Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Di balik pintu.


__ADS_3


"Baringkan dia di tempat tidur pak !" ucap Elisa menyuruh Wisnu segera membaringkan tubuh Edward di atas tempat tidur.


Kini Edward sudah terbaring kembali di atas tempat tidur , Elisa segera membuka baju nya dengan di bantu Wisnu.


"Ini non air hangat nya !" Dewi datang dengan air hangat di dalam wadah yang lumayan besar .


"Terimakasih bi , !" Elisa segera mengambil handuk kecil di dalam lemari dan di celupkannya ke dalam air hangat itu kemudian di perasnya.


"Kalau begitu saya permisi dulu non, saya akan menghubungi dokter Jordan kembali agar lebih cepat sampai !" ucap Wisnu mohon diri .


"Apa ada hal lain yang non Lisa butuhkan ?" tanya Dewi yang sedikit tertunduk melihat Elisa yang tengah mengelap tubuh Edward dengan handuk hangat.


"Bibi toping buatkan sup saja , siapa tau nanti tuan bangun ,dan ingin makan !" jelas Lisa masih fokus mengelap tubuh Edward .


"Baik !" Dewi segera bergegas pergi meninggalkan kamar itu.


sementara Elisa segera mengelap tubuh Edward secara keseluruhan dengan air hangat, " pria gagah seperti dia bagaimana bisa sering tumbang, ku pikir kau ini kuat ,heh aku salah !' gumam Lisa pelan tak mengira melihat Edward sakit dan jatuh pingsan seperti itu.


setelah semua tubuh Edward di basuhnya dengan handuk hangat ,Elisa segera memakaikan kaos dingin pada Edward agar tubuhnya sedikit nyaman dalan keadaan demam, ia sedikit ingat jika orang mengalami demam tinggi sebaiknya tubuh jangan terlalu di hangatkan dengan pakaian tebal maupun selimut hangat ,cukup tertutup agar tak masuk angin dan usahakan sering mengompresnya.


"huggh...kau tahu ,entah mengapa aku merasa kau saat ini adalah keluargaku ,dasar pria aneh !" Elisa memandang wajah pucat Edward dan bergumam sendiri seraya sedikit mengusap wajah pria itu tanpa sadar.


ehh, apa yang kulakukan ,tidak ...tidak...di tariknya cepat tangan yang menyentuh wajah Edward seketika ,Elisa tidak tahu apa yang dia lakukan, hanya saja hal barusan membuatnua sangat nyaman.


 


Tok...tok....tok...


 


"Nona, ini dokter Jordan sudah tiba !" ucap Wisnu dari luar kamar.


"Masuk lah pak !" sahut Elisa segera berdiri ,sementara pintu kamar di buka dari luar , Wisnu datang bersama Jordan .


"Sejak kapan dia mengalami demam ?" tanya Jordan langsung mengecek suhu tubuh Edward dengan alat nya .


"Suhu tubuhnya tinggi sekali !" tambah Jordan segera duduk di sebelah Edward.


"Dia sepertinya mengalami demam dari tadi pagi ,hanya saja demamnya hilang dan timbul kembali" jawab Lisa jelas.


"Apa dia ada mengeluh sakit kepala ?"


"Entah lah ,tapi seperti yang terlihat dia memang sakit kepala, karena selalu memegang kepalanya , heh, dia tidak mungkin mengaku !" ketus Lisa malah terlihat mengejek.


Jordan seketika menoleh pada Lisa yang tampak cemberut , " kau benar ,pria angkuh ini mana mau mengaku ..hahaha...akhirnya ada yang sependapat denganku." Jordan malah tertawa membuat Elisa sedikit tak terbiasa.

__ADS_1


"emp, pak Wisnu apa boleh saya minta tolong ,tolong ambilkan kotak obat saya di dalam mobil !" ujar Jordan pada Wisnu.


"Baik tuan,!" Wisnu segera pergi keluar kamar dan menutup pintu kamar itu meninggalkan mereka .


 


***Dibalik pintu " Saya juga sependapat dengan dokter ..hhe***"


 


" Apa dia cuma demam biasa ?" tanya Lisa sedikit khawatir.


"Seperti nya dia sedikit mengalami stres , apa di kantor banyak pekerjaan ,ku dengar kau adalah sekretarisnya ?" balik tanya Jordan menatap wanita yang berdiri sedikit di belakangnya.


stres kau bilang, benarkah " banyak pikiran maksudmu ?" ketus Lisa tak menggubris pertanyaan Jordan .


"ya begitu lah , hemp ,nanti akan ku buatkan resep obat dan vitamin untuknya ,sementara ini sebaiknya dia tidak perlu ke kantor dulu !" jelas Jordan mengecek tanda vitalnya.


"Bolehkah aku bertanya secara pribadi padamu dokter ?" ucap Lisa pelan dan ragu .


"Heh, nona Lisa ingin bertanya apa ? silahkan saja!" jawab Jordan santai masih memeriksa Edward.


"Ku lihat anda mengenal baik tuan Edward, sebenarnya bagaimana hubungan antara edward dan istrinya itu ?" dengan lantang Lisa berkata dengan mengesampingkan rasa malunya , sedang Jordan sedikit kaget dengarkan pertanyaan yang ia dengar ,sampai ia memberhentikan pemeriksaan nya.


"Apa maksudmu Belinda ?" tanya Jordan jelas mengulur waktu dengan menatap Lisa yang tampak yakin menunggu jawaban.


"Apa ini waktu yang tepat untuk membahasnya ?" ketus Jordan melangkah menuju pojok jendela dan membuka tirainya , membuat kamar yang sedikit gelap itu tampak terang dengan senja sore itu.


"Jawab saja ,tepat ataupun tidak ku rasa jawaban mu akan sana jika kau berkata jujur !" ucap Lisa membuat senyum kecil terbesit di bibir Jordan kala itu, benar-benar wanita yang menarik, pantas saja dia mempertahankan nya sejauh ini , pikir Jordan kembali menatap Lisa .


"Oke, yah aku memang sangat dekat dengan Edward, kami berteman sejak kecil, jelas aku mengetahui hubungan mereka dengan baik"


pelan Jordan berkata menunggu reaksi Lisa ,lalu melanjutkan kembali.


"Edward dan Belinda di jodohkan lantaran kedua orang tua mereka adalah rekan bisnis "


"Apa mereka saling mencintai ?"


"Apa? heh, kenapa kau menanyakan itu ?"


Jordan kembali kaget dengan pertanyaan Elisa , sebenarnya dia polos atau bagaimana?


"Jawab saja !" ucap Lisa tidak sabar.


"Hey nona, kau akan membangunkan pria itu nanti jika berteriak seperti itu !"


"Siapa yang berteriak , heh !" Elisa sedikit melengos kesal, sepertinya salah bicara dengan pria ini ,ku pikir dia kalem dan tenang, ternyata sama saja, sama-sama menyebalkan.

__ADS_1


" kalian ini ribut sekali !" sedikit parau suara Edward terdengar sadar.


"wah. wah ,kau sudah siuman teman ?" ucap Jordan segera mendekati Edward dan duduk di sebelahnya.


heh ,teman , kekanak-kanakan sekali.


"Kau demam tinggi, tapu untungnya wanitaku ini cepat tanggap ,jika dia tidak segera mengompres tubuhmu segera, maka kau akan mengalami dehidrasi lagi, kau ini sering sekali dehidrasi !" ucap Jordan sedikit tertawa cengengesan menggoda Edward yang mulai mengumpulkan kesadaran.


Jadi dia tahu aku sudah mengompresnya, heh tentu dia tahu ,di sana kan ada bekas kompresan ,dan katanya tadi Edward stres , apa maksudnya? kenapa sekarang dia bilang dehidrasi .dasar ,


"Apa kabarmu Jordan ?" tanya Edward ingin segera bangkit.


" eitss, sok jagoan ,kau berbaring saja , kondisi tubuhmu ini masih lemah ,!" Jordan menekan tubuh Edward agar tak bangkit.


"Elisa ,aku ingin bersandar !" tatapan mata Edward tertuju pada Lisa yang segera mendekati nya.


"Baik lah , sini biar ku bantu!" ucap Lisa segera menumpuk dua bantal besar di balik tubuh Edward ,agar bisa menopang tubuh Edward untuk bersandar.


"Heh, kau hebat ,tak ku izinkan bangkit, malah menyuruhnya untuk menyandarkanmu !" ketus Jordan sinis jelas menyindir Lisa.


"Diam lah ,beri kan aku obat segera ,aku tidak ingin kau berlama-lama di sini !" ucap Edward menggoda Jordan, jelas pemandangan itu terasa nyaman di rasa Elisa, ia baru sadar ternyata sosok pria yang selama ini menakutkan , dingin, dan angkuh itu bisa bersikap hangat seperti itu.


"Aku pergi dulu ,ingin menyiapkan makan untuk kalian !" ucap Lisa tak ingin menggangu percakapan kedua pria itu.


"silahkan nyonya !" ledek Jordan geli melihat sikap Lisa.


"Hey ,kau apa-apaan ,jangan menggoda nya !" teriak Edward sedikit melempar bantal pada Jordan ,sementara Elisa cepat keluar karena malu dan canggung dengan keadaan itu.


 


***Dibalik pintu " nyonya, aku sendiri belum mendapat jawaban soal pertanyaanku ,bagaimana bisa berharap menjadi nyonya " Aids ..Elisa sadar...sadar lah*** !!!


 


" Aku sudah dengar semua berita tentangmu , apa hal itu yang membuatmu stres begini ?" tanya Jordan mulai serius pada Edward yang sedikit memejamkan kedua matanya.


"Cep..aitts ..ternyata seorang dokter juga suka gosip murahan seperti itu !" sinis Edward kini memandang ke arah luar jendela.


"Apa seorang pimpinan besar seperti ayahmu juga tidak akan tahu hal ini ?"


" Entah lah ,ku rasa juga tahu ,tapi mereka belum berani ambil resiko lebih jauh ." sedikit menarik nafas Edward masih menatap keluar jendela.


"Apa dengan wanita itu ,maksudku Elisa , kau benar serius ?" agaknya pertanyaan itu semakin serius terlontar dari mulut Jordan.


Edward tak segera menjawab , namun dalam hatinya ,sangat berharap lebih .


"jika butuh bantuan ,aku siap membantumu !" tambah Jordan merelakan jawaban dari pertanyaan nya dengan menepuk - nepuk bahu Edward...

__ADS_1


"Terimakasih , ,


__ADS_2