
" Ini non daun nya !" Dewi datang dengan semangkuk daun yang memang benar seperti yang elisa harapkan.
Daun itu di Cuci kemudian di rebus ke dalam air yang mendidih ,di tambah sedikit jahe yang di memarkan. aduk sebentar hingga airnya berwarna sedikit kemerahan dan menghitam ,kemudian ambil airnya dan dinginkan.
"Aku bawa ini ke atas dulu Bi !" ujar Lisa segera membawa semangkuk obat herbal untuk mengompres Edward.
Dewi tampak senang melihat kepedulian Elisa terhadap tuannya.
Tok ..tok... "aku masuk yah !" ujar Lisa segera masuk ke dalam tanpa menunggu jawaban dari edward, di dapatinya Edward yang sudah berbaring di atas tempat tidur dengan satu tangan yang menutupi wajah dengan terlentang.
"Apa dia tidur ?" Elisa segera duduk di samping Edward dan meraba kembali suhu di tubuhnya yang malah bertambah panas.
Dia memang demam , gumam Lisa segera menjangkau obat yang ia siapkan tadi dengan menggunakan kain lembut yang di perasnya kemudian mencoba memindahkan satu tangan Edward yang menutupi kening nya dengan perlahan .
Di dapatinya pria di hadapannya kini tengah terpejam pulas dengan raut wajah yang sedikit pucat serta bibir yang mulai kering ." kenapa dia jadi menyedihkan seperti ini " tukas Lisa segera meletakkan kain lembut itu pada kening Edward dengan pelan .
Edward memang sangat pulas menahan rasa sakit kepalanya tadi ,hingga ia terlelap begitu saja dalam demamnya.
Dreddd.....dredddd. dredddd. .
Elisa yang sedikit melamun menatap Edward di kagetkan dengan deringan ponsel Edward yang ada di atas meja tidak jauh dari sana.
Ditatapnya ponsel itu kemudian mengarah kembali pada Edward yang masih pulas tak menyadari akan ponselnya , membuat Elisa penasaran ingin melihat ponsel Edward , namun ia takut dan merasa itu adalah privasi jadi tidak mungkin ia sembarang membukanya.
dreddd....dreddd....
Ponsel itu bergetar beberapa kali ,menandakan itu hanya beberapa pesan ,Elisa segera bangkit menuju ponsel Edward, dengan perasaan berkecamuk ia ingin sekali membuka pesan itu , sesekali di lihatnya Edward yang masih terlelap.
Mungkin tidak apa jika ku lihat ,memang nya dia saja yang bisa mengulik pribadiku sedang aku tidak boleh ,batin Lisa dalam ego nya segera mengambil ponsel itu dan membukanya.
wallfafer nya diriku ! heh tidak mungkin. setengah tidak percaya Elisa melihat ponsel Edward dengan layar berandanya yang memajang foto dirinya tersebut , Darimana dia dapat foto ini ? Elisa menarik tinggi alisnya melirik Edward yang masih terbaring lelap di tempat tidur.
Kekanak-kanakan! ketus Lisa lagi membuka pesan segera pada ponsel Edward untuk menepis perasaan aneh yang mulai muncul ketika mengetahui fotonya ada di pibselbpeia aneh itu.
*pesan dari Jordi : Elisa segera membuka pesannya .
__ADS_1
Pak , saya sudah dapat informasi nya ,ternyata dalang semua itu adalah Adnan, dia yang menyuruh Darma untuk menculik Bu Elisa* !
apa..? sedikit goyah Elisa berdiri dengan hampir tidak percaya akan pesan yang ia baca , Adnan ,jadi Adnan dalangnya ? tapi mengapa ? .
*saya dapat rekaman cCtv nya! Bapak bisa lihat ,saya sudah mengirimnya., dan lagi saya dapat informasi bahwa tuan Dimas juga memiliki bukti yang lebih kuat tentang kasus ini, tapi anehnya dia tidak mengungkap semua itu ,saya akan selidiki lagi* !.
Dimas, jadi Dimas juga sudah tau , Bahkan Jordi ..
"Apa yang kau lihat ?" tanya Edward seketika bangkit dari tidurnya membuat Lisa sontak kaget .
" itu ..ini ponselmu bergetar ,sepertinya ada pesan !" segera Lisa memberikan ponsel itu pada Edward yang kini tengah duduk menatapnya.
Dia marahkah ? heh ,tapi kenapa harus marah ,itu semua kan tentang diriku ,akupun berhak tau ,tampak Elisa menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan tatapan tidak bersalahnya ,sedang Edward segera membaca pesan yang sudah di buka Lisa.
sedikit menatap Lisa Edward masih membaca pesan itu.
"Untuk apa Adnan menyuruh orang menculikku ? heh ,apa karena dia pindah jabatan dan aku yang menggantikan nya ?" ketus Lisa seketika sesaat Edward sudah membaca pesannya.
"Apa pikiran itu sudah lama terbenam di otak mu ?"
"Maksudmu dia iri begitu?" tanya Edward lucu mengenai pendapat Lisa yang kekanak-kanakan.
"Bisa jadi ,!" Pria ini mencemoohkah ? " lalu atas dasar apa dia melakukan itu semua ? " tambah Lisa menatap Edward yang juga menatapnya .
Elisa ada benarnya, untuk apa Adnan melakukan itu semua ,tapi apa mungkin dia iri ,ahh tidak mungkin . raut wajah edward muram seketika, pikirannya kembali buyar .
"Hey, apa kau sakit lagi ?" Elisa segera mendekat dan memegang kembali kening Edward.
"wah, badanmu masih sangat panas, kau berbaring lah buat aku kompres lagi !" jelas Lisa kembali mencelupkan kain itu ke dalam obat .
"ehh, air apa yang kau pakai untuk mengompres itu , kenapa kotor sekali !" cetus Edward melihat air di dalam mangkuk yang berwarna gelap .
"Heh, ini bukan kotor ,memang warnanya seperti ini ,obat herbal ,kau tau !" bantah Lisa sedikit kesal.
"Berbaring lah !" tambah Lisa duduk di sebelah Edward segera menekan tubuh Edward agar kembali berbaring .
"Sejak kapan kau jadi berani padaku hah ?" tanya Edward berusaha tegas mengingat sikapnya yang berubah seketika .
__ADS_1
"Dari dulu juga aku berani ,kau saja yang kini berubah jadi seperti anak kecil !" tambah Lisa sedikit tersenyum melihat raut wajah Edward yang berusaha menutupi malu.
"Enak saja, heh soal ponsel ,jangan sekali lagi kamu membuka nya ,itu privasi !" Tukas Edward tertuju pada foto Lisa yang ia jadikan wallfafer ponselnya ,sial. pikirnya benar malu.
Kamu ,jelas - jelas dia berubah ,hahaha, tapi siakt Dimas apa dia benar tahu semuanya ,aku harus menanyakan semua ini langsung padanya , batin Lisa sedikit melamun .
"Apa yangg kamu lakukan Lisa ?" tanya Edward ketika Elisa salah meletakkan kompresan pada wajah nya .
"aduhh, maaf, maafkan aku.. hehe!"..
"Dasar !" dia melamun apa sih ? atau jangan-jangan.
"Urusan itu biar aku yang menangani ,kau tidak perlu ikut campur !" tegas Edward mengingat pesan Jordi tentang Dimas, ia tak ingin Elisa bertemu dengan Dimas hanya lantaran persoalan itu.
"Untuk apa kau mencari tahu semua soal penculikan itu ?" tanya Lisa sedikit pelan menatap Edward yang berusaha memejamkan matanya.
"Kamu jangan kepedean dulu , heh ,aku hanya tidak ingin di khianati !" keluh Edward terdengar sangat pilu di sela tarikan nafas panjangnya .
Tak ingin di khianati , apa maksudnya ...
Tok. tok. tok. ..
suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar ,
"Maaf tuan ,nona , di bawah ada tamu untuk tuan Edward!" terdengar Rena yang bicara.
"Iya Bi, nanti aku ke bawah !" jawab Lisa sedikit penasaran Soal tamu untuk Edward.
"Aku akan menemui tamu mu !" ujar Lisa yang melihat Edward tak bergeming sedikitpun.
"Diam lah di sini !" jawab Edward memegang tangan Lisa mencegahnya untuk pergi.
"Kenapa ? di bawah ada tamu , sedang kau sakit ,aku akan memberitahu nya tentang keadaanmu." tukas Lisa kembali duduk saat Edward tak melepaskan tangannya.
saat itu Edward masih terpejam tanpa membuka matanya , dalam pikirannya sangat penasaran akan tamu itu siapa sebenarnya, sedang keberadaan nya dan vila itu tak banyak yang tahu ,hanya Ibu dan temannya dokter Jordan ,tamu siapa ? jika Adnan bahkan dia juga yang sudah lama bekerja dengannya belum pernah tahu tentang vilanya yang sengaja ia sembunyikan.
Tamu siapa ?...
__ADS_1