
Assalamualaikum , sebelum lanjut Lagi_ author berterimakasih sebelumnya untuk para reader yang meluangkan waktunya untuk mampir hingga baca sampai episode ini ,Dan bagi para reader yang setia terus simakin cerita "Wanita simpanan yang menawan" author mau umummin kalau hari ini dan berikutnya cerita ini hanya akan up satu atau dua episode dalam seminggu nya.
Jadi di mohon pengertian dan kesetiaan nya!!! hhe.. Dan Jangan lupa tinggalkan like kalian serta Krisan yang membangun buat author agar semangat , vote juga yah !!!
_
_
_
_
_
_
_
Tok.....tok.....tok........
Jordi mengetuk pintu di mana Edward tengah beristirahat ,ia pun segera masuk ke dalam untuk menemui Edward.
"Pak , Kondisi anda sudah membaik ?" ujar Jordi ketika melihat Edward yang sudah duduk di ranjangnya.
"emm, Jordi apa ada petunjuk tentang pelaku penembakan Direktur ?" jawab Edward langsung pada poinnya.
"Menurut laporan terakhir ,penembak itu berada di sisi luar gedung lain ,Kamera Cctv tidak ada di sana , namun tim khusus sudah menyelidiki Cctv di gedung yang di perkirakan penembak itu berada saat itu , sebentar lagi kita akan melihatnya" jawab Jordi detail.
"heh, nanti kau bilang , apa tidak bisa sekarang ??" dengan nada sedikit kesal Edward tampak marah.
"Maaf tuan , saya pikir kondisi anda ...
"Sejak kapan aku memikirkan kondisi ku , aku baik-baik saja , suruh mereka segera mengirim laporannya , dan urus semua ini !"
"Baik pak , saya mengerti"
"Ingat , jangan sampai ada satu hal janggal sekalipun terlewatkan !!" seolah mengancam kali ini Edward benar-benar terlihat serius , Jordi tak berani menatapnya ,ia hanya tertunduk dan segera undur diri .
"Jordi ...
"Iya pak " langkah kaki Jordi terhenti seketika saat Edward masih ingin bicara.
"Awasi kediaman Markus , pantau segala pergerakannya !" tambah Edward sedikit menaruh curiga terhadap ayah dari mantan istrinya, Belinda.
"Baik " jawab Jordi tegas kemudian langsung undur diri.
Edward tidak begitu yakin atas kecurigaannya , namun sejauh ini tak ada orang lain yang berurusan tegas dengannya selain Belinda dan ayahnya , Anaknya saja bisa berbuat demikian apa lagi ayahnya .
"Sial....." Edward memukul dinding rumah sakit itu saking kesalnya , kemudian ia berusaha bangkit meski kepala masih terasa sakit .
_
__ADS_1
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Langkah kaki Edward yang tertatih mencari sebuah ruangan di mana ayahnya di rawat , meski dengan rasa lemah yang tak ingin di akuinya ia berjalan sambil menyusuri dinding , ada beberapa pengawal serta perawat di sana yang ingin membantunya berjalan namun dengan sikap tegas dan dingin ia menolaknya.
ia tak ingin terlihat lemah meski keadaan tak bisa menutupinya, hingga ia tiba pada satu ruangan dimana di depan pintunya ada seorang pria yang tengah berdiri seolah menunggu seseorang di dalamnya.
tap...tap....tap..... Edward berusaha memperbaiki posisi tubuhnya yang tak tegap lalu ia berjalan menghampiri Dimas.
"Kau masih disini ?" ujar dewan menanyakan hal yang sedikit mengganjal.
"Ya, aku ingin melihat bagaimana keadaan Pak Alek " jawab Dimas sedikit santai dengan senyum kikuk.
"Aku akan masuk " jawab Edward lagi kemudian tampak menerobos Dimas yang seolah menjaga pintu.
"Silahkan !" pelan Dimas berkata , Tentu saja aku tak berhak , ucapnya lagi lirih DDI dalam hati.
Sebenarnya Dimas berdiri di sana hanya ingin memastikan tidak ada hal yang tidak di inginkan terjadi pada Elisa setelah bertemu Aleksander mengingat hubungan buruk yang ia ketahui selama ini.
Tidak di sangka , apa yang ia dengar barusan dari percakapan mereka , ternyata Elisa dan Alek bisa menjadi akrab , entah itu hal baik ataupun buruk baginya , tetap saja ia tak bisa menyembunyikan perasaan nya pada Elisa yang sudah sejak lama ia miliki .
"Aku hanya ingin kau bahagia , heh bodoh ." dengan kepalan tangan nya Dimas benar-benar merelakan Elisa kali ini ,tanpa berbasa-basi lagi ia mulai melangkah untuk meninggalkan tempat itu.
Di dalam.
"Edward , kamu sudah membaik ?" ujar Lisa ketika melihat Edward masuk.
"Ya , bagaimana dengan ayah ?" di tatapnya tubuh kekar pria setengah abad itu dalam kondisi lemah dengan semua peralatan yang ada di tubuhnya, ia tidak koma hanya saja memerlukan selang oksigen sebagai pembantu pernafasannya yang di duga bermasalah , kini Alek sepertinya tengah memejamkan mata untuk beristirahat.
"Ayah baru saja tidur " jawab Elisa sedikit mundur menggeser kursinya ketika Edward mendekat.
__ADS_1
"Apa kamu berhasil menidurkan nya?" tanya Edward sedikit meledek Elisa yang terlihat seolah tengah menjaga anak kecil.
"Udh, bisa-bisa nya kamu bicara seperti ini di saat begini " keluh Lisa merasa ledekan itu tidak tepat.
"Dia baik-baik saja , sebaiknya kamu pulang dulu ke vila , ajak Delta bersamamu !" tambah pria itu kini berjongkok di samping Elisa.
"Aku tidak mau , aku mau disini" kekeh Elisa menatap Alek yang tertidur.
"Hemm, apa tidak gerah memakai pakaian seperti itu di rumah sakit , yang ada orang lain yang melihat bisa salah paham lagi " mata Edward melirik aneh pada Elisa ,terang saja Elisa merasa ia tengah di goda oleh pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu.
"Maksudnya , salah paham apa?" tanya Lisa berbalik.
"Ya , orang lain akan mengira kamu pengantin muda yang menikah dengan tua renta tengah berbaring sakit di sini " ucapan Edward jelas meledek dengan di tambah tawanya yang di tahan, tampaknya sifat humoris Edward tengah muncul untuk menggoda Elisa.
"Dasar , biarkan saja ,itu pastinya berkesan jika aku setia , dari pada di bilang pengantin yang di tinggal mabuk oleh suaminya di saat hari pernikahannya , itu lebih menjengkelkan " dengan bersilang tangan di dada Elisa menampakkan kekesalan nya pada Edward, mendengar hal itu Edward sedikit diam membisu.
"Kenapa diam ?" tanya Lisa setengah melirik suaminya yang masih berjongkok.
"Bodoh " ketus Edward berdiri dengan sedikit mencubit pipi Lisa yang cemberut.
"Sakit " Lisa langsung mengelus-elus pipi merahnya yang di cubit Edward.
"aku mabuk juga karena mantan mu , dia setia sekali hingga sekarang masih menuggu di depan " Edward melangkah ke depan tepat berdiri di hadapan Elisa.
"Mantan , mantan apa ? sejak kapan aku punya mantan " Elisa sangat polos tak begitu paham maksud dari perkataan Edward.
"Tuh kan bodoh , sudah lah ,aku telpon delta ya suruh dia jemput kamu untuk istirahat!" tak begitu menggubris ketidakpekaan Elisa Edward mengeluarkan ponsel nya dari saku celana untuk menelpon Delta.
"Aku tidak mau pulang , aku masih mau di sini , aku .asih khawatir dengan keadaan ayah " ujar Elisa tampak sedikit merengek.
"Halo Del, kau dimana?" tak sempat menjawab rengekan Elisa rupanya telpon sudah tersambung.
"Iya pak bos ada apa? saya masih di rumah sakit , sekarang lagi di kafe di bawah ." jawab Delta di sebrang telpon.
"Cepat naik ! bawa Elisa pulang untuk istirahat!" ujar Edward lagi memerintahkan.
"Baik , saya ke atas sekarang " Jawab delta lagi kemudian mematikan telpon nya.
"Edward , aku masih mau di sini " ujar Elisa lagi untuk kedua kalinya saat Edward sudah mematikan telpon.
"Sayang , kamu sebaik nya istirahat , di sini kan ada Ibu dan Duma yang menjaga ayah , nanti pak Wisnu juga stay di sini ,jadi kamu jangan khawatir !" dengan memegang kedua bahu Elisa Edward tampak meyakinkan.
"Bagaimana dengan dirimu ?" jawab Lisa menatap sayu pria di hadapannya hingga tatapan mereka bertemu.
"Aku masih ada urusan lain yang akan ku urus " pegangan Edward terlepas saat nada bicaranya berubah tertekan, hal itu di rasakan oleh Elisa.
"Kamu ingin mencari tahu penembak itu ?" kata Lisa dengan nada pelan memastikan yang ada di pikirannya benar.
"Elisa , pulang lah ke vila , aku ingin semua ini mudah dan baik-baik saja " jawab Edward kini dengan tegas dan banyak arti di dalamnya.
Ya Tuhan , Bagaimana semua ini akan berakhir ,apa semua ini terjadi karena kehadiran diriku , apa aku salah ??? Elisa menunduk kan kepalanya merasa bersalah akan apa yang terjadi pada kehidupan Edward.
__ADS_1