Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Jadi Seleb


__ADS_3

"Pagi Tuan, pagi Nona !" sapa Wisnu di samping meja makan menyambut Tuannya.


"Wisnu apa uang ku katakan padamu semalam sudah kau kerjakan !" tanya Edward segera duduk di kursi meja makan, di ikuti Elisa pula yang duduk di sampingnya.


"Sudah Tuan, sudah banyak yang mendaftar jadi supir baru, saya akan seleksi !" jawab Wisnu atas permintaan Edward semalam, lantaran supirnya mengundurkan diri terkait urusan keluarga di desa.


"Yah , sementara kau saja yang menjadi supirnya jika di perlukan, di rumah kan sudah ada Dewi dan Rena !" tambah Edward segera memulai makannya yang sudah di ambilkan oleh elisa.


"Baik Tuan, oh yah maaf ,akhir-akhir ini tuan sudah tidak di kawal pengawal, mereka sedikit bingung dengan pekerjaannya !" tambah Wisnu heran.


"Suruh saja mereka mengawal dari jauh, aku hanya sedang terpikirkan sesuatu .." ucapan Edward sedikit terhenti ketika tatapan Lisa sangat dalam padanya.


"Pergi lah !" tambah Edward menyuruh Wisnu pergi.


Dengan segera Wisnu berlalu , sampai saat Rena hampir datang menghampiri di ajaknya pergi karena mengerti apa maksud tuannya untuk meninggalkan mereka berdua.


Pria aneh, Memang benar sekarang dia pergi tanpa pengawal dan supir, mau jadi mandiri kah ? haha lucu. seketika guratan senyum terpapar di bibir Elisa saat itu.


"Apa yang kau tertawakan ?" Tanya Edward seolah mengetahui isi hati Elisa.


Bisa dengar yah ? " Siapa yang tertawa, aneh ." ketus Lisa segera memakan makanan yang sudah di siapkan oleh Rena dan Dewi.


"Soal semalam ...


Soal semalam apa? Tidak-tidak jangan di bahas, aduh bisa canggung lagi aku kan, lagi pula kita kan hanya berciuman tidak lebih, jangan di bahas .


"Ayah Ingin bertemu denganmu sekali lagi !"


Glek..


Elisa meneguk air minum seketika, ternyata soal Ayahnya, heh sudah salah duga .


"Untuk apa ?" jawab Lisa sedikit penasaran yang di buatnya ,sesekali ia melirik dan meneguk kembali makanannya.


"Entah lah ,Mungkin ada yang mau di bicarakan soal pekerjaan padamu !" jelas Edward mengakhiri makannya yang tak seberapa.


Dunia yang memang sudah berubah, benarkah aku menjadi orang kantoran yang terpandang. Segera elisapun menyudahi makannya dengan gelas di tangan yang tak jadi ia minum, pikirannya melayang kemana-mana menyatakan ketidak percayaan nya terhadap kehidupan nya saat ini.


"Ayo kita berangkat !" ujar Edward yang sudah mendekatinya dengan mengisap kepala Elisa begitu lembut.


Apa yang dia lakukan ? glek...lamunannya tersadar seketika kemudian ia bangkit menyusul Edward yang sudah pergi lebih dulu.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


Saat di perjalanan Edward mengendarai mobilnya dengan santai ,tak seperti biasanya hal itu membuat Elisa heran dan terus memperhatikan pria di sebelahnya yang tengah mengemudi.


"Ada yang ingin kau bicarakan ?"


"Hah, apa ?" gugup lisa berkata saat Edward tiba-tiba saja berkata bagitu, membuat ia jadi salah tingkah seketika, glek, meneguk air ludah nya sendiri seraya mencoba duduk dengan rileks namun tak bisa ,kedua mata Edward menoleh dan tersenyum.


"Katakan saja Lisa ,kau ingin bicara apa ?" Goda Edward jelas mengetahui kegugupan Elisa.


Bodoh, dia menggoda kah ? Oh mom, ini yang di sebut berdamai ,aku malah tidak bisa menjalaninya.

__ADS_1


ckittttttttzzz......


Seketika Edward menginjak rem segera ,saat di dapatinya segerimunan orang berkumpul di depan gerbang kantor nya yang tertutup.


"Apa yang terjadi ?" tanya Lisa kaget akibat kepalanya yang sedikit terbentur.


Di lihatnya Edward yang tak menjawab malah menatap tajam ke depan, banyq orang yang berkerumunan, Elisa meneliti semua orang itu ,bukan seperti orang yang tengah berdemo dengan membawa sepanduk ataupun papa protes melainkan membawa kamera dan buku catatan ,dengan beberapa kalung nama yang bergelantung di lehernya .


"Apa mereka wartawan ?" tanya Lisa pelan bertanya pada dirinya sendiri.


"Benar, mau apa mereka kemari ?" ujar Edward yang menjawab pertanyaan itu sesaat Elisa sedikit menoleh pada Edward yang berusaha mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Halo, Adnan apa yang terjadi ?" tanya Edward menelpon Adnan .


"Maaf pak, semua wartawan itu ingin bertemu Bu Elisa !" jelas Adnan yang kini sudah berada di dalam kantor.


"Apa tidak bisa kau usir saja mereka !" teriak Edward kesal pada ponselnya membuat Elisa sedikit kaget .


"Kami sudah menyuruh mereka pergi ,tapi wartawan itu semakin banyak "


"Cepat buka pintunya , kami ada di depan !" kesal Edward segera menutup ponselnya.


"Mengusir wartawan saja tidak becus ,apa yang mereka lakukan ?" sinis Edward kembali menghidupkan mesin mobilnya.


"Apa yang ingin kau lakukan ?" tanya Lisa heran karena Edward menghidupkan kembali mobilnya, "Apa kota akan pergi ?" tbah Lisa lagi menatap Edward yang tampaknya tengah marah.


Tinnnnn......tinnnnn....tinnnnn....


Klakson mobil Edward di tekan kuat beberapa kali ,membuat semua orang itu teralih segera mengerumuni mobil yang jelas mereka ketahui adalah mobil Edward Manopo pemilik perusahaan itu.


tok....tokk...tok...


Ketukan semua orang pada kaca mobil edward memuat Elisa kaget dan bingung ,apa yang terjadi , kenapa mereka tiba-tiba berkumpul seperti ini.


"Apa ada hal yang salah di lakukan perusahaan mu , sehingga para wartawan ini kemari ?" tanya Lisa yang sedikit menutup wajahnya dengan satu tangan ketika banyak pintasan kamera yang memotret ke arah nya ,meski tak jelas keberadaan mereka berdua di dalam mobil lantaran kaca mobil tak tembus dari luar.


Tok...tok..tok...


"Kami dengar dia yang membuat semua karya itu hingga jadi buming? apa itu benar "


"Mohon kesediaannya sebentar !"


Banyak tanya para wartawan itu dengan banyak ketukan yang di buatnya di kaca mobil Edward ,membuat Edward risih dan kesal.


Bromm...brommm...


Edward tampak menginjak gas nya beberapa kali bertujuan agar semua orang-orang itu menyingkir, sementara pintu gerbang segera di buka , segera Edward menancap gas kencang tak perduli dengan orang-orang itu ,dan akhirnya para wartawan itu menyingkir dan memberi jalan sedikit.


"Ayo cepat turun !" ujar Edward menyuruh Elisa segera turun cepat, dengan sigap Elisa melepaskan sabuk pengamannya dan turun seketika.


"Bu Elisa ,apa benar anda yang merancang model perhiasan itu ?


"Karya anda sangat menarik, apa anda sudah lama berkerja di sini ?"


"Ada juga sebagai sekretaris perusaahan ini ?"


"Apa sebelumnya anda pernah sekolah di luar negri ?


"Karya anda sangat bagus dalam deklarasi itu!"


"kami dengar anda bisa menyaingi karya dari perusahaan AsBerlian ,bukankah karya dari Tuan Dimas itu juga sangat bagus !


"Kami dengar anda juga berhubungan dengan pak Dimas dari As berlian apa itu benar ?


"Lalu bagaimana hubungan anda dengan pak Edward yang di lihat publik sangat dekat ?"


"Apa hanya sebatas sekretaris atau lebih ?


Serentetan pertanyaan keluar dari para wartawan yang yang berhasil menerobos gerbang dan menghadang langkah Elisa, semua itu membuat Lisa parno dan menutup wajahnya dengan tas lantaran banyak kamera yang tertuju padanya.


"Minggir !" teriak Edward segera menerobos mereka semua menarik tangan Lisa dan merangkulnya dari samping untuk melindunginya !"

__ADS_1


Gudubrak..


Elisa terjatuh ke lantai halaman kantor saat para wartawan berusaha mendesak desak tubuh Edward .


"Kau tidak apa-apa Lisa ?" segera di bangkitkan nya Lisa memapahnya, lutut Elisa sedikit lecet dan berdarah.


"Cepat minggir , minggir kalian semua ?" teriak beberapa pengawal yang baru datang membuat para wartawan itu heboh dan bubar paksa ,pengawal Edward yang terlibat datang memastikan semua wartawan itu pergi dan tak akan kembali .


15 menit setelahnya_


"Bodoh !" umpat edward kesal pada semua staf karyawan terutama penjaga dan securiti di sana.


"Bagaimana bisa kalian menjawab semua ini , bisa-bisanya mereka di biarkan seperti itu ?" kesal Edward mondar mandir di hadapan para pegawai yang berbaris di depannya ,sementara Elisa duduk di kursi dengan kakinya yang terluka tengah di obati oleh Delta .


"Maaf pak, semua itu kesalahan saya yang tidak memberitahu bapak lebih dulu bahwa wartawan itu ada di depan.


"Jelas itu adalah kesalahan, dan buat kalian semua , Kitakan ada forum pertemuan dengan mereka tersendiri, bagaimana bisa mereka berbondong-bondong kemari seperti itu !"


"Kali jiga tidak tahu pak, tiba-tiba saja mereka kemari ,karena takut mereka mengacau di dalam, kami segera tutup gerbangnya !" sambung Jordi yang melihat Adnan tak ingin bersuara lagi.


Sepertinya ada yang tidak beres , Mata Edward segera membulat dengan alisnya yang baik ,membuat para pegawai enggan menatap karena takut ,mereka semua tertunduk diam.


"Perketat penjagaan ,cari tahu mereka dari perusaahan mana !"


"Baik ! " tegas semua pegawai menjawab ingin memastikan bosnya tidak kesal lagi.


"Semuanya bubar, Delta kau antar Elisa ke ruangannya !" pinta Edward menatap Delta yang segera mengangguk tanpa menjawab, sedang Edward segera berlalu ke arah ruangan lain....


"Hey, apa sudah puas menatap Pak Edward ?" Ledek Delta melihat Elisa sedari tadi memandang Edward.


"Kamu bicara apa" tukas Lisa segera bangkit tak ingin menggubris ledekan delta.


"Apa wartawan itu baru pertama kali ke sini ?" tanya Lisa pada delta yang memapahnya seraya berjalan.


"Iya, biasanya perusahaan kita adakan pertemuan di forum perjamuan , yah para wartawan biasanya juga berkumpul dan bertanya di sana guna informasi ataupun gosipnya,"


"Tapi kali ini , tidak tahu jelas mereka berani datang kemari , itu juga untuk mewawancarai mu !" Jelas Delta saat mereka memasuki lip.


"Aku !" Elisa masih tampak bingung.


"Iya kamu ,siapa lagi !"


"Kenapa aku ,memang nya aku selebriti apa ?" Elisa melengos sangat heran dan janggal.


"Memangnya kamu pikir hanya artis saja apa yang harus di wawancarai, kita juga tahu apa lagi kita dari perusahaan ternama seperti ini, lagi pula mereka itu kan mendengar kabar tentang karya kamu tempo hari yang menbaj rating perusahaan kita !"


"Harusnya kamu bangga dong ?" tbah delta sangat yakin dengan raut wajahnya yang lucu di pikir Lisa


Apanya yang bangga, aku hampir mati canggung tau gak tadi. hugh, mereka banyak sekali ,mana banyak kamera lagi , sumpah itu membuat aku jadi tambah parno.


"Tapi itu semua sangat aneh , seperti nya kedatangan mereka seperti di buat-buat gitu !" cela Delta mengerutkan alisnya.


"Di buat bagaimana ?" tanya Lisa bingung menatap Delta yang seolah sedang berpikir keras.


Derdd....derdddd....


Ponsel Lisa bergetar di dalam tas, ia segera meraih ponsel nya !


"Siapa Lisa ?" tanya Delta penasaran , sementara Elisa membuka ponselnya..


Derdddd....derrdddd ....



***call : pria Aneh***


Untuk apa dia menelpon, bukannya kita berada di satu kantor yang sama, dasar...


,


bersambung...

__ADS_1


Mohon bersabar dong para pembaca atas keterlambatan up nya, di karena kan author ya akhir-akhir ini banyak kerjaan, mohon sabar yah, dan jangan bosan ,jangan lupa like dan vote dong ceritanya agar author usahakan up lebih banyak deh...terimakasih.


__ADS_2