
Brakkkkkk........
Tendangan keras di lakukan Dimas pada Pintu kamarnya hingga nyaris terlepas ,Juwi yang kaget bukan kepalang segera menghampiri asal bunyi suara yang di ketahui nya berasal dari kamar atas ,kakaknya.
"Ada apa kak?" tanya Juwi yang panik ketika melihat keadaan Dimas yang di pikirnya sangat berantakan ,Dimas berdiri di depan jendela yang menghadap keluar, dengan kedua tangannya yang menggenggam seolah ingin meremukkan kaca jendela itu.
"Kamu ini kenapa? apa hal ini ada hubungannya dengan Elisa ?" tambah Juwi lagi mendekati kakaknya yang masih tak menggubris.
"Batalkan saja kerjasama yang kau ajukan dengan perusahaan Edward Manopo!"
"Kenapa?" tanya Juwi sedikit heran.
"Pergilah , aku butuh waktu untuk sendiri !" jawab Dimas berbalik arah mendorong Juwi keluar kamar.
"Kak...aku masih ingin bicara !"
"Keluar.......!!!!!" Dimas mendorong Juwi keluar kamar, lalu pintu di tutupnya ,meski pintu itu sudah tampak sekarat.
"Sebenarnya apa yang terjadi ? Elisa...ya Elisa ,aku harus bertemu dengan nya, mungkin Haris tahu dimana keberadaan Elisa !" Juwi yang menduga seperti itu segera keluar menemui Haris untuk memberitahu nya tentang Elisa.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
"Aku ingin tahu dimana Elisa berada?" tanya Juwi yang menemui Haris di sebuah kafe, mereka melakukan janji temu.
"Ada apa Juwi? kenapa kau tiba-tiba bertanya mengenai Elisa?" Haris sedikit bingung ,karena sebenarnya dia sudah mengetahui semua hal tentang Elisa.
"Katakan saja, ini soal kakakku, seperti nya dia marah sekali "
"Apa yang terjadi pada Dimas?" tanya Haris malah penasaran .
"Dia baik-baik saja, hanya saja ,kau tahu lah , ,ayo katakan Elisa sekarang berada dimana?" Juwi makin memaksa, sementara Haris tidak mungkin mengatakan pasal Elisa masuk dah sakit ,dan disana tentunya ada Edward.
"Haris ....
"A...aku tidak tahu , barangkali Dimas marah ,bukan tentang Elisa ,lagipula mereka sudah lama tidak bertemu " jawab Haris gugup.
"Kau jangan bohong, kau kira aku tidak tahu ,kak Dimas selalu bertanya keadaan Elisa ,itu juga kau sendirian yang mencari tahu, tidak mungkin kau tidak tahu"
"Katakan Haris !!!" gertak Juwi dengan nada tinggi.
"Dia di rawat di rumah sakit ,Kota X"
__ADS_1
"Rumah sakit kau bilang , memangnya apa yang terjadi padanya?" sedikit tidak percaya Juwi menyeringai.
"Aku sudah memberitahumu, selebihnya ,itu urusanmu ,jangan sampai hal ini Dimas tahu "
Juwi tampak diam dan berfikir, sementara Haris meneguk segelas air putih di depannya, tampak berkeringat ,ia sangat tak ingin Juwi ikut campur dalam hubungan Elisa , itu akan sangat rumit ,terlebih lagi jika tahu Elisa adalah wanita Edward " terserah mereka" pikir Haris dalam hatinya.
"Aku akan menemuinya !"Segera bangkit ,Juwi meninggalkan Haris ,Juwi segera masuk ke dalam mobil.
"Jalan pak ,kita ke rumah sakit " ujar Juwi pada supirnya, merekapun bergegas.
11 .00
"Elisa ,kau ingin makan buah jeruk?" tanya Delta yang duduk di sofa seraya mengupas kulit jeruk.
"Tidak ,kau makan lah " Elisa tampak santai terbaring dengan sebuah buku yang Edward berikan padanya , hal itu di pikir untuk menghadapi rasa sunyi nya ketika Edward tidak ada.
"ya sudah jika tidak maju, oh yah ,bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan pak bos?" pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut delta, Elisa sedikit terkejut.
"Maaf, bukan maksudku...
"Tidak apa, Dia bilang dia akan menikahi ku "
"Benarkah , wahh, selamat yah " Delta segera mendekati Elisa dan memeluk nya , hal itu tentu membuat Elisa juga sangat bahagia.
"Kamu doakan saja yang terbaik ," tambah Lisa dalam senyum kebahagiaannya.
"Tentu, Pak bos lebih cocok denganmu, daripada wanita jahat itu "
"Husstt....Di sini aku lah yang sebenarnya jahat ?" suara Elisa berubah seketika ,saat mengingat dia lah yang masuk kedalam kehidupan Edward ,hingga jadi seperti sekarang ini.
"kamu jangan bilang seperti itu , dari awal juga pak bos kan tidak mencintai dia, hubungan mereka hanyalah sebatas soal bisnis.
"Jadi kamu adalah cinta nya, "tambah Delta lagi seraya mengusap bahu Elisa dalam pelukannya.
"Maaf nyonya, ada wanita yang ingin bertemu dengan anda ?" kata seorang suster uang datang.
"Suruh masuk saja " singkat Lisa sedikit heran, apalah itu ibu, tapi tidak mungkin begitu.
"wanita siapa lisa? Delta juga tampak penasaran.
Wanita itu adalah Juwi , ia langsung masuk setelah suster mempersilahkan.
"Elisa , apa kabar?" ucap Juwi menyapa saat masuk membuat Elisa benar-benar kaget, Juwi.
"Darimana kau tahu aku disini? apakah dim...
"Tidak , aku mengetahuinya sendiri , tapi ini memang berhubungan dengannya" jawab Juwi langsung pada intinya.
"Aku seperti pernah melihat wanita ini" celetup Delta di samping Elisa.
"aku boleh bicara denganmu Lisa!" ujar Juwi melirik Delta, agar delta pergi meninggalkan mereka berdua di sana.
"Delta " ucap Elisa seraya memegang tangan delta, Menyarankan nya untuk keluar dulu sementara, Delta pun mengerti maksud Elisa.
"Aku tunggu di luar " jawab delta segera meninggalkan Elisa dan Juwi di sana.
_
_
__ADS_1
_
_
_
_
_
_
"Kau ingin berbicara apa Juwi ?" tanya Elisa langsung pada intinya.
"Elisa, apa kau tidak bisa mempertimbangkan perasaan kakak ku terhadapmu ?" pertanyaan itu tentu membuat Elisa bermuka masam.
Ia yakin ,Juwi pasti akan membicarakan hal itu.
"Kau tahu, sejak kejadian waktu itu kakakku selalu merasa bersalah ,hingga ia bertekad untuk sukses dan ingin menjemputmu Lisa "
"Juwi....
"kak Dimas sangat mencintaimu , Dia sangat terpukul saat ini "Juwi berbicara seraya mendekati Elisa,
"Kini dia tengah kecewa, sebenarnya apa yang terjadi? Dia pasti sudah datang kemari"
"Cukup....!!!" suara Elisa sedikit keras membuat Juwi tersentak.
"Ini bukan soal dulu ataupun kemarin, Aku tidak pernah melupakan Dimas ,baik di masa lalu ataupun sekarang "
"Tapi kau perlu tahu, rasaku padanya itu hanya sebatas kakak dan teman ,itu saja "
"Tapi bagaimana bisa lisa? apa kau tidak pernah melihat perjuangannya ?"
"Aku berterimakasih Juwi, berterimakasih untuk kakakmu dan juga dirimu , tapi Hati ku tak bisa di paksa "
"Apa kau sudah mempunyai pria lain ?" tanya Juwi menghentikan ucapan Lisa ,tatapan mata Juwi tak lepas dari Elisa , namun Elisa tak membalas tatapannya , batin Elisa meronta dengan matanya yang berkaca-kaca, bukan maksud ia ingin melupakan seseorang yang pernah berjasa di hidupnya ,tapi bagaimana cara menjelaskan perasaannya yang tak mungkin di paksa.
"Elisa , jawab aku ?" tanya Juwi dengan sedikit nada tinggi.
"Pergi lah Juwi , aku lelah " ucap Elisa kini berusaha menyandar kan tubuhnya di atas bantal.
"Heh, begitu kah caramu menolak kakak ku ?" ketus Juwi terlihat kesal melihat Elisa mengabaikannya.
"Aku ingin istrirahat" tambah Lisa pelan seraya menutup kedua matanya .
Brakkkkkkkkkkkk
Dengan keras Juwi keluar sembari membanting pintu , tampaknya ia sangat tidak terima di perlakukan Elisa seperti itu.
Elisa yang sedikit kaget, ia coba bersikap biasa ,Di pikirannya saat ini kacau ,kenapa harus ada masalah lain ,di saat masalah nya baru terselesaikan.
"Elisa, apa kau baik-baik saja?" Delta segera masuk ketika Juwi keluar berpapasan dengannya di luar tadi.
"Yah ,aku hanya lelah " singkat Lisa masih menutup matanya.
"Wanita itu kenapa? wajahnya kusut sekali setelah bertemu denganmu , apa yang kalian bicarakan tadi ?" Tampak nya Delta sangat penasaran ,sementara Elisa tak bergeming menghadapi tingkah sahabatnya yang cerewet itu.
Bersambung .......
***Rasa berterima kasih ,tidak harus membalasnya dengan kasih sayang yang di paksa..
Tapi berterimakasih lah dengan tulus ketika bicara dan memberi apa yang seharusnya di butuhkan ...
Orang yang tahu akan hal itu ,tidak akan pernah memaksa perasaannya ,meskipun ia terluka...
__ADS_1
fitry Handayani***_