
"Elisa kamu hamil ?" Delta yang mengetahui kabar kehamilan Elisa mendadak datang ke kediaman Aleksander Manopo.
"Ya , aku hamil Del , aku hamil" Jawab Elisa penuh kegembiraan memberikan kabar itu pula pada temannya.
"Selamat ya Lisa , aku turut bahagia untukmu , pokoknya kita jaga anak kamu sama-sama ya ?" tampak Delta mengelus perut Elisa dengan sangat antusias.
"Makasih Delta " Elisa memeluk haru Delta.
"Oh ya ,kamu kemari bersama siapa?" tiba-tiba Elisa bertanya sembari celingak-celinguk menatap ke arah luar pintu rumahnya.
"Bersama saya Bu " suara pria tak asing tiba-tiba muncul dari balik pintu , Jordi.
"Jordi , ternyata kamu. apa kabar Jordi ?" ujar Lisa ramah menyambut kedatangan Jordi yang datang sembari membawa sebuah buket bunga indah di tangannya.
"Baik Bu Elisa, Oh ya ini bunga untuk Ibu, kami ucapkan selamat atas kehamilan Ibu Elisa " segera Jordi menyerahkan buket bunga itu pada Lisa yang dengan senang hati menerima nya.
"Terimakasih, seharusnya kalian tidak perlu repot-repot begini " dengan senyum manisnya Elisa kembali tersentuh.
"Elisa , ada tamu kok tidak di suruh masuk " Zelin yang mendengar suara turut keluar melihat keadaan.
"Selamat siang Bu direktur" sapa Jordi dan Delta secara bersamaan.
"Pagi , ayo masuk semuanya " jawab Zelin sangat ramah mempersilahkan mereka masuk.
"Maaf ya, aku jadi lupa menyuruh kalian masuk , ayo Del, Jordi kita ke dalam !" tambah Lisa seraya menarik tangan Delta masuk ke dalam rumah.
"Kalian ngobrol nya di sini dulu ya , Saya akan suruh Bi Dewi untuk buatkan minum"
"Tidak perlu repot-repot Bu direktur" jawab Delta sungkan.
"Tidak repot kok, tunggu sebentar ya!" Zelin kemudian meninggalkan mereka ke belakang, sementara Elisa mengajak mereka untuk duduk di sofa ruang tamu kediaman nya itu.
"Bagaimana dengan Pak Edward , apa ada perkembangan Bu?" tanya Jordi pada Lisa serius.
"Edward masih belum menunjukkan tanda kesadaran , namun dokter bilang Indra pendengar nya sangat berfungsi, dia bisa mendengar apa yang kita ucapkan "
"Benarkah? berarti pak bos bisa mendengar kan apa yang kita katakan ?" Delta tampak serius pula.
"Ya Del, dia bahkan sempat merespon ucapan ku waktu itu dengan mengeluarkan air mata"
"Air mata Bu?" Jordi sedikit kaget.
"Ya Jordi , saat aku memberitahukan hal ini , Edward menangis" Elisa sedikit menunduk sembari mengelus bagian perutnya , melihat hal tersebut Delta kemudian mendekat dan langsung merangkul Elisa untuk menguatkan nya , jelas keadaan itu sangat menyedihkan buat Elisa.
__ADS_1
"Pak bos pasti sangat bahagia mendengarnya, kamu harus tetap yakin dan positif, pak Bos pasti akan segera sadar!" tambah Delta menyemangati.
"Tentu Del, aku akan selalu berdoa untuk kesadaran suamiku"
"Boleh saya melihat Pak Edward Bu ?" tiba-tiba Jordi ingin bertemu Edward .
"Tentu Boleh , Mau aku antar ?"
"Apa boleh saya menemui nya sendiri Bu , Bu Elisa sebaiknya mengobrol saja dengan Delta dulu " Jordi tampaknya enggan di temani Elisa untuk menemui Edward.
"Baik lah , kamu silahkan naik ke atas saja ,kamar utama di lantai atas itu kamar kami " jawab Lisa sembari menunjuk ke arah tangga yang naik ke lantai atas.
"Terimakasih Bu , saya mohon izin menemui pak Edward " sedikit membungkuk badan Jordi tampak benar-benar ingin menemui Edward di atas.
"Silahkan Jordi !"
"Bukankah dia sekarang hampir mirip dengan pak bos ?" tukas Delta tampak sinis sembari berdiri dengan tatapan nya yang mengarah pada langkah Jordi yang kini tengah menaiki anak tangga menuju lantai atas.
"Apa maksudmu?" jelas Elisa tampak aneh menatap raut wajah Delta yang berubah.
"Ya masa kamu tidak tahu , bukankah bahasa yang dia pakai itu terlalu rapi dan formal , kamu tahu kan Lis , Jordi itu sebelumnya adalah pria manis yang cerewet dan humoris , sekarang apa? dia berubah menjadi pendiam dan cuek , dia dingin seperti es di tambah nyebelin nya minta ampun"
"Oh jadi maksud kamu suamiku itu nyebelin ?"
"ih , bukan nya begitu, ya pak bos sih emang nyebelin hhe "
"Deltaaa. . ."
"Gak kok bercanda "
"Tapi emang iya sih , Jordi jadi lebih dingin , tapi dia tampak keren kok "Elisa menyilang tangan sedikit berfikir tentang perubahan sikap Jordi.
"keren apa nya ? biasa aja tuh " kembali nada bicara Delta tampak sinis , ketika dia mengingat tentang perubahan sikap Jordi yang dingin padanya.
"Hem , biasa aja ya? tapi kok tatapan mata kamu terus ke atas sih ? Jordi nya saja sudah gak ada tuh , gak kelihatan"
" Elisa , kamu bicara apa ha?" sedikit mencubit Elisa Delta tampak sangat kesal ketika Elisa terus saja menggoda nya.
"Emang bener kok "
"Apa nya yang emang bener , aku gak lihat ke arah dia terus ?"
"Itu kamu bilang barusan "
__ADS_1
"Kapan ??"
"Hhhh..
"Apa yang kalian ributkan ?" Elisa dan Delta sedikit terkejut akan kedatangan seseorang di tengah pertengkaran kecil kelucuan yang mereka buat.
"Emm , Dokter Jordan " ujar Elisa langsung berdiri dari yang posisi awalnya tadi berada sedikit menempel pada duduknya dengan Delta, Delta pula tampak sedikit membenarkan posisi rambutnya yang tampak acak-acakan karena Elisa sempat mengacak-acak rambutnya barusan.
"Maaf ya , seperti nya kedatangan aku sedikit mengganggu" jawab Jordan sedikit tersenyum simpul dengan tatapan nya yang melirik ke arah Delta.
"Sangat menggangu" bisik delta melengos ke arah Elisa.
"Delta , jangan bicara seperti itu " sambung Lisa turut berbisik sembari menyenggol bahu Delta.
"Apa dokter Jordan ingin memeriksa keadaan Edward?" tanya Lisa sedikit mengalihkan tatapan canggung di antara mereka.
"Ya , aku kemari ingin mengecek keadaan Edward , apa ada perkembangan lagi mengenai kondisi nya " jelas Jordan masih dengan tatapannya yang mengarah pada Delta.
Seperti nya dokter Jordan menyukai Delta deh , dia terus menatap Delta seperti itu ?
"Oh , baik lah. Delta kamu bisa tolong antar dokter Jordan ke kamar Edward !" tiba-tiba Lisa menyarankan Delta untuk mengantarkan dokter Jordan ke kamarnya.
"lah kok aku sih ? pak bos kan suami kamu , lagipula ini rumah kamu , kamu dong yang semestinya antar tamu " terlihat raut wajah Delta semakin sinis kali ini berhadapan dengan Jordan.
"Aku mau lihat Ibu dulu , kok dia lama banget ke belakang , sekalian minta tolong Bi Dewi antar minuman nya ke atas juga " dalih Lisa yang paham kondisi meyakinkan perasaan nya benar bahwa Jordan seperti nya menyukai Elisa, tidak ada salahnya jika ia bisa jadi Mak comblang buat temannya itu. hhe
"Apakah nona Delta tidak keberatan , jika mengantarkan saya ke kamar Tuan Edward ?" suara Jordan tampak sangat meledek dengan senyum liciknya.
"Dasar pria Aneh, ucapan kamu itu sangat berlebihan , aku mau muntah mendengarnya " dengan cemberut Delta segera melangkah lebih dulu untuk mengantar Jordan ke atas, Dengan senang hati atas keberhasilan nya menggoda Delta Jordan tampak tersenyum puas mengikutinya dari belakang.
"Pria Aneh , Hem , Delta mengingatkan ku pada seseorang " pelan Lisa berkata sembari tersenyum melihat ke arah Delta yang sangat terpaksa naik ke lantai atas.
Di dalam kamar.
"Selamat siang pak Edward , ini saya Jordi , bawahan mu , jika benar anda bisa mendengarkan saya , saya ingin mengatakan sesuatu" Ucap Jordi berdiri tepat di sebelah Edward yang jelas kini terbaring tak berdaya dengan segala peralatan medis yang menempel pada tubuhnya.
"Maafkan atas segala kelalaian saya pak , ini semua adalah salah saya , jika saja saya tidak terlalu takut pada saat itu , Pak Edward pasti tidak akan seperti ini , saya sangat bersalah " Dengan perasaan penuh penyesalan Jordi tampak sedikit menjatuhkan lututnya ke lantai dengan tertunduk atas segala penyesalan nya.
"Saya siap jika pak Edward mau menghukum saya atas ketidakbecusan saya menjadi bawahan Bapak " kepala Jordi masih tertunduk dengan tatapannya yang ia arahkan pada lantai di genggaman nya, Jordi masih merasa jika dia kini berada tepat di hadapan sang bos yang di anggap nya kini berdiri tepat di hadapan nya.
"Pak Edward , untuk menebus segala kesalahan saya , saya akan melakukan apapun itu ,untuk mengabadikan jiwa raga saya hanya untuk pak Edward dan keluarga, saya berjanji akan selalu setia pada pada anda, akan selalu setia . . .
Dan ada satu hal yang ingin saya sampaikan pada pak Edward ...
__ADS_1
Bersambung.......