
"Selamat Malam semua" ujar Dimas ketika sampai di kediaman Aleksander menyapa semua penghuni rumah megah itu.
"Malam , akhirnya kamu sampai juga Dimas "sambut Alek tampak berdiri dari posisi yang sebelumnya sudah duduk di meja makan menunggu kehadiran Dimas begitu pula dengan Zelin yang mengundang nya untuk makan malam.
Dimas datang dengan setelan jas rapi sembari membawa sebuah buket bunga besar di tangannya.
"Iya Om , oh ya ini bunga buat Edward , bagaimana kondisinya , apa ada perkembangan ?" tanya Dimas tampak sangat perduli pada keadaan Edward.
"Elisa ambil bunganya !" titah Alek pada sang menantu, Elisa pun segera menerima buket bunga itu.
"Edward masih seperti biasa , ya saya berharap dia akan segera sadar" tambah Alek dengan menghela nafas panjangnya kasar.
"Semoga ya Om, saya juga turut mendoakan" jawab Dimas sopan.
"Ayo ayo kita makan dulu !" ujar Duma dengan membawa sup hangat di tangannya dan menyiapkan nya di atas meja.
"Wahh , apa ini masakan Tante Duma ?" tanya Lisa sangat antusias melihat sup hangat itu.
"Ayo nak Dimas kita segera makan !" ajak Zelin pada Dimas yang saat itu mengangguk dan segera duduk di kursi yang telah di sediakan.
"Kamu bisa masak Duma ?" tanya Alek sedikit tidak percaya ,bahwa istri keduanya itu memasak.
"Bisa dong, kan kakak Zelin yang ajarin!" jawab Duma tampak menyipitkan sebelah matanya pada Zelin yang kini duduk di sebelah Elisa sambil tersenyum, melihat semua keadaan itu Elisa sangat lah bahagia.
'Kamu lihat sayang, keluargamu sudah bahagia sekarang,seharusnya kamu juga ada di antara kami '
Elisa menatap jauh ke arah tangga yang menuju kamarnya di atas , ia tersenyum seolah menyaksikan seorang pria berdiri di anak tangga tersenyum dengan sangat tampan ke arahnya.
"Bukankah dia harus mendengar suaraku baru akan terbangun" ujar Dimas yang sedari tadi memperhatikan Elisa dengan duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Mendengar ucapan itu tatapan Elisa langsung mengarah pada sumber suara, begitu pula dengan yang lainnya tampak jelas mendengar ucapan Dimas dan menatapnya diam.
"Hahahaha.... " tiba-tiba terdengar suara Aleksander tertawa setelah semuanya terdiam tadi.
"Kamu benar Dimas , bagaimana jika kamu nanti menjenguk Edward di kamar nya !" tambah Alek lagi dengan jelas , tanpa di pungkiri menurut perkataan dokter bahwa Edward bisa mendengar semua hal yang ada di sekitar nya , tak ada salahnya jika ia mendengar kabar tentang Dimas dan mungkin akan sangat bereaksi jika Dimas secara langsung berhadapan dengannya , mengingat tentang semua kejadian yang bersangkutan antara Dimas dan Edward.
"Hemm.. iya nak ,kamu boleh menjenguk Edward , jika kamu menginginkan nya " tambah Zelin mengerti maksud di balik perkataan suaminya itu.
"Jika semua tidak keberatan aku akan mengunjunginya " jawab Dimas sambil tersenyum.
"Elisa nanti kamu tolong antar Dimas ke kamar Edward! ,sebelum itu mari kita santap dulu hidangan ini " sambung Alek lagi mengarah pada Elisa.
__ADS_1
"Baik ayah " jawab Lisa pelan , dengan segala pemikiran yang ada di hatinya , selama ini ia belum pernah terpikir untuk membawa Dimas langsung ke hadapan Edward , apa tidak menutup kemungkinan jika Dimas bertemu Edward maka itu akan menjadi pancingan akan reaksi Edward untuk kondisinya , tapi....
"Elisa , kamu harus makan banyak sayur ya !" Zelin tiba-tiba menyendok banyak sup sayur pada piring Elisa , dia tahu benar jika Elisa saat ini pasti memikirkan Edward saat ini.
"Terimakasih Bu " dengan tersenyum Elisa pun menerima baik perhatian Zelin.
_
_
_
_
_
_
pukul 20.21 (waktu setempat)
"Silahkan masuk !" ujar Elisa segera membuka pintu kamarnya , menyarankan Dimas yang telah berdiri di depan kamar untu segera masuk.
Kedua mata Dimas terus saja menerawang segala keadaan yang ada di depannya, ia mengingat benar akan pertemuan pertama kalinya dengan Edward saat dimana itu juga menjadi pertemuan pertama kembali ia pada seseorang di masa lalunya, Elisa.
"Aku akan pergi ke bawah , jika ada sesuatu...
"Tidak , maksudku sebaiknya kamu tetap berada di sini saja !" pinta Dimas tak ingin Elisa pergi meninggalkan mereka.
"Oh, baik lah " jawab Elisa sedikit canggung mengenai keadaan itu , saat ini Elisa lebih memilih untuk mengambil kursi kecil yang ada di dekat lemari dan memberikannya pada Dimas.
"Silahkan duduk " tawar Elisa pada Dimas sembari menyodorkan kursi tersebut.
"Terimakasih " jawab Dimas lagi segera duduk di kursi itu.
"Apa dia baik-baik saja?" tukas Dimas masih fokus memperhatikan Edward yang kini tampak jelas di hadapannya.
"Dia akan baik-baik saja" jawab Elisa kemudian melangkah mendekat pada Edward dan segera duduk di sebelahnya , lalu memegang tangan Edward penuh kehangatan, melihat hal itu Dimas tampak tersenyum simpul.
"Apa kamu sangat mencintainya ?"
"Apa?" Elisa tampak kaget dengan ucapan yang terlontar dari Dimas saat itu .
__ADS_1
"Huhggg..." terdengar hembusan nafas kasar dari Dimas kemudian mengarahkan tatapan matanya pada Elisa yang saat itu juga menatap Dimas.
"Aku sangat mencintainya" jawab Elisa mantap dengan tatapan matanya yang membulat , sebenarnya ia tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan Dimas itu , bukanlah hubungan mereka akhir-akhir ini sudah jauh lebih membaik , tapi mengapa Dimas melontarkan perkataan yang sangat Canggung.
"Bahkan bila dia tidak akan bangun sekalipun " tambah Dimas lagi masih menatap Lisa .
"Apa maksudmu Dimas ? aku yakin suamiku akan bangun " tampaknya Elisa mulai merasakan ketidak nyamanan nya atas penuturan Dimas yang di dengarnya.
"Aku tidak bermaksud apa-apa, aku harap kamu tidak salah paham Elisa , aku hanya bertanya dan Edward mendengarkannya "
"Ya , tapi jujur aku sangat terkejut atas ucapan mu itu " jawab Lisa semakin mengeratkan pegangan tangannya pada sang suami.
"Maaf , tapi selama ini aku juga masih mencintai mu Lisa " lagi-lagi hal yang mengejutkan kembali terdengar di telinga Elisa.
"Aku tidak bisa membohongi diri ku selama ini , aku masih saja tidak bisa membuang semua perasaan ku padamu , mendengar kabar tentang mu ,melihat dirimu..
"Cukup Dimas ! cukup !" Elisa tampak mulai tidak tahan dengan situasi saat itu , hingga memaksanya untuk berdiri dengan sangat kesal .
"Apa kamu tidak menghargai keadaan suamiku ? bagaimana bisa kamu berkata seperti itu di hadapannya ?" nada bicara Elisa tampak tertekan dengan emosi yang naik, ia tak menyangka bahwa Dimas akan mengucapkan hal yang selama ini tak ingin di dengarnya kembali.
"kenapa tidak bisa Elisa ? apa kamu ingin menyalahkan perasaan ini padamu , apa salah jika aku mencintai kamu , salahkan aku ?"
"Keterlaluan ....." teriak Lisa sedikit keras , ucapan Dimas di nilainya sangat keterlaluan.
"Heh, keterlaluan ... bahkan kamu teriak di hadapan suamimu yang berbaring lemah seperti ini, apa kamu tidak keterlaluan ?"
Oh mom, "Aku mohon sebaiknya kamu pergi!" pelan ucapan itu keluar dari bibir Lisa dengan sedikit meredam emosinya.
"Aku mencintai mu , dan akan terus mencintai mu " perkataan itu tidak bosan di lontarkan Dimas kembali.
"Pergi.....!" teriak Lisa lagi begitu keras , kini Lisa tampak melangkah maju menghampiri Dimas yang masih duduk di kursi.
"Kamu tidak pantas berkata seperti itu , pergi Dimas pergi ....!!! " Elisa menarik paksa Dimas untuk bangkit dari duduknya dan mendorong Dimas dengan teriakannya untuk keluar segera dari kamarnya...
"Apa kamu tidak dengar ..!" teriak Lisa lagi mengusir Dimas yang menguatkan pendirian nya untuk tetap di sana , sementara Elisa tampak memukuli tubuhnya dengan air mata nya yang keluar dalam emosinya.
"Aku mohon pergi ...! ujar Elisa lagi menangis atas segala ucapan yang ia dengarkan .
"Elisa ... apa yang terjadi ? kenapa kamu berteriak ?" Zelin tiba-tiba datang setelah mendengar teriakan Elisa yang cukup keras itu.
Bersambung....
__ADS_1