Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Bertemu Ibu edward


__ADS_3

16.45


Duduk canggung di dalam mobil ,Elisa tampak sedikit membenarkan pakaiannya yang sedikit risih, mengenakan dress panjang yang menampakkan kedua sisi bahunya.


"Tuan tidak salahkah menyuruh ku memakai pakaian seperti ini!" tanya Lisa heran pada Edward di sebelahnya yang tengah mengemudikan mobil, hari ini Edward membawa mobil sendiri tanpa supir pribadinya.


"Apa pakaiannya kurang pendek?" ketus Edward fokus pada jalanan.


"Heh, bisa tidak jika berbicara itu tidak perlu mengejek!" ketus Lisa kesal.


"Bagaimana bisa aku mengejek ,itu adalah kenyataan bukan ?" tambah Edward lagi tanpa menoleh, sementara Elisa menatap nya kesal.


"Bicara denganmu tidak akan pernah menang!" sambung Lisa mengepalkan tangannya masih menatap pria di sebelahnya.


"Jangan terlalu lama memandangku , !" tambah Edward membalas tatapan Lisa.


"Hmp, kepedean !" Elisa memalingkan wajahnya menatap keluar jendela ,sementara Edward tersenyum melihatnya.


_


_


_


_


sampai (((((((o)))))))


Edward turun mobil lebih dulu kemudian membukakan pintu mobil untuk Elisa , dengan perlahan Elisa melangkah turun mobil, mata nya kembali di suguhkan pemandangan yang luar biasa, rumah megah bak istana jauh lebih besar dari vila Edward berdiri kokoh di depan mata.


"Ayo kita masuk ke dalam !" tampak Edward mengulurkan tangannya pada Elisa namun agaknya Elisa merasa tidak nyaman sehingga menolaknya.


"Apa ibu mu ada di dalam Tuan?" tanya Elisa melangkah melewati Edward yang masih mengulurkan tangannya.


"Masuklah !" Edward segera membuka pintu gerbang rumah itu.


"Apa di sini tidak ada orang?" tanya Lisa lagi penasaran karena tidak ada satu orangpun yang menyambut mereka seperti halnya saat ia memasuki vila Edward,


"Ibu ada di dalam," jawab Edward singkat tak menggubris pertanyaan Elisa.


Mereka melangkah lebih jauh ke halaman yang sangat luas bagai karpet hijau membentang luas , mata Elisa sedikit terhenti melirik sekeliling, tak ada tanaman sedikitpun di sana hanya ada rumput hijau itu saja tampak baru di pangkas karena potongan rumputnya masih berserakan,tidak sama hal nya seperti rumah orang kaya biasanya, di halaman terdapat berbagai macam tanaman hias nan indah dan mahal, serta dekorasi tampak sangat mempesona tapi tidak dengan rumah megah di hadapannya ,malah sebaliknya."Seperti tidak ada kehidupan bukan !" kata itu keluar begitu saja dari mulut Elisa .


"Apa kau tidak ingin masuk !" tanya Edward yang sudah berada di depan pintu.


Tok tok tok tok tok tok..........


Edward tampak mengetuk pintu dari luar. krettttt... pintu di buka dari dalam.


"Selamat datang Tuan muda !" seorang wanita tua menyapa Edward sangat ramah, dia adalah pelayan di rumah itu bibi Minah .


"Bi tolong ambil sayuran di dalam mobil yah !" perintah Edward langsung masuk sementara Elisa masih tertegun diluar.

__ADS_1


"Selamat datang Nona !" Minah menyapa Lisa yang sedikit bingung harus berbuat apa.


"Non masuk saja ke dalam!" tambah Minah seraya melangkah keluar teras menuju ke depan.


Tidak heran kah melihat ku ! Elisa sedikit ragu melangkah masuk ke dalam sementara Edward sudah masuk lebih dulu.


Lagi lagi Elisa di kejutan dengan pemandangan di depan nya,memasuki ruang utama yang begitu besar , di lihat nya sekeliling ruangan itu kosong hanya ada satu sofa kecil di dalamnya.


"Apa kau Elisa ?" seorang wanita setengah tua menuruni tangga sembari tersenyum ke arahnya.


di...diia Ibu nya Edward kah ?? "Edward sudah cerita tentang Mu padaku !" tambah wanita itu lagi kian mendekat, Elisa hanya tertunduk terdiam.


pria itu menceritakan apa?" Emp, Maaf maksud Nyonya apa?" Elisa kian tertunduk.


"Apa dia terlalu kasar padamu Nak?" Zelin mengangkat tinggi dagu Lisa yang tertunduk.


"Maaf ,Aku masih tidak mengerti maksud anda ?" tambah Lisa bingung melihat perlakuan Zelin padanya.


"Ibu ,apa Lukisan di atas itu tidak pernah di bersihkan ?" tanya Edward di atas tangga.


"Ibu tidak sempat nak ," teriak Zelin dari bawah.


"Lalu Bi Minah apa kerjanya Bu?" tanya Edward lagi menuruni tangga.


"Kau ini, Bi Minah itu sudah Tua, mana bisa segala hal di lakukan nya sendiri !" tambah Zelin menarik tangan Lisa mengajak nya duduk di sofa sudut ruangan besar itu, dengan bingung Lisa juga tak menolak ajakan wanita yang di anggap nya sangat baik.


"Sudah ku bilang ,seharusnya ibu tambah pelayan saja, ibu malah tidak mau, bikin malu anakmu saja !" ketus Edward melangkah menuju jendela kaca besar menghadap keluar rumah .


"Emp, maaf nyonya , aku sangat lancang!" Elisa segera bangkit dan menundukkan kepalanya.


"Apa Edward yang menyuruhmu memanggilku nyonya?" tambah Zelin menatap Edward yang saat itu menoleh pada Elisa.


"Maaf, bukan begitu, memang sudah seharusnya aku memanggil anda nyonya karena aku hanyalah..."


"Ibu tau ,hubungan kalian sangat rumit, tapi semua ada jalannya, selagi ibu menyukaimu , ibu akan mendukung mu nak !" tambah Zelin bangkit memeluk Elisa secara tiba tiba.


sontak Elisa kaget dan heran apa sebenarnya yang di maksud ibu nya Edward,dan menyukaiku, kemudian Elisa menatap Edward yang juga menatapnya serius.


"Nyonya sayurnya apa mau di masak ,?" Imah datang membawa keranjang sayur penuh yang di bawa dari vila Edward.


" Wah, ternyata sudah panen yah , " Zelin melepaskan rangkulannya dari Elisa .


"Nak, apa kau bisa memasak ?" tanya Zelin pada Lisa yang masih diam.


"Dia bisa masak Bu!" sambung Edward meyakinkan sembari melirik Elisa.


"Bagus lah ,bisa kau masakkan untuk ibu ini!" tambah Zelin tersenyum.


ini perintah kah, "Baik " Elisa segera menuju Imah "Sini Bi biar aku yang bawa ,tunjukkan dapurnya bi!" tambah Lisa seraya mengambil keranjang sayuran di tangan Imah,


"ini non, ayo bibi antar ke dapurnya !" tambah Imah menuruti saja setelah Zelin memberinya kode.

__ADS_1


((((((o))))))


Dapur


Elisa tampak menyanggul rambut panjangnya dengan menggunakan sumpit , sedikit risih ia harus memasak dengan pakaian seperti itu.


keadaan dapur juga sama, hanya ada beberapa barang seperlunya, Elisa membuang jauh tanda tanya dan keraguannya,kini ia menoleh pada Imah yang tampak membantu memotong bawang sementara Elisa berusaha mengiris sayuran.


"Bi, boleh bertanya?" Elisa sedikit ragu menatap Imah yang fokus mengiris bawang.


"Tanya apa non?" singkat Imah tetap pada pekerjaannya .


"Apa nyonya di rumah ini sendiri ?" tanya Lisa pelan ,ku harap jawabannya tidak seperti para pelayan edward., pikirnya lirih dalam hati.


"Iya, nyonya tinggal di sini semenjak Tuan menikah lagi" tambah Imah melanjutkan mengiris cabe


Menikah lagi, "Jadi begitu ya Bi,apa istri Tuan Edward tahu tentang ini!" Elisa menatap Imah yang masih tak melihatnya.


"Maksud anda Nona Belinda ?" tambah Imah lagi baru menatap Lisa.


"Ya Bi, " merapatkan bibir nya mendapatkan jawaban yang lancar sedari tadi.


"Tau , kini Non Belinda bahkan tinggal satu rumah dengan ayahnya Tuan Muda" jelas Imah menghidupkan kompor .


"Satu pertanyaan lagi bi , Bibi tau aku ini siapa?" tanya Lisa lagi sangat ragu kemudian memalingkan wajahnya seraya meneruskan irisan sayurannya.


"Istri ke dua Tuan muda kan Non!".


takkkkk.... aaauggghhhh, tangan Elisa berdarah terkena pisau.


"Aduhh, non, kenapa tidak hati hati sih ?" Imah tampak langsung memegang tangan Lisa kemudian membawanya ke arah keran air di sana, lalu mencucikan jari Lisa yang terluka.


"aaauu.. perih Bi !" rintih Lisa sangat nyeri terkena pisau tajam itu.


"Ada apa ?" Zelin datang seketika bersama Edward setelah mendengar teriakan Lisa.


"Ini nyonya, non Lisa terkena pisau !", terang Imah jelas.


"Coba ibu lihat nak !", Zelin menggapai tangannya kemudian meniup pelan jari Lisa yang terluka.


Ibu....Apa lagi ini, haruskah menghukumku jelas lagi seperti ini... mata Lisa tampak berkaca.


"Bibi lanjutkan yah masaknya ,Edward bawa Lisa istrirahat di atas, obati lukanya !" Zelin tampak melirik Edward yang terang menatap Lisa tajam.


"ini hanya luka kecil, aku masih bisa memasak kok!" tambah Lisa mengelus jarinya yang masih berdarah.


"Kau ini, ibu juga terlalu bukan, masa menyuruhmu masak dengan pakaian begini, terlebih lagi kamu baru sampai, pergi lah bersama suami mu itu ?" Zelin sedikit mendorong Lisa ke dekat Edward.


"Kita ke atas !" sambung Edward lebih dulu melangkah pergi, sementara Elisa terpaksa mengikuti dengan seribu tanya dan perih di jarinya...


like nya jangan lupa, terima kasih pembaca setia..mohon maaf atas up nya yang terlalu lama....

__ADS_1


__ADS_2