Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Cuaca cerah_


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Elisa bangun secara perlahan, Di lihat nya Edward yang masih terlelap di tempat tidur, Di ingat nya malam tadi setelah selesai mandi Edward sudah tertidur, mungkin sangat lelah hingga tak sadar jika Elisa tidur di sofa kamar, di rasanya masih risih jika tidur bersama terlebih dia mulai manaruh perasaan jika Edward akhir-akhir ini memperlakukannya sangat lembut.


Elisa turun ke dapur melihat Rena dan Dewi tengah sibuk menyiapkan sarapan.


"Pagi non!" sapa Rena seraya memotong sayuran segar yang baru di petik dari kebun belakang.


"Pagi Bi , emz apa itu buah apel di kebun?" tanya Lisa yang matanya tertuju pada ranjang buah apel penuh di atas meja dapur.


" Iya, buah nya sudah di cuci ,jika non Lisa mau bibi kupaskan !" tawar bi Dewi mengambilkan buah apel itu.


" Tidak perlu Bi, sini !" Elisa langsung mengambil buah itu di tangan Dewi, dan langsung memakannya ." Lebih enak dimakan langsung bi " ujar Lisa lahap memakan buah apel yang sangat segar dan manis.


"Oh yah , sini biar aku bantu!" tambahnya lagi langsung mengambil alih memotong sayuran.


"Tidak perlu non, biar bibi saja ?" Rena tak ingin Lisa mengerjakan pekerjaan dapur.


"tidak apa bi , aku mau masakan sup buat Edward !" jawab Lisa berdalih agar di izinkan masak.


Dan benar ,mendengar alasan itu Rena dan Dewi terpaksa menerima keberadaan Elisa di dapur ,mengingat Edward memang suka jika di masakan oleh Elisa .y


Setengah jam para wanita itu memasak dengan sangat girang, terlebih Elisa yang suka bercanda tak pernah membuat canggung di antara mereka.


"Sudah siap kan , emmm..seperti nya enak banget !" ucap Lisa mencium aroma sup buatannya dan memuji diri sendiri, hal itu jelas membuat Dewi dan Rena tersenyum seraya menyajikan makanan di atas meja makan.


Tap...tap...tap...tap....Langkah kaki terdengar jelas menuruni anak tangga.



seluruh tatapan tertuju pada pria yang baru saja tiba.


"pagi tuan ?" sapa Dewi dan Rena secara bersamaan menundukkan sedikit kepala mereka, sementara Elisa masih menatap Edward yang seolah tak melihatnya, dengan segera Edward duduk di depan meja makan yang sudah di hidangkan , di lihatnya mangkuk sup hangat uang sedikit menggugah seleranya.


"silahkan tuan !" dengan sigap Dewi menyodorkan semangkuk sup buatan Lisa pada Edward yang jelas menerimanya.


"Kau mau berdiri saja di sana , Tidak makan ?" tukas Edward baru menoleh pada Lisa yang sedari tadi memperhatikannya.


"Emmm" tak banyak respon Lisa ,ia duduk segera dan mulai menyendok sedikit makanan pada piringnya.


Di lihatnya Edward juga yang mulai makan dengan tenang, hari itu adalah hari libur ,Edward yang berpakaian biasa terlihat lebih santai tanpa Jaz nya.


"Sup nya enak !" ucap Edward pelan dalam suapan nya , Elisa yang menyadari hal itu sedikit tersenyum puas, sedang Rena yang ingin membuka mulut di lirik nya agar tak mengumbar bahwa sup itu buatannya.

__ADS_1


Sarapan pagi di awali dengan sup hangat saat itu berjalan tenang dan santai, Edward yang sudah makan lebih dulu pergi ke ruang tamu nya untuk bersantai ,sementara Elisa membantu Rena dan Dewi untuk membereskan meja makan ,meski hal itu terus di tentang Rena namun Elisa masih saja melakukannya.


"Non Lisa , tuan ingin bicara pada anda !" ucap Wisnu yang baru datang secara tiba-tiba.


Hem, Kebiasaan bos ,ingin bicara saja menyampaikan pada orang, kita kan satu rumah ,pikir Lisa sedikit kesal tanpa menjawab Wisnu ,ia segera pergi menemui Edward yang tahu di mana keberadaannya.



Di lihat nya di ruang tamu Edward ternyata tak ada ,lalu Elisa melangkah menuju ruang tengah ,dan ternyata Edward ada di sana.


"Ada apa ?" ketus Lisa langsung saat telah melihat Edward yang tengah duduk santai di sofa ,mata Lisa langsung di tuju kan dengan map dan kertas yang berceceran di atas meja.


"Kemari lah !" jawab Edward tanpa menoleh Lisa, dengan segera Elisa duduk di samping nya dan Edward tampak memberikan secarik kertas dengan banyak tulisan di dalamnya.


Mata Lisa yang membulat dengan cepat membaca tulisan itu, surat itu berisikan biodata dirinya yang baru, lengkap dengan identitas keluarga yang asli ,bahkan nama ayah dan ibu nya sendiri.


"Apa tidak ada yang salah dengan data itu ?" tanya Edward yang melirik Lisa yang masih fokus pada datanya.


"Ini benar , bagaimana kau bisa mendapatkan ini, dan kau perbarui ?" tanya lisa masih bingung ,untuk apa Edward membuat semua itu.


"Data nya sudah aku daftarkan kependudukan nya, Jadi identitas mu sudah jelas sekarang ,kau tanda tangan di bawahnya yah !" segera Edward memberikan pulpen pada Lisa yang kini menatap nya tajam.


"sebaiknya tidak perlu repot-repot dengan identitas ku, !" ketus Lisa kini duduk di sudut jendela kaca menatap keluar.



Di pikirannya tiba-tiba sangat kesal dan jengkel dengan situasi kemarin yang masih di ingat,


"Aku ingin menikahi mu!" ucap Edward uang tiba-tiba membuat Lisa jelas kaget mendengarnya, di tatapnya Edward yang kini juga menatap nya dan segera bangkit menghampiri Elisa.


"Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita ,dan surat nya sebentar lagi akan ku terima ," Edward yang berdiri di hadapan Lisa kemudian langsung berjongkok menghadap Lisa yang kala itu masih duduk.


 


Deg.....


 


Apa mungkin ,dia mau menikahi ku ? yang benar saja ." Tapi ,kontrak kita? apa ini juga kontrak baru !" tanya Lisa sekaligus menjawab ucapan Edward yang saat itu sedikit tersenyum.


"Kau masih mau melanjutkannya Lisa ? , kau tidak ingin berubah ?" tanya Edward seraya mengelus kepala Elisa yang masih menatapnya aneh.

__ADS_1


"Apa maksudmu?, berubah apa nya ? memang nya ada yang bisa di rubah " Lisa menepis tangan Edward kasar.


"Dengar ya Tuan , kau itu punya istri ,dan keluargamu ,heh ,bagaimana bisa kau ingin menikah lagi ,jelas ayahmu akan murka !"


ledek Lisa membunyikan perasaan yang sebenarnya.


 


cup....cup.....Edward yang mencium nya dengan sangat tiba\-tiba membuat Elisa sontak kaget dan malu.


 


Sebetulnya Elisa sangat tidak menyangka jika Edward mengatakan semua itu padanya, terlebih itu soal pernikahan yang tidak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya .


"Posisinya tidak pas !" ucap Edward lagi seraya meraih tangan Lisa dan mengangkat tubuhnya untuk berdiri ,Elisa saat itu hanya diam saja masih menatap Edward aneh.


"Begini baru pas !" tambah Edward lagi merangkul Elisa dengan erat , dengan senyum di wajah manis pria tampan itu, Elisa yang sangat tidak bisa membayangkan semua kehangatan itu masih diam saja tak percaya.


"Aku sudah mengatakan apa yang ingin kukatakan ,sekarang giliran mu mengatakan apa yang ingin kau katakan kemarin ?"


"emm" jadi ini yang ingin ia katakan ?Edward yang masih memeluk Lisa erat merasa sangat nyaman dan bahagia.


"Apa yang ingin kau katakan Elisa ?" tanya Edward masih memeluk Lisa erat.


Elisa yang tak segera menjawab masih nyaman dalam pelukan pria itu, masih bertanya-tanya, apakah semua itu benar, jika benar apa dia harus merasa bahagia saat ini .


"hey, kenapa kau diam saja ?" kembali Edward bertanya kali ini melepaskan pelukannya dan memegang bahu Lisa agar menatapnya lagi.


"Apa aku harus menjawab sekarang ?" ucap Lisa sedikit ragu ,mengingat yang mengajak nya menikah adalah Edward seorang pria yang telah beristri.


"sebenarnya kau tidak perlu menjawab, dengan atau tanpa jawabanmu ,aku tetap akan menikah denganmu Lisa ."


"Heh, kau egois !" Elisa sedikit memukul dada bidang Edward dengan keras ,namun Edward menarik kembali tangan Lisa dan memeluk nya lagi,


"Bagaimana dengan istrimu tuan ? ,apa aku akan jadi istri kedua ?" tanya Lisa santai mengikuti alur pria yang memeluknya.


Tidak tahu apa yang ada di pikirannya dan apa yang akan terjadi nanti , yang jelas mereka saat itu tengah merasa nyaman.


Dengan satu pertanyaan yang ada di hati Elisa saat itu ,yang sangat ingin ia katakan ..


Apa kau mencintaiku ?????

__ADS_1


__ADS_2