Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Tidak suka bukan berarti Benci


__ADS_3

Hari ke-dua di klub pukul 19.00



Keributan terdengar dari beberapa Orang pria datang dengan kebisingan yang sengaja di buat, sementara Musik disko masih saja terdengar.


"Dimana Nona Lisa !" gertak seorang pria kekar memegang kera baju penjaga klub.


Edward bersama pengawalnya datang ke klub membuat keributan.


"Kenapa Tuan membuat keributan seperti ini?" tanya Dona yang menghampiri Edward.


"Dimana dia ?" gertak Edward menekan tinggi nada bicaranya.


"hmp, kau kehilangan dia kah?, sebaiknya wanita malam jangan di biarkan sendiri, kalau tidak itu lah akibatnya .!" sindir Dona tanpa takut, sementara Edward menatap nya sinis.


seketika Edward memberi kode pada para pengawal, mereka menerobos masuk ke dalam ruang utama klub itu, "kalian semua jangan mengacau!" teriak Dona berusaha menghentikan para pengawal Edward.


namun bukan Edward namanya jika berhenti di situ.


"Hancurkan tempat ini!" tegas Edward memberi perintah,


"Apa yang mau anda hancurkan tuan !" tiba-tiba saja Elisa datang menghampiri Edward yang memang sedari tadi sudah mengetahui kedatangannya.


Para pengawal seketika berhenti setelah melihat kedatangan Elisa .


"heh, aku akan menghancurkan orang yang telah menghianati ku !" ketus Edward mendekat pada Lisa.


Berhianat ,tidak salahkah?" Aku tidak mengerti maksudmu?" kata Lisa sembari mendekatkan dirinya pada Edward dan berusaha memegang wajah Edward namun tangannya di hempas oleh pria yang saat ini tengah menatapnya dengan kemarahan.


" Kalian semua kacaukan tempat ini" kata Edward kembali pada pengawalnya "sementara aku akan memberi peringatan pada wanita ini!" ketus Edward menarik tangan Lisa dan menyeretnya ke atas menuju kamar .


Tante Dona beserta bodyguard tak bisa menghentikan situasi saat itu.


"Lepaskan aku, sakit ?" teriak Lisa berusaha melepaskan cengkraman Edward di tangannya, setelah mereka sampai di atas menuju kamar Lisa, Brakkkk pintu kamar yang di tendang keras oleh Edward.

__ADS_1



Elisa pun di hempaskan ke atas tempat tidur dengan begitu kuat, "Kau pikir bisa lari dariku !" Edward mendekati Elisa seraya berbisik dan memegang erat kedua tangan Lisa."Lepaskan aku !" teriak Lisa yang tidak terima di perlakukan seperti itu.


"Apa kau lupa dengan kontrakmu Lisa?", ketus Edward membuat Lisa membalas tatapannya.


"Lepaskan !" teriak Lisa lagi mencoba bergerak dan melepaskan tangannya, dengan seketika Edward mempererat genggamannya lalu mencoba mencumbu hadis yang telah berada di pelukannya itu, namun Lisa agaknya sangat menolak perlakuan Edward yang sangat kasar,


"Kau suka jika kita bermain seperti ini Lisa ?" bisik Edward memulai aksinya, di kecup nya perlahan telinga Lisa yang saat itu telah merasa risih dan geli, kemudian bibir Edward turun pada leher Lisa sesaat Elisa menggeliat merasakan cumbuan pria itu.


"Heh, kau menikmatinya bukan !" sinis Edward memberhentikan kecupannya seraya menatap Lisa dingin ,


"Apa mau mu sebenarnya?" tanya Lisa menurunkan nada bicaranya sembari memalingkan wajah, karena perasaannya saat itu tak menentu, sementara merasa malu karena baru sekarang dia merasakan hal itu, terlebih lagi jantungnya yang berdetak kian tak beraturan.


"Bukankah kau tahu yang aku mau !" Edward segera melepaskan satu tangannya kemudian berusaha membuka perlahan kancing baju Elisa segera.


Elisa tak berkutik saat itu ,sementara kedua pahanya telah di jepit erat dengan kedua kaki pria Gaga itu, dan dua tangannya berada dalam genggaman Edward. Haruskah dengan cara seperti ini, keluh Lisa sedikit mendesah ketika jari jemari Edward menyentuh bagian sensitifnya, serta suara aneh yang ingin ia keluarkan tiba-tiba terhenti ketika Edward ******* habis bibir mungil nya, tak henti di situ Edward segera membuka seluruh kancing baju Lisa ,kini tampak dua buah tumpukan daging yang bening dan kenyal bangkit seolah menantang, tatapan mata Edward pun segera tertuju, di bukanya penutup daging itu hingga nyaris sempurna, kemudian ia mencoba menggapainya dengan sentuhan bibir tipisnya .auhkkk rintih Lisa yang tak tertahankan,


"Munafik !" Ungkap Edward seketika memberhentikan cumbuannya sementara Elisa tertegun aneh setelah mendengar ucapan pria yang masih berada di atas tubuhnya.


"Bukankah perlakuan ini yang sering kau dapatkan, bahkan kau sangat menikmatinya!" tambah Edward segera bangkit dan berusaha merapikan pakaiannya yang sedikit kusut, puiihhh tampak Edward sedikit meludah, sementara Elisa menutup bagian tubuhnya yang terbuka dan berantakan. serta menoleh ke arah pria yang berada di hadapannya saat ini.


"Kontrak mu masih panjang, segera kembali ke vila dan perusahaan !" tambah Edward tak perduli atas oerlakuannya., entah apa yang di pikirkan pria itu dan tujuannya, Elisa masih terus menatap nya geram.


"Heh, Hal manis tidak pernah di buang jika dia sudah merasakan pahit, Namun Hal manis itu tidak akan diam ketika rasa pahit datang !" ketus Lisa segera bangkit dan membenarkan pakaiannya .


"Bahkan aroma tubuh mu saja " mengendus seluruh tubuhnya sendiri " perlu waktu lama untuk mandi menghilangkannya"tambah Lisa segera berlalu keluar kamar meninggalkan Edward.


Sementara Edward diam dan mengerti apa yang Elisa katakan, sedikit kaki Edward bergetar dan kemudian tampak tangannya memegang dada, bukan sakit yang ia rasakan melainkan getaran yang sangat menggebu-gebu entah hal apa itu.


_


_


_

__ADS_1


_


_


_


_


_


_


_


_


Elisa melangkah sedikit berat namun di paksa menuruni beberapa anak tangga menuju ke bawah ,Ia memantapkan tatapan nya yang sedikit berkaca-kaca. agaknya Elisa sangat tidak terima atas apa yang Edward lakukan padanya, dia merasa Edward memang mengganggap nya sebagai wanita murahan ,bahkan tidak pantas untuk di sentuh, tapi mengapa di saat dia berada di jurang dan terpuruk Edward datang seolah mengangkat tinggi posisinya, lalu kini dengan mudah menjatuhkannya kembali tanpa tau sebab yang pasti,apa maksudnya?Batin Lisa bertanya-tanya tanpa ada jawabannya.


"Lisa apa kau baik-baik saja?" tanya Dona sedikit khawatir, Elisa tak segera menjawab matanya tertuju pada keadaan klub Dona yang hancur berantakan. semua pengunjung telah pergi dari sana ,hanya ada pengawal yang berbaris rapi telah menyelesaikan tugasnya, beberapa bodyguard Dona yang kesakitan akibat babak belur di hajar para pengawal saat mencoba melawan, serta beberapa pegawai klub yang berdiri diam ketakutan.


"Kau puas Lisa!" teriak Seorang wanita yang tak lain adalah Nisa datang dengan tatapan sangat sinis.


"Sudahlah Nisa , jangan memperburuk keadaan !" ketus Dona pada Nisa.


"Tante masih saja membela wanita ini?" tambah Nisa kesal sembari mengepalkan kedua tangan.


"Aku minta maaf Tante, aku akan membayar semua kerugiannya nanti!" ujar Lisa sedikit menegaskan kata-kata nya yang hampir menghilang karena melihat semua itu.


"Jika sudah selesai kita kembali !" ujar Edward pada pengawalnya seraya menuruni tangga ,semua pandangan mata tertuju pada pria yang saat itu tengah berjalan santai seolah tidak ada hal apapun yang terjadi di sana.


"Baik " serentak pengawal itu berlalu keluar klub setelah Edward melangkah mendahului mereka dan jelas melewati Elisa tanpa menoleh sedikit pun.


"Elisa kau mau kemana ?" tanya Dona ketika melihat Lisa melangkah pergi.


"Aku mau ke suatu tempat, Tante ambil saja uang yang ada di card ku di dalam tas, untuk menutupi kerugian sementara!" ujar Lisa sedikit berlari keluar bermaksud ingin mengejar Edward, namun agaknya Edward telah pergi dari tempat itu segera bersama rombongannya.

__ADS_1


Elisa diam sesaat menatap ke arah jalan kosong di depan , Bahkan pria itu tidak meninggalkan jejak ,seperti itu kah kehidupanmu? ungkap Lisa dalam hati sembari melanjutkan langkahnya meninggalkan klub itu .


bersambung...


__ADS_2