Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Kesadaran Ayah_


__ADS_3

Aleksander menunjukkan kesadarannya dengan jemari kakinya yang bergerak , mengetahui hal itu Zelin segera berteriak memanggil dokter.


"Om Alek sudah sadar ?" tanya Jordan yang buru-buru masuk mendengar panggilan Zelin , sedikit tergesa-gesa Jordan datang seraya memakai Jaz putih sebagai pelengkap penampilannya sebagai dokter.


"Jari nya bergerak beberapa kali " ujar Zelin penuh keyakinan sementara Duma berdiri di sisi kiri Alek dengan terus berbisik menyadarkan suaminya yang masih belum siuman.


Dengan segera Jordan mengecek keadaan Alek sembari memeriksa tanda vitalnya di bantu oleh seorang asistennya.


"Tanda vitalnya normal dok " ucap asisten Jordan memastikan.


"re......re...eee...... " Tiba-tiba saja Alek sadar membuka suara parau nya.


"Alek , kau sudah sadar ....bicara lah !! " jawab Zelin penuh semangat menyerukan suaminya.


"Om , tenanglah ....jangan terburu-buru, bernafas santai...." Jordan memangnya agar kesadarannya normal.


Keadaan Alek terlihat sangat baik bahkan ia sudah mulai berbicara dengan sedikit menggerakkan tangannya.


"...Diii...di ma...maanaa Ed Edward ??" ucap pria itu sedikit memaksa menanyakan anaknya pada Zelin , dengan sedikit tersentuh wanita itu mengeluarkan air mata bahagianya sekaligus rasa sedih saat itu , mengingat Alek masih ingat pada anaknya ,setelah semua yang terjadi.


"Edward ada di ruang istirahat , nanti akan ku panggilkan kemari !" jawab Zelin dengan lembut kemudian mengusap air matanya.


"Sayang , syukurlah kamu baik-baik saja" sambung Duma pula di sampingnya menangis .


"Keadaan om Alek normal , nanti akan saya cek lagi , sementara ini jika om ingin minum air ,tidak masalah untuk memberikannya " tambah Jordan menimpali setelah memeriksa keadaan nya.


"Baik , terimakasih Jordan " jawab Zelin merasa senang.


"Sama-sama Tante , kalau begitu saya permisi dulu , nanti jika ada sesuatu Tante tinggal panggil saya saja" tambah Jordan lagi tersenyum ramah dan pamit undur diri.


"Baik , sekali lagi terimakasih "


setelah Jordan berlalu keluar di dapatnya Elisa yang baru saja tiba di depan ruangan itu bersama Dimas di belakangnya.


"Apa ayah sudah sadar dok?" tanya Lisa penuh harap mengetahui Jordan baru saja keluar dari ruangan Alek.


"Baru saja dia sadar " singkat pria itu sembari komat-kamit memeriksa catatan pasien yang ada di tangannya.


"Boleh kami masuk ?" tanya Lisa lagi.


Jordan kembali menoleh dan menatap ke arah Dimas ,entah apa maksudnya , namun kemudian ia sedikit tersenyum dan mengangguk.


"Itu tandanya bolehkan ?" dengan polos Lisa bertanya lagi.


"Tentu , bukankah kamu keluarganya !" jawab Jordan kemudian langsung berlalu ,mendengar hal itu Elisa merasa sedikit mengganjal terlebih Dimas yang merasa sedikit tersinggung .


"Heh, apa maksudnya keluarga? jadi jika bukan keluarga tidak boleh masuk begitu " ketus Dimas tiba-tiba saja merasa tidak senang .


"Em , mungkin maksudnya bukan begitu , aku masuk dulu yah , di dalam juga mungkin sudah ada Ibu , kamu boleh masuk setelah aku " ucap Lisa sedikit tidak enak berusaha menjelaskan.


"Baik lah , aku bisa mengantarmu !" jawab Dimas lagi menawarkan bantuan kembali.

__ADS_1


"Tidak apa Dimas , aku masuk sendiri saja , terimakasih " dengan segera Elisa memutar kursi rodanya dan masuk ke dalam.


"Elisa , kemari nak ! ayah mu sudah sadar !" sambutan Zelin begitu hangat pada Lisa , di tatapnya ke arah dimana Alek berbaring dalam keadaan yang sudah sadar , hingga mereka bertemu dalam satu tatapan.


Elisa merasa sedih sekaligus takut menatapnya , selama ini mereka tidak memiliki hubungan yang baik , mereka hanya pernah bertemu di kantor pada waktu lalu dan itupun dalam keadaan yang tidak baik.


"Elisa....." ucap Zelin lagi menyadarkan lamunan Lisa yang begitu panjang ,ia belum juga melajukan kursi rodanya.


"Iya Bu , syukurlah jika Tuan sudah sadar dan dalam keadaan baik " jawab Elisa benar-benar tidak enak.


"kemari nak , !" Zelin segera menghampiri Elisa dan mendorong kursinya menuju Aleksander yang masih menatapnya.


Elisa hanya tertunduk dengan perlakuan Zelin , ia takut Alek masih tidak menerimanya sebagai menantu saat ini ,mengingat Alek tak pernah setuju dengan hubungan mereka.


"Eee. eee. Elisa , dimana su...suaamimu ?" Alek membuka suaranya lagi dengan berat menuju Elisa yang kini sedikit tercengang mendengar ucapan pria yang berbaring di hadapannya saat ini.


Suami ? jadi dia sudah menerima kah??


"Edward...Edward akan segera kemari Tuan " jawab Elisa sedikit gugup, sementara itu tatapan Alek tertuju ke sisi lain dimana Zelin berdiri dan menatapnya.


"Elisa , kamu tidak perlu memanggil Tuan dengan ayahmu sendiri , panggil ayah saja !" sambung Zelin memberi saran , rupanya tatapan Alek merupakan sesuatu yang ingin di sampaikan ,jelas Zelin mengetahuinya .


"i iya Ibu , ayah " jawab Lisa singkat ,sebenarnya sangat bahagia jika benar itu maksud Alek tadi .


"Kak , aku permisi keluar dulu " sambung Duma sedikit merasa janggal berada di sana .


"Duma , kau mau kemana ?" Zelin tampak mencegah kepergian wanita yang merupakan madunya itu.


"Kau baik-baik saja ?" tambah Zelin lagi , sebenarnya sangat canggung dengan keadaan mereka.


"Aku baik , aku keluar dulu !" kemudian Duma segera keluar dari ruangan itu , Zelin pun tak mencegahnya lagi .


Elisa yang merasakan posisi mereka juga tak bisa berkata apa-apa , selain tertunduk di samping ayah mertuanya tadi.


"Elisa , Ibu juga mau keluar sebentar , apa kau bisa menjaga ayah mu ?" Zelin tampak meraih ponsel di dalam tas yang ada di atas lemari kecil di sisi infus.


"Oh , iya Bu ,aku akan menjaga ayah untukmu !" jawab Lisa berusaha tenang ,meski ia akan merasa canggung nantinya.


"Baik lah , ibu keluar dulu ,jika ada sesuatu panggil ibu atau dokter Jordan !" tambah ibu lagi segera pergi sambil mengelus kepala Elisa yang di anggapnya sebagai putri yang penurut.


_


_


_


_


_


_

__ADS_1


_


_


_


_


Di ruangan itu Elisa hanya diam saja dengan kepala yang tertunduk ,sesekali ia melirik Alek yang tatapannya hanya tertuju pada langit-langit ruangan itu.


Tak jarang pula Alek tampak memejamkan kedua matanya lalu membukanya kembali.


dengan keadaan tangan yang di lipat ke dada , Alek kini benar-benar sudah pulih dengan baik , meskipun selang pernapasan nya belum di buka , mengingat kondisi pernafasannya yang kurang stabil akibat luka tembak di dadanya itu.


"eeerrr........." kembali suara parau Alek terdengar , Elisa langsung tergugah dan memperhatikannya.


"Ada apa Tuan...maksudku ayah , apa kau butuh sesuatu?" jawab Lisa dengan sigap meraih tangan Alek namun kemudian di lepaskan nya kembali.


"...aaa...aair....." kata Alek sedikit menoleh ke arah Elisa.


"Air , ayah ingin minum , baik tunggu sebentar " segera Elisa memutar rodanya menghadap ke arah lain di mana ada sebuah meja dan ada segelas air putih di atasnya .


"ini ayah , minum lah !" kemudian Elisa berusaha keras mengangkat tubuhnya agar bisa memberikan minum pada Alek yang sedikit susah di jangkau nya lantaran keadaannya juga seperti itu .


Beruntung air minum itu sudah di lengkapi selang jadi memudahkan Alek untuk meminum nya " fiuhh..." Elisa membuang nafas lega setelah berhasil membantu ayah mertuanya itu.


"Maaf ayah , keadaan ku juga begini , jagi tidak bisa menjagamu dengan baik " ujar Elisa penuh penyesalan akan kekurangan yang dimilikinya saat ini.


Mendengar hal itu , tumbuhlah rasa simpati di hati pria setengah abad itu , ia juga sudah bersikap buruk pada Elisa selama ini , tidak pernah berpikir akan mengalami hal buruk bahkan selama ini Alek hampir tidak pernah merasa lemah apa lagi sakit , kerena itu pula ia merasa jadi orang yang beruntung dan sangat tinggi hati.


Selama ini dalam hati kerasnya penuh dengan keegoisan , bahkan ia merasa tidak cukup setelah memiliki Zelin dan Edward , padahal Zelin adalah wanita yang mandiri dan tak pernah menyusahkan nya , sementara Edward adalah anak yang penurut namun ia memaksanya untuk menikah dengan wanita manja yang egois hanya lantaran ketidakpuasannya akan harta dan kedudukan.


"Ayah , Edward sangat mengkhawatirkan dirimu , belakangan ini dia tidak fokus dengan keadaan , dia selalu memikirkan dirimu " Elisa membuka suara ,ia hanya ingin mengungkapkan perasaan nya saat Alek terdiam.


"Maaf , aku sempat egois kala itu , aku pikir aku sudah menjadi yang pertama di hati Edward di tengah semua kebencian yang ada , ternyata aku salah , saat ayah terluka ,Edward sama sekali tak memandangku ataupun mengingatku yang cacat ini , ia berteriak dan memanggilmu...ia tak perduli lagi dengan ku bahkan dirimu...


jujur saja , untuk pertama kalinya aku melihat seorang pria menangis kala itu ..." air mata Elisa jatuh dengan segala ucapannya sendiri kemudian melanjutkan kata-katanya kembali.


"Pria itu bahkan mabuk di acara pernikahan nya , bukan kah itu menyebalkan sekali , aku pikir orang yang dingin dan kasar seperti Edward sudah biasa dengan minuman beralkohol , heh ternyata aku salah , seperti nya itu kali pertamanya dia minum hh " sedikit tertawa tertawa di sela tangisnya Elisa berkata tanpa memperhatikan Alek yang kini fokus terhadapnya.


"Ayah tahu , aku bahkan tidak berpikir aku lebih pandai minum dari padanya , dia sangat amatir ,bukankah dia itu pria yang aneh bagaimana bisa ia menyembunyikan sisi lembutnya akan kerinduan seorang ayah ,saat dia berkata seolah-olah dia tidak perduli....


"Heh ... ka...kaau uu mabuk ?" jawab Alek kemudian memotong pembicaraan Elisa yang sudah teramat panjang baginya.


" a aaa apa?" sontak saja Elisa kaget dengan sahutan pria di hadapannya.


" ha...ha....uhugh...uhugh.." tampak Alek tertawa kemudian sedikit terbatuk-batuk.


"apa kau baik-baik saja?" tanya Elisa merasa tidak enak , sambil meremas-remas jemarinya sendiri , ia merasa malu atas apa yang ia ucapkan tadi , dan sedikit khawatir dengan keadaan Alek.


"Bagaimana bisa kau tertawa dengan selang pernafasan mu itu !" ucap Lisa lirih setengah berbisik tak ingin menatap Alek yang menoleh padanya.

__ADS_1


Itu artinya dia setuju😭😭😭🤗


__ADS_2