
"Apa yang akan Anda lakukan Tuan?" sedikit bingung Elisa menatap pria yang kini berada jelas di atas tubuhnya.
"Bagaimana bisa kau tidak tahu apa yang ingin aku lakukan !" Edward tersenyum licik seraya kedua tangannya yang mulai nakal.
"Heh, kau hanya ingin mempermainkan ku bukan !, menyingkir Lah Tuan !" tambah Elisa memalingkan wajahnya, tak segera menggubris Edward malah mencium bibir Lisa paksa, sedikit Elisa kaget dan berusaha menolak...
drdd... drdddd....Ponsel Edward yang bergetar di saku celana turut di rasakan Elisa karena menyentuh bagian pahanya .
"Iya ada apa?" tanya Edward bangkit menjawab ponselnya, lalu diam sesaat seolah tengah mendengarkan perkataan seseorang uang jelas tak terdengar ,Elisa duduk seketika membenarkan pakaiannya yang hampir kusut, sementara Edward meliriknya sambil menelpon.
"Aku mengerti !" tambah Edward lagi menutup telponnya, kemudian berdiri.
"Kau mau ikut denganku!" tanya Edward pada Lisa yang masih duduk.
"Memangnya Tuan mau pergi kemana?,apa ke kantor?" tanya Lisa cuek namun penasaran.
"Ke rumah Ibu?" singkat Edward lagi.
"Apa?, hmp hahaha, tidak salah dengar kah?" Elisa bangkit seraya mentertawakan pria yang kini berada di hadapannya.
"Apa yang kau tertawaan?" tanya Edward balik menatap.
"Tuan tentu tau dong, heh kemarin sudah mempermalukan ku di depan orang sekantor" melangkah menuju jendela" sekarang Tuan ingin membawaku ke rumah ibumu?, Apa anda ingin aku di tertawakan , lalu di bilang wanita murahan begitu?" sedikit keras nada bicara Elisa seolah mengejek.
"hmp, kau jangan besar kepala dulu" Edward melangkah mendekati Lisa yang membelakanginya."Apa kau pikir aku akan membawamu sebagai wanitaku?" ketus Edward sembari memeluk Elisa dari belakang.
"Maksudmu?"tanya Lisa singkat tak mengelak.
"Bagaimana jika aku membawamu hanya sebagai pelayan ku saja, heh ibu juga tidak akan banyak bicara!" tambah Edward sedikit tersenyum sembari mencium pundak Elisa.
aku sudah salah sangka, duh Lisa benar bodoh kau ini, dasar pria brengsek. Elisa tampak sedikit bergerak agar Edward melepaskan pelukannya, namun siapa sangka pelukan itu semakin erat.
"Apa aku boleh bertanya?" tanya Lisa sedikit ragu, namun di mantapkannya.
"Apa?" singkat Edward mengendus tubuh Lisa, sehingga membuat Elisa risih dan geli.
dia pikir aku ini apa, pakai ngendus gitu segala, keluh Lisa sedikit kesal namun mencoba untuk menahan.
__ADS_1
"Apa Anda tidak merasa bersalah pada istrimu , jika Tuan begini pada wanita lain?" tambah Lisa lagi kian ragu.
"Bagaimana dengan dirimu?, apa kau merasa bersalah telah seperti ini dengan pria beristri? jawab Edward sedikit ketus, sontak kata itu membuat Lisa sedikit drop akan pertanyaannya sendiri hingga ia terdiam.
"Kau tau berapa banyak orang yang tidur denganmu dan menghabiskan uangnya, apa kau pikir mereka tidak punya istri?" tambah Edward lagi seraya memasukkan tangannya ke dalam pakaian Lisa dari arah panggul.
" Apa kau merasa bersalah ?" tambah Edward lagi menaikan jemarinya ke atas pusar masih dari posisi belakang.
Oh Mom, ini kah hukuman untukku? aku terjebak dalam kata-kataku sendiri yang memang pada kenyataan nya seperti itu, air mata hangat yang seketika menetes dirasakan oleh Edward karna menyentuh tangannya, kemudian Edward seketika melepaskan rangkulannya, Elisa menyadari akan hal itu dan langsung mengelap habis air matanya.
"Aku akan turun ke bawah dulu!" kata Lisa melangkah pergi dengan sedikit menunduk keluar kamar, sementara Edward tak mencegah namun menatap kepergian Elisa sampai tak nampak lagi terhadang pintu.
Teras belakang
Elisa Duduk di sebuah kursi ,menghadap kebun Vila itu, di lihat nya Rena dan Dewi yang tengah memetik sayuran dan buah ."Non Lisa , apa anda ingin buah apel ini!" tanya Rena menyadari kehadiran Elisa.
"Tidak bi, Aku lagi tidak ingin makan buah !" tambah Lisa sedikit cuek.
"Non Lisa sudah makan?" tampak Dewi mendekati sembari membawa sekeranjang sayuran yang sudah di petik.
"Belum bi " singkat Lisa tak peduli dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Benarkah bi?" Lisa sedikit merespon baik Dewi.
"Tentu non Lisa, pasti Tuan menyukainya!" tambah Dewi tersenyum seraya merapikan sayuran di dalam keranjang.
Tap tap tap tap....suara langkah kaki yang jelas.
"sayurannya sudah siap Bi?" tanya pria yang baru datang ,Edward.
"Sudah Tuan, semuanya sudah siap di bawa!" jawab Dewi mengangkat keranjang sembari mengangguk.
"suruh Wisnu letakkan semuanya di dalam mobil !" tambah Edward sembari melirik Lisa yang tak bergeming di hadapannya.
"Pergi lah!" tambah Edward lagi menyuruh Dewi berlalu, dengan segera Dewi berlalu membawa keranjang sayur di ikuti Rena yang juga membawa keranjang apel penuh.
"Apa kau tidak jadi ikut !" tanya Edward pada Lisa yang tak menoleh ke belakang di mana Edward berada.
Masih berani mengajak aku kah? dengan raut wajahnya yang muram Elisa hanya diam saja.
__ADS_1
" Apa kau tersinggung dengan ucapanku ?" tanya Edward seraya mendekat kemudian langsung duduk di kursi tepat di sebelah Elisa, seketika Elisa sedikit bergeser menjauhi Edward .
"Benar tersinggung kah?" tambah Edward lagi menarik lebar garis senyum di bibirnya.
"Tersinggung atau tidak juga tidak ada gunanya, untuk orang sepertiku apa itu perlu?" sambung Lisa ketus memalingkan wajahnya.
"Aku membayarmu untuk memuaskanku? bukannya untuk merayu mu !" tambah Edward lagi ikut menyilangkan kedua tangannya .sementara Elisa langsung menoleh pada Edward yang menatap ke depan.
"Heh, bagaimana bisa memojokkan kau sebut merayu?" tambah Lisa menatap dalam pria di sebelahnya.
"Kau ,?? ternyata sudah ada perkembangan !" Edward tampak membalas tatapan Elisa dengan sedikit tersenyum.
"Apa yang anda bicarakan?" tambah Lisa menyadari kesalahan sebutannya.jadi harus selalu di panggil tuankah? benar -benar majikan .
"Ikut lah bersamaku !" tambah Edward meraih wajah Elisa seketika dan mencium bibir manis Elisa begitu lama, Dia mencium ku lagi, jantungku bergetar untuk kesekian kalinya , sangat kencang , namun lama - lama aku seolah bisa menyesuaikannya , Elisa tampak memejamkan kedua matanya, sementara Edward merangkulnya erat di dalam pelukannya tanpa melepaskan ciuman hangatnya .
Aku semakin bisa merasakan kehangatannya untuk sesaat sehingga membuat aku merasa kuat, apa dia bisa mempertahankannya,? atau malah menusukku lagi dengan kebekuannya hingga aku kaku dan rapuh kembali...Elisa membuka matanya namun menutupnya kembali karena Edward tak jua melepaskannya , semakin erat Edward memeluknya dalam ciuman yang begitu mesra, sampai terik mentari pun enggan menghampirinya.
((((((o))))))
sedikit kata Mutiara dari hati.
***Rasa yang ada saat keterpurukan menjelma hanyalah sebuah rasa kelam yang menyedihkan terasa tak pernah hilang
Namun keterpurukan itu mulai memudar di saat masa kelam yang menyedihkan di buat lupa oleh sosok mimpi
sosok mimpi itu ialah dimana seseorang datang menjadikannya sebuah perasaan senang di setiap saat
namun setiap saat itu bisa saja berubah karna adanya sebuah waktu yang akan menjawab.....
Elisa moon ru***
bersambung..
__ADS_1