
Di ruang meeting
"Terimakasih kalian sudah hadir, Adnan kau sudah jelaskan pada mereka?" tanya Edward jelas menatap Adnan di kursi sebelahnya
"sudah pak !" tegas Adnan
"Oke, kalian tentu tahu persoalannya, Tahun lalu dan bulan lalu kita mengalami kebocoran desain perhiasan yang kita buat, sehingga barang itu di tiru dan mengimbas kan pada perusaan kita, semua pihak bertanya"
"aku akan tindak lanjut semua itu, siapa di antara kita yang berkhianat, sementara sekarang aku akan ajukan rancangan baru yang di buat oleh sekretaris ku sendiri yaitu Elisa" tambah Edward seraya melirik Elisa di sebelah Adnan.
"Hasil desain nya sudah di kirim kan ke email kalian masing-masing, saya harap kalian semua bekerjasama untuk menyelesaikan nya, bulan ini juga kita akan mengorbitkannya!" tambah Edward lagi tegas
"Maaf pak, saya sudah melihat desain Bu Lisa, menurut saya desainnya sangat rumit, tidak mungkin bisa langsung di kerjakan !" ujar seorang staf desain di sebelah delta, yaitu Jordi.
"Bodoh!" ketus Edward memukul meja keras sehingga karyawan lain menunduk
"Lantas apa yang kalian lakukan selama ini, jika desain itu saja kalian bilang rumit, justru itu lah yang menjadi daya tariknya, heh kalian harus kerjakan semuanya dengan baik !"
"Baik pak !" serentak para pegawai Edward menjawab tanpa terkecuali.
"kalian boleh bubar, kecuali Elisa dan Adnan!" tambah Edward lagi, sementara karyawan yang lain bubar, Elisa tak bergeming mendengar ucapan Edward setelah menyaksikan kemarahannya tadi.
"Pak, saya sudah mencari tahu tentang perusahaan itu, Begitu juga dengan Profil Tuan Dimas, semuanya sudah saya kirim ke e mail Bapak !" jelas Adnan tegas.
"Baik, kau boleh keluar, siap kan segala sesuatunya!" tambah Edward ,Adnan pun segera berlalu.
"Jadi begitu cara kerjanya!"cetus Lisa mengalihkan keadaan di ruangan itu, kini mereka hanya berdua.
"Kau kembali lah ke ruangan mu, Nanti ikut bersamaku ,kita akan menemui pesaing bisnis kita ! ujar Edward tanpa menggubris perkataan Elisa , Edward tampak sibuk dengan ponselnya.
"Baik Bos!" Elisa segera beranjak dari kursinya ingin meninggalkan ruangan.
"Kau lupa?" ketus Edward menatapnya.
"Apanya?" lagi lagi Elisa tak mengingat permintaan konyol pria aneh itu, pikirnya kesal dalam hati, ciumkah?
"Bibirku lagi keram!" cetus Lisa cepat seraya berlari keluar ruangan dengan tiba-tiba.
"Dasar!" Edward agaknya tak mempermasalahkan semua itu, ia tampak tersenyum.
Dalam lip.
_
"Dia itu gila kali yah?aduh permintaan macam apa itu konyol sekali !"Elisa agak geli mengingat daftar agenda yang di berikan oleh Edward bahwasanya harus menciumnya disaat dia mengingatnya, uhhhh.
Lantai 9 pintu lip terbuka.
"Adnan" pria itu masuk ke dalam lip saat Elisa masih berada di sana, mereka sama sama ingin kelantai sebelas ,Elisa tampak diam sesekali memainkan ponselnya, sementara Adnan tampak sedikit melirik, keadaan mereka benar canggung.
"Kau mau apa ke atas?" tanya Lisa lebih dulu karena sudah risih tampak di perhatikan.
"Apa tidak boleh Bu, lantaran saya bukan sekretaris pak Edward lagi!" santai Adnan dengan menekan nada bicaranya, sedikit menyindir Elisa.
"Ah, tidak juga . lagian pak Edward kan tidak ada di ruangannya, jadi aku pikir......
"Saya hanya ingin mengecek model perhiasan di ruang penyimpanan, dan meletakkan ini di ruang serba guna!" jelas Adnan menunjukkan beberapa map tebal yang ia bawa.
__ADS_1
"oh" singkat Lisa melirik Adnan yang jelas pura pura tak melihatnya.
Mencurigakan! ketus Lisa dalam hati, sementara pintu lip terbuka, Adnan tampak buru buru keluar mendahului Elisa, tampak memasuki ruang penyimpanan, sementara Elisa masuk ke ruangannya
cklek....
Membuka pintu, Elisa segera masuk dan menuju meja kerjanya. Aduh, bagaimana yah, bukankah nanti aku akan ikut Edward menemui pesaing bisnisnya, apa yang harus aku lakukan, agaknya Elisa sedikit gugup sesaat ia berlatih berbicara sendiri , Harus berkata bagus pikirnya agar terdengar seperti orang pintar, aku ini sekretaris perusahaan besar, jangan sampai bikin malu Edward , pikirnya mantap dalam hati seraya meneguhkan hatinya.
drddddd....
drddddd....
Ponselnya di atas meja bergetar !!
"Elisa turun lah segera! sebentar lagi kita akan bertemu dengan Direktur perusahaan AsBerlian, jangan lupa bawa gambar bulan kemarin!"
pengirim: pria aneh
"cepat sekali, bukannya nanti siang!" keluh Lisa mengerutkan kening nya, kemudian ia segera bersiap seraya membereskan semua barang bawaannya, kemudian pergi menemui Edward di lantai bawah.
(((((((o))))))
"Silahkan masuk Tuan !" sambut pemilik kafe itu mempersilahkan Edward dan Elisa juga Adnan untuk duduk di meja yang telah di persiapkan, mereka pun segera duduk di sana .
"Terima kasih!" ujar Adnan memberi kode pada pemilik kafe itu untuk segera pergi, sementara itu ada dua pelayan yang menyuguhkan minuman serta cemilan yang kemudian juga segera pergi setelah selesai menyiapkan.
"Adnan, kau sudah bilang kan pada mereka jam dan tempatnya ?" tanya Edward melirik Adnan yang duduk di hadapannya.
"Sudah pak, mereka sekarang sedang di perjalanan !" jelas Adnan seraya melirik keluar jendela kaca arah parkiran ,berharap mereka segera datang..
"Aduh, maaf pak, saya permisi ke toilet dulu!" cetus Lisa segera bangkit tanpa mendengar perintah dari Edward, tampaknya ia sangat kebelet, sementara Edward menatapnya aneh.
Aduh, kok malu-maluin sih, aku jadi nerpes gini, bagaimana jika Tamunya datang ,ah ya sudah ke toilet dulu aja, Elisa segera masuk toilet yang sudah di tunjukkan oleh pelayan wanita di kafe itu
Tap...tap ...tap...
"Itu mereka sudah datang pak !" kata Adnan menunjuk ke arah luar kafe.
Tampak Dua orang pria berjas rapi segera masuk ke dalam kafe, satu pria sangat gagah dan tampan, jelas sekali itu Adalah Tuan Dimas, sementara di sebelahnya seorang pria berkacamata adalah Haris Pranata, sekretaris Tuan Dimas sendiri.
"Maaf membuat anda menunggu lama Tuan Edward!" sapa Dimas menghampiri Edward dan Adnan.
"Tidak masalah!" jawab Edward seraya mengulurkan tangannya, yang langsung di sambut baik oleh Dimas .
"Silahkan duduk !" tambah Edward lagi menyarankan, merekapun duduk kembali.
"Apa yang membuat Tuan mengadakan pertemuan seperti ini?" tanya Dimas menatap serius Edward.
__ADS_1
"Heh, kita pada intinya saja, Adnan serahkan berkas nya!" Ketus Edward melirik Andan yang kini duduk di sebelahnya, Andan pun segera mengeluarkan beberapa kertas yang di bawanya, lalu menyerahkannya pada Dimas yang langsung menerima .
Kertas itu berupa surat tuntutan atas hak cipta yang di jatuhkan pada perusahaan Dimas, dengan seksama Dimas membaca surat itu kemudian di berikan nya pada Haris selaku sekretarisnya, Haris pun turut membawa, sementara Edward tampak tersenyum licik menatap Dimas yang juga membalas tatapannya ,
"Apa Anda tidak salah menduga Tuan?" Haris membuka pembicaraan yang sempat hening.
"Tidak, kami punya seluruh buktinya, mengeluarkan beberapa gambar desain yang di ambil dari dalam tas Lisa yang berada disitu, Edward tampak menatap ke arah pojok kafe di mana itu adalah arah toilet, hmp, Dasar dia gugupkah? " ini adalah beberapa salinan gambar yang real kami buat, pensilnya masih asli, Bisa di periksa!" ketus Edward menyerahkan beberapa kertas.
Dimas dan Haris tampak sedikit kaku, "Tetap saja ini tidak bisa menjadi bukti penuduhan terhadap kami , jelas kami lebih dulu mengorbitkan karya itu, juga desain kami sendiri yang membuatnya!" jawab Haris sangat tidak terima .
"Apa yang anda inginkan Tuan Edward?" Sambung Dimas menatap Edward tajam.
"Heh, Kau pintar juga kan, aku hanya ingin ini di deklarasi kan di publik, Hem kau tentu bukanlah orang yang ingin mengambil karya orang lain, jika di lihat dari penampilan Mu...
"Hentikan Tuan Edward, !!" Haris tampak bangkit dan menepuk meja.
"Hey, Haris tenang dulu !!" perintah Dimas menarik duduk Haris kembali.
"Heh, orang tidak bersalah tidak akan marah!, Kita ada kan pertemuan antar perusahaan dengan di hadiri penikmat perhiasan dan Jasa pemasaran, juga di ikuti beberapa perusahaan di bidang sama, dalam satu model perhiasan akan di buat secara langsung di depan umum oleh satu staf terpercaya di bagian design"
"Dari situ bisa di lihat siapa yang lebih unggul, Tentu Pembuat karya tidak akan lupa bukan ,hasil karya yang ia buat ,meski dalam satu menit karya itu di hapus dan di buat kembali!!" Edward tampak yakin dengan semua perkataannya .
Tap...tap...tap.....Langkah kaki yang di perjelas, Elisa tampak sedikit terburu\-buru..
"Maaf ..maaf saya datang terlambat, sekali lagi saya minta maaf!!" tampak Elisa beberapa kali menundukkan kepalanya pada ke empat orang yang tengah duduk di sana kini tampak memperhatikan Elisa serius.
"Elisa....!" suara berat terdengar pelan Elisa menoleh pada Edward di samping kirinya ,sementara Edward menatap Dimas yang baru saja menyebutkan nama itu.
Di...Dimas ,Dimas kah .? Elisa sedikit tertegun melihat sosok yang tidak asing di hadapannya ...
"Heh, Jadi kau mengenalnya !" ketus Edward melirik Elisa yang masih menatap dalam Dimas.
"Dia adalah Elisa , sekretaris ku !" tambah Edward menatap Dimas.
"Oke ,saya terima apa yang anda inginkan, Katakan saja kapan itu akan dilaksanankan! Dimas tampak berdiri masih menoleh Elisa, namun Elisa segera tertunduk.
"Kami permisi dulu Tuan Edward !" Tambah Haris memberi salam untuk kepergian mereka, Dimas dan Haris segera berlalu meninggalkan kafe.
"Adnan, kau tau apa yang harus kau lakukan selanjutnya !" Edward melirik Adnan.
"Siap pak !" segera Adnan membereskan beberapa berkas , Elisa pun turut membantu menghilangkan kecanggungannya, sementara Edward berdiri dan pergi lebih dulu keluar kafe.
"Apa dia marah ?" ungkap Lisa melirik Adnan yang juga meliriknya.
"Bu Elisa bertanya padaku !" ketus Adnan menyudahi pekerjaannya, lalu berlalu pergi meninggalkan Elisa.
Hey, memangnya kenapa jika aku bertanya padamu !! dasar Adnan menjengkelkan !!! uhuuuuhhhh... Elisa tampak menghentakan kakinya beberapa kali saking kesalnya.
_
_
_
_
_
__ADS_1
_