


_


_


_


_

__ADS_1


_


_


_


Ruang kantor


Tok...tok...tok....


ketukan pintu terdengar dari luar beberapa kali.


"Masuk !" ucap Edward tegas dari tempat duduknya.


"Pagi pak !" jawab Adnan uang baru saja masuk ke dalam ruangan , sedikit melirik ke arah meja sekretaris yang tak di dapatinya Elisa.


"Duduklah !" ucap Edward sinis memainkan pulpen di tangannya.


"Terimakasih , bapak memanggil saya ada apa?" tanya Adnan langsung pada intinya.


"Heh, Kenapa aku masih suka dengan caramu yang seperti itu ?" jelas ucapan itu di pahami Adnan namun ia berusaha tak ingin membuat masalah ,terlebih itu mengancam keberadaannya di perusahaan itu.


"Maaf pak , saya tidak bermaksud melakukan itu semua , saya hanya di perintah oleh Ibu Belinda !" Adnan tampak langsung pada intinya.


"Kau ingin membahasnya , ?"


"Maksud Bapak ?" tatapan Adnan langsung saja tertuju pada Edward yang jelas membulatkan tatapannya.


"risain sekarang juga !"


"Apa?" jelas Adnan kaget dengan perintah Edward kali ini .


"Tapi pak ?" Adnan masih tidak terima dengan itu semua ,tangannya turut berucap meminta ampunan.


"Apa kau ingin masuk penjara ?" tanya Edward kali ini sambil berdiri membelakangi Adnan.


"Pak , saya mohon atas pertimbangan bapak , saya hanya di perintah , bagaimana bisa bapak tidak adil pada saya ?" Adnan berdiri dan langsung terduduk bersudut meminta ampunan Edward.


"Heh, kau bilang aku tidak adil ?" dengan segera menoleh dan berjongkok. " Kau sendiri yang menghianatiku dan pergi pada pihak lain , baruntung aku tidak menjebloskan mu ke dalam penjara "


"Sekarang keluar !!!!!!" teriak Edward begitu keras tak ingin lagi melihat keberadaan Adnan.


"Baik " dengan kepalan tangan yang tidak terima Adnan segera keluar dari ruangan itu.


Penghianat tidak boleh lolos


Tok....tok...tok....Ketukan pintu lagi terdengar dari luar .


"Masuk !" ucap Edward sedikit tersenyum, merubah raut wajahnya yang geram menjadi lembut .



"Selamat pagi " Dengan tersenyum manis wanita itu memberi sapaan.


Dia, sedikit terkejut Edward berubah sikap seketika saat di ketahui nya yang datang bukanlah orang yang di tunggunya, Elisa.


"emm kau , apa yang kau lakukan di sini ?" tanya edward sedikit risih kembali duduk di kursinya.


"Senang bertemu dengan Mu tuan , Ternyata pemilik perusahaan ini adalah anda Tuan Edward !" ucap wanita yang kini tak asing , Juwi.

__ADS_1


"Yah , apa kau butuh bantuan , silahkan duduk !"


"Terimakasih , " Juwi segera duduk di hadapan Edward dengan sangat baik.


"Begini , saya perwakilan as Berlian ,ingin memberikan proposal ini pada anda sebagai bahan pertimbangan tentang kerjasama perusahaan kita " ucap Juwi seraya menyerahkan Map kuning tebal yang di bawanya tadi.


"As Berlian kau bilang?" jelas Edward sedikit terkejut mengenai maksud Juwi yang berasal dari perusahaan As Berlian.


"Iya , As Berlian " jawab Juwi sedikit aneh dengan keterkejutan Edward.


Dia dari perusahaan itu " emp , kau ..


"Oh , iya maaf ,aku belum memperkenalkan diri dengan baik yah, hhe ,aku Juwi Manager di bagian staf desain ,seharusnya bukan aku yang kesini , berhubung sekretaris kakakku sedang bertugas lain ,jadi aku yang menggantikannya kemari " terang Juwi sangat sempurna .


"Dunia sangat sempit "


"Apa ?"


"Oh tidak , jadi kau adalah adiknya Dimas ?" sedikit melengos Edward menggaruk kepalanya dengan pena.


"Iya ,aku adiknya Dimas , bagaimana , bisa anda menerima pengajuannya kembali ?" tanya Juwi menatap Edward secara berbeda , di pikirnya pria tampan itu sangat lucu dengan ekpresi wajahnya yang cuek .


"Oke , berhubung kita sudah pernah bertemu ,aku akan pertimbangkan !" jawab Edward memberi senyum tipisnya ,


"Terimakasih , " ucap Juwi sambil menyodorkan tangannya ,yang tak langsung di sambut oleh Edward.


"Bagaimana dengan mobil anda tuan , apa sudah di perbaiki ?" tambah Juwi lagi karena salaman tangannya tak di terima.


"Oh , iya ,mobilku lagi di servis , itu tidak masalah !" jawab Edward yang kemudian berdiri karena melihat Juwi juga berdiri.


"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan !" tambah Juwi lagi kali ini tak mengulurkan tangan malah membungkukkan badannya.


"Baik , aku akan mengurus kembali pertemuan perusahaan kita !" jawab Edward membukakan pintu untuk wanita yang masih tersenyum padanya.


"Sampai bertemu lagi !" ucapan terakhir Juwi ketika meninggalkan ruangan itu.


Brakkk...


Pintu langsung di tutup Edward , Ahh , kupikir tadi Elisa , dia kemana ? katanya ingin menyusul ,apa dia belum bangun ? dasar putri tidur , hati Edward berceloteh sendiri sambil tersenyum.


Ia duduk kembali seraya meraih ponselnya yang berada di atas meja , Di ketik nya kontak panggilan wanitaku.


Tut................


Tut...............


Tut.....Tut.....Tut.... Tak tersambung.


"Dasar !" bibirnya masih tersenyum saat itu , kemudian ia teringat tentang kedatangan Juwi saat melihat map kuning di hadapannya.


kembali Edward mendekat panggilan di ponselnya.


"Kau urus pertemuan kita untuk perusahaan as Berlian !" perintah Edward pada seseorang yang tak lain adalah Jordi di telpon.


"Baik pak !" jawab Jordi tegas.


"Satu lagi , pinta anak buahku untuk mengawasi Adnan , ikuti dia kemanapun ia pergi !" tambah Edward tak ingin Adnan lolos begitu saja.


"Baik !" jawab Jordi di ujung suara. dan telponnya kembali terputus.

__ADS_1


Heh , As Berlian ,apa tujuanmu sebenarnya ??


__ADS_2