
Sudah Lebih dari tiga jam Elisa menunggu di depan UGD rumah sakit dengan di temani oleh Zelin dan Wisnu sekaligus ada beberapa pengawal yang turut menjaga untuk mengawasi.
Elisa duduk dengan lemah sembari mengepal kedua tangan nya dengan keyakinan yang teguh berdoa pada Tuhan agar Edward bisa selamat.
Zelin selalu mewanti-wanti dia untuk tetap sabar dan kuat meski ia sendiri sebenarnya sangat rapuh untuk menerima keadaan itu.
Saat itu pula Delta datang bersama Jordi untuk menemui Elisa , melihat Elisa yang ada di hadapannya Delta tampak turut prihatin akan semua kejadian itu.
"Elisa" ujar Delta langsung memeluk erat sahabatnya dengan tangis yang beriringan.
"Kamu harus sabar yah! pak bos orang yang kuat ,dia pasti akan baik-baik saja ?" tambah Delta menyemangati temannya itu.
Tak ada sepatah katapun yang Elisa lontarkan untuk menjawab ucapan dari temannya itu , ia tak tahu lagi harus berkata apa sementara tangisnya tak jua berhenti.
Tiba-tiba pintu UGD di buka dari dalam , hal itu sontak mengejutkan Elisa dan yang lainnya , mereka segera bangkit ingin segera mengetahui bagaimana keadaan Edward.
"Dokter Jordan , bagaimana keadaan Edward ? dia dia baik-baik saja bukan ?" Elisa segera mendekat memegang kuat tangan Jordan yang baru saja keluar dari ruang UGD tersebut.
"Iya nak Jordan , apa anak saya selamat kan ?" Zelin pula bertanya dengan rasa sangat khawatir nya.
"Elisa , Tante Zelin saya harap kalian semua bersabar , Kami berhasil menyelamatkan nyawanya " jawab Jordan dengan sedikit lesu.
"Syukurlah " ucap Zelin mengusap bahu Elisa meyerukannya.
"Jika dia selamat , kenapa dokter bersikap seperti itu , Edward benar-benar baik-baik saja kan dokter " jawab Lisa tidak puas dengan raut wajah Jordan tak sesuai jawabannya.
"Jawab , dia baik-baik saja kan , apa aku boleh menemuinya " Elisa mengguncangkan tangan Jordan yang di pegang erat olehnya , terlihat sangat cemas dengan air matanya yang masih mengalir.
"Jordan , ada apa nak ? ,mengapa kau diam saja , Edward pasti baik-baik saja kan ?" sambung Zelin merasakan keanehan pula dari jawaban Jordan tadi.
"Bagimu Tante , sebenarnya Edward baik-baik saja , kami sudah mengeluarkan peluru dari luka tembaknya, tapi Edward sekarang ...
"Edward kenapa?" teriak Elisa sangat tidak sabar dan panik.
"Edward mengalami koma "
"Koma"
"Apa ? koma "
"Pak bos koma "
"Tu..tuan koma "
Elisa seketika saja jatuh pingsan mendengar hal itu , ia sangat tidak menyangka jika Edward akan bernasib seperti itu.
"Elisa" Zelin kaget melihat tubuh Elisa tumbang kemudian ia berusaha meraihnya begitu juga dengan Delta yang segera duduk untuk menopang kepala Elisa yang benar-benar tidak sadarkan diri saat itu.
"Elisa, Elisa bangun Elisa " ucap Delta sabgat peduli pada temannya.
"Nak bangun , kamu jangan seperti ini?" Zelin tak kuasa menahan tangis nya sambil memeluk tubuh Elisa yang pingsan.
" Tante , sebaiknya kita angkat Elisa ke ruangan istirahat , dia seperti nya sangat syok. mendengar kabar ini" tukas Jordan segera berjongkok untuk mengangkat tubuh Elisa segera.
__ADS_1
"Iya , Tante minta tolong nak !" segera Zelin pula membantu mengajar tubuh Elisa dan mereka segera membawa Elisa ke dalam sebuah ruangan dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur di dalam ruangan itu.
"Apa Elisa akan baik-baik saja dok?" tanya Delta sangat khawatir.
"Saya akan suruh dokter Vivi kemari untuk memeriksa Elisa !" jawab Jordan masih tampak memberi banyak tinggi untuk menyangga kepala Elisa di atas tempat tidur.
"Tante Zelin , bisa ikut saya sebentar ?" ujar Jordan kemudian menatap penuh wanita tua di samping kirinya dengan serius.
"Baik nak , Delta kamu tolong jaga Elisa dulu ya !" jawab Zelin paham kemudian menitipkan Elisa pada delta.
"Baik Bu " jawab delta patuh.
Zelin segera mengikuti dokter Jordan menuju ruangan kerjanya , ia tahu benar bahwa Jordan pasti akan membicarakan prihal keadaan anak semata wayang nya , dan sangat berharap bahwa Edward akan baik-baik saja.
Sedang Delta kini tampak duduk di kursi samping kanan tubuh Elisa terbaring , ia meraih tangan Elisa dengan pelan dan menggenggam nya erat.
"Elisa , aku tahu kamu orang yang sangat baik , aku tidak begitu tahu dengan kehidupan masa lalu mu yang seperti apa ? tapi aku yakin kamu wanita yang baik , aku harap semoga kamu baik-baik saja , dan akan selalu bahagia "
Entah mengapa Delta turut merasakan sakit dalam kesedihan yang telah menimpa Elisa , ia masih tidak percaya bahwa Elisa akan mengalami hal sesulit itu.
"Elisa , aku yakin kamu wanita yang kuat " semangat Delta dalam tangisnya yang ia curahkan untuk Elisa .
"Maaf , permisi!" ucap seorang wanita yang merupakan salah satu dokter masuk ke dalam ruangan dimana Elisa di tidurkan.
"Oh , dokter Vivi yah? masuk dok !" jawab Delta segera berdiri mempersilahkan dokter Vivi dan seorang perawat masuk ke dalam untuk memeriksa Elisa.
"Sudah lama dia pingsan ?" tanya dokter Vivi sembari memeriksa Elisa .
"Sus , ambilkan air minum hangat ya!" ujar Vivi memerintahkan perawatnya untuk mengambil segelas air hangat.
"Ada apa dok?" tanya Delta merasa aneh karena dokter Vivi tidak hanya memeriksa tanda vitalnya melainkan memeriksa secara menyeluruh pada anggota tubuh Elisa.
Tidak menjawab , dokter Vivi hanya tersenyum melirik keanehan yang di lontarkan Delta ketika melihatnya , sembari meneruskan pemeriksaan yang menyeluruh , dokter Vivi lalu memberikan infus pada Elisa.
"Dia hanya pingsan saja kan dok , apa perlu di infus ?" tambah Delta lagi tambah khawatir.
"Nyonya Elisa baik-baik saja kok , kamu jangan khawatir , infus ini hanya untuk berjaga-jaga tentang kondisinya yang sangat lemah , nanti jika dia sadar , segera beri dia minum air hangat yah !"
"Ini dok air hangatnya !" ujar perawat datang kembali membawa segelas air hangat.
"Letakan di meja "
"Baik"
"Oh yah sus , nanti tolong ambilkan simple urin nya yah !" tambah dokter Vivi memerintahkan perawatnya.
"Baik dokter"
"Anda yakin dok ,Elisa baik-baik saja , dia memang mengalami syok karena mendengar suaminya koma , tapi sebelum itu juga , ia sempat mengalami lumpuh pada bagian kakinya dan tiba-tiba saja spontan sembuh , apa itu ada kaitannya ?" Delta masih tidak puas akan pemeriksaan dokter Vivi yang membuatnya heran.
Apa aku pingsan tadi di periksa seperti itu? dan Jordi menyaksikannya ? Delta masih heran dan bertanya mengingat pemeriksaan dokter Vivi terkait pada Elisa sampai memeriksa ke bagian tubuh dalam Elisa.
"Hem , tidak kok , itu semua tidak ada kaitannya , sebentar lagi nyonya Elisa juga akan sadarkan diri , mengenai bagaimana ia pingsan tadi , sebaiknya jika ia sadar nanti anda bisa bantu menenangkannya , dan bila perlu anda juga bisa panggil saya kembali " jawab dokter Vivi sangat ramah dengan senyumannya.
__ADS_1
.
" Oh .. oke, kalau begitu terimakasih dok"
"Sama-sama , saya permisi "
"Silahkan !" Delta menjawab dengan sangat ramah pula menghantarkan kepergian dokter Vivi yang di susul perawatnya tadi .
"Elisa , sadarlah , kamu sekarang di infus tahu , apa kamu selemah ini ?" Delta memperhatikan Elisa yang memang terlihat benar-benar lemah dengan wajah pucatnya .
"Aku juga lelah sekarang , baru kemarin rasanya kita merasa bahagia karena pernikahanmu , tapi tiba-tiba pak Direktur di tembak dan pak bos juga di tembak dan kini harus koma " Dengan kembali duduk di kursi nya tadi wanita itu tampak menyandarkan kepalanya di atas lengan Elisa yang di genggamnya, Delta sangat setia menunggu kesadaran temannya itu.
"Huuamm.... aku ngantuk Lisa ,kita sama-sama berharap semua ini adalah mimpi , mimpi buruk !" segera kedua mata Delta tiba-tiba saja merasakan kantuk dari segala kelelahannya.
Delta kemudian terpejam dengan sangat lelah di atas tumpuan wajahnya yang menindih lengan Elisa.
Sementara jam dinding yang ada di dalam ruangan itu menunjuk kan pukul 02 dini hari , hari yang sudah larut dan hampir kembali menemui fajar di pagi hari.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
***Elisa..........
Hey Elisa.........
Elisa sadar lah .....sadar lah Elisa.....
Aku mencintaimu....
Elisa...... kamu baik-baik saja...
Elisa. . Elisa ...
apa kau mendengarkan ku...
Aku berjanji akan melindungi mu...
aku janji***........
__ADS_1