
"Edward , apa kamu mendengarnya ? ini aku Elisa istrimu " ujar Lisa mengeratkan jemarinya pada jemari Edward yang di genggam nya.
"Aku sudah mampu berjalan sekarang , aku sudah sembuh dan tak akan merepotkan mu lagi " Langkah kaki Lisa secara perlahan mendekat ke arah sisi kiri Edward.
"Heh , Kenapa kamu diam saja ha? aku bisa berjalan itu karena kamu , apa kamu tidak ingin mengejar ku lagi , apa kamu tidak takut aku akan berlari dan pergi dari kamu ? jawab Edward ? apa kamu tidak takut?" Dengan nada yang begitu berat Elisa tampak mengguncang lengan Edward berisi keras berharap ada respon dari tubuh pria yang terbaring di hadapannya itu.
Jelas saja tak akan ada jawaban atau respon apapun dari Edward , di dalam ruangan yang sunyi itu hanya terdengar tetesan air infus serta bunyi monitor yang menyatakan keadaan detak jantung Edward yang masih normal lah yang saat ini terdengar jelas di telinga Elisa.
Air mata Elisa terus saja mengalir tanpa henti melihat hal yang ada di depan matanya , ia harus sekuat apa lagi menjalani kehidupannya saat ini , mengetahui orang yang di cintai nya harus bernasip seperti itu .
Dengan tangan Edward yang masih di genggam erat Elisa tampak terduduk ke lantai dengan kepalanya yang bertumpu di sebelah tempat tidur Edward.
Tak ada suara dari tangis Pilunya itu , namun air mata masih saja mengalir tanpa henti hingga kedua matanya terasa sangat berat, sementara waktu kian larut menuju pukul 03 dini hari.
cklek, Beberapa menit terasa kian lama bagi Zelin Turas meninggalkan Elisa berada di dalam ruangan Edward , ibu itu sangat khawatir dan segera masuk ke dalam ruangan di mana anaknya di rawat.
Di lihatnya Elisa yang terduduk di lantai dengan kepalanya yang bersandar di tangan Edward yang masih di genggamnya tampak terlelap.
"Elisa , kamu kenapa tidur di bawah nak ? kamu bisa masuk angin sayang ?" segera Zelin meraih tubuh Elisa yang memang terlelap.
"Ayo bangun nak !" tambah Zelin lagi membantu Elisa untuk berdiri.
"Ayo , kita duduk di sofa ini " Zelin membawa Elisa ke pojok ruangan di mana ada sebuah sofa panjang di sana dan mendudukkan Lisa agar bisa beristirahat.
"Kamu jangan seperti ini nak , Ibu tahu kamu sangat terpukul begitu juga dengan ibu , suami dan anak ibu .....
Zelin tak meneruskan kata-katanya karena memang benar-benar tak kuasa.
"Ibu...." Elisa langsung memeluk Zelin yang kembali menangis , ia sadar bahwa cobaan itu tidak ia hadapi sendiri melainkan ada seorang wanita pula yang nyaris kehilangan kedua belahan jiwanya itu , seharusnya Elisa bisa lebih kuat untuk saat ini.
"Maaf Bu " ujar Lisa lagi menyesal.
"Tidak nak , tidak ada yang perlu di maafkan , kita harus kuat agar mereka bisa bertahan itu yang terpenting untuk saat ini dan lagi....
"Dan lagi apa Bu ??" Elisa pelukannya sedikit penasaran mendengar pernyataan Zelin yang tak selesai.
__ADS_1
Tak langsung menjawab tatapan Zelin mengarah pada tubuh bagian perut Elisa , dimana ia berfikir akan mengatakan bahwa sebenarnya Elisa telah mengandung.
"Ibu ...
"em... itu.. yang terpenting kamu harus menjaga kesehatan kamu nak , agar kita bisa selalu menjaga Edward dan berdoa agar Edward akan segera sadar dari koma nya , bukan kah dokter Jordan mengatakan bahwa Edward hanya mengalami koma sementara , kamu ingat itu , jadi kita masih mempunyai harapan "
"Iya Bu , semoga Edward akan segera sadar " jawab Lisa pelan kembali menatap ke arah Edward.
Maafkan ibu nak , ibu belum bisa menyampaikan kabar ini padamu, karena ibu pikir ini bukanlah waktu yang tepat , terlebih ibu takutnya nanti kamu tambah drop jika tahu kamu sedang mengandung ketika Edward koma, maaf Elisa? tapi kamu tenang saja ibu pasti akan selalu ada buat kamu dan menjaga kamu serta calon cucu ibu.
Dengan sedikit ada senyuman di wajah Zelin ia segera kembali memeluk Elisa dengan penuh kasih sayang di sana.
08.45
Keadaan Aleksander sudah kian membaik, beberapa peralatan medis seperti ventilator sebagai alat bantu pernafasan nya juga sudah di lepas oleh dokter.
Bahkan Aleksander menunjukkan kesehatan tubuhnya secara cepat ,ia bahkan kini sudah bisa bangun untuk duduk sedikit bersandar.
Dokter Jordan yang kini tengah memeriksanya sangat terkesan akan keadaan itu.
"Om benar-benar ingin segera sembuh ya?" ujar Jordan sedikit meledek kesehatan Alek yang cepat itu.
"Heh kau ini , bukannya mengatakan selamat malah menyumpahi ku seperti itu " jawab Alek tampak sedikit tersenyum.
"Ha , maaf om , bukan menyumpahi melainkan sebuah doa kesembuhan " tambah Jordan kini menaruh bantal di bagian punggung belakang Alek untuk membantunya bersandar.
Di dalam ruangan itu Alek tidak hanya berdua dengan Jordan selaku dokter yang memeriksanya melainkan ada Deni beserta dua orang kepercayaan nya yang di tugaskan untuk mengurus seluruh usaha dan bisnisnya saat ini.
"Selamat tuan , semoga anda bisa lekas sembuh dan bisa kembali memimpin perusahaan lagi" sambung Deni sungguh senang melihat tuannya sudah sehat.
"Nah Deni lagi , malah sudah memerintahkan ku untuk bekerja "
"Hahaha..." sedikit candaan kini sudah muncul di dalam ruangan itu.
"Emm, Jordan bagaimana dengan keadaan Edward ?" tiba-tiba saja pertanyaan serius terlontar kembali dari Alek.
__ADS_1
"Kondisinya sangat normal , Ada kemungkinan Edward akan segera sadar dalam waktu dekat , om Alek tidak perlu khawatir , jagoan kita tidak akan betah jika berlama-lama tidur di atas ranjang seperti itu"
"Ha , kau ini , yah semoga dia akan segera sadar , kasihan Elisa "
"Iya om"
"Jordan apa bisa saya minta tolong ?"
"Tolong apa om ? katakan saja , saya akan sangat senang bisa membantu om Alek "
"Apa bisa kami di rawat di rumah saja , terlebih untuk Edward ,saya semalam lihat Elisa menjaganya seperti itu saya khawatir ini malah memperburuk keadaan nya saja "
"Tentu , saya akan mengurus semua nya , agar om Alek dan Edward bisa di rawat di rumah"
"Bagus lah terimakasih , saya minta segala fasilitas nya yang terbaik untuk di sediakan dalam perawatan Edward di rumah nanti"
"Tentu , om Alek jangan khawatir , serahkan semuanya pada saya"
"Baik lah , sekali lagi saya sangat berterimakasih padamu nak Jordan "
"sama-sama Om, oh ya kalau begitu saya permisi dulu , jika ada sesuatu yang om perlukan tinggal panggil saya saja " Jordan tampak pamit undur diri dari ruangan itu.
"Baik lah , terimakasih" jawab Alek mempersilahkan kepergian dokter nya.
sementara itu Deni dan dua orangnya bermaksud ingin kembali ke kantor perusahaannya setelah menjenguk sang direktur.
"Tuan , jika begitu kami akan segera pamit "
"Tunggu den, apa boleh saya minta satu hal lagi padamu ?" jawab Alek memberhentikan maksud kepergian Deni tersebut.
"Ada apa Tuan ?"
"Saya mau kamu bantu mempersiapkan rumah untuk di tinggali kami bersama , bukankah vila Edward sudah rusak parah , saya ingin Edward dan istrinya tinggal bersama kami "
"Baik Tuan , saya akan menyiapkan segala sesuatunya "Jawab Deni tegas menerima perintah dari tuannya.
__ADS_1
Bersambung......