Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Seminggu


__ADS_3

Pagi hari yang sedikit mendung membuat cuaca di kota X sangat teduh, Elisa menuruni tangga menuju ruang tamu di rumah Dimas, sudah seminggu dia berada di sana tanpa keluar kamar, Tubuhnya masih sangat lemas, terlebih mengingat kejadian yang sangat naas menimpa Nisa, Elisa benar-bwnar terpukul dan sedih, tapi Juwi mengatakan Nisa sudah di kubur dengan sangat layak oleh keluarga Dimas membuat Lisa sedikit tenang, sementara Darma sudah di beri hukuman setimpal meski Elisa tidak tahu jelas apa yang terjadi pada Darma, ia hanya sedikit penasaran prihal siapa sebenarnya yang menyuruh Darma melakukan semua itu padanya, sementara Selama ini pertemuannya dengan Dimas hanya tiga kali, Dimas sangat sibuk di kantornya, sementara makannya sering di sediakan pelayan disana, terkadang Juwi juga datang ke atas saat tidak bekerja, menemani Elisa untuk sekedar berbincang dan berbagi cerita, Juwi berkata jika Dimas suka menceritakan Elisa , terlebih saat masa sekolah dulu, serta awal mulanya perpisahan di antara mereka yang membuat Dimas merasa bersalah dan tersiksa.


Elisa tak banyak menanggapi cerita itu, ia hanya sedikit merespon dengan senyum dan anggukkan kepalanya, di pikir ya tak ingin mengulik masa lalu lagi, terlebih kehidupannya sudah berubah saat ini.


"Non Lisa mau kemana?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah Imah pelayan di rumah Dimas.


"Aku mau keluar bi, bosan sekali di kamar!" ujar Lisa pada tangga terakhir.


"Apa non Lisa sudah merasa sehat, sebaiknya nona istrirahat saja, nanti Tuan Dimas bisa khawatir!" tambah Imas lagi dengan tersenyum


Tuan...Tiba-tiba saja Elisa teringat akan sosok pria yang selama ini bersamanya, Edward , Apa kau mengingatku, adakah kau mencari kepergianku, kau kemana ??


"Nona kenapa?" tanya Imah bingung melihat reaksi wajah Elisa yang berubah sedih.


"Tidak apa bi, apa Dimas dan Juwi ke kantor?tanya Lisa menatap Imah yang membalas tatapannya.


"Iya Non, Tadi bibi dengar di kantor ada rapat mendadak, jadi Tuan dan Nona Juwi buru-buru ke kantor!"


Kantor yah? "emp, Bi apa aku boleh pinjam telpon?" Lisa sepertinya mengingat keadaan kantor dan tiba+tiba saja teringat akan temannya Delta.


"Tentu, telponnya ada di sana!" tunjuk Imah di sudut kiri ruangan itu.


Elisa segera menuju telpon itu tanpa basa basi lagi, sementara Imah pergi menuju dapur.


 


Terrrr.........Di putarnya beberapa kali telpon rumah setelah menekan angka yang ia sangat ingat betul nomornya.


 


"Halo, ini siapa yah ?" Jawab seorang wanita di ujung udara.


"Del...ya, ini aku Elisa!"


"Apa? Elisa, e...lisaaaa. kamu ada dimana sekarang ?kenapa menghilang secara tiba-tiba? Apa yang terjadi padamu? bagaimana keadaanmu Lisa? Lisa..hey Lisa? " suara itu begitu jelas dalam kekahwatiran nya yang di anggap Elisa berlebihan.


" Cerewet, aku baik-baik saja kok"


"Baik-baik gimana? jelas jelas kamu menghilang ,


"Lisa...hey...


 

__ADS_1


Tap....tap....Tap.... Suara langkah kaki yang datang dari luar.


 


"Elisa, apa kamu sudah merasa baik?' Dimas tiba-tiba datang dengan tergesa-gesa, membuat Lisa kaget tanpa sadar melepaskan telponnya.


"Ka...kamu . sudah pulang?" jawab Lisa terbata-bata dengan sangat salah tingkah.


"Kau menelpon siapa?" tanya Dimas mendekati Elisa dan meraih telpon yang sedikit tergantung di atas meja.


 


Tut ....Tut......Tut....


 


"Hemz, Telpon nya terputus !" ujar Dimas meletakkan telpon sedikit mendekati Lisa, sehingga Elisa berusaha menjauh.


"Mana Juwi?" tanya Lisa Mengalihkan keadaan karena merasa sangat canggung dan tidak enak.


"Juwi ada janji temu dengan klain, nanti juga pulang , apa kau sudah makan ?" tanya Dimas lagi seraya ingin menjangkau kepala Elisa berusaha ingin mengelusnya namun Elisa agaknya sedikit menghindar .


"Oh..emp, aku sudah makan bubur tadi, Bi Imah sudah menyiapkannya, itu apa ,kenapa kau sudah pulang ,ini kan masih jam kantor yah ?" sedikit melirik jam dinding besar di ruangan itu, menunjukkan pukul 10.12.


"Aku sangat baik, Terima kasih yah Dimas, kamu dan adik mu sudah mau menolongku, tapi sebenarnya...


"Sebenarnya apa Lisa?" Dimas penasaran mendengar ucapan Lisa yang terhenti.


"Aku, ingin kembali !" jawab Lisa pelan dengan tertunduk.


"Kembali, apa kau ingin kembali ke tempat buruk itu ?ketus Dimas kasar mengingat klub malam dimana Elisa pernah bekerja.


"Tempat buruk, apa maksudmu ?" sedikit kaget, Elisa berkata lantang, tak ingin tersinggung mendengar ucapan Dimas.


"Sebaiknya kau berhenti bekerja disana!" ujar Dimas memalingkan wajahnya, sementara Elisa heran menatap nya.


"Tinggallah bersama kami Lisa, !" tambah Dimas lagi tambah membelakangi Elisa.


"Aku tidak mengerti ,apa maksudmu tempat buruk yang kamu bicarakan, tapi bagiku sekarang tidak ada tempat baik yang ada di hidupku !" kesal Lisa pelan sedikit tersinggung mendengar perkataan Dimas.


"Elisa, aku tidak tahu, bagaimana bisa kau bekerja di klub seperti itu, tapi yang jelas itu bukanlah hidupmu yang dulu, sampai sampai kau punya musuh yang kemarin hampir mencelakaimu !" Dimas menatap Lisa kembali berusaha mendekatinya.


"Jangan lagi pergi ke tempat seperti itu !" tambah Dimas mendekat namun Elisa malah memundurkan langkahnya.

__ADS_1


Klub, heh ,dia sudah tahu semua, tapi sebenarnya aku tidak ingin kembali kesana melainkan ....


"Apa kau ingin kembali ke pria itu !" cetus Dimas pelan menatap Lisa yang tak ingin ia dekati .


Mata Lisa langsung membulat mendengar perkataan Dimas, maksudnya Edward kan?


"Apa kau benar-benar mendalami pekerjaanmu ?" nada bicara Dimas sangat berat membuat Lisa sangat mengerti maksudnya ..


 


Plakkkkkkkk.......


 


Tangannya melayang begitu saja menampar wajah Dimas keras, tatapan mata Lisa sangat kesal .pikirnya ucapan Dimas sangat menyindir dan mencemoohnya secara lembut, tapi malah menambah sakit di batinnya.


"Aku sangat berterimakasih atas bantuanmu, tapi hidupku adalah hidupku, kau tidak berhak menilai ataupun ikut campur urusanku!" ketus Lisa segera berlari keluar rumah.


"Elisa, kau mau kemana?" teriak Dimas berlari mengejar Elisa yang lari begitu saja keluar, ia sadar telah berbicara sangat kasar terhadap Lisa.


"Elisa ..tunggu !" teriak Dimas lagi keluar jalanan, Sementara Elisa terus berlari menuju jalan besar di depan sana.


Kau tidak perlu menilaiku , batin Lisa sesak seraya berlari kencang, namun tampaknya Dimas berhasil menyusul dan menarik tangannya.


"Elisa, berhenti dulu, aku minta maaf, tidak seharusnya aku berkata seperti itu !" pilu Dimas berkata merasa bersalah, sementara Lisa berusaha melepasw2 waya.


"Lepas, Dimas apa yang kamu lakukan?" Elisa berusaha melepaskan pelukkan dimas.


"Aku minta maaf Lisa, aku harap kau tidak pergi, tinggal lah dulu bersama kami "


"aku harus kembali Dimas, aku sudah lama berada di rumahmu, aku harus kembali ke kantor!" ucap Lisa berusaha kuat melepaskan pelukkan Dimas yang membuat nya risih, terlebih mereka berada di jalanan ,memang tidak banyak yang melintas, hanya saja pemandangan itu tidak enak di pandang jika orang melihatnya.


"Ke kantor, maksudmu perusahaan Edward Manopo ?" tanya Dimas sedikit kesal, mengetahui kabar kedekatan Elisa dengan Edward bukan hanya sebagai sekretaris, melainkan lebih menurut kabar berita yang sudah terpercaya..


"Ya, bukan kah kau tahu aku bekerja disana ?" jawab Lisa lantang ketika Dimas melepaskan rangkulannya.


"Apa dia mencarimu, apa ada yang mencarimu saat kau hilang di saat deklarasi, heh, ku rasa tak ada, bahkan kabar polisipun tak terdengar menyatakan kehilangan dirimu, bukankah kau sekretaris perusahaan besar, apa kau tidak penting?" kata Dimas sedikit meledek kesal, mengingat Lisa ingin pergi dan kembali pada Edward.


Aku tidak tahu , tapi tadi Delta sepertinya tahu bahwa aku menghilang, apa benar mereka tidak ada yang mencariku? wajah Lisa tertunduk sangat lesu.


"Sebaiknya kita kembali dulu ke rumah, hari sudah semakin panas, besok kita akan bicarakan ini lagi !" ajak Dimas pada Lisa dengan menarik pelan tangannya.


Elisa tak menolak, ia mengikuti Dimas kembali ke rumahnya, di pikir sebaiknya dia pergi dengan keadaan yang sangat baik, tidak seperti saat ini, mengingat keluarga Dimas sudah berjasa padanya...di tatapnya langkah kaki pria yang berjalan di depannya dengan tangan nya yang masih di pegang erat Dimas..

__ADS_1


Apa tidak apa jika seperti ini?


__ADS_2