
Tuan Aleksander segera dilarikan ke rumah sakit terbesar di kota X, Wisnu dengan cepat mengendarai sendiri mobil yang dinaiki Aleksander yang saat itu lemah tak berdaya menahan rasa sakitnya.
Zelin dan Duma berada di sisinya seraya memegang erat pria yang menjadi suami mereka saat itu ,tak ada lagi ego saat ini karena Mereka semua dalam keadaan panik serta takut.
Sementara Edward yang masih mampu berdiri berusaha lari tanpa mengingat siapapun termasuk Elisa yang di tinggalkannya di belakang ,dalam hati dan pikirannya yang berkecamuk akan benci amarah serta khawatir menjadi satu.
Kau harus bertahan ayah !!
Langkah kakinya yang di percepat dengan paksa dan lemas akibat minuman beralkohol yang ia konsumsi tadi membuatnya sangat tidak nyaman , sedikit samar ia menuju mobil yang berada di parkiran luar gedung, masih ada beberapa tamu di luar yang sempat ribut serta beberapa wartawan yang di hadang para pengawal yang bertambah.
Edward tak peduli itu semua,segera iaembuka pintu mobilnya.
tap..."Biar aku saja yang Bawa mobil " dari belakang Dimas menyambar pintu mobilnya Edward berusaha mengambil alih.
"Masuk lah " tambah Dimas lagi memaksa Edward masuk disisi lain kemudi, tak menolak Edward saat itu hanya menurut saja karena masih sedikit sadar dengan kondisinya yang memungkinkan.
Dimas pun segera melajukan mobilnya menyusul mobil Wisnu yang sudah lebih dulu di depan, sementara Elisa berusaha menyusul di bantu Delta dan Jordi ,mereka pula ikut segera menyusul mobil yang di bawa Dimas.
Keadaan yang tak terduga itu mengundang kegaduhan yang tak terelakkan dari para wartawan, semua kamera yang bercahaya serta audio perekam tak pernah padam ,teguh mereka lambung kan untuk mendapatkan informasi terkait berita besar itu.
Haris yang di tugaskan Dimas dalam misi pencarian kali ini menghubungi banyak koneksinya mengenai penembak jitu itu.
Tak habis pikir baginya jika keluarga Manopo dalam incaran musuh yang tak terduga seperti itu.
"Tuan kami tak bisa menemukan bukti di sekitar gedung ini " ucap seorang pengawal keluarga Alek memberi laporan pada Haris.
"Tidak masalah , aku sudah memberitahu koneksikan, penembak itu tidak akan bisa kabur " teguh Haris sedikit menggengam ponsel nya.
"Melihat retaknya kaca ,saya kira jarak tembak itu lumayan jauh , namun di sekitar sini tak ada cctv yang terpasang di bagian luar atap gedung tuan " sambung kepala pengawal yang baru saja memeriksa gedung itu di bantu dengan keamanan setempat.
"Aku mengerti , sebaiknya kau ikut bersamaku sementara yang lain segera menuju rumah sakit untuk memperketat penjagaan, kita tidak bisa anggap remeh musuh yang seperti ini " tambah Haris tegas,ia merasa mengemban tugas seperti menjaga Tuannya sendiri karena Dimas sendirilah yang nyuruh nya, tidak tahu dengan alasan apa , tapi saat ini yang pasti dia harus mengikuti perintah Dimas.
"Terimakasih Tuan , atas bantuan Anda " sedikit memberi hormat kepala pengawal Edward membungkuk.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
__ADS_1
_Rumah sakit
Tim medis segera membaringkan tubuh Alek di atas tempat tidur , Dokter Jordan yang bertugas di rumah sakit itu segera bertindak setelah mendengar bahwa Aleksander mengalami luka tembak.
"Jordan ,tolong Dia !" lirih Zelin mengantarkan Alek ke ruang UGD.
"Bibi mohon tunggu di luar , saya akan berusaha menyelamatkannya " jawab Jordan segera masuk mengikuti tim medis lainnya kedalam UGD.
"Kak, apa dia akan baik-baik saja " Duma membuka suara saat sedari tadi ia tak bergeming, tampak kakinya yang bergetar seakan ingin jatuh karena tak tahan mengingat kejadian tadi , hal itu sangat mengetuk hati nuraninya.
"Semoga" jawab Zelin segera Merangkul wanita yang merupakan madunya itu merekapun tumpah dalam kesedihannya masing-masing.
tap...tap...tap....
"Ibu Dimana dia ? apa dia baik-baik saja?"
"Edward, kau mabuk ?" Zelin pindah haluan pada Edward yang baru saja tiba dengan sempoyongan di ikuti oleh Dimas di belakangnya.
"Apa dia akan mati ?" ocehan Edward semakin tak terkendali dengan posisinya kini yang berlutut di bawah kaki Zelin.
"Apa yang kau katakan nak , ayahmu akan baik-baik saja " jawab Zelin meraih Edward dan memeluknya sambil menangis.
"Ya...he hah haha....dia pasti akan baik-baik saja , dia itu orang kuat ...
"Tidak takut dengan siapapun ..dia orang yang berkuasa...hanya di tembak..dia tidak akan mati"
"Sadar Edward....sadar........" Zelin berusaha mengguncang tubuh Edward yang berkata kata tak jelas lantaran mabuk.
"Maaf nyonya, dia tadi sedikit minum" sambung Dimas tak percaya akan menyaksikan hal seperti itu ,terlebih terjadi pada Edward yang dianggap nya sebagai seorang pria yang kuat dan arogan .
"Delta aku tidak jadi masuk" Elisa yang beberapa menit sudah sampai menyaksikan ocehan pria yang dicintainya itu merasa tak kuasa hingga meneteskan air matanya.
"kita tunggu di luar saja " jawab Delta mengerti dan segera memutar balik kursi roda Elisa.
"Jordi kau bantu urus pak bos, sepertinya dia sangat mabuk !" tambah Delta lagi sedikit melirik Jordi di sampingnya.
"Baik " jawab Jordi pula prihatin melihat Edward demikian.
"Suster, bisa bantu saya memapah tuan ke ruangan !" teriak Dimas langsung mengangkat Edward yang hampir tak sadar.
"Edward"
"Nyonya tenang saja, biar saya bantu Edward untuk beristirahat sebentar" tambah Dimas lagi memapah Edward dibantu Jordi yang sigap ,kemudian mereka membawa Edward ke sebuah ruang rawat yang di pandu oleh dua suster perawat.
Dua jam setelahnya.
Dokter Jordan akhirnya keluar dari ruang UGD, " Bagaimana Dengan keadaannya?" Zelin langsung berdiri menggapai lengan Jordan menanyakan keadaan Alek.
"Om Alek sudah melewati masa kritisnya ,saya sudah berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di dadanya,beruntung tidak mengenai jantung om Alek" jelas Jordan sambil menghela nafas.
"Oh, syukurlah ,apa bisa kami melihatnya " jawab Zelin memelas.
"Nanti om Alek akan di pindahkan ke ruang rawat ,Tante dan yang lain nya bisa menjenguk di sana "
"Terimakasih " jawab Zelin lagi.
"Sama-sama Tante , kalau begitu saya permisi dulu " ucap Jordan dengan lembut mengusap lengan Zelin memberi kesabaran.
__ADS_1
Sementara Zelin dan yabg lainnya masih menunggu Alek untuk di pindahkan ke ruang rawat ,Elisa masuk bersama Delta ingin melihat kembali keadaaan didalam.
"Elisa" sapa Jordan yang berpapasan dengan dirinya di lorong rumah sakit.
"Dokter Jordan " jawab Elisa menoleh.
"Bagaimana keadaan kakimu? apa sudah ada perubahan ?" tanya Jordan sedikit tersenyum.
"Sekarang itu tidaklah penting, bagaimana keadaan Tuan Alek?" balik tanya Lisa masih sedikit lesu,sementara Delta hanya diam di belakangnya mendengarkan obrolan kedua orang itu.
"heh,Tuan ..Maksudmu pria yang sekarang menjadi Ayahmu bukan , ya dia sudah melewati kritisnya ,sekarang dalam persiapan pindah ruangan" sedikit ketus jawaban Jordan tak mempengaruhi ekspresi wajah Lisa yang sudah kepalang lesu.
"Terimakasih dokter , kalau begitu kami permisi dulu " Delta menyambung menjawabnya kemudian langsung mendorong Lisa kembali menuju UGD.
senyum menyamping terpapar di wajah Jordan ,maksud hati ingin menggoda agar suasananya tak terlalu dramatis malah di anggap seperti peran antagonis tambahan..hhe
"Dokter itu judes sekali ,padahal tampangnya luar biasa " gerutu Delta sudah kembali pada realita.
"Ibu ....." ucap Lisa sampai pada tujuannya dimana terlihat Zelin duduk di temani Duma dalam keadaan duka ,sementara Dimas berdiri di dekat pintu UGD bersama dengan Jordi yang sedikit tegang.
"Elisa ...kemari nak !" jawab Zelin tak bangkit namun berusaha menyodorkan tangan yang kemudian di sambut Lisa dari atas kursi rodanya.
"Ibu jangan terlalu bersedih ,bukankah ayah sudah melewati masa kritisnya " ucap Lisa kemudian memeluk wanita itu dengan hangat.
"iya ,semoga dia baik-baik saja " jawab Zelin merasa lebih tenang setelah mendapat pelukan dari Elisa.
_
_
_
"Hey, pak bos dimana?" bisik Delta menyenggol bahu Jordi yang sedikit tak sadar kapan gadis itu mendekat ke arahnya.
"Kamu , em pak bos mabuk berat ,dia ada di ruang rawat sekarang " jawab pria itu mengubah posisi berdirinya menjadi santai.
"Ah , pak bos sih pakai acara mabuk segala , tapi seperti nya pak bos sangat prustasi dengan ayahnya" tambah Delta makin serius.
"Ehemmmm... aku keluar dulu " sambung Dimas merasa sesak mendengar dia orang di sampingnya.
"Ohh...iya Tuan " Jordi kembali berdiri kaku setelah Dimas sedikit melirik aneh padanya.
"uppsi...aku lupa di samping mu ada Es Batu satu lagi "meledek Delta menyembunyikan rasa malunya.
"Maksudmu Pak Dimas, kamu sih ..bergosip tidak pada tempatnya" Jordi segera melangkah meninggalkan gadis cerewet itu.
"Ehh..kamu mau kemana?....." sedikit teriak menahan mulut Delta berusaha menghentikan teman bicaranya itu ,karena ia merasa hanya dengan Jordi ucapannya sedikit nyambung dalam suasana seperti ini.
"Bu Elisa , Pak Edward sekarang ada di ruang rawat " ucap Jordi sedikit memberitahu Elisa meskipun tak ada yang bertanya.
"Iya , nanti aku akan melihatnya , kamu bisa temani dia dulu !" jawab Lisa masih menenangkan Zelin.
"Baik Bu..." jawab Jordi kemudian benar-benar pergi meninggalkan para wanita itu..
"Kenapa Aku lebih tertarik mencari pak Dimas " hhe
__ADS_1