
"Pagi Bu Lisa !" sapa semua karyawan yang berpapasan dengan Lisa.
"Pagi Bu !" sapa seorang pria yang tak asing. Jordi .
"Pagi Jordi, emp kamu ada lihat Delta gak ?' tanya Lisa sedikit penasaran karena dari pagi tidak bisa menemui Delta.
"Oh, Delta sepertinya tadi di ajak pak Adnan deh ke ruangan serbaguna." jawab Jordi sedikit cengengesan.
"Oh, kok gak ketemu yah? padahal kan ruangan itu ada di atas!" Elisa tampak sedikit menggaruk kepalanya.
"Di telpon aja ,atau kirim pesan Bu !" tambah Jordi menyarankan.
"Sudah, tapi cuma di read nya aja belum di balas ,emp ya sudah aku lihat ke atas dulu yah !" tambah Lisa menepuk bahu Jordi seraya berlalu meninggalkan pria itu yang tampak tersenyum sumringah menerima perlakuan Elisa.
Sekretaris Muda, batin Jordi menerawang seraya berlari kecil menyusuri Lobi.
Lantai 11, Ruang serbaguna
"Memang di sini kok pak saya simpan nya !" suara wanita terdengar berat berbicara.
"jika benar di sini tentunya ada dong, coba cari lagi !" ketus pria yang terdengar kesal.
Tok...tok....tok....Elisa tampak mengetuk pintu ruangan dimana suara itu terdengar.
"siapa ?" Tanya seorang pria, Adnan.
cklek,
Pintu terbuka lebar. "Bu Elisa , ada perlu apa anda kemari !" tanya Adnan langsung berdiri dari duduknya di atas meja, sementara tatapan Lisa tertuju pada wanita di lantai ,Delta bersama beberapa tumpukan kertas gambar yang berserakan.
"Apa yang kau lakukan Delta ?" tanya Lisa menghampiri segera.
"Ini, aku sedang cari desain-desain bulan lalu, tapi dari tadi di cari gak ketemu.!" jawab delta lesu seraya membuka balik kertas yang berserakan.
"Memangnya untuk apa ?, " Elisa berjongkok memungut kertas yang berserakan itu.
"Apa yang kau lakukan Lisa, biar aku saja, aku ingat meletakkan nya di sini, Desain itu pak Edward menginginkannya." tambah delta mencari lagi setiap kertas.
"Bu Lisa tidak perlu bantu dia, biarkan saja dia yang mencarinya !" sambung Adnan sangat ketus,
"Lantas apa yang kau lakukan, apa kau tidak membantu nya !" gertak Lisa kesal melihat Adnan yang sok berkuasa.
"Haiss, iya Bu, ini juga saya cari!" jawab Adnan berat kemudian melangkah menuju lemari yang banyak tumpukan kertasnya.
"Apa kau yakin meletakkan nya di sini !" tanya Lisa lagi menatap Delta.
"Aku yakin Lisa !" Kening Delta terlihat berkerut dan wajahnya sangat takut.
__ADS_1
"Jangan cemas begitu, kita akan menemukan nya segera!" Lisa berusaha menenangkannya.
"Adnan, memangnya ada berapa banyak gambar desain tahun lalu ?" tanya Lisa bangkit menatap Adnan di dekat lemari.
"Sepuluh gambar Hiasan kepala, dan satu desain kalung berlian , semuanya Masing masing berwarna Toska pada setiap berlian tengahnya !" jelas Adnan
"Untuk apa semua itu, bukannya sudah lalu !" tanya Lisa lagi penasaran.
"Sebagai bahan rujukan pada Direktur utama menyangkut deklarasi yang akan di adakan Pak Edward !" jelas Adnan lagi masih fokus pada kertas kertas di atas lemari.
Deklarasi, Apa itu berkaitan dengan pertemuan Dimas waktu itu !" Elisa aku menemukannya , ya ampun ternyata ada di dalam map kuning ini !" Delta tampak senang dengan keringat yang mengalir di wajahnya.
"Kau takut yah ,jika ini tidak di temukan ?" tanya Lisa mengusap keringat Delta.
"Tidak penting, yang penting ini ketemu." tambah delta sangat senang, sementara Elisa menatapnya serius.
"Bawa kemari !" Adnan tampak merebutnya, "Aku akan menyerahkan ini pada Pak Edward, kau bereskan semua ini !" tambah Adnan lagi memerintah.
"Saya permisi dulu Bu !" tambah Adnan menunduk seraya berlalu.
Percuma kau berpura-pura menghormati ku seperti itu, jelas di wajahmu kau sangat menentang ku. "Hey, Melamun !" Delta tampak mengguncang tubuh Elisa.
"Iya, Maaf aku akan bantu membereskan nya, !" Elisa segera memungut kertas kertas itu .
"Beruntungnya aku punya Ibu sekretaris ini !" sindir Delta membuat mereka tertawa di ruangan itu..hahahaha
Elisa tampak masuk begitu saja, lalu duduk pada kursi nya, kemudian langsung menghidupkan komputernya, Ia bukan tak menyadari kedua mata terus Memata matainya hanya saja ia tak ingin memperdulikannya.
Di ujung Meja Edward jelas menatapnya tajam, Tangannya tertuju pada telpon kantor di sebelah kiri. "Adnan bawa berkasnya kemari !" Edward menutup telponnya , masih menatap Elisa, namun nampaknya gadis itu tak perduli.
Pencarian.......: perusahaan AsBerlian
Segala jenis dan gambar rancangan, klik dua kali , Oke, Elisa tampak serius menatap layar komputernya, Ternyata hasil rancangan perhiasannya sangat bagus, Elisa sedikit mengumbar senyum manisnya pada layar komputernya.
Tok....tok ..tok ...
"Masuk !" perintah Edward pelan.
"Ini berkasnya Pak !" Adnan masuk segera menyodorkan beberapa berkas.
"Apa yang tadi sudah di berikan pada Direktur utama ?" tanya Edward pada Adnan .
"Sudah, Bu Belinda juga melihatnya, Direktur utama menyetujui pengajuan proposal anda, Lantaran Bu Belinda sendiri ingin turut berpartisipasi di dalamnya !" jelas Adnan serius pada Edward sementara Elisa sedikit tergugah ketika mendengar nama Belinda, namun ia coba mengabaikannya, di karena malas melihat muka pria aneh itu pikirnya sangat kesal pada Edward mengingat perlakuan kasarnya tempo hari .
"Baik lah tidak masalah jika dia ikut, ini malah semakin bagus, berliannya juga berkelas aku akan menggunakannya untuk perhiasanku !" jawab Edward segera menandatangani berkas yang di bawa Adnan.
"Elisa , atur jadwalku bertemu dengan Belinda !" Edward tampak menatap Lisa di ujung meja.
__ADS_1
Bukankah dia istrimu, heh kenapa harus di atur segala, tinggal ketemu saja " habis makan siang tuan ada rapat dengan klain, pukul 14.30 ada pertemuan dengan bagian pemasaran , selanjutnya kegiatan meeting dengan staf desain , di teruskan pemberitahuan deklarasi yang akan di adakan , "
"Hari ini jadwal Bapak padat, hemp, Bukannya Bu Belinda itu istri Bapak yah ,ketemunya di rumah saja bagaimana !" perkataan Lisa jelas sangat menyindir, sementara Adnan tampak canggung berada di sana.
"selesai" menyudahi tanda tangan terakhirnya, "Kau boleh pergi !" perintah Edward pada Adnan yang kemudian segera berlalu membawa berkasnya.
"Sudah bicaranya ?" ujar Edward menatap sinis Lisa yang masih sibuk dengan komputer nya.
"Sudah, " singkat Lisa lagi
"Selesai, !" Elisa segera bangkit dari duduknya, "Pak, aku sudah menyelesaikan tugasku, semua persiapan bapak sudah ada di sini !* Elisa menyodorkan beberapa map pada Edward." Nanti bapak juga di temani oleh Adnan, aku sudah mengurus semuanya ,sekarang aku mau pulang duluan bersama Delta, !" jelas Lisa semangat sementara Edward menatapnya.
"Aku akan pergi, selamat Bekerja Pak !", tambah Lisa lagi mengambil ponsel dan tas nya bermaksud keluar ruangan.
Braakkkk.......
Suara pintu yang tadi sedikit terbuka di tutup keras oleh Edward yang saat itu tengah menghadang kepergian Lisa.
"Apa yang Anda lakukan ?" tanya Lisa sedikit terkejut dengan kelakuan Edward.
"Kenapa semakin hari kau semakin lancang !" ketus Edward menahan tubuh Lisa di pintu.
"Aku hanya menyelesaikan Tugasku, apa nya yang lancang !" kesal Lisa memalingkan wajahnya.
"Dimas Erlangga, Putra pertama perusahaan AsBerlian, Adiknya bernama Juwi Erlangga, sementara ayah dan ibunya telah meninggal dalam kecelakaan pesawat, Dulu dia pernah bersekolah di Sekolah Menengah atas di Kota T, Lalu pindah ke kota X bersamamu , Apa hubunganmu begitu erat dengannya ?" Edward tampak menatap Lisa dengan serius sementara Elisa masih memalingkan wajahnya, Meneliti ucapan Edward .
"Jawab Lisa !"teriak Edward mengguncang tubuh Lisa keras.
"Jika benar kenapa ?" teriak Lisa membalas tatapan Edward.
"Heh, Lalu kenapa kau bekerja di klub Murahan itu, jika kau Mengenal pria kaya ? apakah dia mencampakkan mu ?" tanya Edward lagi makin dalam.
Mencampakkan ku, siapa yang mencampakkan ku ? "Jawab !" teriak Edward lagi seraya menggenggam erat bahu Lisa.
Ini sudah keterlaluan , "Ini semua tidak ada urusannya denganmu, Kita sedang di kantor, aku harap Anda lebih bisa propesional dari pada diriku !" jawab Lisa pelan menghela nafas panjangnya,
"Pergi lah !" Edward melepaskan genggamannya lalu berbalik arah.
fhuiiiihhhhh.....
Sabar Lisa, kau harus lebih sabar Menghadapi pria aneh ini, arogan sangat tidak jelas.
cklek
Elisa membuka pintu kemudian keluar dan berlari meninggalkan ruangan itu, tak ada yang ingin ia pikirkan lagi selain menjauhi pria menyebalkan itu, Elisa tampak terburu-buru memasuki lip, dengan perasaannya yang tadi gemetaran mengingat tatapan serta ucapan Edward, rasanya membuat ia sampai bergidik.
"Benar benar tidak bisa berurusan dengan orang kaya, dalam satu menit saja masa lalu seseorang bisa di Kulik nya !", ketus Lisa mengatur nafasnya di dalam lip.
__ADS_1
Bersambung....