
"Pagi Non!" sapa Dewi yang melihat Elisa baru turun dari kamar atas.
Elisa tak segera menjawab ataupun tersenyum,Matanya hanya memandang kedepan tanpa respon, malam tadi ia terlelap sangat pulas, tak di dapatinya Edward yang kembali ke kamar, tapi dua malah bersyukur jika demikian, Malas rasanya melihat pria itu lagi .
"Makanan sudah bibi sediakan, ayo Non makan dulu !" ujar Dewi lagi pada langkah terakhir Lisa di anak tangga.
"Terimakasih bi!" jawab Lisa pelan, pikirnya tak ada alasan untuk tidak menjawab ucapan baik Dewi.
"Tuan tadi sudah ke kantor, katanya nona istrirahat saja di rumah, oh yah ini bibi tadi di suruh buatin obat herbal oleh tuan!" Menyodorkan segelas air berwarna kuning pekat di atas nampan kecil yang memang dari tadi di bawa oleh Dewi.
"Obat, untuk apa?" ketus Lisa enggan menerima obat itu.
"Tuan bilang Tubuh nona sangat lemas, Jadi tuan mencari kan obat ini, bagus juga loh non buat ngilangin memar-memar di badan!" tambah Dewi jelas melihat banyak bekas merah di tubuh Lisa.
Memar, heh, gara-gara kejadian waktu itu seluruh badanku rasanya sakit dan remuk, bahkan banyak meninggalkan jejak.
"Apa non kemarin mengalami kecelakaan?" cetus Dewi sangat penasaran mengenai kepergian Elisa yang tiba-tiba.
"kenapa bibi bertanya seperti itu?" Elisa menatap Dewi sayu.
"Maaf non, Tuan sangat khawatir saat non tiba-tiba saja menghilang, sampai-sampai tuan mencari non ke kota T, seminggu ini dia sangat gusar !" jelas Dewi .
Benarkah? pria seperti itu apa ada rasa khawatirnya, heh koneksinya terhadap masa lalu orang sangat cepat, namun kehilangan diriku saja ...Dimas yang lebih tau. pikiran Elisa tiba-tiba saja tertuju pada Pada Dinas yang sudah menolongnya.
"Aku harus mengabarinya!" cetusnya pelan seraya menuju ruang tamu.
"Non mau cari apa?" tanya Dewi masih memegang nampannya, melihat Elisa yang tergesa-gesa mencari sesuatu di setiap meja.
"Telpon rumah ini dimana yah Bi?" tanya Lisa heran tak melihat telpon yang seharusnya ada di atas meja ruang tamu.
"It. itu. .semua telpon sudah di simpan tuan non" ujar Dewi sedikit terbata-bata, mengingat tadi pagi-pagi sekali Edward sibuk membuang seluruh telpon rumah di vila itu, agar tak ada koneksi Lisa untuk menghubungi orang luar sementara ini, bahkan di depan beberapa pengawal sudah di siagakan untuk berjaga-jaga.
"Kenapa di simpan, di simpan dimana?" Tatapan Lisa melihat Dewi yang sedikit tertunduk ragu, Dan Elisa mengerti hal itu, apa maksudnya ingin mengurungku , heh.
"Non, Demi kebaikan non ,sebaiknya non turuti Tuan dulu, dan ini non minum yah obatnya!" Dewi kembali memberikan minuman itu,Elisa segera menerimanya yang sedari tadi belum ia gubris.
"Bibi tinggal dulu yah !" Dewi segera pergi setelah Elisa menerima minuman itu.
Ditatapnya gelas yang berisi Minuman herbal itu, sedikit di hendusnya aroma air itu sedikit menyengat namun sangat harum.
Benarkah ini obat, pria kejam itu mana tahu rasa mengobati, yang ada menyakiti, ujar Lisa dalam hati langsung meletakkan minuman itu di atas meja di sana tanpa meminumnya.
Elisa hanya merasakan kekesalan dalam dirinya jika semua itu bersangkutan dengan Edward, terlebih atas sikapnya semalam, yang jelas sudah merenggut paksa hal pertamanya yang tak berkesan baik sedikitpun tanpa sebab yang jelas terlebih lagi Edward telah menuduhnya berkhianat dengan pria lain, itu sana sekali tidak benar ,pikir Lisa tambah geram kembali menuju kamar .
Perusahaan Edward Manopo
"Pak, apa Elisa sudah ketemu? kemarin dia ada sempat telpon saya !" ujar Delta di lobi kantor saat berpapasan dengan Edward.
"Dia sudah ada di rumah !" ujar Edward pelan tanpa menatap wajah delta yang sangat penasaran.
"Di rumah, maksud Bapak di kontrakannya ,emp ,saya boleh minta alamatnya pak?" tambah Delta lagi serius.
Aku lupa, Delta tidak tahu mengenai hubunganku dengan Elisa, raut wajah Edward berubah seketika.
"Bapak tahu sendiri kan, telponnya kemarin ada di bapak"
"Dia benar menghubungimu ?" tanya Edward seketika
"Iya"
__ADS_1
"Dia bilang apa?"
Serius sekali "hmp ,Dia sekedar kasih kabar sih, cuma saat saya mau banyak tanya telponnya tiba-tiba terputus begitu saja, hmp, saya minta alamat Lisa yah pak !" terang delta lagi berharap.
"Nanti aku kirim alamatnya !" Jawab Edward segera berlalu meninggalkan Delta yang masih heran.
"Terimakasih pak !" anggukan kepala Delta melihat kepergian Edward.
Aneh, kok pak Edward serius banget yah tanya tentang Lisa, kemarin juga saat kehilangan Lisa dia sangat panik dan gusar gitu, bahkan urusan kantor juga berantakan. ehh...mungkin wajar yah, soalnya Elisa kan sekretarisnya, hemz sebaiknya cepat deh cek email siapa tahu pak Edward sudah kirim alamatnya, gadis itu tampak penasaran dengan kebingungannya sementara ia segera menuju ruang kerjanya.
16.00
Mobil Edward susah berhenti di depan vila dengan di sambut pengawalnya .
"Selamat datang Tuan ?" sapa seorang pengawal.
"Dia tidak pergi kemanapun kan?" Tanya Edward jelas pada pengawalnya
"Tidak tuan, Nona Lisa Seharian diam di rumah !" terang pengawal itu pada Tuannya, Edward pun segera masuk ke dalam vila.
Tatapannya langsung tertuju pada Elisa yang saat itu tengah berada di ruang tengah sedikit berbaring di sofa dengan banyak tumpukkan kertas yang berserakan di meja dan kursi bahkan lantai, di lihatnya lagi Elisa ternyata tengah tertidur, di dekatinya gadis itu pelan tak ingin membangunkannya dengan suara langkah kaki.
"Hanya coretan saja, apa yang dia lakukan" Edward tampak berjongkok memungut semua kertas yang berserakan itu, tak ada gambar apapun yang terbentuk hanya coretan tinta hitam yang tak beraturan tercoret disana.
Di bereskan nya semua kertas itu di atas meja, kemudian ia mendekat pada Lisa.
"Tuan sudah pulang"
"Ya ampun, bibi saya kaget sekali !" ujar Edward sontak kaget mendengar suara Dewi yang tiba-tiba saja muncul saat ia berusaha mengendap-endap.
"Maaf Tuan, habis kenapa Tuan diam-diam seperti itu !" ujar Dewi sedikit ragu menoleh Edward.
"Iya, sepertinya non Lisa bosan di rumah, sampai kelelahan gitu"
"Bereskan saja semua ini ,saya mau ke atas dulu !" tambah Edward melangkah menuju tangga.
"Apa sebaiknya non Lisa di pindahkan ke atas saja Tuan !"
"Nanti dia terbangun, bibi kasih bantal saja kepalanya !" jelas Edward naik tangga ke kamar atas.
Aneh, Biasanya tuan sangat perhatian, apa mereka bertengkar lagi yah ? sedikit isi hati Dewi melihat tingkah tuannya seraya memberikan kertas di kursi dan meja, kemudian Dewi tampak berusaha membenarkan posisi Tubuh Lisa .
"Bibi..." sontak Lisa bangun saat Dewi menyentuh kepalanya.
"Maaf non, bibi hanya mau membenarkan posisi non saja, habis jika tidur seperti itu , yang ada tubuh non bisa sakit semua"
"Ternyata Tuan benar, tidak mengangkat non ke kamar lantaran takut non Lisa bangun, baru di pegang saja non sudah kaget begitu" Dewi sedikit tersenyum saat menatap Lisa yang masih belum terjaga benar.
"Dia sudah pulang !"
"Sudah, Tuan ada di atas, non sebaiknya lanjut tidur di atas saja yah, bibi mau siapkan makan malam dulu !" segera Dewi menyelesaikan beres-beresnya.
"Apa kertas ini mau di simpan non?" tanya Dewi lagi menoleh Elisa yang masih duduk seraya mengusap-usap matanya.
"Buang saja Bi, tidak ada yang berguna di sana !"
Kening Dewi berkerut menatap kertas itu, memang hanya coretan tidak karuan saja di sini, sebenarnya non Lisa kenapa coret-coret kertas sebanyak ini, apa dia lagi pusing.
"Aku mau keluar teras sebentar Bi, panas disini !" Lisa segera bangkit menuju teras belakang.
__ADS_1
"Lah, kok malah teras sih non" ucapan Dewi tak di gubrisnya.
Teras Belakang
"Badanku memang sakit semua, Oh mom, kenapa hatiku hampa seperti ini " pelan Lisa berkata sambil menarik nafasnya saat ia kembali duduk di kursi teras belakang yang menghadap ke kebun sayuran.
"Apa kau sudah membaik ?"
Tiba-tiba saja Edward datang mendekat, sedikit kaget Lisa mendengar dan menatap ke arah belakang dimana Edward tengah berdiri menatapnya.
"Kanapa obatnya tidak diminum ?" tanya Edward lagi mendekati Elisa dan duduk di sebelahnya, Elisa sedikit bergeser tak menolehnya sedikitpun, di pikirnya paling malas bertemu Edward saat ini, ala lagi harus berbicara dengannya, malas banget.
"Itu hanya obat herbal yang ibu resepkan untukmu, katanya bagus buat pemulihan tubuh dan luka memar !"
"Tubuhmu sangat lemas, kau harus sering minum dan meminum obat-obatan herbal agar bisa kembali normal "
Di tatapnya Elisa yang masih menatap kedepan, tak menjawab ataupun merespon perkataannya, Edward tahu gadis itu tentu marah mungkin sangat membencinya, namun setelah kejadian semalam ia merasa bersalah bahkan ingin selalu bersikap lembut pada Lisa dan berusaha membuang ego nya agar bisa berlisan baik di depan gadis itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu Lisa ?" tanya Edward memantapkan tatapannya ,namun Elisa masih diam tak bergeming.
"Tubuhmu kenapa banyak bekas luka seperti itu, "
heh, kau tahu itu bekas luka, lalu kenapa saat itu kau beranggapan ini bekas cumbuan, apa kau tidak bisa melihat dengan jelas.
"Kenapa kau pergi dan menghilang seperti itu Lisa?" tanya Edward lagi pelan berusaha menghilangkan rasa kesal nya saat mengingat ketika menemukan Elisa berada di rumah Dimas pesaing bisnis nya.
Jika aku di culik bagaimana aku bisa memberi kabar, jelas-jelas kau punya koneksi, apa kau tak berusaha menemukanku jika kau perduli, heh ku rasa tidak ,kau hanya ingin menekanku saja,apa lagi penculikan itu bisa jadi berhubungan denganmu,selain dendam Darma padaku, dia sempat menghubungi orang lain, kau itu ...
"Kenapa kamu bisa berada di rumah Dimas?"
Tatapan Edward kembali menoleh Lisa di sampingnya, yang juga masih tak menjawab .
"Seminggu kau berada disana, jelas di kota X, heh, tapi tak ada kabar sedikitpun !"sinis perkataan Edward kali ini mulai kesal.
Kau sendiri tidak ada usaha, kau tahu keadaanku saat itu, bagaimana bisa tahu jika hanya ada amarah dan emosi semata, atau karena Dimas itu pesaingmu. jelas-jelas dia yang berhasil menemukanku dan menolongku, lalu bagaimana denganmu yang tiba-tiba datang dan memperlakukanku kasar seperti itu bahkan. ...
"Kontrakmu masih sembilan Bulan lagi, aku harap kau bisa bersabar !"
Deg.......
"Selesaikan tugas mu di kantor dan jalani hal ini seperti biasa"
Edward berdiri menatap Lisa lagi, "Jangan lupa agendanya aku akan memasukan uangmu ke rekening baru ,ponselmu pun sudah ku ganti ada di kamar !"
Edward segera pergi , meski Lisa tak menjawab sedikitpun ucapannya, sebenarnya batin Edward sangat ingin mendengar semua jawaban dari pertanyaannya secara langsung, tapi agaknya Lisa tak ingin menggubrisnya sedikitpun.
Elisa menoleh sesaat setelah Edward tak nampak lagi, Bagaimana bisa dia berkata sesantai itu, 9 bulan ,heh benar kontrakku hanya setahun, dan itu sebentar lagi, kenapa kau merasa akan sangat lama bersama pria brengsek itu Lisa, apa yang sebenarnya ada di pikiranmu Lisa....
"Setelah semua itu terjadi, kau berharap bisa kembali " Bodoh......di sandarkannya kepalanya di kursi itu menatap ke langit biru yang hampir berubah warna karna senja sebentar lagi datang....
Elisa....anggap saja ini takdir......teguhnya memantapkan pikiran yang ia tak ingin persulit lagi....
__ADS_1