
pagi hari.
Elisa dan Edward tengah makan bersama di ruang makan , kali ini Elisa duduk di samping Edward dengan senyum malu-malu nya.
ia tak bisa membayangkan jika segala hal yang di lakukan dan dibutuhkannya di bantu oleh Edward langsung, seperti tadi saat ia di gendong untuk turun ke bawah menuju ruang makan ,sangat malu mengingat semua itu ,meski tak bisa di pungkiri Elisa merasa sangat senang.
"emm, nanti jika kau butuh sesuatu jangan lakukan sendiri yah! kau suruh bi Rena atau Dewi saja !" ucap Edward saat sudah selesai makan.
"Iya ,kau tidak perlu khawatir !" jawab Lisa dengan senyumannya, sedikit canggung juga Lisa menjawab karena di sana ada Rena yang masih berdiri menunggu perintah tuannya.
"Maaf tuan ,saya permisi dulu " ucap Rena saat itu juga ,ia tahu dan ingin membiarkan keakraban hubungan baik tuan nya dengan Elisa.
"Boleh aku minta satu hal padamu ?" tambah Edward menghadap ke arah Elisa yang berada di sampingnya.
"Satu hal ,apa itu ?" tanya Lisa penasaran.
"Seperti nya ,aku kamu lebih enak di dengar ,dari pada sebutan kita sebelumnya " pria itu berkata dengan raut wajah yang lucu, hal itu membuat Elisa ingin tertawa.
"Kamu kenapa?" tanya Edward melihat Elisa yang menahan tawanya..
hfff..."hahahaha....."
"Kamu meledek ya?" ketus Edward sedikit kesal , hal itu membuat Elisa makin ketawa ,ternyata Edward juga masih memiliki sifat kekanak-kanakan seperti itu.
"Maaf, maaf ...Habis kamu lucu , hahaha" tak hentinya Elisa tertawa geli melihat tingkah pria di samping nya itu.
"Lucu , berarti gak aneh lagi dong ,?"
"Apaan sih ?" Elisa memberhentikan tawanya saat Edward berkata seperti itu seraya menarik kursinya sehingga mereka berhadapan.
"Yang lucu itu kamu , apa lagi jika wajahmu memerah gitu " cara bicara Edward kian lembut pada Lisa .
"Ah ,merah ini hanya karena pemerah pipi saja " Elisa sedikit melengos malu .
"Oke , emm ,ya sudah aku mau berangkat ke kantor dulu ,kau baik-baik di rumah yah " tambah pria itu berdiri seraya mengelus kepala Elisa.
"Mau duduk di kursi roda?" tambah Edward mendekatkan kursi roda yang tak jauh dari sana ke dekat Elisa.
"Tidak perlu ,aku masih mau duduk di sini , kamu berangkatlah , hati-hati di jalan " jawab Elisa mengindahkan perkataan Edward.
"Baik lah , jangan lupa ,istirahat yang cukup ,besok kamu ada terapi " tambah pria itu lagi mengakhiri pamit nya dengan satu kecupan.
Deg......deg....deg....
wah hatiku berdebar lagi , tenang Elisa ...tenang ....uphhhmmm..fhuihhh....
Beberapa kali Elisa menarik nafas untuk mengontrol perasaannya yang di anggap berlebihan .
"Non lisa , Tuan tadi lupa memberikan ini ," Wisnu datang sedikit berlari dengan membawa sebuah kotak .
"Apa itu pak Wisnu ?" tanya Lisa ownasaran seraya meraih kotak yang di sodorkan oleh Wisnu.
"Ponsel baru non "
__ADS_1
"Apa? kenapa dia memberikan ponsel, bukannya ponsel ku masih ada " jawab Lisa sedikit kaget.
"Ponsel non Lisa kan rusak saat kecelakaan , ya sudah ,kalau begitu saya permisi dulu ,jika non Lisa perlu sesuatu panggil saya saja yah !"
Benar , waktu itu , gara-gara kecelakaan yah ?
"Tunggu pak Wisnu !" Elisa memberhentikan langkah Wisnu yang segera ingin pergi.
"Ada apa non?"
"Bagaimana dengan barang 2ku yang ada di kota T , dan juga apa rumahnya masih dalam keadaan baik ?" Elisa teringat akan rumahnya.
"Barang non Lisa sudah di letakkan di kamar bawah, sementara rumah di sana sudah saya suruh orang membersihkannya dan merawatnya " jawab Wisnu tegas.
"Menyuruh orang merawatnya?"
"Iya non, Tuan sendiri yang mengutus orang yang ia kenal untuk merawat rumah itu ,agar tidak rusak ,dan sedikit di renovasi " tambah Wisnu lagi mantap.
Ternyata Edward menyuruh orang ,jadi dia tahu dan tidak marah ,syukurlah ,aku harus berterimakasih padanya, hemm, rumah itu adalah satu-satunya rumah peninggalan keluargaku .
"Terimakasih pak Wisnu " sedikit tersenyum ,Elisa berkata meski ia tengah bersedih mengingat semuanya.
"Iya non ,kalau begitu saya permisi "
Wisnu segera meninggalkan Elisa , saat itu Elisa segera berpindah ke kursi rodanya dan menuju kamar , di lihatnya ada beberapa tumpukan kotak kardus di sana , itu pasti barang-barang ku, pikirnya sedikit tersenyum.
Elisa segera memeriksa barangnya ,di lihatnya ada beberapa buku dan album foto keluarga.
"Ibu , apa kau tahu ,hidup ku sekarang berubah , dia yang dulu aku benci malah menjadi orang yang menerangi hidupku saat ini , apa ibu setuju " air mata Elisa membendung dan menetes saat di sentuhnya sebuah foto ibu nya yang sudah hampir lusuh .
"Non Lisa , kenapa menangis ?" tiba-tiba Rena menghampirinya karena tak sengaja melihat pintu kamar Lisa yang terbuka .
"Bibi ....hikkk..hikk......"
"Apa ada sesuatu yang terjadi ?" tambah Rena kian mendekat dan sedikit berjongkok di hadapan Elisa yang kini menunduk.
Rena melihat sebuah album foto yang di peluk Elisa saat itu , ia menyadari kesedihan gadis di hadapannya adalah mengingat tentang keluarganya.
"Non,, jangan menangis lagi yah , bibi juga jadi ikut sedih lihatnya " Rena segera memeluk Elisa yang juga merespon pelukannya ,saat itu Elisa benar-benar butuh seseorang untuk bersandar.
"Terimakasih Bi " jawab Lisa sedikit mengusap air matanya, Rena pun tersenyum sembari mengelus bahu Elisa.
"Jika non Lisa ada masalah ,jangan di pendam yah ,non bisa ceritakan sama bibi , di jamin aman " cara bicara Rena seolah- olah mereka seumuran terlebih dengan mimik wajah yang lucu , hal itu membuat Elisa tertawa.
"Nah kan cantik , non gak nangis lagi "
"Ah bibi bisa aja , oh yah bi ,apa boleh aku menghubungi ibu nya Edward " tiba-tiba Elisa kepikiran ibunya Edward.
"Maksud non nyonya Zelin , tentu boleh dong non, apa non mau menelpon di ruang tamu , ayo bibi dorong"
"Gak usah Bi, jika ada nomor nya, aku minta nomor nya saja " sedikit melirik pada kotak ponsel yang di berikan oleh Edward ,Lisa segera membukanya.
"Oh , ya bibi ambil dulu non" Rena segera pergi ke ruang tamu untuk mengecek nomor telpon Ibu.
_
_
__ADS_1
_
_
_
Elisa segera membuka ponsel baru nya yang sangat mewah " inikan terlalu boros" ketusnya mengetahui harga ponsel keluaran terbaru itu.
Ponsel itu sudah berisi card, dan langsung di aktifkan nya.
"eh, ternyata sudah tersimpan semua kontak di ponselku , bagaimana mungkin " Elisa sedikit terkejut , ternyata Edward sudah memasukan semua kontak di ponsel lamanya.
Derddddd..........
ponselnya berdering menandakan ada kontak masuk.
sayangku : akhirnya kau aktifkan juga ponselmu , kamu sedang apa sekarang ?
"Sayangku ? heh , seharusnya ini pria aneh itu , dia merubahnya ,he" Elisa sedikit tersenyum janggal melihat kontak nama Edward yang di rubahnya sayangku.
Mengetik pesan...
kesayangan:Aku sedang mentertawakan mu , dasar pria aneh. ..😛😛😛
"Non ,ini nomor nyonya !" Rena datang dengan membawa selembar kertas .
"Oh iya Bi , terimakasih " jawab Lisa segera menerima kertas itu.
"emm, apa barang-barang non Lisa mau bibi bereskan?"
"oh ,tidak usah Bi ,nanti aku aja yang beresin, sekali lagi terima kasih "
"Oh ,iya sudah ,kalau begitu bibi permisi dulu"
Rena segera keluar dari kamar Lisa dengan segera, membiarkan gadis itu untuk sendiri.
sayangku:Jangan menyebut seperti itu lagi , aku tidak mau mendengarnya.
"Eh, dia marah kah ?"
***Kesayangan:oke deh ,maaf sayangku 😘😘
sayangku:Aku mau lebih ..
kesayangan:Lebih apanya , udah ah ,aku .au telpon ibu dulu 🤚
sayangku:Ada apa menelpon ibu ?
kesayangan:Mau bilang kalau anaknya nakal , hahaha 😁
sayangku:😡😠😡😠***
hahaha ..Edward lucu banget sih , dasar...saat itu Elisa tertawa sendiri menatap layar ponselnya.
kesayangan : sudah jangan marah , 😘😘🥰
__ADS_1