Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Perasaan Hati Dimas


__ADS_3

"Bisa kah tidak seperti ini !" ujar Lisa sangat risih ketika Dimas semakin dekat padanya.


"Maaf !" Dimas tahu benar batasannya, sehingga ia merasa sangat canggung setelah mendengar ucapan Lisa .



Sementara tatapan lain tertuju ke arah mereka.


"Kau lihat suamiku, apa bisa dia fokus pada satu pria !" Belinda sedikit berbisik pada Edward dengan senyum liciknya, tanpa menggubrisnya Edward sedikit melengos kesal


"Baik lah, saya berikan penghargaan ini pada Nona Elisa !"


 


Prokkk....prokk...prokkk...


 


Tepuk tangan beriringan keras mendengar ucapan Aleksander Manopo , Elisa yang mendengarnya sedikit kaget dan menoleh ke depan aula .


"Selamat Elisa, !" ujar Dimas di sampingnya menyodorkan tangan untuk bersalaman, namun Elisa tampaknya sedikit tertegun dan bingung ,karena namanya di sebutkan.


"Pergi lah , mereka akan memberikan penghargaan padamu , kamu pantas mendapatkannya !" tambah Dimas sedikit mendorong pelan tubuh Lisa untuk maju kedepan.


kakinya Melangkah dengan berat menuju kerumunan orang banyak, entah ini perasaan terhormat ataupun terhina, Elisa melangkah ragu dalam tatapannya ke depan, Banyak orang asing di sana dengan berupa wajah berbeda, Mereka senang ataupun tidak bagi Lisa saat ini sangat lah tak berarti , terlebih menatap seorang pria yang semakin dekat di depan sana, Edward menatapnya datar secara seksama membuat Lisa malas menatapnya, sementara di sebelahnya seorang wanita tersenyum lembut...


Oh Mom.....


Langkah Lisa di perteguh dengan senyuman itu, "Kemari lah nak !" ujar Zelin pelan menyambut kedatangannya di tengah aula.



"Selamat Bu Elisa !" Adnan tampak memberikan semacam piala terbuat dari kaca pada Lisa.


"Terimalah !" ujar Aleksander menyarankan pada Lisa yang masih terdiam.


Tidak pernah terbayangkan ? .


prokk...prokkk...prokk...kembali tepuk tangan itu terdengar saat Elisa menerima penghargaan itu dan menoleh pada semua tamu undangan .


"Saya berterimakasih padamu Lisa, berkat deklarasi perhiasan mu waktu itu perusahaan kami menambah ratingnya !" ujar Alek menjabat tangan Lisa masih ragu .


"Bicara lah !" tegas Belinda menyambung dengan tatapan sinis, heh..Begitu lah keadaannya Lisa, kau dapat penghargaan dalam artian lain.


"Elisa ucapkan sesuatu , mereka ingin mendengarkan kamu bicara !" tambah Zelin tersenyum pada Lisa membuat Elisa sedikit tersenyum dari perasaan kesalnya, kini ia mantap kedepan menatap semua tamu undangan, dengan penghargaan di tangannya, Tidak tahu jelas apa yang ingin ia sampaikan ,dalam batinnya ingin teriak keluar dari tempat asing itu..


Highh.." Terimakasih untuk semuanya, heh, semua ini berkat kerja keras kita semua, saya hanya lah orang baru di sini, semua teman-teman banyak membantu dan memberi motivasi sehingga saya bisa membuat karya yang bisa anda nikmati semuanya....


 


Bla......bla..bla....


 


Itu semua bohong ! ucapnya menyudahi sandiwara kata itu dalam hati, semua memberi tepuk tangan yang meriah.


__ADS_1


"Untuk kejayaan perusahaan Manopo, semuanya Bersulam !!"


Taman Rumah


"Gila, bisa-bisa nya aku terjebak dalam situasi seperti ini !, Tante Dona aku kangen , apa kabarnya klub Dona Luan !" Elisa tampak berdiri di sudut taman rumah besar itu, dalam keramaian pesta dansa ia pelan-pelan menyelinap keluar ,meski awalnya Zelin sempat mencegah namun ia berusaha banyak mencari alasan ,sehingga bisa lolos.


"Wah...wah...wah.. Ternyata wanita simpanan itu sukanya bersembunyi yah ?" seorang wanita mendekat.Belinda


"heh,Maksud Bu Belinda apa yah ?" sinis Lisa menjawab dengan menoleh Belinda yang menatapnya kesal.


"Elisa..Elisa, kau pikir penghargaan ini benar adanya, kau salah !" mendekat pada Lisa segera.


"Ini hanyalah awal aku akan menghancurkan mu !" pelan Belinda berkata seperti berbisik panas, Elisa segera memalingkan wajahnya santai.


"Aku tahu, heh, seharusnya kau tak perlu repot-repot kemari jika hanya ingin bicara seperti itu , Menggangu !"


"Apa kau bilang !" jelas Belinda kesal mendengar ucapan mantap Lisa yang menantangnya.


"Sedari awal kau tahu tentang diriku, tapi sampai saat ini belum ada yang kau kerjakan, lantas apa yang kau dapat kan !" hhe


"Lancang !". pla........


"Apa yang ingin anda lakukan nyonya ?" tiba-tiba saja tangan Belinda yang ingin menampar Lisa di tangkis dari belakang oleh seorang pria.


"Dimas !" tatapan Elisa tertuju pada Dimas yang berada di belakang Belinda.


"Lepaskan !" ketus Belinda menepis keras tangan pria itu.


"Maafkan aku , jika ikut campur dalam urusan nyonya Edward, tapi kurasa itu adalah hal uang sangat tidak pantas di lakukan oleh seorang wanita terhormat seperti anda " ucapan Dimas sangat formal membuat Belinda geram.


"Heh, tidak ada urusannya denganmu !" Dengan sangat kesal Belinda segera pergi dari tempat itu, pikirnya tak ingin memperburuk keadaan yang menyangkut kehormatannya. awas kau Lisa ! ucapannya kuat dalam hati dengan wajah geramnya.


"Heh, tidak .karena kamu keburu muncul, seharusnya kamu tidak perlu begitu !" tampak jelas raut wajah Lisa yang kesal dan berpaling.


"Maaf, aku hanya tidak ingin kamu terlibat dalam keluarga Manopo !"


"Terlibat, semua itu bukan urusanmu !" ketus Lisa segera berlalu.


"Aku Mencintaimu Lisa !"


Deg.....langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan yang keras itu, tak segera menoleh Elisa jelas menerawang ucapan Dimas dengan seksama.


"Aku Mencintaimu !" kembali Dimas mengutarakan perasaan itu dengan sedikit pelan menatap Lisa yang masih jauh membelakanginya.


Mencintaiku ? Oh mom...ini adalah ucapan yang ingin ku dengar, tapi bukan dari....


"Aku tahu, aku tidak pantas untukmu, maafkan aku dulu pernah meninggalkan kamu tanpa kabar, aku selalu menyesal akan segala keadaan yang menimpamu Lisa, aku menyesal,!"


"Dengan susah payah aku mencari jejak keberadaanmu, dan kini aku menemukan dirimu secara kebetulan , aku sangat bahagia Elisa, kamu sekarang jelas berdiri di hadapanku..itu semua adalah nyata aku...


"Cukuupp!!!!" teriak Elisa membalikkan tubuhnya menatap Dimas tajam.


"Cukup Dimas ! aku tidak ingin mendengar semua itu !" dalam kekesalannya yang tiba-tiba saja datang mengenang masa kelam, tak ada sedikitpun ia menyalahkan Dimas dengan segala hal buruk yang menimpanya, hanya saja ia sangat sakit dan perih ketika teringat akan kematian ibunya saat itu.


",Elisa kau menangis !" sedikit melangkah Dimas mendekati Elisa di lihatnya mata gadis itu berkaca-kaca.


"Aku tidak bermaksud ..

__ADS_1


"Berhentiiii......" teriak Lisa lagi memberhentikan langkah Dimas yang ingin mendekatinya.


"Berhenti Dimas ! , aku harap kamu tahu posisimu !"


"Posisiku yang mana Lisa ? apa kamu maksud adalah diriku yang tak bisa mendekatimu lantaran kau adalah simpanannya pria itu ! "


Deg..


Perkataan Dimas jelas menusuk hati yang saat ini tengah tersayat masa lalu, perasaannya yang sedih dan banyak mengeluarkan air mata tiba-tiba saja berubah menjadi kesal dan sangat marah, meski tak ingin menyangkal semua itu ,tapi itu bukan maksudnya..


"Kamu benar, seharusnya kamu tidak hadir lagi di kehidupanku !" ujar Lisa segera berbalik ..


 


Tap....tap...tap...


 


"Aku tak akan biarkan kamu terperangkap dalam kehidupan seperti itu !"


"Apa yang kamu lakukan ? lepaskan aku !" teriak Lisa saat Dimas tiba-tiba saja menarik tangan dan memeluknya seketika.


"Lepas kan aku Dimas !" teriak Lisa sangat kesal tak ingin di perlakukan seperti itu, Dimas segera melepaskan rangkulannya.


"Apa yang kau cari dari dia Lisa, dia itu pria beristri !"


 


Plaakkkk.....Tangan Lisa menampar keras Wajah Dimas yang berada jelas di hadapannya .


 


"Kau tidak perlu mencampuri urusanku !" ketus Lisa menatap tegas Dimas dan segera berlalu meninggalkan Dimas lebih jauh.


"Elisa tunggu !" teriak Dimas mencoba menghentikan Lisa yang semakin kuat melangkah pergi...


_


_


_


_


_


_


"Aku akan mengantarmu pulang !"


Langkah kaki Lisa segera terhenti saat di dapatinya Sosok pria yang tak asing , Edward.


Tatapan Edward tak segera tertuju pada Lisa yang meninggikan tatapannya, melainkan tertuju pada seorang pria di ujung taman yang juga menatap jelas ke arahnya.


tertttttt............


__ADS_1


Kira-kira seperti itu tatapan Edward pada Dimas hhe..


Terimakasih yang sudah mau baca dan menunggu up nya, jangan bosan yah ! ayo dong dukung author dengan like dan vote yang banyak ..biar semangat. oke !!!!


__ADS_2