
"Aku Hamil" ujar Elisa benar-benar sadar dan bergegas ingin bangkit namun bangun tubuhnya segera di tahan oleh Dimas.
"Elisa, kondisi tubuhmu masih lemah , sebaiknya kamu beristirahat dulu saja !" pinta Dimas dengan sangat khawatir.
"Benar nyonya, sebaiknya anda jangan banyak bergerak dulu , setelah istirahat yang cukup , kondisi tubuh anda akan segera pulih." jawab suster tersenyum.
"Aku Hamil" masih dengan kata yang sama Elisa masih tidak percaya sembari mengusap lembut bagian perutnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan , jika ada sesuatu bisa panggil kami kembali"
"Baik, terimakasih banyak sus" jawab Dimas ramah.
"Selamat Lisa , kamu sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu" tambah Dimas lagi kini tertuju pada wanita di depan nya.
"Edward.... Edward... dia harus tau, aku akan memberitahukan hal ini padanya , dia pasti akan sadar ...iya dia pasti akan sadar " seolah terobsesi , Elisa tampak berusaha dengan cepat ingin melepas infus di tangannya.
"Apa yang kamu lakukan Lisa ?" teriak Dimas segera mencegah hal bodoh Lisa.
"Lepaskan !! aku ingin pulang , suamiku pasti sudah menunggu di rumah " jawab Lisa seolah memberontak ketika Dimas mencoba mencegah nya untuk melepas infus yang ada di tangannya itu.
"kami tidak dengar apa kata suster barusan , kamu sebaiknya istirahat dulu Lisa "
"Lepaskan ! jangan sentuh aku !! " ujar Lisa lagi merasa kesal dalam luapan emosi dan kesedihannya yang bercampur.
"Maaf kan aku Elisa, aku tidak bermaksud...." Dimas segera melepaskan tangan Lisa yang tadi di pegang nya erat , kemudian dengan perlahan langkahnya mundur. Ia sadar betul akan status nya saat ini, namun rasa pedulinya pada Elisa tak bisa ia sembunyikan ataupun hilangkan begitu saja , karena di hatinya Elisa tetaplah seorang wanita yang begitu istimewa dan itu tidak pernah bisa ia pungkiri.
"Aku hanya tidak ingin kamu terluka" tambah Dimas lagi menatap fokus mata wanita di hadapannya itu.
"Aku yang minta maaf padamu Dimas, tidak seharusnya aku bersikap begini , terimakasih kamu sudah ada di sini " jawab Lisa menyadari kecerobohan nya , tidak seharusnya ia bersikap seperti itu , terlebih kondisinya saat ini memang lebih penting , ia sangat bahagia mengetahui kehamilannya itu, dengan berlinang air mata Elisa kini tampak menangis tersedu-sedu.
"Elisa, apa kamu baik-baik saja?" tanya Dimas setelah melihat tangis Lisa yang pecah begitu saja dalam posisinya yang duduk setengah menunduk menyembunyikan tangisan kebahagiaan nya.
"Aku tidak apa-apa...." jawab Lisa lagi penuh uraian air mata , ia tak bisa mengutarakan lagi perasaan nya saat itu.
"Apa itu tangis bahagia mu Lisa"
__ADS_1
"Bisa kah aku meminjam pelukan mu Dimas !" tiba-tiba saja kata itu terlontar dari mulut Lisa dengan kedua tangannya yang berusaha menyeka seluruh air matanya yang telah membasahi seluruh pipinya.
"Tentu " Dengan segera Dimas mendekat pada Lisa dan memeluknya ,begitu pula dengan Elisa yang membalas pelukan Dimas bukan tanpa sebab, ia ingin menumpahkan seluruh rasa bahagianya pada seseorang yang kini berada dekat padanya.
"Aku ingin segera memberi kabar ini pada Edward , dia pasti akan sangat bahagia " ucap Lisa kembali menangis dalam pelukan Dimas.
"Ya, tentu Lisa , nanti kamu harus memberitahukan hal ini pada nya , aku yakin Edward akan mendengar semua ucapan mu, dan dia akan sangat bahagia" jawab Dimas menguatkan hatinya , dia pun merasa bahagia saat itu , tidak terasa air mata sang pria itu jatuh pada pundak Lisa , hingga memaksa Dimas buru-buru melepaskan pelukannya.
"Elisa..." tiba-tiba seseorang datang dari luar ruangan.
"Ibu..." ucap Lisa , ternyata yang baru tiba itu ialah Zelin , Ibu mertuanya.
"Apa yang terjadi , kamu baik-baik saja nak?" tampak Zelin dengan khawatir memeriksa seluruh inci bagian tubuh Lisa.
"Aku baik-baik saja Bu , Ibu tidak perlu khawatir " jawab Lisa kemudian kembali menangis langsung memeluk Zelin.
"Syukurlah jika kamu baik-baik saja , dan lagi yang ada di sini juga baik-baik saja " jawab Zelin kemudian mengusap bagian perut Lisa pula.
"Ibu sudah tahu "
"Kata dokter tadi Elisa baik-baik saja Nyonya, dia sudah di beri vitamin" sambung Dimas dari belakang.
"iya , saya juga mengucapkan banyak terimakasih pada nak Dimas, tadi Wisnu sudah cerita pada saya, jika nak Dimas lah yang membawa Elisa ke rumah sakit"
"Iya nyonya , itu sudah menjadi keseharusan bagi saya , apa lagi Elisa ini adalah teman saya dari kecil " jawab Dimas tampak begitu sopan .
"Begitu ya, emm .. kalau begitu sebaiknya nak Dimas panggil Tante atau ibu saja ya !" ujar Zelin tampak ingin lebih dekat dan akrab mengingat Dimas ternyata pria yang baik.
"Baik , dengan senang hati Tante"
"Bu , aku ingin segera pulang ,aku ingin memberikan kabar bahagia ini pada Edward "
"Baik nak , nanti Ibu akan tanyakan hal ini pada dokter , kamu sudah boleh pulang atau belum"
"Biar saya saja yang tanyakan hal itu pada dokter, Tante dan Elisa tunggu saja di sini " sambung Dimas menyarankan.
__ADS_1
"Baik lah , jika nak Dimas tidak keberatan, sekali lagi Tante ucapkan terimakasih"
"Tidak masalah , kalau begitu saya permisi dulu"
Dimas segera keluar ruangan untuk membantu persiapan kepulangan Elisa , dokter juga sudah menyarankan Elisa untuk pulang dengan catatan Elisa harus menjaga kandungan nya dengan baik , untuk sementara ini dia tidak boleh sangat kelelahan.
Pak Wisnu yang sudah menunggu di luar rumah sakit tampak antusias menyambut majikannya itu yang keadaan nya sudah membaik , sementara Dimas dan sekretaris nya juga mengikuti dari belakang.
Zelin banyak mengucapkan terimakasih pada Dimas terlebih pada Elisa , selama ini Dimas sudah banyak menolongnya, tidak ada salahnya jika Elisa menerima baik hubungan pertemanan nya kembali dengan Dimas.
segera Pak Wisnu melajukan mobilnya dengan tenang ,Elisa yang duduk bersama Zelin di belakang di penuhi dengan suasana hati yang menggebu-gebu.Yang ada di pikirannya saat ini ialah segera berlari ke dalam pelukan sang suami seraya membisikkan kabar bahagia itu, Elisa sangat tidak sabar akan hal itu.
"Selamat Elisa , kamu akan menjadi Seorang Ibu "ujar Zelin memeluk hangat putrinya itu.
"Terimakasih Bu, Elisa sangat bahagia"
Sementara di sisi lain Dimas masih tetap berdiri menatap kepergian mobil yang membawa Elisa tersebut.
"Mereka sudah jauh tuan" tukas Haris mensejajarkan posisi berdiri nya, Dimas yang mendengar ucapan Haris itu kemudian menoleh kepadanya.
"Tidak seharusnya kau mengiyakan perkataan dokter tadi" ketus Dimas kemudian segera berbalik menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.
"Mengiyakan perkataan dokter tadi??" Haris tampak bingung dengan ucapan Dimas, sedikit ia menggaruk kepala akan kebingungan nya.
"Hey... apa kau bermaksud menyuruhku untuk mengemudi ?"
"Tidak Tuan , saya yang akan mengemudikan nya " Haris tampak berlari kecil menuju pada tuannya itu.
"Dia lebih cerewet sekarang" bisik Haris entah pada siapa.
🙏🙏🙏Minal aidzin walfaidzin ,mohon maaf lahir dan batin , khususnya pada para reader yang setia nungguin author yang tidak selalu stay ini.
maafkan atas khilafan nya ya!!🤭🤭 jangan lah bosan untuk setia , karena setia itu tidak merugikan 🤗🤗
Jangan lupa pula dengan like+komen dan vote dengan banyak , terimakasih😘😘
__ADS_1