
Sudah Lima hari Elisa di rawat di rumah sakit, rasa bosan dan jenuh selalu menghampiri nya terlebih ia tak bisa beranjak dari tempat tidurnya sendiri, setelah melakukan rangkaian pemeriksaan terhadap kakinya ,Elisa masih mempunyai peluang untuk berjalan normal ,namun ia harus tetap mengikuti berbagai pemeriksaan dan pengobatan terapi . kini Elisa Duduk di kursi roda ,ia meminta nya karena tidak tahan lagi selalu berbaring di ranjang ,Edward yang menemani nya semalaman tampak kelelahan terbaring di sofa pojok kanan ,belum lagi di meja berantakan file dan berkas-berkas kantor yang terpaksa di keenakannya di rumah sakit, Jordi dan Delta sering berkunjung sekaligus membantu Edward ,namun tetap saja mereka pasti lelah ,Elisa mendorong kursi rodanya sendiri menghampiri tubuh pria yang tengah berbaring itu.
Edward yang mengenakan kemeja polos berwarna Biru muda dengan sedikit terbuka di bagian dadanya yang tampak bidang, Kedua tangannya menutupi ke arah bagian muka ,Mungkin karena silau di terpa cahaya lampu ruangan itu ,sehingga membuatnya tidur harus dengan posisi seperti itu.
Tak tega Elisa melihatnya , Sementara suster tadi sudah . mengantarkan makanan yang kini juga ada di atas meja .
"Aku bangunkan tidak yah ?" ucap Lisa bertanya sendiri, matanya masih menatap seluruh tubuh pria itu ,tak pernah ia bisa memperhatikan Edward sedetail itu sebelum nya.
"Tapi , jika tidak ku bangunkan ,ini kan sudah siang !" di lihatnya jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan ,waktunya ke kantor.
"Edward ....." Dengan pelan Elisa mencoba membangunkan pria itu seraya mengoyahkan sedikit lengannya.
"Ayo bangun !" tambah Lisa lagi masih menggoyahkan lengan Edward.
"Emmmm....Apa hari sudah siang !" benar saja Edward langsung terjaga ,meski rasa kantuk masih menjelma di raganya, ia langsung bangkit dan menatap ke arah wanitanya.
"Maaf, aku sudah mengganggumu !" jawab Lisa sedikit tidak enak ,karena raut wajah Edward tampak ngantuk sekali.
"He, tidak apa ? aku juga harus bangun untuk ke kantor ,urusanku belum selesai ,terimakasih sudah membangunkan ku "
"Kemari !" seketika Edward menarik kursi roda Lisa ke arahnya hingga mereka berhadapan.
"kenapa kau tidak membangunkan ku saat kau ingin turun " tanya pria itu dengan tersenyum memegang kedua tangan Lisa.
"Suster yang membantuku, aku lihat kau sangat lelah ,itu tidak masalah "
"Oke, lain kali ,aku akan tidur bersamamu ,agar kau tidak turun sendiri " tangan Edward meraih wajah Lisa dengan lembut.
"Aneh.."
"Apa yang kau katakan?"
"Tidak ada ,Cepat sana cuci muka ! ,aku mau makan !" ucap Lisa memalingkan wajahnya.
"Oh , Baik lah ,tuan putri ingin aku suap kan , "
Dengan santai Edward menggoda Lisa seraya mencubit lembut pipi nya.
"Ayo ,pergi sana !" tambah Lisa menarik tangan Edward untuk berdiri ,agar segera mencuci muka ke kamar mandi.
Edward sangat senang bisa selalu bersama Elisa seperti itu ,dengan segera ia mencuci mukanya ,Kemudian mereka makan bersama .
"Edward ,aku ingin pulang , Di sini sangat sepi ,Jika di rumah ada Bi Rena dan Dewi " Elisa tampak memelas di hadapan Edward yang kini duduk di hadapannya.
"Aku akan tanya kan dulu hal itu pada Jordan ,jika kau bisa di rawat di rumah nanti "
"Terimakasih " Dengan senang Elisa tak malu lagi memeluk tubuh pria yang di kasihnya.
"Semakin lama kau semakin manja , yah sudah ,aku pergi ke kantor dulu " Edward membalas pelukan hangat Elisa kemudian mengecup kening nya.
Hal itu tampaknya sudah menjadi kebiasaan mereka ,di saat perasaan mereka semakin dalam satu sama lain.
"Nanti ,aku akan suruh Wisnu untuk membawa Rena kemari " tambah Edward seraya membereskan berkasnya.
"Iya, kau hati-hati di jalan "
"Baik " jawab Edward kembali mengecup kening Elisa dan kemudian segera pergi meninggalkannya.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Kantor_09.35
"Ini berkasnya pak " Jordi tampak memberikan satu map tebal kepada Edward , Berkas mengenai kerjasama antara perusahaan Edward dan As Berlian.
__ADS_1
"Maaf pak ,kalau boleh saya bertanya ,apakah anda serius menyetujui kontrak kerjasama itu ?" Dengan nada gugup Jordi tampak menelan ludahnya ,melihat wajah Edward yang berubah Kesal.
"Jika kita bisa meraih keuntungan kenapa tidak " tukas Edward segera memeriksa berkas yang di berikan Jordi tadi.
*Ku pikir bos akan marah*!
"Baik pak " jawab Jordi tegas.
"Bagaimana dengan wanita itu ?" tanya Edward menatap Jordi ,rasa lega tadi seakan hilang saat tatapan Edward kembali tajam.
"Sementara dia berada di tahanan pak ,tapi ...
"tapi apa?"
"Saya Dengar, Keluarga Belinda kembali dari luar negri setelah mendengar hal ini " jawab Jordi membuat Edward sedikit gusar .
"Heh, Jadi seperti itu , aku sudah menduganya ,kau urus saja kerjasama kita ,aku akan menangani masalahku"
"Baik ,kalau begitu saya permisi pak !"
Jordi bangkit dan mengambil kembali berkas yang sudah di tandatangani oleh Edward ,ia pun segera keluar meninggalkan bosnya.
sementara Edward tampak melirik ke arah depan ,tepat ke arah meja sekretaris , Di ingatnya ,di sanalah Elisa duduk dengan manis ,wajah Elisa yang selalu terpaksa dan tampak kesal ,kini wajah itu selalu tersenyum dan akan ku buat tersenyum. Edward tampak tersenyum sendiri mengingat hal itu, baginya kini hanya ada Elisa di dalam kehidupannya ,ia tak ingin hal terindah itu terusik kembali.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Edward tampak berjalan santai saat jam makan siang tiba, ia teringat akan Elisa dan segera ingin kembali menemui gadis pujaannya di rumah sakit.
"Siang pak " sapa beberapa karyawan yang berpapasan ,membungkuk memberi salam pada pria gagah itu.
Selang beberapa langkah ia berjalan melintasi lobi, ada seorang pengawal mendatanginya .
"Maaf Tuan , Di bawah ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan anda " ujar pengawal itu memberitahu sedikit tertunduk.
"Dimana dia ?" jawab Edward , sedikit bertanya di dalam hatinya , Wanita siapa pikirnya?
"Dia menunggu di Mobil "
"Aku akan menemuinya ,tetap lah berjaga "
"Baik "
Edward segera turun ke lantai bawah ,ia penasaran siapa yang ingin bertemu dengannya , setibanya di bawah ,Edward segera menghampiri seorang wanita uang tengah berdiri di depan mobil nya , wanita itu adalah Juwi , perwakilan dari perusahaan As Berlian, pikirnya sedikit sinis memberhentikan langkah nya ketika Juwi menoleh.
"Selamat siang Tuan " sapa Juwi tersenyum menyambut kehadiran Edward.
"Hem, Nona Juwi ,ada apa sampai nona datang kemari !" jawab Edward ramah meski tanpa senyum di wajahnya, hal itu malah menambah karisma di wajah Edward.
"Maaf ,jika saya menggangu ,jika tuan tidak ada janji bisa kita mengobrol sebentar ,ini sangat penting !" tambah Juwi masih tersenyum menampakkan lesung Pipit nya.
Edward yang sedikit melihat jam tangannya ,merasa malas ,tapi sangat tidak sopan jika mengingat Mereka sebentar lagi akan bekerja sama, menolak untuk mengobrol .
"Baik lah ,tapi kita ngobrol nya di kafe depan saja " jawab Edward menunjuk kafe di sebrang jalan.
"Baik lah ,dengan senang hati " ucap Juwi mempersilahkan Edward jalan lebih dulu.
Merekapun tampak beriringan pergi menuju kafe di sebrang jalan, Juwi yang memperhatikan Edward dari atas hingga ke bawah tampak kagum dengan sosok pria gagah itu .
"Silahkan masuk !' ucap karyawan kafe mempersilahkan mereka masuk.
Edward dan Juwi pun tampak duduk berhadapan di satu meja di pojok kanan.
"Nona Juwi ingin minum kopi " tanya Edward melihat Juwi yang dari tadi hanya tersenyum.
__ADS_1
"Oh ,yah boleh " jawab wanita itu sumringah.
"pelayan ,kopi nya Dua !" tukas Edward kepada pelayan untuk memesan .
"Baik lah ,hal penting apa yang ingin nona bicarakan ?" tanya Edward to the poin.
"Emm, sebelum nya ,panggil saya Juwi saja ,jangan pakai nona segala " jawab Juwi merasa canggung.
Dengan mengangguk Edward tampak menyetujui nya , " Mengenai kerjasama ,aku pribadi mengucapkan terimakasih jika tuan telah bersedia , saya hanya ingin memberikan ini pada anda !" Juwi mengambil sesuatu barang di dalam tasnya , barang itu berupa selembar kertas tebal dengan Vita Merah muda di tengahnya ,kertas berupa undangan .
"Apa ini ?" tanya Edward menerima kertas itu.
"Itu undangan tuan ,saya ingin mengadakan pesta pertemuan pribadi antara perusahaan kita , jika anda bersedia hadir ,itu akan sangat menyenangkan " jawab Juwi mantap.
"Apa hal ini perlu, seperti nya ini berlebihan " tukas Edward sedikit membaca undangan itu.
"Kak Dimas akan senang , jika perusahaan tuan menerima kerjasama kami , aku mohon tuan hadir yah , sekaligus saya mau meyakinkan kak Dimas ,jika saya sudah bisa membantunya menjalankan perusahaan "
"Ini permintaan pribadi saya Tuan" wajah Juwi kini tampak memohon.
Dimas, Bisakah kita bekerjasama dalam hal ini? Edward tampak ragu dengan semua itu ,namun jika perusahaan nya bisa bergabung segera dengan perusahaan As berlian ,maka perusahaannya tidak lagi bergantung dengan Aleksander ,dan terutama Belinda .
Terlebih masa sulit seperti ini ,perusahaan Dimas perlu Penunjang ,agar bisa kembali bangkit jika ingin memenuhi pemasaran ,Dia harus memperluas usahanya .
"Baik lah , aku akan mengusahakannya " jawab Edward sedikit melonggarkan dasinya.
"Emm, maaf ,saya dengar Tuan Sudah berpisah dengan Istri tuan , apa itu benar?"
pertanyaan itu terdengar sangat janggal ,meski Juwi sangat ragu dan takut ,demi menjawab rasa penasarannya ,dia terpaksa blak-blakan seperti itu.
"Maaf ,jika saya lancang tuan ...
"Tidak apa, yah saya sudah berpisah " singkat Edward tak mempermasalahkan hal itu , publik juga akan mengetahui nya cepat atau lambat ,meski di dalam perusahaan nya ,karyawan tak membahas itu karena di larang , namun yang lain pasti jelas tahu dari sumber yang berbeda.
Derddddd.............
Derddddddd.........
Ponsel Edward bergetar di dalam saku celananya , iapun segera mengambil ponselnya dan menjawab panggilan masuk .
"Aku angkat telpon dulu "
"Silahkan tuan !"
Edward menerima telpon itu di luar kafe , karena panggilan itu berasal dari rumah sakit.
"Halo Elisa,ada apa ?" tanya Edward pada telpon yang berasal dari Elisa .
"Kau dimana? apa kau tidak kemari ?" tanya Elisa dengan nada pelan.
"Aku masih di sekitar kantor,aku akan segera ke sana, ini juga akan berangkat ,apa kau sudah makan ?"
"Sudah ,Bi Rena membawakan makanan untukku, kau sendiri sudah makan ?"
"Belum ,aku ingin makan bersamamu "
"hemm, jika kau sibuk tidak perlu kemari ,urus saja dulu pekerjaanmu ,di sini ada Bi Rena kok "
"Baik sayang , "
"Hem, oh yah ,kata dokter Jordan besok aku sudah boleh pulang "
"Benarkah , Baguslah , aku akan menyuruh Wisnu menyiapkan segalanya " jawab Edward tersenyum mendengar penuturan Elisa .
"Tuan ...ini kopinya sudah datang !" teriak Juwi sedikit memecah keheningan , hal itu jelas terdengar oleh Elisa.
"Halo ,Elisa ?"
"Iya , yah sudah ,jika kau jadi datang , hati-hati di jalan " suara Lisa tiba-tiba saja berubah lesu.
"Baik lah ,aku tutup telponnya " jawab Edward tidak enak, aku harus segera ke rumah sakit ,pikir nya tambah tidak enak.
"Maaf Juwi , tampak nya aku harus segera pergi " ucap Edward menghampiri Juwi di tempat duduknya tadi.
"Oh ,apa ada keperluan " lesu Juwi pula menanggapi.
"Yah , kalau begitu aku permisi dulu " Edward tampak tergesa-gesa.
"Tuan..." teriak Juwi sedikit berlari mengejar Edward yang sudah berada di luar kafe.
"Ini undangannya ketinggalan ,nanti tuan lupa lagi " Juwi kembali menyodorkan kertas undangan itu pada Edward.
"Oh ,oke ,sampai jumpa " Edward mengambil undangan itu dan kembali berlari menuju mobil di parkiran kantornya.
__ADS_1
"Hem, dasar cowok keren , !" ketus Juwi cengengesan di tengah jalan masih memperhatikan ke arah Edward.